LOGINSetelah makan malam, senyum tak henti berkembang dari wajah tampan Zayn. Bram menjanjikan jabatan baru untuknya, yaitu menjadi manajer.Walau ia tak tahu akan menjadi manager sungguhan atau tidak? Yang pasti dia sudah bersuka hati. Oleh karena itu pula ia memberi tahu pujaan hatinya mengenai kabar baik ini. Lagipula sudah tiga hari tak bertemu, Zayn merindukan Shireen."Apa kamu sudah tidur?" Karena Zayn menelpon pukul 10 malam."Belum. Baru saja selesai mencuci. Mas juga belum tidur?" Sahut Shireen di ujung telpon."Kami baru saja makan malam. Kamu tahu, Shireen! Para investor setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kami.""Wah.. itu luar biasa. Selamat untuk kalian." Terdengar dari suara senang Zayn, Shireen yakin Zayn tengah bahagia saat ini."Dan kamu tahu.. ada lagi yang membuatmu lebih terkejut.""Apa itu?""Aku dipromosikan menjadi manajer.""Apa??" Shireen sampai menutup mulutnya karena terkejut. "Mas serius?""Serius!" Zayn lalu menceritakan saat dia menjadi jubir perusah
Satu pesan masuk ke ponsel Shireen, wanita ini hanya melihat sekilas karena tangannya tengah membuat adonan. Di kursus sore ini, ia akan membuat bomboloni dengan aneka toping.["Nggak jadi ya hari ini, mama lagi nggak enak badan."]ⁿShireen memicingkan mata membaca pesan dari Nani. Rencananya, Nani ingin mengajak Shireen berbelanja. Tapi rupanya ia tengah tak enak badan."Ada kesulitan, Shireen?""Oh!" Shireen jadi kaget. "Aku susah mengadonnya saja. Tapi udah selesai, sekarang tinggal menunggu adonannya mengembang."Sekitar 15 menit, Reyhan datang kembali ke meja Shireen."Bagaimana? Sudah mengembang?"Shireen menatap dengan sedih. Adonannya gagal lagi. Membuat Reyhan jadi tertawa geli."Apa yang salah? Rasanya aku sudah membuat takarannya sesuai resep? Apa aku nggak kuat ngadonnya?"Reyhan terkekeh. "Kalau begitu, ulang saja dari awal. Biar aku yang lihat."Wanita ini menurut dan membuat kembali adonan, ternyata Shireen membuat adonan dengan memasukan banyak air. Pantas saja jika ti
Bangun dini hari lalu berangkat pagi menuju bandara dan terbang kemari selama 2 jam. Rasa lelah itu memang ada, tapi gairah harus dituntaskan.Elena lebih bersemangat siang ini. Bahkan, ia membiarkan dirinya bekerja sendiri. Biarlah Malik menikmati tariannya dari bawah.Setelah sampai ke puncak, ia memeluk Malik dengan kuat. Tubuhnya jatuh, ia terengah-engah."Aku capek!""Kamu terlalu bersemangat!" Malik mengecup bahu polos istrinya dan membaringkan tubuh ini ke sebelahnya."Aku ngantuk." Elena menarik selimut sampai ke batas leher. Matanya terpejam.Melihat itu, Malik hanya menggeleng lalu tersenyum. Membayangkan permainan Elena tadi membuatnya geli. Pikirannya sedang kalut karena rapat nanti malam, tapi istrinya malah menyerangnya tiba-tiba. Ya, dia akui sedikit kesal tadi. Tapi juga menginginkannya.Ponsel Malik berdering, ternyata Mia sang sekretaris menelpon. Memintanya untuk bertemu dengan Bram sekarang."Elena," Malik menggoncang tubuh istrinya."Hmm?" Mata Elena berat sekali.
Pagi ini, Nani mendapatkan tiga tamu tak terduga. Tiga orang yang sudah lama tak mengunjunginya."Mama pikir kamu lupa kalau masih punya mama." Nani menyambut pelukan Malik.Malik berdeham. "Sekalian kami jalan-jalan, jadi mampir kemari.""Oh, jadi cuma karena sekalian? Bukan memang niat?""Sudahlah, ma.."Malik lalu memberikan Lay ke dalam pelukan omanya."Cucu oma yang tampan." Nani tersenyum senang. Walau ia tak menyukai ibunya Lay, tapi dalam darah anak ini mengalir darahnya juga."Mama apa kabar?" Elena menyalimi."Baik."Elena memilih diam karena dari awal sudah mendapatkan sambutan yang tak mengenakkan."Itu siapa diluar?" Tanya Nani karena ia melihat ada seorang wanita muda duduk di teras."Pengasuhnya Lay.""Kalian membawa pengasuh?"Nani jadi tak habis pikir. Padahal Lay masih berusia 3 bulan, tapi pengasuh bayi ini sudah diajak kemana-mana. Tapi, terserah. Nani tak mau ikut campur."Tiga hari lagi, aku harus keluar kota. Mungkin satu minggu disana." Ucap Malik."Tumben lama
Pukul 7 pagi, Shireen sampai merengut karena ada yang mengetuk pintu rumahnya. Padahal, dia baru saja bangun. Kebetulan hari ini tanggal merah, jadi dia tidak perlu repot menyiapkan diri untuk pergi kursus."Ya, sebentar!" Ucap Shireen sambil menguap. Ia berjalan santai menuju pintu rumah. Nasib ketika menjadi janda, tak ada yang mau diurus jadi dia bisa sesantainya.Ketika membuka pintu, mata Shireen mengerjap. Apa dia tak salah lihat?"Mas Zayn??" Sepagi ini!Zayn tersenyum. "Selamat pagi, Shireen. Apa aku menganggu?""Oh, nggak. Ada apa mas?" Heran sekali pagi-pagi pria ini malah muncul di depan rumahnya."Aku mau ajak kamu olahraga sebentar. Kita jogging ke taman dekat rumahku."Shireen tampak berpikir."Kalau kamu sibuk nggak apa-apa.. aku bisa pergi.""Aku belum mandi, mas." Shireen merutuki dirinya yang hanya memakai daster dan juga hijab instan."Aku bisa menunggu kalau kamu mau." Kata Zayn tanpa paksaan.Shireen tersenyum. "Kalau begitu masuk aja dulu."Shireen memundurkan tu
Rapat kali ini gagal, bagaimana tidak? Map kerja yang harusnya dibawa Malik entah hilang kemana. Dia sudah menyelusuri isi rumah tapi map itu bak hilang ditelan bumi. Padahal isi map itu sangat berharga untuk rapat hari ini.Jadilah, Malik kerja keras semalaman membuat proposal baru. Namun sayang, isi yang baru dibuat tak sesuai dengan apa yang sebelumnya dirancang. Rapat gagal karena para pemegang saham tak mau memberikan dana tambahan untuk meluaskan jangkauan perusahaan yang kini ingin mengepakkan sayap di luar negeri.Malik hanya bisa menekukan wajahnya dengan dalam. Dia sudah dibantai habis-habisan tadi."Akhir-akhir ini kamu tidak fokus bekerja, Malik. Ada apa? Apa kamu juga ikut mengganti popok anakmu di tengah malam?" Sindir Bram."Maafkan saya, Pak. Ini keteledoran saya." Malik tertunduk."Satu kali lagi, Malik.. setelah itu tidak akan ada kesempatan." Jelas Bram kecewa atas performa kinerja Malik yang menurun. Beberapa belakang ini Malik suka tidak fokus, belum lagi laporan







