LOGINSedangkan Hendra, dia tidak mau menikahiku. Argkkk … Kaina sialan!" pekik perempuan itu lagi, tak lain adalah Freza. Kaina menunjukkan raut muka julit campur konyol. Sepertinya Freza sudah sinting karena hamil sebelum waktunya. "Tunggu saja! Aku pasti akan membalasmu, Kaina. A-aku akan membuat Elzeren menceraikanmu dengan cara yang memalukan! Dan … kupastikan keluargamu juga tidak akan menerimamu." Freza berkata menggebu-gebu, penuh amarah dan rasa kesal setengah mati. Baginya apa yang terjadi padanya sekarang, itu karena Kaina. Dulu, setiap kali Elzeren ke luar kota, Elzeren selalu membawanya. Namun, sekarang Elzeren tak mau membawanya lagi ke luar kota dan luar negeri. Bahkan posisinya sebagai sekretaris sudah dicopot, dia hanya staff biasa! Freza tak terima karena posisinya diturunkan, dia semakin kesal dan marah karena Elzeren sudah tidak membawanya ke luar kota lagi. Di kantor, bahkan Elzeren bersikap sangat dingin padanya. Dia tak bisa lagi bebas menemui Elzeren—harus me
--Satu bulan kemudian-- Kaina berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah pelan sambil kembali membaca laporan medis dari dokter. Wajah Kaina tampang bingung dan tegang, cengkeramannya pada keras laporan medis cukup kencang. Saat ini Kaina ke rumah sakit ditemani oleh maid dan bodyguard. Elzeren tidak ada karena pria itu sedang di luar negeri. Sudah satu minggu Elzeren di sana, mungkin besok suaminya tersebut akan pulang. "Kok cepat banget?" gumam Kaina, menggaruk pelipis karena masih bingung harus bereaksi seperti apa. Sejujurnya dia senang, akan tetapi ada perasaan gugup yang memenuhi dirinya juga perasaan canggung—entah pada siapa. Sebulan ini hidup Kaina masih sama. Kaina masih canggung dan kaku setiap kali berhadapan dengan Elzeren. Sedangkan Elzeren, sepertinya pria itu tak memiliki rasa canggung ataupun gugup. Namun, pria itu sangat sibuk dengan pekerjaan. Sebelum ke luar negeri, Elzeren pergi ke luar kota, dia di sana semalam 3 hari. Setelah pria itu keluar kota, pr
"Kenapa kita langsung ke sini?" Kaina mengerutkan kening, menatap Elzeren penuh tanda tanya dan cukup bingung. Mereka semua sudah pulang dari villa. Nakilla dan Aiden pulang ke kotanya, sedangkan yang lainnya pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Kaina dan Elzeren, langsung pulang ke rumah pribadi milik Elzeren. Itu letak masalahnya bagi Kaina, karena dia kira dia dan Elzeren pulang ke rumah orang tua pria ini. Nakilla pernah cerita tentang tradisi di keluarga Smith. Nakilla bilang para pria Smith yang baru menikah wajib tinggal dengan orang tua mereka selama beberapa bulan, minimal tiga bulan. Nakilla bilang itu dilakukan supaya yang baru menikah bisa belajar berumah tangan dari orang tua. Namun, kenapa Elzeren tidak begitu? Maksudnya pria ini langsung membawanya pulang ke sini. Apa pria ini tak takut melawan tradisi keluarganya? "Ini rumah kita. Tentu kita pulang ke rumah kita, Janu," jawab Elzeren rendah, menggenggam tangan Kaina erat—menarik Kaina ke kamarnya. "
"Kita sedang tidak di kamar. I-ini tempat umum," bisik Kaina pelan, tetapi menatap Elzeren penuh peringatan. Wajah Elzeren semakin dekat padanya dan dia tahu pria ini berniat menciumnya. Namun, Kaina tak akan membiarkan. "Ada yang salah?" Elzeren menaikkan sebelah alis, berniat mencium Kaina akan tetapi perempuan itu dengan cepat memalingkan wajah. "Jangan menolak!" peringatnya kemudian, tangannya yang bebas langsung mencengkeram pipi Kaina agar perempuan ini menghadap padanya dan tak bisa memalingkan wajah. "Iyalah!" Kaina melotot lebar. "Di sini bukan hanya kita berdua. Keluargamu ad …- hmmff!" Ucapan Kaina langsung berhenti karena Elzeren berhasil menciumnya. Seluruh wajah Kaina langsung memerah, jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya sudah panas dingin. "Ekhem." "Ekhem." "Ekhem hem hemmm." Hingga tiba-tiba saja suara deheman terdengar dan saling bersahutan. Elzeren melepas ciumannya pada Kaina lalu menoleh ke arah sumber suara deheman tersebut. Tak jauh d
'Berhenti menciptakan jarak, itu hanya akan memperburuk hubungan kita, Kaina Ghazan Adam.'Kaina menatap pemandangan di depan dengan ekspresi wajah bengong. Sejak tadi, Kaina terus memikirkan ucapan Elzeren padanya saat tadi malam. Kalimat itu cukup menguras kewarasan Kaina, membingungkan tetapi seperti sebuah kepastian. Menurut teori kege'eran Kaina, ucapan Elzeren semalam berarti pria itu suka padanya oleh karena itu Elzeren tak ingin hubungan mereka jadi buruk. Namun, menurut teori pemikiran sesatnya, Elzeren mengatakan itu karena pria itu suaminya dan Elzeren hanya ingin kehidupan rumah tangganya tanpa masalah. 'Aku tanya Sera saja. Dia kan pakar hal romantis,' batin Kaina, segera mengeluarkan HP dan langsung mengirim pesan pada sahabatnya tersebut. [Berhenti menciptakan jarak, itu hanya memperburuk hubungan kita.' Kalimat itu artinya apa, Ra?]Setelah mengirim pesan itu, Kaina terus menatap layarnya, menunggu Sera membalas pesannya. Untungnya saat ini Sera sedang online, jadi
Itu ninbulin fitnah, tahu nggak?" kesal Freza. "Sudah sudah! Hanya salah paham biasa. Lupakan saja," relai Luisa. "Iya, Nek." Kaina menganggukkan kepala pelan, "aku juga udah ngaku salah paham sama nama ElFre. Soalnya ElFre, El-nya siapa tahu … EliHendra dan Fre-nya Freza. Tahu-tahunya bukan.""Nama pacarku Hendra Chandra, Kaina. Bukan EliHendra!" kesal Freza. "Ya, maaf. Namanya juga baru jumpa. Jadi … mana kutahu nama lengkap Kak Hendra siapa," jawab Kaina santai. Umpannya sudah dimakan, tinggal dia yang harus sigap mengangkat joran, "sumpah, Nek, tadi kupikir nama Kak Hendra ini EliHendra. Makanya kupikir ElFre itu singkatan dari EliHendra dan Freza. Eh, ternyata bukan. Soalnya nama Kak Hendra nggak ada unsur El-El-nya. Kirain ada kayak Kak Elze-- Oh!" Di akhir kalimat, Kaina melebarkan mata dan seketika menoleh ke arah suaminya. Mulut Kaina terbuka lebar, tetapi ia tutup dengan telapak tangan. Dia menatap suaminya seolah sedang menemukan hal menakjubkan. "ElFre-- Elzeren Freza
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







