Masuk"Silahkan, mas."
Dengan anggun Shireen menaruh satu cangkir teh lemon di hadapan Zayn. "Terima kasih." Tak peduli teh tersebut masih panas, Zayn menyesap minuman tersebut perlahan. "Sungguh menyegarkan. Enak sekali, Shireen." Pujinya. "Mas Zayn memang pandai memuji." Senyum Shireen jadi mengembang karena dipuji oleh Zayn. "Zayn!" Tegur Malik. Pria ini baru keluar dari kamar. Tadi dia menenangkan dirinya sebentar. Siapa tahu Zayn datang untuk memakinya. Menuduhnya berselingkuh dengan Elena. Jadi, Malik harus menyiapkan jawaban. "Hai, Malik!" Sapa Zayn hangat. "Ada apa malam-malam kemari?" Malik lalu duduk di hadapan Zayn, tepat di samping istrinya. Dia harus bersikap biasa saja, seolah tidak tahu apa-apa. "Aku ingin memberikan ini. Aku sengaja nggak menghubungimu karena aku sekalian keluar." Zayn lalu mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya. "Tadi Pak Bram menitipkan ini pada sekretarisnya. Katanya ini untukmu. Tapi, karena kamu pulang terburu-buru jadi berkas ini dititip padaku." Malik melihat map itu sekilas dan mengambilnya. Ternyata ini berkas laporan yang baru saja diselesaikannya. Ada revisi dibagian sana sehingga harus cepat diperbaiki. "Terima kasih." "Aku takut itu berkas penting makanya aku kemari. Tidak enak juga terus menahan sesuatu yang bukan milik kita, kan?" Baik Zayn dan Malik saling memandang. "Betul. Apa yang menjadi milik kita, harus selalu dijaga sepenuh hati." Ucap Malik. "Setuju. Karena bisa jadi ada orang lain yang ingin berniat mengambilnya." Tangan Malik mengepal kuat apalagi ketika Zayn mengucapkan kalimat tersebut sembari memandang Shireen. Lalu senyuman itu. Ah! Malik benar-benar kesal dibuatnya. "Itu saja. Aku pamit pulang!" Zayn bangkit dari duduknya. "Terima kasih." "Jaga milikmu dengan baik, Malik. Jangan sampai kamu malah meninggalkannya sembarangan." Ucap Zayn lagi memandang tajam Malik. Ia lalu beralih pada Shireen. "Terima kasih teh lemonnya. Aku menyukainya." Shireen tersenyum. "Terima kasih juga, mas sudah repot mengantar berkas ini kemari." Zayn tersenyum melihat Shireen namun seperkian detik raut wajahnya berubah ketika bertabrakan dengan Malik. Dan Malik sadar, Zayn tengah memberi ancaman padanya. *** Sebenarnya Malik tidak mood untuk keluar hari ini walau ini adalah Sabtu. "Nggak ngegym, mas?" Tanya Shireen yang heran karena suaminya ini dari semalam terus menempel padanya. "Lagi males." "Tumben. Mas lagi sakit?" Shireen meneliti wajah suaminya. "Nggak, sayang. Cuma pengen deket kamu aja." Malik meraih tangan istrinya dan mengecup pelan. Shireen terperangah. Tak biasa-biasanya Malik bersikap romantis seperti ini. Biasanya dia cuek. "Mas, lagi ada masalah?" Shireen menyelidik. "Nggak." "Ada yang mas sembunyikan dariku?" "Eh!" Malik sampai kaget mendengar pertanyaan Shireen. Istrinya ini memang begitu peka. "Sebenarnya aku.. cuma lagi pusing aja. Laporan yang diberi oleh Zayn semalam belum kukerjakan." "Oh, begitu.. kenapa nggak dikerjain aja sekarang? Dari pada kamu ngeliatin aku terus begitu?" Tanya Shireen heran. "Nanti aja. Aku mau sama kamu." Malik memeluk istrinya dengan erat. Sesungguhnya ucapan Zayn terngiang-ngiang di pikirannya. "Kamu ini.." Shireen mendorong pelan bahu suaminya. "Aku mau berkebun. Tanamanku udah mulai tinggi." "Akan aku bantu!" Malik langsung bangkit berdiri dan lagi-lagi membuat Shireen terperangah. Acara berkebun dimulai. Shireen meminta suaminya untuk menggunting daun dan ranting yang menjuntai keluar. Sementara, dirinya akan mencangkok tanaman. "Sayang, apa kamu percaya padaku?" Tanya Malik tanpa menoleh. Ia tengah menggunting daun. "Percaya. Aku selalu percaya padamu. Ada apa, mas?" Shireen jadi penasaran akan perubahan sikap suaminya. "Nggak apa-apa. Cuma nanya aja." "Tenang aja, mas. Aku akan selalu percaya sama kamu. Aku cinta sama kamu." Shireen berucap tulus. Malik hanya bisa menghela nafas. Cinta istrinya begitu agung. Begitu tulus. Ia tak mau kehilangan itu. Malik akan mempertahankan apapun yang terjadi. "Sudah selesai." Ucap Malik. "Aku juga baru selesai." "Kita pergi jalan keluar, gimana? Makan siang di luar." Tawar Malik. "Boleh juga. Kalau gitu aku mandi dulu, ya.." Selesai berkebun dan membersihkan diri. Malik dan Shireen pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Sungguh kegiatan langka bagi pasangan yang sudah 8 bulan menikah ini. Sebab selama ini, Malik sibuk dengan dunianya dan Shireen sibuk mengeksplorasi kemampuan memasaknya. Jarang sekali makan bersama diluar. Baru saja pesanan tiba. Seseorang menyapa mereka. "Apa kami boleh bergabung?" Tanya Zayn ramah. "Mas Zayn, mbak Elena!" Kejutan sekali bagi Shireen. "Boleh. Silahkan." Mata Malik melotot karena istrinya ini main izinkan saja mereka untuk bergabung. Padahal di meja lainnya masih ada yang kosong. "Kalian sudah memesan?" Tanya Shireen yang memberikan menu kepada Elena. "Kebetulan belum. Kamu mau pesen apa, sayang?" Tanya Zayn kepada istrinya. "Aku lihat dulu." Jawab Elena. Suasana menjadi canggung karena Malik dan Zayn malah tak saling menyapa. Sesekali Malik juga menatap Elena yang memakai masker penutup hidung dan mulutnya. "Aku pesan ini aja.." Elena menyebutkan pesanannya pada Zayn. "Aku pesan dulu." Zayn lalu pergi untuk memesan makanan. "Mbak Elena lagi sakit?" Tanya Shireen karena wanita di sampingnya ini memakai masker. "Iya. Lagi batuk sedikit." Elena lalu berdeham. Shireen mengangguk dan menatap suaminya. "Mas, aku mau ke toilet sebentar, ya.. mau ganti tissue bersayap." Malik tersenyum. "Iya, jangan lama-lama." Akhirnya, tinggalah Malik dan Elena di satu meja yang sama. "Kalian sudah berbaikan?" Tanya Malik dengan suara pelan. "Begitulah. Kadang kami bermusuhan tapi kadang kami berbaikan." Jawab Elena datar. "Kamu nggak apa-apa?" Elena mengangkat wajahnya dan menatap Malik dengan getir. Perlahan, ia membuka masker wajahnya. "Kamu dipukuli?" Malik terkejut setelah melihat pipi bengkak Elena. Elena hanya bisa tertunduk. "Itu KDRT, Elena!" Elena menggeleng. "Dia marah dan menuduhku selingkuh. Reflek baginya untuk memukul." "Maksud kamu apa?" Desak Malik. "Dia sudah sering melakukan ini padamu?" Elena memberi kode dengan matanya setelah mendengar suara ketukan sepatu suaminya. "Sudah ku pesan." Zayn duduk setelah mengucapkan itu. "Aku permisi ke toilet." Kini giliran Elena yang pergi menyusul Shireen. Sementara, Zayn bisa melihat rahang Malik mengeras. Entah apa yang mereka berdua bicarakan tadi. "Kenapa, Malik?" Tanya Zayn datar. "Tidak apa-apa." Malik mengatur nafas. Dia sungguh marah karena perbuatan Zayn pada Elena. "Jika istrimu berselingkuh di belakangmu. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Zayn menatap tajam. "Aku akan meminta penjelasan daripada memukulinya." "Oh.." alis Zayn terangkat. "Ternyata Elena mengatakannya padamu?" "Dia wanita yang setia, Zayn. Dia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik. Dia ingin mengulang semuanya dari awal." "Wanita yang setia?" Apa Zayn salah dengar. "Dia memang setia. Tapi bukan padaku. Padamu!" "Zayn!" Malik menegur. "Kamu salah paham kepada kami." "Saling menyatukan bibir, itu bukan kesalah pahaman?" "Kejadiannya tidak seperti itu." Malik mencoba menjelaskan. "Rasanya nikmat, kan?" Malik ingin menggebrak meja rasanya. "Aku yakin kamu merindukan sentuhan istriku.." "Cukup, Zayn!" "Bagaimana kalau kita melakukan transaksi?" Dahi Malik mengernyit. Apa lagi maksud dari temannya ini. "Aku melakukan penawaran padamu. Kamu pernah bilang pernikahanmu membosankan, bukan? Dan aku pernah bilang kalau Elena begitu sulit diatur. Begini saja.. bagaimana kalau kita saling bertukar istri?" "Aku sedang tidak ingin memukul orang saat ini! Berhenti, Zayn!" "Kehidupan pernikahanmu yang membosankan adalah impianku. Dan kecantikan Elena adalah dambaanmu. Bukan begitu?" Ucap Zayn tersenyum sinis. Tangan Malik mengepal dengan kuat. "Shireen.." Zayn tersenyum membayangkan wajah ayu itu. "Wanita yang polos dan penurut. Aku menyukainya." "Brengsek!" Malik bangkit dari duduknya dan menarik kerah baju Zayn. "Kau mau mati!" "Mas Malik, Jangan!"Dokter kandungan mengatakan jika sewaktu-waktu Shireen akan melahirkan. Kehamilannya sudah cukup bulan, letak janinnya juga bagus. Sekarang tergantung putri mahkota ingin kapan melihat dunia.Oleh karena kelahiran yang tak bisa diprediksi, Shireen sudah mengemasi pakaian serta kebutuhan lainnya di dalam satu koper besar. Nanti kalau rasa sakit itu datang, mereka tinggal berangkat saja."Selesai.." Shireen tersenyum senang. Pakaian bayinya yang serba pink sudah rapi di koper.Baru saja bangkit dari duduk, Shireen memejamkan mata. Perut ini tiba-tiba terasa mulas."Sayang.." panggil Zayn sumringah muncul dari luar."Ya, mas?""Ikut aku sebentar."Shireen menyambut uluran tangan suaminya dan mengikuti langkah kaki Zayn. Rupanya, Zayn sejak tadi sibuk di kamar sebelah. Kamar yang dibuat khusus untuk putri mahkota."Wah.." Shireen sampai takjub."Kita matikan lampunya."Zayn mematikan lampu hingga membuat Shireen sekali lagi terperangah. Ada hiasan bulan bintang di langit kamar ini. Jika l
Di Yayasan milik Nani, Elena tengah menatap Lay yang tengah bermain sendiri. Anak ini tampak tak menghiraukan kehadiran ibunya. Atau mungkin tepatnya, Lay lupa kalau masih punya ibu."Elena.." panggil Malik.Elena menoleh dengan mata sayunya. Selama 2 bulan terakhir, dia tinggal di yayasan odgj. Bergabung dengan binaan lainnya. Ia belajar banyak hal salah satunya tentang cara mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada duanya.Elena yang serakah dan sombong. Selalu mengeluh akan kekurangan hidupnya. Hingga depresi ini melanda akibat tuaian karma perbuatannya, dia masih merasa dirinya menjadi orang yang paling menderita.Namun ketika berada disana, Elena baru menyadari jika dirinya tak sendirian. Banyak orang yang memiliki masalah yang sama dengannya atau mungkin mengalami masalah yang lebih berat.Apa mereka berpasrah? Jawabannya tidak. Mereka belajar saling menguatkan. Belajar mengembangkan keterampilan. Buktinya dalam 2 bulan ini, Elena sudah pandai merajut. Ia membuat syal untuk suami juga
Setelah Zayn yang mendapat kejutan berupa surat dari istrinya, kini giliran Shireen yang akan diberikan kejutan.Diri ini dibawa menuju sebuah area perumahan elit namun terlihat sederhana. Shireen sampai terperangah karena terpesona. Bangunan rumah craftsman style, ala Amerika dengan konsep khas horizontal. Bangunan terbuat dari kayu dengan banyak jendela.Keduanya lalu turun di sebuah rumah berwarna coklat tua."Ayo kita turun." Ajak Zayn.Meskipun bingung, Shireen tetap manut dan mengikuti langkah kaki suaminya. Ia sempat heran karena Zayn malah membuka rumah itu dengan sebuah kunci. Apa mungkin? Tunggu, jangan menebak dulu.Pintu terbuka. Shireen dibuat sumringah. Bagaimana tidak? Desain khas rumah ini, lantai dan dinding dari kayu, membuat rumah ini begitu sejuk.Baru membuka pintu, Shireen dihadapkan dengan tangga yang akan menuju lantai 2. Sebelah kanan ada sebuah ruangan untuk menerima tamu, di sebelah ruang tamu yang dibatasi dinding kayu, ada lagi ruang keluarga yang menghada
Dua minggu kemudian..Dari semalam Nani sudah menginap di yayasan. Sabtu ini adalah keberangkatannya ke Solo. Sekaligus, dia akan berpamitan kepada para pengasuh yang sudah diberi tanggung jawab untuk mengurus yayasan ini."Sudah siap, ma?" Tanya Malik yang baru saja tiba bersama Layzal.Shireen yang sedang mengobrol dengan Nani, menyambut Layzal dengan senyuman. Tapi sayangnya, senyuman itu ditepis. Lay seperti memiliki dunianya sendiri."Sebentar lagi. Apa sopir sewanya sudah datang?""45 menit lagi sampai.""Mas Malik ikut mengantar?" Tanya Shireen ketika melihat Malik yang rupanya juga membawa dua koper besar.Malik hanya memandang Nani sementara ibunya memalingkan wajah. Seakan mengatakan bahwa ia tak ingin ikut campur. Dua minggu yang lalu, Elena dilarikan lagi ke rumah sakit. Bibi art diberhentikan, Malik sudah angkat kaki karena apartemen itu sudah disita. Dia bersama Layzal tinggal bersama Nani di rumahnya.Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati Nani. Yaitu hubunga
Sudah empat minggu Zayn menjalani terapi, belajar bagaimana cara mengontrol amarah serta melampiaskan dengan cara yang tepat. Tinggal dua pertemuan lagi, maka dia akan bebas dari pelajaran ini. Apakah bisa dikatakan lulus ? Oh, tunggu dulu. Zayn belum selesai dengan ujiannya.Terkadang dia merasa apa yang diajarkan Wita ini kepadanya begitu lucu. Malah sesuatu yang bisa didapatkan begitu saja dari luar. Sebagai contoh, ketika marah Zayn harus bisa melakukan teknik relaksasi agar tidak meledak. Menarik nafas dalam dan mendengarkan musik klasik bisa menjadi pilihan.Ada lagi, jika Zayn ingin mengeluarkan kata kasar dia juga diajarkan untuk memberikan kata-kata yang positif saja. Mengucapkan ketidak sukaan dengan mengeluarkan kata maaf tidak suka. Pilihan lainnya, Zayn bisa mengungkapkan kemarahannya melalui tulisan supaya tidak menyakiti orang lain.Zayn juga baru tahu bahwa teknik ini juga diajarkan untuk pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa. Awalnya dia tersinggung, dia kan
"Mbak Elena menuliskan surat untukku.. surat permintaan maaf." Ucap Shireen memecah keheningan.Setelah bertemu dengan Elena, Zayn jadi pendiam. Dia tak mengeluarkan satu katapun."Dia meminta maaf karena sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan mas Malik. Lalu.. dia juga menulis kalau dia menyesal sudah membuat drama kalau aku berselingkuh dengan suaminya..""Kamu memaafkannya?" Tanya Zayn sambil menyetir."Apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya manusia biasa, mas. Rasanya hati ini sudah terlalu penuh karena mendapat rasa sakit atas manusia. Yang kubisa lakukan adalah melepaskan, memaafkan semua dan melupakannya.. walau aku tidak tahu sampai kapan hati ini bisa bertahan. Aku hanya meminta dikuatkan."Zayn terdiam dengan ucapan istrinya."Dia juga menulis surat untuk beberapa orang, ada satu nama yang tidak aku kenal, Laila namanya. Lalu surat untuk mama, Layzal, mas Malik dan juga untukmu..""Untukku?" Zayn menoleh untuk memastikan."Dia meminta maaf padamu. Dia menyesal sudah berseling
Sinar mentari masuk dibalik jendela yang masih ditutup oleh tirai tersebut. Mengganggu Shireen yang mulai mengerjap. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.Shireen menoleh ke sisinya. Kosong. Zayn pasti sudah berangkat bekerja saat ini. Sementara di atas nakas samping tempat tidurnya, terda
Semua wanita dikumpulkan lagi oleh wanita besar ini. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mempersiapkan diri. Nanti malam akan ada Tuan besar yang datang untuk menengok mereka. Untuk kesekian kalinya dan Elena beruntung tak pernah dipilih oleh permainan laknat itu."Sekarang bubarlah. Persiapkan diri k
Elena menghapus log panggilan yang baru saja dilakukannya. Sial! Belum ada 5 menit menelpon suaminya, penjaga sudah akan keluar dari bilik mandi.Akal cerdik Elena membuat masakan super pedas untuk penjaga di rumah hingga membuatnya harus bolak balik ke kamar mandi. Sengaja karena Elena menargetkan
"Aku tidak percaya kau tega membentak istrimu sendiri, Zayn. Padahal, sepanjang pernikahanku dengan Shireen tak pernah sekalipun ia mendapatkan nada tinggi dariku."Zayn menatap tajam lawan di hadapannya ini. Ia tak segan untuk maju satu langkah."Kau memang tak berbuat demikian. Tapi, apa kau lupa







