FAZER LOGINWARNING!! Holla, MyRe Kesayangan CaCi!! Novel kita banyak typo-nya yah? Huhuhu, maaf yah, MyRe, typo menggangu kalian dan membuat konsentrasi membaca kalian jadi terganggu. Biasanya setiap kali CaCi habis nulis, CaCi akan baca ulang minimal sekali (kalau terdesak) dan maksimal 3 kali. Tapi, si Typo ini sering lolos dari penglihatan CaCi soalnya mata CaCi cinta buta ke Typo, makanya suka tak sadar dan sulit mengetahui di mana letak si typo. Ini salah satu kekurangan CaCi. Untuk MyRe yang kasih tahu ada Typo, sungguh CaCi sangat senang. Tapi alangkah lebih baiknya MyRe komen di paragraf yang ada typonya biar CaCi langsung ketemu sama typo-nya. Klu di kolom komentar per tiap bab, CaCi susah(〒﹏〒) bahkan kadang sudah 3 kli bc pun, CaCi belum ketemu sama typo-nya. Jadi, kalau ada typo … mohon bantuannya yah, MyRe. Cukup komen 'ada typo' di paragraf yang ada kesalahan kepenulisannya yah, MyRe. Terima kasih.
"Duduk di sofa dan bicara dengan tenang," tegas Kaze. Alan menganggukkan kepala lalu segara duduk di sofa kosong. "Tu-Tuan, aku tidak tahu kalau Vanessa a-akan memanfaatkan jam tangan ini. A-aku sungguh merasa bersalah padamu, Tuan." "Tenangkan dirimu dulu," ujar Kaze. Alan terlihat begitu panik, dia cukup kasihan. Alan menanrik napas dalam-dalam lalu segera mengeluarkannya secara perlahan. Setelah merasa sedikit tenang, dia mulai mencerikan sesuatu yang ia anggap sebagai kesalah. "Jadi … sebelumnya, Tuan Kaizen menyuruhku mengantar Vanessa ke luar kota. Aku diperintah oleh Tuan agar mematikan Vanessa benar-benar ke luar kota." "Tunggu! Kenapa Vanessa harus ke luar kota, Alan?" tanya Naia dengan kening mengerut. "Itu karena Vanessa menjadi penyebab Tuan Kaizen dan Nyonya muda bertengkar. Singkatnya Vanessa sengaja mematikan notifikasi HP Tuan Kaizen agar Nyonya muda tidak bisa menghubungi Tuan. Sampai sekarang Nyonya muda dan Tuan Kaizen masih belum baikan. Oleh kar
Aluna melepas cincin pernikahan dari jari manisnya, lalu meletakkannya di atas meja nakas. Di bawah cincin tersebut ada sebuah kertas. 'Aku benci pria gila sepertimu. Jadi kita cerai saja. Surat perceraian Om urus sendiri, aku malas. Uang sama blackcard yang pernah Om kasih sudah kubuang, sebagai tanda berakhirnya hubungan kita. ---Maaf kalau selama jadi istri Om, aku sangat berisik dan mengganggu. Tapi aku cuma pura-pura minta maaf, aku nggak tulus kok. Ngapain?! Orang Om yang salah. Bajingan! Semoga saat pernikahan Om dan Tante Vanessa, pesawat jatuh tepat di atas gedung tempat pernikahan kalian. Kalaupun kalian tetap lanjut menikah sekalipun ada bagai, angin ribut, halililintar, aku bakalan suruh orang buat ngasih racun tikus di makanan pernikahan kalian. Pokoknya aku nggak ikhlas kalian nikah. Aku benci Om! Aku benci sangat! By Aluna Rasya Adam, mantan istrimu.--- Isi surat yang Aluna tulis untuk Kaizen. Entah pria itu akan membaca surat darinya atau tidak, akan tetapi Alun
Saat ini Aluna sedang di ruang kerjanya. Dia sedang berbicara dengan Inggita mengenai kejadian beberapa hari yang lalu.Sekalipun semalam Kaizen sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi dia dan pria idu masih belum baikan. Sampai saat ini Aluna masih marah, dan Aluna juga tak tahu sampai kapan dia akan mendiami Kaizen. Tadi, Inggita mengatakan kalau Kaizen ternyata benar-benar datang ke kantor ini pada jam 5 sore, di saat Aluna sudah pulang dan hanya beberapa staf yang tinggal—termasuk Arsenio. Inggita sendiri juga sudah pulang, tapi seorang staf bercerita padanya dan yang saat ini Inggita sampaikan sama persis dengan apa yang staf tersebut katakan. "Tuan Kaizen memukul Pak Arsenio?" gumam Aluna pelan pada Inggita, di mana dia sengaja mengunakan kata ganti tuan dan pak karena sedang berbicara dengan Inggita, dan masih di lingkungan kantor. "Iya, Bu." Inggita menganggukkan kepala secara pelan, "gara-gara Pak Arsenio bilang kalau itu … Tuan Kaizen lebih prioritasin
Plak'Dengan sangat murka dan kencang, Kaizen langsung melayangkan tamparan ke wajah Vanessa."Ahck," ringis Vanessa, tersungkur kasar di lantai—berbaring dengan posisi menyedihkan, sambil memegang pipi yang panas dan sakit luar biasa. "Aku benci perempuan berisik!" geram Kaizen, matanya berselimut marah dan wajah tampak menyeramkan. Dia melangkah mendekat ke arah Vanessa, mencengkeram wajah perempuan itu secara kasar—membuat Vanessa yang menahan sakit, buru-buru duduk untuk mengikuti tarikan Kaizen pada rahangnya. Plak'Kaizen kembali mendaratkan tamparan yang sama kuatnya dengan yang tadi. "Unggg." Vanessa memekik tertahan. Ini sangat sakit luar biasa, rahangnya terasa bergeser dan mungkin patah. Air matanya jatuh karena perasaan takut yang bercampur dengan perasaan sakit hati sebab dia ditampar oleh pria yang ia dambakan sejak lama. Kaizen melepas cengkeramannya dari pipi Vanessa secara kasar, membuat Vanessa kembali terhempas kasar—lagi-lagi berakhir berbaring di lantai. Setel
Aluna benar-benar menonton seluruh kartun yang ada di laptopnya. Dia bahkan menonton ulang beberapa kartun supaya Kaizen jengah dan bosan menemaninya lalu pada akhirnya pergi. Namun, ternyata pria ini tetap setia menemaninya. Bahkan tangan Kaizen tak hentinya mengelus rambutnya. "Aku sudah selesai," ucap Aluna, mematikan laptop lalu meletakkannya di atas nakas. "Humm." Kaizen berdehem rendah, "sekarang kita harus bicara.""Silahkan," jawab Aluna acuh tak acuh. Dia berniat pindah, akan tetapi Kaizen memeluk pinggangnya—menahannya supaya dia tak pergi. Kaizen menunduk menatap istrinya dengan ekspresi datar. Akan tetapi sorotnya menatap lekat dan dalam pada Aluna."Kemarin, aku mengaku salah. Tetapi aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan kesalahan," ucap Kaizen dengan nada tegas. "Yang kutahu pestamu diadakan di jam setengah lima, dan untuk bisa datang aku sudah berusaha. Tapi saat aku datang, pesta kalian sudah selesai.""Aku tidak mempermasalahkannya. Lupakan," jawab Aluna
"Liam menyukai Aluna?" Kaizen mengerutkan kening, ekspresinya datar tetapi sorot matanya tajam dan terasa membunuh. "Masih dugaan, Tuan," ucap Alan, "karena … ketika di hari pemakaman ayah Vanessa, kulihat Liam beberapa kali mencuri pandang pada Nyonya. Entah kenapa, saat itu dia juga selalu ada di sekitar Nyonya. Maksudku, ketika Nyonya ada di ruang tengah rumah Vanessa, dia juga ada di sana. Saat Nyonya pindah ke depan, dia juga ikut pindah. Selain itu, ketika Nyonya di rumah sakit setelah tertabrak, dia juga di sana, bukan?"Kaizen menganggukkan kepala secara pelan. Dia ingat, saat itu Liam memang ada di sana. Namun, Kaizen cukup cuek pada sekitar, jadi dia tak terlalu memperhatikan Liam. Toh, yang dia tahu Liam begitu mencintai Vanessa, jadi tak mungkin rasanya Liam bisa suka pada perempuan lain. Pria yang mencintai perempuannya tak akan tertarik pada wanita lain, bukan?Atau … memangnya ada pria yang mencintai satu perempuan tetapi masih bisa tertarik pada perempuan lainnya? J
"Asal kamu tahu yah, Nabila yang salah! Dia dekat-dekat sama Arshaka dan aku nggak suka!""Trus hubungannya dengan kamu apa?" Aluna bersedekap di dada, menatap kesal campur lelah pada Laudia. "Ya-ya … aku suka sama Shaka," ucap Laudia sambil menatap ragu pada Shaka yang terlihat memasang wajah s
Sebenarnya Laudia baik dalam akting, dan itu salah satu faktor kenapa Laudia terkenal. Namun, perempuan ini tidak menguasai banyak ekspresif dan kurang mahir di bagian peran yang strong, lincah, dan banyak mengeluarkan mimik muka. Mungkin perempuan ini terlalu nyaman di zonanya–di mana seringnya Lau
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Kaizen datar, menutup pintu mobil setelah Aluna masuk lalu menatap dingin ke arah Vanessa. "Aku ingin mengantarkan dokumen ini, Kak," ucap Vanessa sambil menyerahkan sebuah dokumen penting pada Kaizen. "Kau bisa menyerahkannya setelah di kantor," ujar Kaiz
"Bercerai." Kaizen berkata datar, meletakkan ponsel di atas meja lalu fokus menatap Aluna, "Kakakmu sudah menjatuhkan talak. Tinggal mengurus ke pengadilan." "Wah … kok bisa?" tanya Aluna spontan, antara kaget dan senang secara bersamaan. Pantas saja tadi daddy-nya riang, tertanya kakaknya bersedi







