Share

[23]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-04-18 12:00:44

Tujuh tahun kemudian.

“Josh, jangan menyingkirkan brokolinya,” peringat seorang wanita yang masih sibuk di dapur dengan masakannya. Meski tak memerhatikan bagaimana putra kecilnya sarapan, tapi dia tahu, jika sang putra pasti memilih tak menghabiskan sayuran yang ada di piring sajinya.

“Aku tak suka, Mom,” kelus pria kecil dengan mata sebiru samudera itu. Bibir kecilnya mengerucut tak suka. “Bisakah aku hanya memakan bagian yang lainya selain brokoli?”

Althea, wanita itu,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [83]

    “Oh, Josh.” Riana memeluk Josh dengan lembut. Ada rasa iba yang menggelayuti hati wanita itu. Sungguh, mendengar ucapan polos dan jujur dari seorang anak yang besar hanya bersama ibunya, membuat Riana sangat tersentuh. “Ayahmu pasti bangga memiliki anak sepertimu.”“Benarkah?” tanya Josh dengan mengerjap tak percaya. “Mommy hanya bilang, Papa selalu jagaku dari langit. Makanya aku perlu takut sendirian. Lagi pula aku memiliki Mommy. Jadi aku tak pernah merindukan Papa.”Entah disadari atau tidak, ekor mata Riana mengarah pada Althea yang masih berada d area dapur. Wanita itu sejak tadi terdiam. Pasti mendengar semua pembicaraan Riana dan Josh. Dan saat mata mereka bertemu, Riana tanpa kata seolah bicara, “Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku mengerti kenapa kau mengatakan hal seperti ini pada Josh.”“Mulai hari ini,” bisik Riana sambil mengelus punggung Josh, “Kau memiliki banyak orang yang akan menjagamu. Ada Grannie, GrandDad, Paman Cale dan Pamana Chris

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [82]

    Kediaman Keluarga Miller – SunCity.“Kau ... senang?” tanya Althea sebelum benar-benar turun dari mobil.Siang ini, Althea mendapatkan permintaan dari Riana Miller, ibu Chase, untuk datang ke rumah mereka. Lagi. Bisa dibilang, ini adalah kunjungan kedua Althea dan Josh ke rumah ini. Kendati begitu, Althea merasa cukup tenang.Tak ada tatapan sinis, perkataan yang membuatnya merasa rendah diri, perlakuan yang membuat Althea sedih. Semua itu tak ia dapatkan di keluarga Miller. Bahkan bisa dibilang, mereka menyambut Althea dan Josh dengan sangat baik.“Tentu saja aku senang,” sahut Josh dengan riangnya. “Aku sudah tak sabar bertemu Paman Chase. Oh, GrandDad juga. Beliau bilang ingin memperlihatkanku sesuatu. Aku juga ingin menunjukkan gambar yang kubuat. Miss Spencer bilang, gambarku semakin bagus.”Althea mengusap puncak kepala putranya penuh sayang. “Kalau begitu, ayo kita temui mereka.”Tangan Josh menggenggam tangan ibunya penuh ri

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [81]

    SunCity, gedung TnC Grup, milik keluarga Miller.Ruang kerja Daniel Miller di lantai tertinggi gedung TnC Group dipenuhi cahaya alami dari jendela kaca besar. Meja panjang dari kayu mahoni tua menghadap ke layar besar yang menampilkan grafik proyek-proyek yang pernah mereka tangani. Chase dan Chris duduk berseberangan, sementara Daniel berdiri di dekat rak buku, memutar pelan sebuah pena emas di jarinya."Jadi, Callister Group yang masuk sebagai investor proyek yang bermasalah itu, Chris??" suara Daniel memecah keheningan setelah Chris menyelesaikan ceritanya.Chris mengangguk. “Aku belum bicara langsung dengan Daven, tapi pihaknya cukup gencar mengirim permintaan untuk membahas pembangunan apartemen yang sempat aku hentikan itu. Aku rasa, Daven Callister mencari tahu kenapa aku menghentikannya. Jika dilihat secara keseluruhan, proyek itu memiliki nilai jual yang sangat tinggi.”“Dalam bisnis, mencari tahu proyek yang sempat mangkrak bukan hal yang

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [80]

    “Untunglah keadaan Nona Vanessa tak ada yang perlu dikhawatirkan.”Daven menghela lega. Sungguh. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu sehingga melakukan hal di luar kendali. Bagaimana mungkin dia sengaja melukai tangannya? Membuat keadaan mendadak panik dan menegangkan. Karena luka itu cukup dalam dan membuat sebagian lengan Vanessa dibanjiri darah.“Terima kasih, Dokter,” kata Daven sembari tersenyum tipis. Setidaknya tekanan karena keadaan Vanessa, sudah terangkat.“Sebaiknya ... Anda menemani pasien terlebih dahulu sampai keadaannya sedikit stabil.”Daven tak mengomentari apa pun permintaan dokter. Hingga pria berjubah putih itu meninggalkan kamar rawat di mana Vanessa terbaring tak berdaya, Daven masih ada di sana. Diam mematung menatap istrinya. Lengan kiri sang istri dibebat perban panjang. Wajahnya tampak pucat. Berbeda saat wanita itu datang ke ruangannya beberapa jam lalu.“Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” keluh Daven. Ia tak punya b

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [79]

    “Tidak!” sela Vanessa segera. “Kau salah memahaminya, Daven.” Ia pun segera mendekat pada Daven. Keinginan Vanessa untuk memeluk suaminya. Biasanya Daven akan luluh jika ia bersikap manja dan merengek. Vanessa yakin, Daven pasti akan memaafkan kesalahannya ini.Sayangnya ...“Tetap di sana, Vanessa. Aku tak ingin kau mendekat padaku.”Vanessa terdiam, terperangah, terkejut dengan apa yang Daven katakan. “Ta-tapi, Daven—““Apa ada hal lain yang ingin kau katakan lagi?”“Kenapa kau seperti ini padaku? Aku sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Semua ini bukan kesalahan—““Aku tak mendengar penjelasanmu, Vanessa. Semua yang kau katakan hanyalah alasan untuk membenarkan perbuatanmu. Aku juga tak mendengar penyesalanmu melakukan hal ini di belakangku. Justru aku,” tunjuk Daven pada dirinya sendiri. “Yang kau selingkuhi, yang bersalah atas perbuatanmu. Padahal kau yang mengkhianatiku.”Daven terkekeh. “Kau sungguh wanita yang lu

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [78]

    Suasana kantor Callister Grup pagi itu terasa seperti biasa—tenang tapi penuh irama kesibukan yang teratur. Daven melangkah masuk tanpa banyak bicara, jas abu arangnya bergerak mengikuti langkah tegapnya yang percaya diri. Setiap karyawan yang berpapasan hanya menunduk sopan, tahu betul bahwa pria itu tidak suka basa-basi. Hanya membalas sapaan sekadarnya saja.Tak ada banyak yang berubah meski Daven lama tak berkantor di gedung ini. Begitu sampai di ruangannya, Arsen sudah menunggu di depan pintu dengan tablet kerja di tangan.“Selamat pagi, Tuan Daven,” sapa Arsen dengan senyum tipis. “Kopi Anda sudah ada di meja. Saya harap sesuai dengan selera Anda.”“Apa seleraku cepat berubah?” tanya Daven dengan dengkusan sebal. “Sapaan selamat pagimu mengandung banyak pertanyaan, Arsen. Perlu kau tahu, aku baik-baik saja.”Arsen menyimpan senyumnya. Padahal ia berusaha menahan diri untuk tak bertanya, mengenai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status