MasukDia percaya lagi...
Demi membalas dendam Han Mubai, dia berpura-pura tunduk pada Qin Feiling. Namun, saat dia lengah, dia menikam dadanya dengan belati. Membunuh Kaisar adalah kejahatan besar yang akan mengakibatkan pemusnahan sembilan generasi keluarganya. Naik di harem maupun di pengadilan Istana, semua orang ingin menghabisinya. Namun, Qin Feiling mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Semua orang memakinya sebagai wanita penggoda dan menghancurkan negara. Kemudian, Zhou Shiya membawakannya sebuah anggur beracun dan berkata, "Ini adalah hadiah dari Kaisar untukmu." Setelah gagal membunuh Qin Feiling, dia kehilangan semua keinginan untuk hidup. Tanpa perlawanan, tanpa emosi, dia meminum anggur beracun itu. Namun, dia tidak mati. Ketika dia sadar kembali, tangannya terbelenggu, dan dia dikurung dalam kamar tidur Kaisar. Qin Feiling menyikasanya siang dan malam. Penderitaan itu seperti cap abadi di jiwanya, terus menjeratnya, hingga dia tidak bisa melupakan pria itu, entah dalam hidup maupun mati. Dia membencinya sepenuh hati. Tapi yang tak pernah dia duga, pria yang paling dia benci di dunia, akhirnya mati demi dirinya. Setelah Qin Feiling meninggal, Zhou Shiya akhirnya menunjukkan kebengisannya. Dia memotong keempat anggota tubuhnya, memasukkannya ke dalam guci porselen, manjadikannya manusia tanpa tangan dan kaki. Dia tak bisa berbicara, tak bisa melihat, tetapi tetap dibiarkan memiliki sepasang telinga untuk mendengar! Saat itulah Zhou Shiya mengungkapkan semua kebenaran. Dia berkata bahwa saat membawanya masuk ke Istana, anggur yang diminumnya telah diberi obat. Qin Feiling juga telah diberi obat, itulah sebabnya dia kehilangan kendali dan merenggut kehormatannya. Dia berkata bahwa dirinya mandul sejak lahir. Dia telah mencoba segala cara, tetapi tetap tidak bisa mengandung anak Kaisar. Demi mempertahankan posisinya sebagai Permaisuri dan menjaga hati Kaisar tetap disisinya, dia terpaksa menggunakan rahim orang lain. Zhou Shiya telah merencanakan segalanya sejak awal. Dia memanipulasi perasaan Zhou Lingge terhadap Han Mubai, mengendalikannya sepenuhnya, membuatnya melakukan begitu banyak kebodohan. Pada akhirnya. Dia membenci orang yang salah. Setelah hidupnya dihabiskan hanya untuk menjadi bidak dalam permainan orang lain. Bahkan anak kandungnya sendiri, akhirnya diakui sebagai anak yang dikandung Zhou Shiya selama sepuluh bulan. Sejak awal, kehamilan Zhou Shiya adalah kebohongan belaka! Saat mengingat semua yang terjadi di kehidupan sebelumnya, Zhou Lingge menggigit bibirnya dengan keras. Tangannya gemetar tak terkendali, dan tubuhnya dipenuhi kebencian yang hampir meledak. Qin Feiling, yang memeluknya erat, menyadari perubahan dalam tubuhnya. Dia mengerutkan kening. "Kamu kedinginan?" Hidung Zhou Lingge terasa panas, air mata nyaris tumpah. Dia menahan sekuat tenaga. Tanpa sadar, dia mengubur wajahnya di dadanya. Gerakan kecil itu tampak begitu rapuh dan penuh ketergantungan. Seolah-olah dia adalah seekor anak kucing yang tersesat, hanya bisa berlindung di dada pria itu. Tatapan dingin dan hati beku Qin Feiling seketika runtuh. Dia menendang kaki Kasim kepercayaannya, Kasim Liu. "Mana tandu kekaisaran yang aku perintahkan untuk dipersiapkan?" Kasim Liu pantatnya yang sakit, lalu segera menunjuk ke tandu yang telah dibawa oleh para pelayan istana. "Sudah datang, Yang Mulia Kaisar, sudah datang!" Qin Feiling langsung menggendong Zhou Lingge naik ke tandu kekaisaran. Dia memeluk erat tubuh mungilnya, menenangkan dengan suara rendah yang penuh dominasi. "Jangan takut, ada aku disini." Kasim Liu menatap mereka dengan perasaan bercampur aduk. Baginda selalu dikenal sebagai pria yang dingin dan tidak tertarik pada wanita. Namun, kini dia menunjukkan kelembutan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sepertinya kehadiran Jiapin akan mengubah seluruh Harem ini. Kasim Liu mengangkat kepalanya, menatap Istana Fengluan yang megah di kejauhan. Kasim Liu menggelengkan kepalanya. Permaisuri benar-benar telah menggali lubang besar untuk dirinya sendiri kali ini! Akankah dia menyesalinya nanti? *** Zhou Lingge dibawa langsung ke dalam kamar tidur Kaisar_Aula Wolong oleh Qin Feiling. Kasim Liu mengikuti dari belakang. Beberapa kali ingin mengatakan sesuatu untuk menghentikan Kaisar. Aula Wolong adalah kamar tidur Kaisar. Selain Permaisuri, tidak ada selir yang diizinkan melangkah ke tempat ini! Namun, Kaisar justru menggendong Zhou Lingge masuk tanpa ragu. Dia ingin mengingatkan, tetapi tidak berani menyinggung perasaan Kaisar. Tak disangka, tiba-tiba seorang pelayan nekat berlutut di hadapan Qin Feiling. "Yang Mulia, sesuai aturan istana, tidak ada selir yang diperbolehkan memasuki Aula Wolongselain Permaisuri." Tatapan Qin Feiling langsung membeku, dingin dan tajam. Dia menatap pelayan itu seolah melihat bangkai yang sudah mati. "Pergi!" Pelayan itu gemetar, tetapi tetap mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara bergetar. "Hamba hanya ingin melindungi reputasi Yang Mulia, agar tidak menjadi Kaisar yang lalim." Kasim Liu menahan napas, matanya membelalak. Gila! Pelayan ini benar-benar mencari mati! Kaisar paling benci orang yang menentang kehendaknya! Qin Feiling tertawa dingin. "Pengawal!" "Seret dia keluar." Pelayan itu terkejut luar biasa, matanya membulat penuh ketidakpercayaan. "Yang Mulia! Hamba hanya memikirkan kehormatan Yang Mulia!" Qin Feiling menggertakkan giginya. "Seret dia keluar, dan pukul hingga mati." Aura pembunuh dalam suaranya begitu kuat, membuat udara di sekitar seolah membeku. Dia adalah Kaisar. Sang penguasa Langit . Siapapun yang berani menyentuh batas kekuasaannya harus mati! Kasim Liu tidak berani ragu. Dia segera melambaikan tangan, memberi isyarat pada para pengawal. Para pengawal segera menyeret pelayan itu keluar. Pelayan itu berteriak ketakutan, tidak menyangka hanya karena satu kalimat, dia dijatuhi hukuman mati! Namun, Qin Feiling tidak sedikitpun menunjukkan belas kasihan. *** Zhou Lingge menggigil halus. Qin Feiling menundukkan kepalanya, menatapnya dengan dingin. "Apa? Kamu merasa aku terlalu kejam?" Zhou Lingge segera menggelengkan kepalanya. Jika ini adalah kehidupan sebelumnya, mungkin dia akan merasa kasihan dan mencoba membela pelayan itu. Namun kini, dia tidak lagi memiliki hati yang lemah dan bodoh. Dulu, dia selalu lembut dan pemaaf, selalu berusaha bersikap baik pada semua orang. Namun, apa yang dia dapatkan? Kehidupan yang lebih buruk dari pada kematian! Dia dipotong anggota tubuhnya, dijadikan manusia tanpa tangan dan kaki. Bahkan kematianpun menjadi kemewahan yang tak bisa dia dapatkan. Saat dia jatuh ke dalam neraka, tidak ada seorangpun yang mengulurkan tangan untuk menyelamatkannya! Jadi mengapa sekarang dia harus peduli pada orang lain? Dia tidak akan lagi memiliki belas kasihan yang bodoh. Jika orang baik tidak berumur panjang, sementara orang jahat bertahan selama ratusan tahun, maka dia tidak akan lagi menjadi orang baik! Dikehidupan ini, dia akan hidup lama, naik ke puncak kekuasaan dan menginjak semua yang telah menyakitinya! Zhou Lingge menyembunyikan kilatan kebencian dimatanya. Dia menggigit bibir, lalu berkata pelan. "Hamba hanya merasa sedikit kedinginan." Qin Feiling mengarahkan tatapannya ke leher Zhou Lingge. Dia melihat jejak merah kebiruan yang tersebar di kulitnya yang putih seperti salju. Pandangannya menggelap. Tanpa berkata apa-apa, dia menggendongnya masuk ke dalam ruangan. Dia memerintahkan para pelayan menyiapkan air hangat dan pakaian bersih. Kasim Liu bergerak cepat, dan dalam waktu singkat semuanya telah siap. Qin Feiling melepas mantel tebal yang membungkus Zhou Lingge, lalu meletakkannya di dalam bak mandi yang mengepul dengan uap hangat. Pakaian tipisnya langsung basah, menempel erat di tubuhnya. Zhou Lingge segera menutup dadanya dengan kedua tangan. Rambut panjangnya yang hitam jatuh jatuh di bahunya yang seputih salju. Wajahnya memerah akibat uap panas, matanya menunduk dengan malu. Dia tampak seperti peri yang menggoda, penuh pesona yang membuat siapapun terjerat. Keindahannya bagaikan racun yang mematikan. Qin Feiling menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik turun. Mata gelapnya berubah merah, dipenuhi dengan bara api yang menyala-nyala. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia melangkah ke dalam bak mandi, langsung merengkuhnya erat ke dalam pelukannya. Lengan kekarnya menekan tubuh mungilnya ke dadanya yang panas. Dengan suara serak yang mengandung gairah yang membara, dia berbisik di telinganya. "Kamu adalah hadiah paling indah yang diberikan surga untukku."Istana Qiluo. Selir Jiang duduk anggun di hadapan meja rias, menyisir rambutnya perlahan dengan penuh kehati-hatian. Ia menarik helaian rambut hitamnya dan menunduk, tenggelam dalam pikiran. Sepasang mata cantiknya tampak menghitam di sekeliling, wajahnya juga terlihat sangat pucat dan lelah. Pelayan kepercayaannya, dengan raut wajah penuh sukacita, membungkuk memuji, "Yang Mulia pasti sangat kelelahan tadi malam. Paduka Kaisar memang tak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan lembut. Lihat wajah pucat ini, pasti semalam tak tidur, bukan?" Ia sangat gembira. Meski wajah tuannya tampak lelah dan mata menghitam, semua ini adalah bukti nyata bahwa betapa besar kasih sayang Kaisar semalam. Beberapa hari lalu, ia juga melihat Selir Jia tampak seperti ini. Kini, kasih sayang yang dulu hanya milik Selir Jia telah beralih ke Selir Jiang. Seluruh Istana Qiluo pun diliputi semangat dan suka cita. Mata Selir Jiang berkedip, ingin berkata sesuatu, tapi tertahan. Karena kenyata
Selir Shu berhasil menghentikan Selir Jia dari menamani tidur Kaisar selama tiga malam berturut-turut. Kabar ini tersebar ke seluruh istana, membuat para Selir bereaksi berbeda—ada yang senang, ada yang kecewa, dan banyak pula yang hatinya campur aduk. Namun kebanyakan dari mereka justru merasa lega. Kaisar memilih pergi ke istana Selir Shu, itu jauh lebih baik dari pada terus-menerus mengunjungi Istana Yuancheng. Ini membuktikan bahwa kasih sayang Kaisar ke pada Selir Jia hanya sebatas angin lalu. Ia hanya tertarik sesaat saja. Setelah rasa segar itu hilang, Selir Jia pun sama saja seperti mereka. Sementara itu, Qiao'er tampak gelisah, berjalan mondar-mandir di depan Zhou Lingge, cemas tak karuan. "Yang Mulia Selir, ini bagaimana? Mengapa Kaisar kembali ke istana Selir Shu?" "Apakah beliau sudah bosan pada Yang Mulia?" Zhou Lingge enggan menjelaskan panjang lebar. Ia pun tidak bermaksud memberitahu bahwa ia sendiri yang menolak disayang dan bahkan sempat membuat Qin Fei
"Biarkan Selir Shu dan Selir Li membantumu mengelola urusan Istana, berbagi tanggung jawab agar semuanya lebih seimbang," ucap Qin Feiling datar. Usai berkata demikian, ia langsung memeluk Zhou Lingge dan pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zhou Shiya. Punggungnya tampak begitu dingin dan tak berperasaan. Tubuh Zhou Shiya gemetar. Ia berusaha keras menjaga dirinya tetap tegar, tapi akhirnya tak mampu membendung gejolak emosi—dunia dimatanya gelap seketika, dan iapun jatuh pingsan. Istana Fengluan mendadak jadi kacau balau. Sementara itu, Selir Shu dan Selir Li justru diuntungkan oleh kejadian ini. Sebuah keberuntungan tak terduga menghampiri mereka. Semala ini, Zhou Shiya menggenggam erat kekuasaan istana. Tak disangka, hanya dengan satu langkah dari seorang selir kecil seperti selir Jia Pin, keseimbangan itu langsung hancur berkeping-keping. Selir Shu memegang sapu tangan sambil menggigit bibir, matanya menatap nanar ke arah kepergian Qin Feiling dan Zhou Lingge. Mes
"Logikamu tidak masuk akal, ini hanya jelas-jelas kebohongan terang-terangan. Yang Mulia, Anda dengar sendiri.... hamba sungguh-sungguh telah di fitnah. Huhu.... hamba benar-benar sedih. Ini semua salah Anda yang terlalu memanjakan hamba, hingga mereka semua ingin mencelakai hamba. Bahkan kakak kandung hambapun... diapun mulai membenci hamba. Kehidupan hamba ke depan, bagaimana harus hamba jalani... huhu." Saat berbicara, Zhou Lingge kembali mencengkeram lengan baju Qin Feiling sambil menangis tersedu. Seperti kata pepatah, air mata seorang perempuan cantik bukanlah aib, justru mengahdirkan pesona yang menyayat hati dan menggugah jiwa. Setiap tetes air matanya yang bening bagaikan bintang-bintang di langit, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba dan ingin melindunginya. Qin Feiling mengulurkan telapak tangannya yang lebar dan hangat, menepuk-nepuk lembut punggungnya, membantu menenangkan napas dan perasaannya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku akan membelamu. Pengawal!
Para Selir yang hadir langsung tersentak dan buru-buru bersujud. "Yang Mulia." Kenapa Kaisar bisa datang ke sini pada saat seperti ini? Apakah beliau baru selesai menghadap? Beliau masih mengenakan jubah naga. Biasanya Kaisar tak pernah datang ke Istana Fengluan pada waktu seperti ini. Qin Feiling melangkah masuk ke dalam. Begitu masuk, ia langsung melihat Zhou Lingge yang tengah berlari sambil menangis hendak menabrakkan diri ke pilar. Wajahnya langsung berubah dingin, ia melangkah cepat dan menyambar pinggang Zhou Lingge, memeluknya erat ke dalam pelukannya. "Selir Jia, apa yang kau lakukan?" Mata Zhou Lingge merah, air mata bening mengalir di ujung matanya saat ia memandang Qin Feiling dengan tatapan penuh kepedihan dan keputusasaan. "Hamba difitnah dan tak bisa membela diri. Hanya kematian yang bisa membuktikan bahwa hamba tidak bersalah." Wajah Qin Feiling gelap sekelam tinta. Ia mengangkat pandangannya menatap para selir yang sedang berlutut, lalu akhirnya tata
"Benar juga, kalau kali ini dibiarkan, bukankah dia akan semakin sombong karena merasa dimanjakan? Akan bertindak semena-mena dan tak mengindahkan siapa pun!" Selir Jiang menahan rasa cemburunya dan ikut bersuara. Selir Li dengan hati-hati mengingatkan, "Yang Mulia sedang sangat menyayanginya. Kemarin, entah bagaimana, Selir Liu menyinggung perasaannya. Tak hanya pelayannya di pukuli sampai wajahnya rusak, bahkan dia sendiri di turunkan pangkatnya. Sekarang, dia adalah kesayangan di hati Kaisar, mana mungkin bisa diganggu sembarangan." Siapa sangkar kata-kata itu justru membuat amarah Selir Shu semakin berkobar. "Selir Liu memang tidak tahu tempat. Dia pantas di hukum. Kaisar bukan sedang melindungi Selir Jia! Hari ini Selir Jia terlambat memberi salam, ini kesalahan yang tidak bisa diabaikan. Bagaimanapun juga, tak ada yang boleh lolos dari hukuman." "Meskipun Kaisar hadir sekalipun, tak seharusnya dia terang-terangan melindunginya seperti ini!" "Selir Shu benar juga," guma







