MasukBerulang kali kelopak mata Moreau mengerjap oleh sulur – sulur suara yang merambat semakin jelas saat dia akhirnya menatap ke sekeliling ruangan. Tidak ada perubahan signifikan. Hanya beberapa bagian, setidaknya, terlihat sedikit lebih rapi setelah dia melakukan penataan ulang.
Moreau meregangkan otot – otot yang terasa kaku. Dia tidak ingat kapan terakhir memutuskan untuk tidur dan ketika terbangun, langit terlihat cukup gelap di luar sana. Sial, dia tertidur cukup lama—dengan suara peTuntutan untuk tetap tidur masih terus mendesak. Moreau bahkan nyaris tak menemukan cara terbaik sekadar membuka mata saat merasakan sesuatu yang halus dan menusuk di waktu bersamaan, berusaha memberikan sensasi tambahan, tetapi begitu dekat di ceruk lehernya.Dia bergumam samar; sesekali mencoba menyingkirkan sesuatu yang sangat berat, sesuatu yang terasa keras dan mengingatkannya dengan dada seseorang saat tidak sengaja menempatkan sentuhan terlalu lama di sana.“Abi, apa yang kau lakukan?”Satu pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kesadaran penuh. Namun, Moreau mencoba keras untuk merangkak ke permukaan. Sedikit yakin bahwa kali ini Abihirt memilih cara yang sebenarnya sudah sering kali pria tersebut lakukan, meski dia masih enggan membuka mata.Sapuan hangat dan basah di waktu bersamaan benar – benar tidak dapat dihindari. Pada akhirnya, Moreau memutuskan untuk membuka mata; perlahan – lahan dan menyadari suasana di dalam kamar bahkan masih begitu temaram.S
“Kau tak serius dengan keputusan untuk tidak membiarkanku menyentuhmu, kan, Mommy?”Moreau baru saja menyelesaikan ritual mandi. Sekarang sedang duduk di meja rias diliputi harapan bisa melakukan beberapa kegiatan dengan tenang; seperti memoleskan gel masker di wajah. Namun, harus mendapati Abihirt muncul diliputi ekspresi memelas.Pria itu menjulang tinggi di belakang. Moreau hanya melihat dari pantulan cermin. Tidak ada yang ingin dia katakan, sebenarnya, tetapi Abihirt adalah Abihirt. Tidak akan menyerah sampai mendapat jawaban.Moreau mendengkus. Sedikit berusaha menyingkirkan ujung jemari Abihirt yang terus menjalar di punggungnya—seperti sengaja membentuk pola acak sebagai bentuk bujukan supaya dia berubah pikiran.“Keputusanku masih sama. Jika kau tidak bisa menahan gairahmu. Kau bisa merancap sendiri di kamar mandi,” ucap Moreau setengah kesal. Abihirt bisa melihat bagaimana dia butuh waktu menyelesaikan perawatan wajahnya di sini. Bukan terus mencoba membuju
“Kau seharusnya menciumku di sini.”Masih dengan pernyataan yang sama dan kali ini Moreau bisa melihat sendiri bagaimana Abihirt menunjuk bibir sendiri untuk diberikan ciuman ringan. Rasanya, dia tidak bisa menahan diri selain mengeluarkan suara tawa yang keras. Untunglah, hanya senyum yang Moreau berikan, kemudian berkata, “Batas mencium-mu hanya satu kali. Aku sudah melakukannya,” sambil mengulurkan tangan menyentuh pipi Abihirt—tempat di mana dia menjatuhkan bibir; sesekali memberi sapuan ringan di sana.“Siapa yang bilang kalau menciumku ada batas limitnya?” Suara serak dan dalam Abihirt terdengar sedikit dengan nada geram. Akhirnya membuat kekehan Moreau mencuak samar ke permukaan.“Aku yang membuat aturan itu,” dia menjawab—sedikit harus menenangkan diri dari tawa yang perlahan – lahan menjadi lebih keras. Abihirt kembali terdengar menggeram. Benar – benar tak setuju terhadap apa pun yang dia katakan, sehingga buru – buru berkata, “Aku yang seharusn
“Apa kami sudah terlihat sangat siap untuk bersekolah, Mommy?” Tidak ada yang lebih indah dari menanggapi pertanyaan anak – anak dengan senyum. Seperti yang pernah dia bicarakan di rumah sakit; Moreau ditemani Lore dan Arias untuk membuka paket berisi keperluan sekolah si kembar. Mereka begitu senang melihat tas dan sepatu baru, bahkan tidak ragu – ragu untuk langsung mencobanya. “Kalian sangat menggemaskan. Tentu saja sudah sangat siap untuk bersekolah,” ucap Moreau, tidak hanya sekadar memberi pujian. Sebaliknya, ingin anak – anaknya bersemangat melakukan aktivitas baru mereka. Seharusnya tidak perlu ragu. Dia sendiri tahu bahwa si kembar memang sudah menunggu saat – saat seperti ini. Mereka tidak pernah mengecewakan siapa pun soal keinginan besar yang mereka miliki. “Apa yang sedang kalian lakukan?” Atmosfer terasa sedikit berbeda oleh kemunculan Abihirt. Moreau tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan tiba – tiba bergabung dengan penampilan yang masih terlihat sediki
“Mommy, kenapa setelah pulang dari rumah sakit Daddy menjadi sangat berbeda?”Sudah waktunya tidur, meski bukan sesuatu yang baru jika Moreau mendapati anak – anak mengajak bicara atau sekadar mengajukan pertanyaan seperti yang barusan Lore tanyakan. Apakah sungguh ada sesuatu yang tidak biasa dari Abihirt sehingga pria itu benar – benar meninggalkan petunjuk—tak akan bisa si kembar tahan, selain mengeluarkan semua dari isi kepala mereka?“Dia masih Daddy kalian. Apa yang berbeda?”Moreau menjatuhkan bokong persis di pinggir ranjang milik Lore, karena memang menyusul menyelimuti gadis kecil itu setelah Arias. Dia menatap si kembar secara bergantian. Posisi mereka sudah siap untuk tidur, tetapi keinginan membahas tentang ayah mereka masih terlalu besar.“Daddy tidak banyak bicara. Saat bermain pun, Daddy hanya melihat, tidak mau bergabung bersama kami. Biasanya Daddy tidak pernah menolak. Tadi harus Paman Roger yang menemani kami berdua,” tambah Arias—lebih rinci, leb
“Kau bisa menunggu sampai besok pagi,” ucap Moreau, sedikit memutuskan untuk mengenyakkan punggung di sandaran kursi. Mereka mungkin tidak akan membicarakan apa pun lagi. Setidaknya dia merasa seperti itu. Tidak menduga ternyata Abihirt akan tiba – tiba mengajukan pertanyaan. “Kau tidak marah kepadaku lagi?”Bagus. Sekarang mereka akan memulai percakapan tentang hubungan yang sedikit rapuh. “Haruskah aku?” tanya Moreau sedikit dengan nada menyindir. Ya, haruskah dia benar – benar marah kepada Abihirt dan bersikap tidak peduli sebagaimana itu yang pernah dia lakukan?“Jangan. Aku takut.”Namun, pernyataan pria tersebut membuat sesuatu dalam diri Moreau seperti menghadapi krisis singkat. Dia lebih tergelitik karena Abihirt benar – benar menjabarkan sesuatu yang tampak sangat jelas di mata kelabu pria itu.“Jika kau memang takut, bisakah katakan mengapa membatalkan pernikahan kita secara sepihak?”Tidak ada yang salah jika Moreau melihat ini sebagai k
“Mommy, kenapa kita ada di sini? Apa aku akan disuntik lagi?”Arias yang malang. Selalu merasa ketakutan ketika mereka menginjakkan kaki ke rumah sakit. Terkadang, suasana seperti ini sangat meremas perasaannya, tetapi Moreau selalu ingin bocah lelaki itu tegar menghadapi situasi
“Cepat, Arias! Lari! Sebelum Daddy bisa menangkap kita!” Suara Lore paling berisik. Nyaris menggelegar di seisi ruang tamu. Tidak Moreau mungkiri bagaimana bocah kembarnya terlalu antusias bermain. Mereka harus berlari sebisa mungkin dan Abihirt akan mengejar—sebuah permainan yang sudah ser
Ekspresi Emma mencoba untuk tidak terlihat mencolok, tetapi Moreau bisa mendeteksi sendiri gelengan samar yang merupakan gestur utama. “Sendiri, Ms. Tuan sering berada di dalam sana sendiri.” Ini mengejutkan. Ada usaha untuk benar – benar memahami maksud dari pernyataan Emma. Atau mungkin, Moreau
Sudah lama sejak Abihirt membawa anak – anak masuk, tetapi pria itu tak kunjung keluar kamar. Acara tv masih menyala dan sering kali ... Moreau harus memindahkan perhatian ke kamar anak – anak. Sedikit penasaran, karena tidak ada sedikitpun petunjuk mengenai apa yang mereka lakukan.







