تسجيل الدخول“Apa hari ini kau akan pulang terlambat?”
Menyingkirkan rasa rendah diri, Althea tetap menemani Daven sarapan. Tanpa banyak bicara, hanya memastikan Daven sarapan dengan baik. Bahkan ia mengantarkan pria itu menuju mobil yang sudah dipersiapkan sopir ke kantor.
“Kenapa kau bertanya?” Daven melirik sekilas, pada wanita yang tersenyum di hadapannya. Tak menolak saat wanita itu bermain peran sebagai istri yang memastikan penampilan suaminya sebelum berangkat
“Kenapa kau menahanku?” tanya Vanessa penuh amarah. Ia menyentak tangan James yang sejak tadi memeganginya begitu sampai di mobil. “Apa kau sengaja agar aku tak bisa bicara dengan Daven?”“Saya tak pernah punya niat seperti itu, Miss Vanessa,” sahut James dengan sabar. “Mari, silakan masuk dulu. Lebih baik Anda tenangkan diri di dalam.”“Dari mana aku bisa tenang sementara keinginanku bicara dengan Daven!” bentak Vanessa namun saat ia melihat sudut bibir James yang terluka karena ulahnya, ia merasa menyesal. “Ambil kotak obat dulu. Biarkan aku mengobati lukamu.”“Lakukan saat kita ada di dalam mobil saja, Miss Vanessa.”Ucapan James ada benarnya juga. Maka dari itu, meski masih menyimpan amarah lantaran tak bisa mendapatkan apa yang ia mau, Vanessa tetap masuk ke dalam mobil. Menerima kotak obat tak lama setelah James juga masuk. Dengan penuh hati-hati dan ketelitian, Vanessa mengobati luka James.“Pasti sakit sekali, kan?” tanya Vanessa dengan nada menyesal. “Maafkan aku.”“Anda tak
“Apa maksudmu?” tanya Vanessa, suaranya meninggi dan matanya menyorot tajam. “Kau bicara seolah aku melakukan sesuatu yang buruk?”Daven tak langsung menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, lalu menyunggingkan senyum tipis yang lebih mirip ejekan. Tanpa berkata apa pun, ia berdiri dan berjalan ke sisi tempat tidur.Dengan hati-hati, Daven duduk di kursi yang ada di dekat ranjang ibunya. Tangannya terulur, menggenggam tangan Kate dengan lembut. Wanita paruh baya itu masih tertidur, raut wajahnya tampak tenang, meski sedikit pucat. Daven menghela panjang lalu mengecup punggung tangan ibunya.“Maafkan aku yang jarang sekali memerhatikanmu.”Felicia yang sejak tadi duduk di sofa, ikut mendekat. Duduk di sisi lain ranjang ibunya. Sama seperti Kalina yang ikut duduk di sisi Felicia.“Sesekali pulanglah ke rumah, Daven. Mommy sering menanyakan kepulanganmu,” kata Felicia pelan.“Akan kuusahakan.”“Sudah lama kau tak pulang, kan? Apa kau tak merindukan rumahmu? Makan bersama kami?” tanya Kalina d
“Aku sudah menyiapkan bingkisan terbaik untuk ibu mertuamu,” kata James sembari melirik Vanessa yang duduk di sampingnya.“Kau sudah mendapatkan kabar terbaru dari Daven?”“Belum, Miss.” James kembali fokus dengan kemudinya. Sekali lagi, ia harus menahan diri dari apa pun yang mengganggunya terutama karena Daven.“Kurasa ... kabar ini pasti akan membuat suamiku pulang.” Vanessa tersenyum cerah. “Bagaimana penampilanku? Terlihat sempurna, kan?”“Anda selalu sempurna, Miss Vanessa,” kata James singkat.“Kau benar. Aku yang terlihat selalu sempurna, jangan sampai ada setitik noda dalam hidupku.”Mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Catherine Callister dirawat. Besar harapan Vanessa untuk bisa bertemu suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan termasuk kesalahpahaman yang mungkin saja menjadi alasan utama, kenapa Daven mengabaikannya.Vanessa salah mengira saat Daven meneleponnya. Salahnya juga kenapa tak mengubah nama Daven kembali ke setelan awa
“Sejak tadi, aku perhatikan kau tak meminum tehmu?” tanya Ruth dengan nada santai. Ia menyesap teh yang baru saja dituang ke cangkir porselen berukiran bunga kecil yang indah. “Sayang sekali jika kau tak bisa menikmati teh seenak ini.”Althea tersenyum kikuk, tangannya meraih cangkir yang sejak tadi hanya digenggam tanpa disentuh bibirnya. “Maaf, Bibi. Aku… sedikit gugup, sejujurnya.”“Gugup?” alis Ruth terangkat. Ekspresinya dibuat setenang mungkin, meski tatapannya masih tajam. “Apa karena aku?”Althea tertawa canggung. “Bisa dibilang seperti itu. Tapi mungkin karena merasa semua ini terlalu cepat terjadi.”Udara sore di taman kediaman keluarga Miller begitu segar. Angin sejuk mengayun dedaunan dan membuat kelopak bunga di sekitar gazebo ikut bergetar pelan. Suasana yang sangat tepat dinikmati untuk bicara santai ditemani secangkir teh dan beberapa camilan manis.Althea masih tak menyangka dirinya berada di tempat ini. Duduk bersama Ruth Miller—Chase banyak bercerita mengenai sosok
My Wife :Jadwalku selama sebulan ini sudah kuberitahu Arsen. Kenapa kau tak memberitahuku mengenai jadwalmu? Aku ingin bicara padamu. Apa sulit sekali bicara dengan suami sendiri? Apa kesibukanmu setara dengan presiden?Daven hanya menatap layar ponselnya tanpa minat. Hanya satu hal yang ia lakukan—mengganti nama kontak istrinya. Vanessa. Cukup seperti itu saja. Lagi pula ia tak yakin nama kontaknya di ponsel Vanessa tertera dengan panggilan sayang atau ... sejenisnya. Buktinya saat Daven menelepon malam itu, justru disalahpahami sebagai David.Siapa David?Apa kontak nama Daven hanya tertera ‘Daven’?Kalau mengingat hal itu, Daven tersenyum miris. Kentara sekali jika Daven yang berjuang sendirian di rumah tangga yang ia jalani bersama Vanessa. Tapi ia belum bisa memutuskan, arah yang akan dia ambil setelah semua ini terjadi. Selama seminggu belakangan, wanita itu tak henti mencoba menghubunginya.Tapi Daven tak merespons. Untuk apa? Membela diri? Tidak. Daven tak membutuhkan hal itu
Berulang kali Althea menghela panjang, berulang kali juga ia memastikan penampilannya sempurna. Dress yang ia gunakan, senada dengan polo shirt yang Chase dan Josh kenakan. Di meja ruang tamu juga sudah Althea persiapkan buah tangan yang akan ia bawa ke rumah Chase. Meski pria itu mengatakan tak perlu membawa apa pun, Althea tak mungkin bisa datang begitu saja.“Kau sudah siap?” tanya Chase dengan senyum lebar. Matanya memerhatikan Althea dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Penampilan wanita itu terlihat sempurna meski ... “Apa kau merasa gugup?”Althea mendengkus sebal. “Kau bertanya hal itu?”“Kenapa harus gugup?” Chase tertawa. Ia pun mendekat dan menggenggam tangan Althea erat. “Kau tak perlu merasa gelisah atau gugup. Ibuku sangat menantikan hari ini. Bertemu dan memasak bersamamu.”Althea menatap Chase dengan lekat. “Kuharap memang seperti itu.”“Paman Chase!” pekik Josh penuh semangat. “Aku dan Sunny sudah siap.”Chase tertawa. “Bahkan Josh sudah tak sabar untuk segera ke r







