LOGIN“Mau sampai kapan kau memanggilku seperti itu?” Kate tertawa. “Ayolah, tak sampai sebulan lagi kau menjadi menantuku, kan?”
Di ujung sana, Vanessa ikut tertawa. “Baiklah, Mom. Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?”
“Tidak ada,” sahut Kate segera. “Tapi ... apa siang ini kau akan menemui Daven?”
“Tidak. Jadwalku siang ini cukup padat. Majalah Women in Year memintaku untuk menjadi bintang tamu. Masih ada bebe
“Kenapa kau ikut turun?” Daven bertanya dengan herannya atas tingkah Vanessa. Biasanya wanita itu meminta Davne mengantarkannya lebih dulu ke suatu tempat, barulah Daven bisa ke kantor dengan tenang.Tapi pagi ini, Vanessa bertingkah di luar kebiasaannya.“Apa tak boleh?” tanya Vanessa dengan senyum semanis madu. “Kau keberatan?”Apa pun yang Vanessa lakukan, Daven tak pernah menganggap itu keberatan. Lagi pula ia sudah terbiasa dengan tingkah Vanessa yang terkadang seenaknya.“Aku ingin mengantarkan calon suamiku sampai ke ruang kantornya,” Vanessa menggamit lengan Daven segera. Bergelayut mesra tanpa peduli jika apa yang dilakukannya mendapatkan atensi dari banyak karyawan yang baru datang. Sebagian ada yang menoleh, memastikan jika bosnya bersama seorang wanita cantik yang wajahnya cukup familiar—siapa yang tak mengenal Vanessa Blake? Model yang cukup terkenal di bawah brand-brand besar. Belum lagi
Ruang kerja Daven pagi itu dipenuhi aroma teh melati hangat dan roti panggang mentega. Sinar matahari menerobos jendela besar di belakang meja, menyorot dengan lembut wajah pria yang kini duduk bersandar di kursinya, memandangi wanita yang sedang sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir.Althea tampak lebih tenang. Senyumnya tidak terlalu lebar, tapi cukup membuat ruang itu terasa sedikit lebih hangat.“Ini sudah cukup?” tanya Althea sembari meletakkan cangkir di dekat piring Daven.Pria itu hanya mengangguk. “Ya.”“Maaf, aku tak membuatkanmu kopi. Sepertinya biji kopi yang kau sukai habis. Aku akan membelinya siang ini.”Daven mengangguk kecil. Mereka makan dalam diam sesaat. Hanya bunyi garpu menyentuh piring dan dentingan ringan sendok yang menemani. Tapi jangan tanya bagaimana perasaan Althea, yang awalnya tak mengerti keinginan Daven yang ingin sarapan terpisah. Begitu ia duduk di ruang ini, rasanya seperti ...
Althea menoleh pelan. “Ini menu yang biasa Daven nikmati di pagi hari.”Vanessa terkekeh kecil. “Oh, manis sekali.” Ia menopang wajahnya dengan kedua tangan, matanya tertuju pada Althea tapi dengan sorot sinis dan merendahkan. “Apa kau sedang memandang remeh keluarga Callister? Menyiapkan menu sarapan yang sederhana?”“Dari mana asal pikiranmu itu, Nona Vanessa?” tanya Althea dengan tenangnya. “Aku menyesuaikan dengan selera yang mereka sukai di pagi hari.”“Tidak mungkin,” decih Vanessa. “Mungkin itu adalah selera makanmu di pagi hari, Wanita Murahan. Tapi Mommy Kate, dua adikku Felicia dan Kalina, memiliki selera makan yang berkelas. Pantas saja mereka menolak sarapan yang kau sajikan. Karena apa yang kau buat? Cih! Terlalu sederhana!”Althea berusaha untuk sabar. “Sebenarnya ... aku menyiapkan ini semua untuk Daven.”Vanessa terbahak jadinya. “A
Althea terpana, pada pemandangan yang ada di depannya.Saat pertama kali ia membuka mata setelah... ah, Althea memilih mengingat semua yang baru saja ia alami, cukup di dalam hatinya saja. Sebagai salah satu kenangan paling indah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ditambah ia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi pria yang sebenarnya... ia cinta.“Beruntungnya aku,” bisik Althea, nyaris tak bersuara. Jemarinya terulur, nyaris menyentuh pelipis Daven atau sekadar merapikan anak rambut yang terjatuh di dahinya. Tapi, ia urungkan. Ia merasa tak berhak. Bisa menghabiskan malam bersama Daven saja sudah cukup melebihi apa yang ia impikan. Dan kini, menyaksikan sosok lelaki itu terlelap dalam damai ... membuat hatinya nyeri dan bahagia bersamaan.“Terima kasih sudah mau mengabulkan permintaanku.” Althea mengepalkan tangannya, erat. Ia tahu, apa yang ia lakukan sangat rendah. Tapi hanya itu satu-satunya cara baginya untuk memiliki kenangan tentang Daven.“Maaf
Bohong kalau Althea tak gugup. Ia terbangun karena haus, menyiapkan makan malam ringan karena Daven terlihat lapar dan lelah tapi ... kenapa dia berakhir di sini?Di kamar Daven yang belum pernah ia masuki?“Sial, bagaimana aku bisa segugup ini?” maki Althea dalam hati. Tapi mau dimungkiri seperti apa pun, ini adalah malam pertama baginya. Malam di mana ia sangat mengharapkan hal ini terjadi. Malam yang akan ia habiskan bersama Daven sebagai suami istri. Malam yang seharusnya sudah ia dapatkan sejak setahun yang lalu.“Jangan melakukan hal bodoh, Althea,” katanya lebih pada diri sendiri. “Kau hanya perlu mengimbangi Daven.” Ia memejam sejenak. “Ingatlah pada apa yang pernah ditulis novel romantis yang pernah kau baca.” Althea meremas piyama tidurnya sekuat mungkin. “Yakinlah pasti bisa.”Saat pertama kali memasuki kamar Daven, Althea disambut oleh suasana yang cukup temaram. Ruang dengan nuansa a
Setelah membereskan beberapa rak dan lemari kecil di kamar, Althea terlelap lantaran kelelahan. Beberapa buku koleksinya tersusun rapi dalam beberapa kotak. Wanita itu memutuskan untuk bersiap, kalau-kalau semuanya sudah tak lagi sesuai rencana.“Ugh!” lenguh Althea yang merasa pegal di beberapa bagian. Mungkin karena posisi tidurnya tak benar? Entahlah. Tapi karena hal itu juga, ia terbangun. Tenggorokannya juga terasa kering. Ia pun meraih jubah tipis lalu berjalan pelan menuju dapur.Althea berjalan menuruni tangga dengan hati-hati. Rumah sudah senyap. Bahkan suara detak jam dinding pun terdengar lebih nyaring dari biasanya. Tapi ketika langkahnya berada di ruang makan, ia terhenti.Cahaya temaram dari dapur menyala. Dan sosok itu berdiri di sana—Daven.Althea terdiam beberapa detik, menatap pria itu yang sedang membuka kulkas. Rambutnya sedikit acak, jasnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih yang tergulung di bagian lengan. Ia ta
“Aku memang tak boleh banyak berharap,” gumam Althea sebelum memasuki kediaman keluarga Callyster. Langkah Althea terasa hampa ketika ia memasuki rumah besar keluarga suaminya. Gaun emas pucat yang sempat membuat Daven menatapnya tanpa suara kini hanya menjadi kain yang membebani tubuhnya.
“Kau tidak pernah bertanya,” jawab Althea datar.Daven menggeleng heran. “Kau mengejutkanku.”Althea memilih tak memberi tanggapan apa pun. Baginya, apa yang ia rasa malam ini sangat mewah. Tak pernah ia sangka bisa berdiri di samping suaminya dan bicara sesa
Gema tawa dan denting gelas anggur menyambut pasangan itu saat memasuki aula utama Kedutaan Besar Jepang malam itu. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal, orkestra klasik mengalun lembut di sudut ruangan. Daven, dalam setelan hitam Armani yang sempurna, segera menjadi pusat perhatian. Bebera