LOGIN“Tidak!” sela Vanessa segera. “Kau salah memahaminya, Daven.” Ia pun segera mendekat pada Daven. Keinginan Vanessa untuk memeluk suaminya. Biasanya Daven akan luluh jika ia bersikap manja dan merengek. Vanessa yakin, Daven pasti akan memaafkan kesalahannya ini.
Sayangnya ...
“Tetap di sana, Vanessa. Aku tak ingin kau mendekat padaku.”
Vanessa terdiam, terperangah, terkejut dengan apa yang Daven katakan. “Ta-tapi, Daven—“
“Apa ada hal lain yang ingin kau katakan lag
“Tidak!” sela Vanessa segera. “Kau salah memahaminya, Daven.” Ia pun segera mendekat pada Daven. Keinginan Vanessa untuk memeluk suaminya. Biasanya Daven akan luluh jika ia bersikap manja dan merengek. Vanessa yakin, Daven pasti akan memaafkan kesalahannya ini.Sayangnya ...“Tetap di sana, Vanessa. Aku tak ingin kau mendekat padaku.”Vanessa terdiam, terperangah, terkejut dengan apa yang Daven katakan. “Ta-tapi, Daven—““Apa ada hal lain yang ingin kau katakan lagi?”“Kenapa kau seperti ini padaku? Aku sudah berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Semua ini bukan kesalahan—““Aku tak mendengar penjelasanmu, Vanessa. Semua yang kau katakan hanyalah alasan untuk membenarkan perbuatanmu. Aku juga tak mendengar penyesalanmu melakukan hal ini di belakangku. Justru aku,” tunjuk Daven pada dirinya sendiri. “Yang kau selingkuhi, yang bersalah atas perbuatanmu. Padahal kau yang mengkhianatiku.”Daven terkekeh. “Kau sungguh wanita yang lu
Suasana kantor Callister Grup pagi itu terasa seperti biasa—tenang tapi penuh irama kesibukan yang teratur. Daven melangkah masuk tanpa banyak bicara, jas abu arangnya bergerak mengikuti langkah tegapnya yang percaya diri. Setiap karyawan yang berpapasan hanya menunduk sopan, tahu betul bahwa pria itu tidak suka basa-basi. Hanya membalas sapaan sekadarnya saja.Tak ada banyak yang berubah meski Daven lama tak berkantor di gedung ini. Begitu sampai di ruangannya, Arsen sudah menunggu di depan pintu dengan tablet kerja di tangan.“Selamat pagi, Tuan Daven,” sapa Arsen dengan senyum tipis. “Kopi Anda sudah ada di meja. Saya harap sesuai dengan selera Anda.”“Apa seleraku cepat berubah?” tanya Daven dengan dengkusan sebal. “Sapaan selamat pagimu mengandung banyak pertanyaan, Arsen. Perlu kau tahu, aku baik-baik saja.”Arsen menyimpan senyumnya. Padahal ia berusaha menahan diri untuk tak bertanya, mengenai
“Sebaiknya kau tidur. Ini sudah sangat larut,” kata Kate pada Daven yang tampak lelah. Bukan hanya dirinya, kedua putrinya juga tampak lelah. Sudah terlalu larut obrolan mereka tapi tak mungkin dihentikan begitu saja.Setidaknya Kate tahu apa yang akan Daven lakukan dan kenapa Daven melakukan hal itu.“Kau juga, Mom.” Daven tersenyum tipis. “Felicia, antarkan Mommy ke kamarnya. Kau juga sebaiknya beristirahat.” Ia juga bicara pada Kalina.“Kau benar. Masih ada hari esok yang harus dihadapi.” Kalina mendekat pada Daven. Mengusap lembut puncak lengan kakak lelakinya. “Apa pun yang kau lakukan, selama alasannya jelas, aku pasti mendukungmu.”“Terima kasih, Kalina.” Daven mengusap penuh sayang puncak kepala adiknya itu. Dia sangat berharap, kedua adik perempuannya tak mengalami nasib sepertinya. Itulah kenapa ia cukup detail mengenai siapa yang mendekati Felicia juga Kalina. Meski mereka belum menikah tapi pria yang menjalin hubungan dengan mereka, Daven keta
“Jadi maksudmu, sekarang ini adalah pembalasan atas perbuatan Daven di masa lalu?” tanya Kate, menatap Felicia dengan sorot tajam namun ragu.Felicia mengangkat bahu. “Aku tidak bilang itu sebuah pembalasan, Mom. Tapi karma mungkin memang benar-benar bekerja.”Daven menyandarkan punggung, menghela napas berat. “Aku tahu aku bersalah pada Althea. Aku tidak pernah membela diriku sendiri atas kesalahan itu. Tapi sejak awal aku sudah mengatakan, aku tak pernah menginginkan pernikahan itu terjadi.”Mereka semua terdiam.“Berbeda dengan Vanessa, aku tidak pernah berpaling. Tidak sekalipun. Dan kalian juga memahami hal itu, kan?”“Aku percaya itu,” ujar Kalina, menatap kakaknya dengan keyakinan penuh. “Aku tak tutup mata atas semua hal yang pernah terjadi padamu di masa lalu. Apa pun yang terjadi malam ini, kau berhak kecewa. Vanessa melewati batas.”“Aku juga setuju,” sambung Felicia, lebih tenang. “Tapi tetap saja ... kalian seharusnya bicara. Du
“Tuan Daven.”Sebelum Daven masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka, panggilan Arsen barusan membuatnya menoleh. “Kenapa?”Arsen agak ragu mengatakan apa yang diperintah olehnya namun ... “Maafkan saya, Tuan Daven. Anda diminta untuk pulang ke rumah utama.”Daven menatap Arsen agak lama sampai akhirnya, ia pun menghela panjang. Apa yang terjadi dalam perjamuan makan malam tadi, tak mungkin dianggap hal sepele oleh ibunya. Apalagi sampai menyebabkan Theo Blake pingsan dan mendapatkan perawatan intensif.“Baiklah. Malam ini kita pulang ke rumah utama.”Arsen mengangguk patuh dan meminta sopir Daven untuk mengubah rute. Begitu Daven masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman, Arsen pun segera memasuki kursi penumpang di depan. Mobil pun perlahan meninggalkan area rumah sakit.Perjalanan kali ini tampaknya lebih lambat dari biasanya. Tapi Daven tak peduli. Ia rasa, seharusnya ia cukup beruntung waktu bergerak lambat. Setidaknya ia bisa beristirahat sebelum bertemu sang ibu untu
Sepanjang jalan, Vanessa menangis di sisi ayahnya. Perasaannya campur aduk. Bagaimana semua ini bisa terjadi pada hidupnya? Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi apa yang mereka lakukan saat berdua.Tapi ... Vanessa tak memulai semua ini tanpa sebab.Semua ini salah Daven! Jika suaminya tak mengabaikan keberadaannya, ia tak mungkin meminta perhatian dari pria lain. Apalagi pria ini tak pernah mengeluh, selalu menuruti semua keinginan Vanessa tanpa banyak membantah.“Aku tak akan membiarkan semua ini berjalan seperti yang Daven inginkan.” Tekadnya dalam hati. Ia terus menggenggam tangan ayahnya, berharap keadaannya baik-baik saja.Lobi rumah sakit berubah hiruk pikuk dalam sekejap. Para perawat berlari menyambut tandu darurat yang membawa tubuh Theo Blake, sementara ajudannya sigap mengatur jalur, menelepon dokter jaga, dan mengamankan area.“Pak Theo Blake! Usia enam puluh dua tahun! Beliau pingsan mendadak, tekanan darahnya normal!” teriak salah satu petugas.Vaness







