LOGIN“Kenapa kau ikut turun?” Daven bertanya dengan herannya atas tingkah Vanessa. Biasanya wanita itu meminta Davne mengantarkannya lebih dulu ke suatu tempat, barulah Daven bisa ke kantor dengan tenang.
Tapi pagi ini, Vanessa bertingkah di luar kebiasaannya.
“Apa tak boleh?” tanya Vanessa dengan senyum semanis madu. “Kau keberatan?”
Apa pun yang Vanessa lakukan, Daven tak pernah menganggap itu keberatan. Lagi pula ia sudah terbiasa dengan
Daven hanya bisa menatap punggung ibunya yang pergi menjauh bersama seorang perawat. Sepertinya mereka sangat terburu-buru melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa ada hal buruk yang terjadi selama Daven tak ada di sini? Kenapa Althea tak mengatakan apa pun pada Chase? Apa lagi-lagi wanita itu menanggung banyak hal seorang diri?“Jadi ... Felicia,” Kali ini Daven menatap adiknya dengan sorot tegas. Yang membuat Felicia hanya bisa menelan ludah gugup karena Daven tak akan dengan mudah membuatnya memberi banyak alasan.“Katakan padaku, apa yang terjadi?”Felicia menunduk, bibirnya bergetar. “Daven ... dokter baru saja memberi kabar yang—“ Ia semakin menunduk. “Kau tahu, buruk sekali. Josh kehilangan banyak darah. Dia membutuhkan banyak kantung darah.”“Kalau begitu, aku bersedia memberikan darahku. Sebanyak yang dokter inginkan,” sela Daven dengan cepat. “Di mana dokternya? Aku harus menemuinya
“Felicia? Di mana Josh? Tidak. Bagaimana keadaan Josh?”Felicia tertegun sejenak. Ia tak menyangka jika orang yang ingin dihubungi, ternyata sudah ada di depan matanya. Meski wanita itu tampak pucat, wajahnya penuh gelisah, dan saat kate memeluk Felicia, tubuhnya gemetar hebat.“Mommy,” bisik Felicia tak percaya. “Bagaimana ... kau bisa ada di sini?”Bukannya menjawab tapi Kate malah tersedu di putrinya. “Aku tidak bisa membayangkan, Felicia. Josh… cucuku… bagaimana bisa dia terlibat dalam kecelakaan mengerikan itu? Ya Tuhan!” tangisnya semakin kencang. Ia tak peduli bagaimana penampilannya sekarang. “Aku benar-benar tak bisa memercayai hal ini. Padahal kemarin aku baru saja bertemu Josh, Felicia.”Felicia berusaha menenangkan ibunya. Ia memberi usapan lembut di punggung Kate sembari berkata. “Aku yakin tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Josh. Aku dan Althea
Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke
Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.
“Tuan, pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Tuan Josh, sudah datang.”Daven juga Chase segera menoleh, menatap dua orang pria berseragam lengkap yang datang untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi.“Jadi ... Anda bisa memberitahu kami, Tuan Polisi?” tanya Chase tak sabar.Polisi yang hadir di ruang tunggu bicara hati-hati. “Kami sudah memeriksa sopirnya. Pria itu meninggal di tempat. Hasil visum sementara menunjukkan ia terkena serangan jantung mendadak. Mobil kehilangan kendali saat dikemudikan olehnya. Jadi dugaan sementara, ini murni kecelakaan.”“Jadi maksud Anda,” suara Chase terdengar menahan amarah yang berusaha ditekan, “semua ini hanya kecelakaan biasa?”Polisi itu mengangguk, nada bicaranya tetap formal. “Benar, Tuan Miller. Sopir mobil mengalami serangan jantung mendadak. Kendaraan keluar jalur, dan—” ia melirik c
“Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld
Dua hari sebelumnya.Gudang tua di pelabuhan barat daya itu seakan menjadi tempat di mana waktu berhenti. Bau asin laut bercampur dengan aroma besi berkarat yang menusuk hidung, meninggalkan sensasi yang cukup mendebarkan. Atap sengnya bolong di beberapa sisi, membuat cahaya matahari sore
Arsen melirik ke kaca spion tengah, memastikan tuannya masih mendengarkan. “Saya sudah mengonfirmasi jadwal pertemuan besok dengan Tuan Chris, Tuan Daven. Sayangnya, beliau baru bisa ditemui setelah makan siang. Kalau boleh memberi saran, sebaiknya Anda gunakan waktu ini berdiskusi dengan t
“Terima kasih sudah meluangkan waktu bicara denganku,” kata Daven begitu mereka keluar dari area kafe. Meski tak banyak yang bisa Daven tanya—lebih tepatnya ia sangat menahan banyak pertanyaan hanya agar hubungan yang sedikit membaik ini, tak lagi berjarak.Sungguh, tidak
Sementara di ruang kerja Chase.Althea yang duduk sembari menggenggam cangkir kopi miliknya. Ada rasa gelisah yang sebenarnya sejak tadi ia rasakan hanya saja, wanita itu berusaha keras untuk menyingkirkannya.“Di mana kau akan menjemput Josh?” tanya Chase dengan nada se