LOGINMalik ingin bertanya lagi tapi suara riuh terdengar dari arah luar. Para pegawai mulai berdatangan. Keduanya hanya bisa saling memandang terutama Zayn yang tatapannya sulit diartikan. Malik pun memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya.
Saat istirahat makan siang, barulah Malik menemui Zayn. "Zayn.." tegurnya. "Ya?" "Ada yang ingin kukatakan padamu." Zayn berbalik menghadap temannya. "Aku mendengarkan." "Aku bertemu Elena kemarin." "Oke. Lalu?" "Dia bercerita mengenai masalah rumah tangga kalian." Zayn menutup mata sambil memijit pangkal hidungnya. "Lalu?" "Aku tidak ingin ikut campur. Sungguh! Tapi, kurasa kalian harus memperbaiki semuanya. Mulai lagi dari awal." Zayn terkekeh. "Tenang saja. Kami akan mengulang semuanya dari awal." Malik berharap demikian. Pernikahan Zayn dan Elena bisa diselamatkan asal keduanya bisa sama-sama saling mengerti. "Zayn tahu kita bertemu?" Tanya Elena di ujung telpon. "Iya. Dia juga sudah mengatakan kalau dia ingin memperbaiki hubungan kalian dari awal." Tiba-tiba firasat Elena mengatakan hal buruk. Seperti ada sesuatu yang besar akan terjadi. "Lalu, dia mengatakan apa lagi?" "Hanya itu." "Malik, aku..." Elena ingin berbicara tapi bibirnya keluh. "Elena, kumohon. Lupakanlah apapun yang terjadi pada kita. Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Mari kita perbaiki hubungan kita pada pasangan masing-masing." Ucap Malik serius. Elena pun tertegun akan ucapan Malik. "Baiklah." Bahu Elena merosot setelah mendengar keputusan Malik. Pria itu meminta melupakan semua kejadian yang terjadi kemarin. Padahal, Elena sudah berharap lebih. Tak munafik, sebagai wanita.. Elena butuh yang namanya kasih sayang. Dengan suaminya, Elena tak mendapatkan itu. Tak tahu kenapa hatinya sulit sekali menerima Zayn. Malik yang lembut dan setia, Elena benar-benar terbuai. Tapi pria itu malah meminta untuk melupakan semuanya. Setelah mematikan sambungan ponselnya, Malik mengurut dadanya. Detak jantungnya berdegup kencang seolah baru saja dia melakukan kesalahan yang besar. "Jangan sampai.. aku tidak mau!" Gumam Malik ketakutan. Elena sudah menceritakan semuanya. Kecurigaan bahwa suaminya ini menyukai Shireen. Baik sikap, tatapan mata hingga bicara, sepertinya Zayn menyukai Shireen. Malik jadi teringat apa yang dikatakan Zayn malam itu. Ia ingin mengajak bertukar istri. Itu artinya.. Zayn serius akan ucapannya. Tapi, ada satu hal lagi yang membuat Malik ketakutan. Jangan sampai istrinya tahu soal ini. Walaupun Malik belum mencintai Shireen, tapi ia tak ingin menyakiti hatinya. Sesampainya di rumah, Shireen kebingungan karena Malik malah memeluknya begitu erat. "Mas lagi ada masalah?" Shireen membelai punggung suaminya. "Nggak. Cuma ingin peluk aja." Malik mengencangkan pelukannya. "Tapi, aku kehabisan nafas." Malik segera melepaskan pelukannya setelah mendengar suara nafas istrinya yang terengah. "Maaf.. aku cuma rindu sama kamu." "Apaan sih!" Shireen tertawa. Malik memandang wajah ayu istrinya. Kenapa dia sekarang baru sadar kalau istrinya ini begitu cantik? Apalagi senyuman itu. Pantas saja banyak kumbang yang ingin menghisap madunya. Kemana saja dia selama ini. "Tumben sekali kamu masak." Zayn terkejut. Istrinya malam ini memasak makan malam walau Zayn tak yakin bagaimana rasanya. "Sekali-sekali. Nyenangin suami." "Udah belajar cara nyenangin suami?" Sindir Zayn. "Aku sedang berusaha." Jawab Elena malas. "Tumben!" "Makan saja, kenapa sih?" Kan Elena jadi kesal. Zayn tersenyum simpul dan duduk di meja makan. Mengambil ayam goreng dan mengirisnya. "Lumayan." "Kamu harus sering mengajariku memasak." "Kenapa?" Elena jengah dengan pertanyaan suaminya. Sementara Zayn memandang istrinya yang dilihatnya berbeda. Elena memakai baju tidur berbahan satin, rambutnya pun di gelung ke atas. Seakan berniat untuk menggoda. "Apa ada yang menasehatimu soal pernikahan?" Tanya Zayn. "Nggak ada. Bukannya kamu bilang ingin mengulang semuanya dari awal? Aku cuma mau melakukan itu." "Aku nggak pernah bilang begitu padamu." Elena tersentak atas perkataan Zayn. Astaga! Dia baru ingat. Maliklah yang mengatakan ini tadi padanya. "Jadi.. ada pakar cinta yang menasehatimu?" Zayn menatap tajam. "Lupakanlah.. maksudku, aku mau kita mengulang semuanya dari awal." "Kenapa? Kamu dicampakkan olehnya?" Elena terkejut. "Maksudmu?" "Karena kamu tidak mendapatkannya, maka kamu beralih padaku. Begitu?" "Maksudmu?" "Tubuh mana yang disentuh?" "Zayn!" Tegur Elena. Dia berharap suaminya cepat sadar dari pembicaraan yang mengarah kemana-mana ini. "Sekali lagi aku tanya. Bagian tubuh mana yang disentuh??" Zayn menaikan intonasi suaranya. "Kamu ngomong apa?? Aku nggak ngerti!" Jerit Elena. Elena menjerit setelah suara pecahan gelas terdengar. Tak hanya itu, Zayn bangkit dari duduknya dan menendang meja makan. Tak sampai disana, Zayn juga menyibak piring di atas meja makan hingga jatuh terpecah belah. "Zayn, cukup!!" Teriak Elena ketakutan. Zayn menerjang tubuh Elena dan mencengkram kedua lengan istrinya. "Berniat menggodaku dengan baju ini?" Zayn menatap istrinya dari atas ke bawah dengan jijik lalu meludahinya. "Aku tidak sudi." Elena menutup mata menahan rasa sakit atas cengkraman suaminya. "Zayn, sadarlah.." Elena melirih. "Kamu yang sadar! Kamu sudah tidak waras, Elena! Setelah kamu memberikan tubuhmu pada pria lain, malam ini seenaknya kamu bilang ingin mengulang dari awal. Sialan!" Zayn menampar pipi Elena hingga wanita itu terjatuh. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh rahang Elena. "Jangan mendekat!" Desis Elena beringsut mundur. "Atau aku akan lapor polisi!" Zayn tergelak. "Silahkan. Maka aku akan melaporkanmu dan selingkuhanmu atas tuduhan perzinahan!" "Aku nggak selingkuh!" Teriak Elena. "Kamu pikir aku bodoh??" Teriak Zayn emosi. "Kamu pergi bersama Malik. Menghabiskan waktu bersama. Saling bercumbu. Apa kamu pikir aku nggak tahu?" Elena terkejut setengah mati mendengar ucapan suaminya. "Zayn..." Elena melirih. Matanya sudah berkaca-kaca. "Dasar sampah! Harusnya aku tidak memungutmu!" Zayn kembali meludahi Elena hingga membuat wanita itu menangis tersedu-sedu. "Aku bisa jelaskan.." ucap Elena ditengah tangisannya. Sungguh, semuanya terjadi di luar dugaan. "Menjelaskan perselingkuhanmu? Aku tidak sudi mendengarnya. Tulis saja di novelmu!" Zayn menendang lagi sebelum benar-benar pergi. Dia takut bisa membunuh Elena jika sudah habis kesabaran. Sementara Elena menangis tersedu-sedu. Sungguh, dia ketakutan saat ini. Tak ada niatnya untuk berselingkuh dengan Malik. Kemarin mereka hanya terbawa suasana saja. Saat Malik membawanya dalam dekapan. Elena memeluknya dengan erat seolah pelukan Malik adalah obat penenangnya. Setelah itu, Elena lupa diri. Ia terhanyut akan buaian bibir pria itu. Bibir yang lembut dan hangat ketika dikecup. Saat keduanya sadar telah sama-sama terbuai, barulah Elena menyesalinya. Walau ia harus jujur, rasa itu memang masih ada yang tertinggal. "Astaga!" Elena jadi teringat akan Malik. Bergegas Elena menuju kamar dan mengubungi mantan kekasihnya itu. Ia takut Zayn akan kesana dan memporak porandakan rumah tangga Malik dan Shireen. "Halo, Malik!" Seru Elena begitu cemas ketika Malik mengangkat panggilannya. ["Ada apa, Elena?"] "Zayn.. Zayn sudah tahu semuanya. Dia melihat kita!" Elena begitu histeris mengatakannya. ["Melihat apa maksudmu?"] Elena lalu menjelaskan kalau Zayn telah melihat mereka berciuman sore itu. Keterkejutan Malik berlipat ganda ketika Shireen menyusulnya ke dalam kamar. "Ya, sayang?" Malik menjadi gugup ketika melihat Shireen sudah ada di belakangnya. Ia lalu memutuskan panggilan. "Kamu disini rupanya." Shireen tersenyum. "Ada tamu di luar mencarimu. Mas Zayn." Mata Malikpun membulat sempurna.Setelah Zayn yang mendapat kejutan berupa surat dari istrinya, kini giliran Shireen yang akan diberikan kejutan.Diri ini dibawa menuju sebuah area perumahan elit namun terlihat sederhana. Shireen sampai terperangah karena terpesona. Bangunan rumah craftsman style, ala Amerika dengan konsep khas horizontal. Bangunan terbuat dari kayu dengan banyak jendela.Keduanya lalu turun di sebuah rumah berwarna coklat tua."Ayo kita turun." Ajak Zayn.Meskipun bingung, Shireen tetap manut dan mengikuti langkah kaki suaminya. Ia sempat heran karena Zayn malah membuka rumah itu dengan sebuah kunci. Apa mungkin? Tunggu, jangan menebak dulu.Pintu terbuka. Shireen dibuat sumringah. Bagaimana tidak? Desain khas rumah ini, lantai dan dinding dari kayu, membuat rumah ini begitu sejuk.Baru membuka pintu, Shireen dihadapkan dengan tangga yang akan menuju lantai 2. Sebelah kanan ada sebuah ruangan untuk menerima tamu, di sebelah ruang tamu yang dibatasi dinding kayu, ada lagi ruang keluarga yang menghada
Dua minggu kemudian..Dari semalam Nani sudah menginap di yayasan. Sabtu ini adalah keberangkatannya ke Solo. Sekaligus, dia akan berpamitan kepada para pengasuh yang sudah diberi tanggung jawab untuk mengurus yayasan ini."Sudah siap, ma?" Tanya Malik yang baru saja tiba bersama Layzal.Shireen yang sedang mengobrol dengan Nani, menyambut Layzal dengan senyuman. Tapi sayangnya, senyuman itu ditepis. Lay seperti memiliki dunianya sendiri."Sebentar lagi. Apa sopir sewanya sudah datang?""45 menit lagi sampai.""Mas Malik ikut mengantar?" Tanya Shireen ketika melihat Malik yang rupanya juga membawa dua koper besar.Malik hanya memandang Nani sementara ibunya memalingkan wajah. Seakan mengatakan bahwa ia tak ingin ikut campur. Dua minggu yang lalu, Elena dilarikan lagi ke rumah sakit. Bibi art diberhentikan, Malik sudah angkat kaki karena apartemen itu sudah disita. Dia bersama Layzal tinggal bersama Nani di rumahnya.Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Nani. Yaitu hubunga
Sudah empat minggu Zayn menjalani terapi, belajar bagaimana cara mengontrol amarah serta melampiaskan dengan cara yang tepat. Tinggal dua pertemuan lagi, maka dia akan bebas dari pelajaran ini. Apakah bisa dikatakan lulus ? Oh, tunggu dulu. Zayn belum selesai dengan ujiannya.Terkadang dia merasa apa yang diajarkan Wita ini kepadanya begitu lucu. Malah sesuatu yang bisa didapatkan begitu saja dari luar. Sebagai contoh, ketika marah Zayn harus bisa melakukan teknik relaksasi agar tidak meledak. Menarik nafas dalam dan mendengarkan musik klasik bisa menjadi pilihan.Ada lagi, jika Zayn ingin mengeluarkan kata kasar dia juga diajarkan untuk memberikan kata-kata yang positif saja. Mengucapkan ketidak sukaan dengan mengeluarkan kata maaf tidak suka. Pilihan lainnya, Zayn bisa mengungkapkan kemarahannya melalui tulisan supaya tidak menyakiti orang lain.Zayn juga baru tahu bahwa teknik ini juga diajarkan untuk pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa. Awalnya dia tersinggung, dia kan
"Mbak Elena menuliskan surat untukku.. surat permintaan maaf." Ucap Shireen memecah keheningan.Setelah bertemu dengan Elena, Zayn jadi pendiam. Dia tak mengeluarkan satu katapun."Dia meminta maaf karena sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan mas Malik. Lalu.. dia juga menulis kalau dia menyesal sudah membuat drama kalau aku berselingkuh dengan suaminya..""Kamu memaafkannya?" Tanya Zayn sambil menyetir."Apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya manusia biasa, mas. Rasanya hati ini sudah terlalu penuh karena mendapat rasa sakit atas manusia. Yang kubisa lakukan adalah melepaskan, memaafkan semua dan melupakannya.. walau aku tidak tahu sampai kapan hati ini bisa bertahan. Aku hanya meminta dikuatkan."Zayn terdiam dengan ucapan istrinya."Dia juga menulis surat untuk beberapa orang, ada satu nama yang tidak aku kenal, Laila namanya. Lalu surat untuk mama, Layzal, mas Malik dan juga untukmu..""Untukku?" Zayn menoleh untuk memastikan."Dia meminta maaf padamu. Dia menyesal sudah berseling
Malam ini juga, Malik pergi ke tempat usaha laundry berada. Berita yang ia terima ini sungguh mengejutkan. Usaha laundry yang baru dirintisnya hampir 6 bulan ini ludes di lalap api. Entah bagaimana ceritanya, polisi kini tengah menyelidikinya.Kerugian Malik pun mencapai puluhan juta. Pria ini lalu terduduk sembari menatap petugas pemadam yang sedang menaklukan si jago merah.Belum selesai satu masalah, sudah ada masalah yang lain.Baru minggu kemarin Malik terpaksa menjual mobil milik Elena. Pengacara yang ia sewa harus dibayar, belum lagi Malik harus menyogok situs xxx agar video Elena dihapus. Belum lagi pengeluaran lain yang tak terduga. Waktu lalu dia sudah menghabiskan 200 juta untuk membayar denda Elena ke penerbit, lalu membuka usaha laundry ini, belum lagi cicilan apartement dan juga keperluan lainnya.Astaga! Malik hanya bisa memandang sedih kehidupannya. Mungkin ini sudah jalan takdirnya dimana bertubi-bertubi masalah datang kepadanya.***Sabtu ini kebetulan libur, Zayn ju
Shireen dan Zayn menatap monitor dimana calon anak mereka tengah direkam. Hari ini, usia kandungan Shireen sudah 10 minggu, organ-organ mulai terbentuk. Detak jantungnya pun tak luput diperdengarkan melalui speaker.Oh, Shireen sampai terharu. Ternyata ada kehidupan lain yang ia bawa dalam rahimnya. Anak yang sudah dinanti-nantinya sejak dulu.Begitu juga Zayn yang sama harunya. Wajahnya yang kaku itu tersenyum lebar. Inilah calon anaknya yang nanti akan ia besarkan dengan cinta dan kasih sayang."Semuanya bagus, organnya juga sudah terbentuk.""Apa ada masalah, dok?" Tanya Zayn."Sejauh ini tidak masalah.""Calon anak kami perempuan atau laki-laki?"Dokter wanita itu lalu tersenyum."Untuk saat ini belum terlihat, nanti bulan depan kita periksa lagi." Dokter tersebut beralih pada Shireen. "Apa masih ada keluhan?""Mualnya masih, dok. Apalagi kalau pagi, pasti sampai muntah.""Nanti kita resepkan obat anti emetiknya lagi, ya. Vitaminnya masih ada?""Resep lagi aja, dok. Nanti saya teb







