로그인“Aku akan menjemputmu tepat waktu,” kata Chase sembari menyalakan mesin mobil. Ia baru saja mengantarkan Josh bertemu Miss Spencer. Dan kali ini gilirannya mengantarkan Althea sampai sekolah.
Seharusnya ia juga berkantor, mengurus beberapa berkas terkait dengan kurikulum ajar yang dikelola yayasan yang ia pegang. Sayangnya, Chase memiliki urusan yang lebih penting—bersama Chris, bertemu Daven Callister dan membahas mengenai proyek yang sempat tertunda.
“Kau tak ke kantor?” Althe
Felicia yang tadinya sibuk dengan ponsel, menatap Althea dengan heran. Ia merasa pertanyaan barusan sungguh tak berguna. Ibunya pasti akan menyetujui tanpa banyak keluhan.“Kau tak perlu khawatir. Mommy pasti akan datang membantu. Toh, dia tak akan mengabaikan keberadaan Josh.”“Saya harap, segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga bagi Josh. Mohon untuk tidak menunda waktu.”“Iya, Dokter. Saya tahu,” tukas Althea. “Tapi ... bisakah memberi waktu sedikit saja. Ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu.”Baik Dokter dan perawat yang sejak tadi menunggu Althea, akhirnya mengangguk. Mereka memilih berdiskusi untuk tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien.“Ada apa Althea?” tanya Felicia dengan tatapan penuh tanya. Ia sampai menutup ponselnya. Di depannya, berdiri Althea yang membalas tatapan itu penuh lekat. “Kau .. masih terlihat ragu. Ke
Althea berulang kali menatap ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan gelisah. Waktu yang berlalu, Althea merasa sangat lambat. Kapan dia mendapatkan kabar mengenai kondisi putranya?“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik, Althea,” kata Felicia berusaha menenangkan Althea. Yang sejak tadi wajahnya terus saja menunjukkan kegelisahannya.“Kau sudah mengatakan itu tiga kali, Felicia,” kata Althea sembari menghela pelan. “Aku tahu dokter pasti melakukan hal itu. Tapi tetap saja, aku takut.”Sejak tadi, Althea tak mendorongnya menjauh. Meski kata-katanya terdengar sinis dan tatapan yang dia berikan pada Felicia masih menunjukkan rasa tak suka, tapi Felicia berusaha memahami. Jika semua yang Althea lakukan karena ulahnya di masa lalu. Andai saja Felicia berada di posisi Althea, mungkin sejak tadi Felicia sudah diusir dengan perkataan dan makian yang terdengar menyakitkan.Tapi Althea tak melakukan itu.
“Tuan, pihak kepolisian yang menangani kasus kecelakaan Tuan Josh, sudah datang.”Daven juga Chase segera menoleh, menatap dua orang pria berseragam lengkap yang datang untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi.“Jadi ... Anda bisa memberitahu kami, Tuan Polisi?” tanya Chase tak sabar.Polisi yang hadir di ruang tunggu bicara hati-hati. “Kami sudah memeriksa sopirnya. Pria itu meninggal di tempat. Hasil visum sementara menunjukkan ia terkena serangan jantung mendadak. Mobil kehilangan kendali saat dikemudikan olehnya. Jadi dugaan sementara, ini murni kecelakaan.”“Jadi maksud Anda,” suara Chase terdengar menahan amarah yang berusaha ditekan, “semua ini hanya kecelakaan biasa?”Polisi itu mengangguk, nada bicaranya tetap formal. “Benar, Tuan Miller. Sopir mobil mengalami serangan jantung mendadak. Kendaraan keluar jalur, dan—” ia melirik c
“Maaf jika kehadiranku mengganggumu,” Felicia segera bicara. Menyela Daven yang mungkin ingin menyapa Althea dan menanyakan kabar putranya. “Aku tak bermaksud apa pun.”Althea mengusap sisa air matanya. Tatapannya tak lagi sendu tapi tajam dan mengarah tepat pada Daven yang berada tak jauh darinya. “Apa maksud semua ini, Daven?”“Kumohon tenang dulu, Althea.” Daven menghela pelan. “Felicia tak memiliki niat apa pun. Dia ... “ Daven melirik ke arah Felicia dan menggeleng pelan. “Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Josh.”Bola mata Althea terbeliak tak percaya. “Jangan bilang kau ... memberitahunya?”“Tidak seperti itu,” sela Felicia cepat. “Aku tahu dari ibumu, Althea. Sungguh. Daven tak menceritakan apa pun mengenai Josh. Justru aku yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang sedang ia tutupi dengan banyak alasan yang masuk akal.”&ld
Sirene ambulans terus meraung, memecah kesunyian yang ada di sekitar gedung belakang rumah sakit. Pintu belakang kendaraan terbuka lebar, dan seketika bau obat-obatan, darah, dan ketegangan bercampur jadi satu.“Cepat! Pasien anak laki-laki, trauma kepala, banyak kehilangan darah!” teriak salah seorang paramedis sambil mendorong brankar ke luar.“Josh…!” suara Althea pecah. Dia segera membuka pintu mobil yang ditumpanginya. Mengejar tubuh sang anak yang terbaring tak berdaya. Ia tak peduli jika tubuhnya berlari menghampiri meski langkahnya oleng.Di atas brankar itu, tubuh kecil Josh terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya masih ternodai darah, napasnya tak stabil meski masker oksigen menempel di wajahnya. Althea mendekap sisi brankar, tangannya gemetar saat membelai lengan putranya.“Josh… Mommy di sini, Nak. Kau dengar Mommy, kan? Tolong… buka matamu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Mobil yang ditumpangi Althea melaju kencang di belakang ambulans. Matanya terus menatap jalan di depan. Tangannya saling meremas demi mengurangi rasa gelisah meski percuma. Pandangannya memburam lantaran air mata yang tak berhenti mengalir. Di sampingnya, seorang staf hotel mencoba menenangkannya.“Tidak bisakah kita lebih cepat lagi?” tanya Althea sembari mengusap air matanya. Matanya tak pernah teralih dari ambulans yang ada di depannya.“Kita akan segera sampai, Nyonya Althea.” Staf hotel sekali lagi berusaha untuk menenangkan Althea. Jika posisinya ditukar dengan wanita yang kini menangis di sampingnya, mungkin si staf juga akan meraung dan menangis histeris melihat anaknya terlibat kecelakaan yang cukup parah.“Astaga… Josh… bagaimana jika dia—” Althea menutup wajah dengan kedua tangannya. “Semua ini salahku. Aku seharusnya melarangnya pergi.”“Tenangkan diri Anda, Nyonya. Saya
“Apa yang sebenarnya aku pikirkan tadi?” Althea mencengkeram erat setir mobilnya. Jemarinya gemetar oleh sisa keberanian yang kini berubah jadi penyesalan. Udara di dalam kabin mobil terasa menekan, seolah ikut menertawakan keberaniannya barusan.“Astaga ... aku seperti w
“Mau sampai kapan kau memanggilku seperti itu?” Kate tertawa. “Ayolah, tak sampai sebulan lagi kau menjadi menantuku, kan?”Di ujung sana, Vanessa ikut tertawa. “Baiklah, Mom. Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?”“Tidak ada,” sahut K
“Apa hari ini kau akan pulang terlambat?”Menyingkirkan rasa rendah diri, Althea tetap menemani Daven sarapan. Tanpa banyak bicara, hanya memastikan Daven sarapan dengan baik. Bahkan ia mengantarkan pria itu menuju mobil yang sudah dipersiapkan sopir ke kantor.“Ke
“Kurasa corak dasi yang ini, cocok untukmu.” Althea mengambil salah satu dasi dari koleksi yang Daven miliki. Meski wanita itu tahu, Daven sangat terpaksa menerima keberadaannya tapi Althea harus menekan rasa malunya. Apa yang sudah ia rencanakan harus berhasil sampai akhir waktu perj