เข้าสู่ระบบMendadak, sisa napas di kerongkongan Barbara menyempit. Dia meringis kesakitan, sementara urat – urat tangan Abihirt mencuak sangat mengerikan, seolah pria itu sudah tidak peduli apa pun, selain kebutuhan mencekiknya dengan kuat.
“Kau bisa katakan semua yang kau inginkan di neraka.” Tiba – tiba segerombolan udara menyergap nyaris menyerbuk rongga dada Barbara. Dia terbatuk keras, tetapi belum sepenuhnya memahami situasi di sekitar ... tangan kasar Abihirt, yang menjambak di rambut“Ya, Tuhan! Jadi, kalian akhirnya bertunangan? Dan kau sedang mengandung tiga bayi kembar Mr. Lincoln? Shit me! Aku hampir mendapat serangan jantung menerima kabar baik ini.”Sudah Moreau duga reaksi Juan akan seberlebihan ini. Dia meringis sesaat ketika menyadari sebagian orang sadar untuk melirik singkat ke arah mereka. Berharap Juan akan lebih berhati – hati, meski tampaknya tidak. Pria itu hanya berhenti bicara ketika butuh menyesap jus di atas meja.“Kapan kalian akan menikah kalau begitu?” dan mengajukan pertanyaan, yang Moreau sendiri tak bisa memastikan secara langsung. Abihirt tentu tak akan melibatkannya terlalu banyak. Bersikap jauh lebih posesif setelah tahu kehamilan ini. Bahkan sempat enggan setuju ketika dia mengatakan akan menitipkan si kembar kepada Emma.Paling tidak, Moreau bersyukur bahwa dia tahu di mana letak kelemahan Abihirt saat dihadapkan kebutuhan mendesak. Berhasil dan di sinilah pertemuan bersama Juan terasa mencengangkan. Lagi pula, ini buka
Serangan demi serangan dari mulut Abihirt benar – benar membuat Moreau nyaris kewalahan. Jika dia tahu maksud pria itu menitipkan anak – anak kepada Emma kali ketika sampai di rumah akan berakhir seperti ini ... Moreau mungkin tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.Sekarang, dia masih tidak tahu bagaimana akan menghentikan makhluk kelaparan ini. Dress merah cukup seksi—masih membalut di tubuhnya, setidaknya turut menjadi masalah besar.Moreau bisa mendeteksi saat – saat Abihirt memiliki kebebasan menyentuh beberapa bagian tubuhnya dan dengan cepat menyalurkan hasrat untuk sama – sama terbakar.“Kau ingat apa yang dokter katakan, Abi?” dia mengajukan pertanyaan. Ntahlah, agak sulit memastikan bahwa sesuatu dalam dirinya sangat menginginkan pria seksi ini, tetapi juga begitu ragu karena kondisi tertentu.Abihirt tiba – tiba berhenti, juga sedikit menggeram saat meletakkan wajah di ceruk lehernya.Moreau sendiri tidak ingat kapan mereka sudah berada di atas ran
Tidak tahu alasan seperti apa yang dapat Abihirt gunakan ketika pria itu memutuskan gaun merah untuk melengkapi acara makan malam mereka. Moreau selalu ingin bertanya langsung, meski sering kali menahan diri dari hasrat tersebut.Bagaimanapun, dia juah lebih mengagumi selera Abihirt dan betapa telitinya pria itu mengenai ukuran yang tepat. Dress merah ini ... membuat Moreau merasa sangat sempurna dalam balutan begitu pas. Perutnya memang masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Mungkin beberapa minggu ke depan. Dia tak bisa membayangkan akan sebesar apa nanti. Mengandung dua bayi sudah cukup kewalahan, apalagi kembar tiga.Moreau menelan ludah kasar sambil berusaha menyingkirkan pelbagai perasaan tak terduga yang menyeretnya sampai ke dasar jurang. Anak – anak sedang makan dengan lahap. Sebuah restoran di mana mereka hanya berempat; memungkinkan Moreau mengingat bahwa Abihirt menyewa seisi gedung.Privasi.Ya, mereka menghargai privasi. Meski bukan saat – s
“Aku bisa jalan sendiri, Abi.”Perubahan Abihirt nyaris tidak bisa dimengerti, tetapi Moreau tak berdaya sekadar menolak setiap detil tindakan yang pria itu lakukan. Tiba – tiba mengangkat tubuhnya setelah mereka sampai di halaman depan rumah, sementara anak – anak dititipkan kepada Emma.“Kau dengar aku bicara atau tidak, Abi?” tanya Moreau sedikit tidak sabar. Dia memang lelah. Namun, di balik semua itu ... merasa baik – baik saja. Tidak perlu menganggap kehamilan ini akan bermasalah dan tak harus menanggapi suasana di antara mereka secara berlebihan.“Aku mendengarmu, Mommy. Kau sangat cerewet saat sedang hamil.”Moreau memutar mata malas. Itu jelas tidak benar. Dia tidak cerewet. Hanya merasa tak nyaman karena sikap Abihirt yang cenderung membuat kebebasan terasa seperti ruang kecil yang makin menyempit. Kendati, dia masih belum memiliki kesempatan untuk sekadar melakukan perlawanan lebih besar.Mereka sedang dalam perjalanan melewati undakan tangga. Akan men
Mereka sudah berada di mobil setelah pembicaraan serius bersama dokter kandungan. Ntahlah, Moreau nyaris tak bisa menafsirkan mana berita bagus dan tidak saat ini. Semua masih begitu mengejutkan. Dia tahu bagaimana rasanya mengandung anak kembar, tetapi seakan yakin bahwa tubuhnya mungkin tak sanggup membawa tiga bayi sekaligus. Siapa yang perlu disalahkan terhadap situasi seperti ini? Sungguh, Moreau masih begitu buntu sekadar mencari jawaban. Mungkin butuh waktu lebih panjang untuk merenungi hasil akhir; bagaimana jika ternyata kehamilan ini bukan apa – apa? Situasi di antara mereka akan baik – baik saja? Dan dia bisa menjadi kuat terhadap apa pun? Moreau sempat tersentak merasakan seseorang menyentuh punggung tangannya. Dia menunduk; menemukan siapa pelaku terduga, lalu dengan cepat menepis lengan Abihirt. Napas pria itu terdengar berembus kasar. “Dokter bilang suasana hati ibu hamil memang akan berubah – ubah. Tapi kau tak menyalahkanku karena membuatmu ham
Pemandangan di depan sana ... seharusnya bukan kejutan besar. Moreau tidak tahu. Hanya terpaku, seolah butuh waktu lebih lama untuk mencerna situasi mendadak yang harus ditangani tanpa berusaha meledakkannya secara berlebihan. Dia hamil. Lagi. Kali ini dengan suasana berbeda. Si kembar meminta adik. Abihirt juga menginginkan bayi. Namun, terhadap hubungan rumit mereka ... apa yang bisa Moreau katakan?Semua seperti tiga dimensi yang begitu kabur. Dia berusaha tetap tenang dan akhirnya mengatur napas supaya tidak berdebar secara berlebihan.Kesalahan di masa lalu adalah menyembunyikan kehamilannya dari Abihirt. Moreau rasa, dia tidak punya hak untuk melakukan hal yang sama.Mereka perlu berbagi supaya Abihirt bisa lebih terbuka. Ingin pria itu tahu bahwa dia masih berusaha menaruh kepercayaan, meski sangat dibutuhkan pondasi yang kokoh mengenai prospek tersebut.Tidak terlalu buruk saat sudah mencobanya. Moreau tersenyum sambil memegang alat test pack sebagai tuj
“Bukankah tadi aku sudah memintamu pergi?” Keterkejutan langsung menyerbu Moreau kali ketika dia menginjakkan kaki melewati ruang tamu, tetapi ternyata ... Abihirt di sana. Sedang menjulang tinggi diliputi mata kelabu yang menatap lurus ke depan—tadi, seolah sebuah pemikiran menyeret ayah s
“Mengapa tiba – tiba Mr. Lincoln memintamu menemuinya di sini?” Suara Juan menyelinap setelah keheningan yang pekat. Ntahlah, Moreau tak bisa menduga dengan tepat. Sejak awal, dia sudah dikejutkan oleh kiriman pesan dari pria itu sebelum meninggalkan restoran, yang menyerahkan kesan ganjil
“Aku merencanakan semua sejak awal dan memang berharap segera hamil. Lagi pula, ketidaksengajaan seperti ini sering kali terjadi. Kita tidak bisa hanya berharap pada alat pengaman. Tidak ada jaminan kalau aku tidak akan hamil selamanya. Sudah telanjur juga. Apa lagi yang bisa diharapkan? Aku hami
“Masakanmu enak. Tapi kau tidak bisa terus – terusan menjadi koki di sini, karena ibuku akan mencarimu. Kami baru saja bertemu tadi, kau bahkan tidak pernah menyibukkan dirimu di dapur untuknya” ucapnya, itulah yang tak bisa dilupakan dalam kurun waktu tertentu. Abihirt tidak harus mengabaikan si







