MasukTeresa yang bermata tajam langsung meraih tangannya. Suaranya sampai sedikit bergetar. "Ini serius?"Maggie mengikuti arah pandangannya. Cincin berlian merah muda di jari manisnya berkilau di bawah sinar matahari. Berlian utama sepuluh karat itu benar-benar sulit untuk diabaikan.Jari Maggie tanpa sadar sedikit melengkung. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap Teresa dengan mata jernih, lalu tersenyum santai seolah-olah tak peduli. "Hadiah dari teman. Palsu kok. Cuma pakai buat iseng.""Siapa?" Mata Teresa langsung berbinar, seperti mencium gosip besar. "Teman apa? Cowok atau cewek? Easton?"Maggie ragu sejenak, lalu menggeleng. "Bukan dia.""Beberapa hari lalu ada pengusaha kaya dari Gandri yang melelang berlian merah muda tujuh karat, sampai masuk berita. Katanya tingkat kemurniannya biasa saja, tapi warna berlian itu langka, apalagi yang karat besar. Harganya susah ditaksir. Yang tujuh karat itu laku sampai delapan digit."Maggie tersenyum. "Sudah kubilang palsu. Kalau asli, mana m
"Kakak kelasmu itu licik sekali. Katanya dia berharap kamu bahagia, tapi diam-diam mengirim rekaman seperti itu kepadaku, mau mengadu domba hubungan kita."Dengan emosi meluap, Easton merobek pakaiannya, lalu membuka mulut dan menggigit lehernya.Rasa nyeri bercampur kebas menjalar ke seluruh tubuh. Di tengah perlawanan, perut bagian bawah Maggie tiba-tiba berkontraksi. Wajahnya langsung memucat karena sakit.Rasa nyeri yang begitu familier membuat alarm dalam diri Maggie berbunyi keras. Dia mengangkat tangan dan menampar Easton.Easton berhenti. Kesadarannya sedikit kembali. Dengan satu tangan bertumpu di kepala ranjang, wajahnya penuh keterkejutan saat menatap Maggie dalam diam.Tubuh Maggie gemetar tak terkendali. Ujung jarinya dingin. Kontraksi di perutnya tak kunjung reda. Bahkan suaranya ikut bergetar. "Easton, kamu mabuk."Sebenarnya dia ingin berkata bahwa dirinya hamil dan merasa takut, jadi tolong jangan seperti ini.Namun, saat berhadapan dengan sepasang mata hitam legam itu
Keesokan paginya, Easton terbangun oleh suara air dari kamar mandi. Secara refleks, dia mengulurkan tangan untuk memeluk orang di samping tempat tidur, tetapi tidak ada siapa pun di sana.Maggie mengeringkan rambutnya, keluar dari kamar mandi, meliriknya sekilas, lalu masuk ke ruang ganti.Easton terdiam beberapa detik, memaksa dirinya sadar. Dia mencoba mengingat potongan ingatan sebelum dirinya hilang kesadaran.Dia menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Baru kemudian dia sadar dirinya mengenakan piama. Dengan wajah dingin, Easton bersandar di pintu ruang ganti dan berdeham pelan. "Kamu yang gantiin bajuku?"Maggie sudah berganti dengan setelan jas putih. Sambil membawa tas, dia berjalan keluar tanpa melirik, melewatinya seolah-olah Easton hanya udara."Mau ke mana?" Suara Easton terdengar dingin. Dia mengerutkan kening dan mengulurkan tangan menghalanginya. "Kalau hari ini kamu nggak menjelaskan semuanya dengan jelas, jangan harap bisa pergi ke mana pun."Maggie mendongak,
Easton meliriknya. "Hm, jangan lupa lho."Makan malam itu tidak berlangsung menyenangkan. Meskipun wajah Easton dingin, itu tidak menghalanginya untuk mengupaskan udang untuk Maggie, mengambilkan lauk, dan memisahkan duri ikan untuknya.Tak lama kemudian, piring di depan Maggie sudah penuh.Maggie juga sedang merajuk. Udang yang dikupas langsung oleh Easton dibiarkannya begitu saja tanpa disentuh. Lauk yang diambilkan dan ikan yang sudah dipisahkan durinya pun tidak dia makan sedikit pun.Easton meliriknya sekilas, tetapi Maggie langsung mengabaikan tatapan suramnya.Beberapa pria saling bersulang dan saling menuangkan minuman. Easton sedang kesal. Saat orang lain menyodorkan minuman, dia menerima semuanya tanpa menolak.Keluar dari hotel, rombongan mereka naik beberapa mobil dan pergi satu per satu.Easton mabuk. Dia bersandar di kursi belakang. Tatapannya dalam saat menatap Maggie. "Bujuk aku."Maggie sengaja tidak memedulikannya. Pandangannya lurus ke depan. Sopir merasa suasananya
Jilly sebenarnya malas meladeni Lucano, tetapi bagaimanapun dia adalah teman bos besar. Tidak mungkin tidak memberi muka. Setiap perkataannya tetap dia tanggapi satu per satu."Kita punya kontak masing-masing. Dulu aku pernah kirim pesan ke kamu, tapi kamu nggak balas.""Hah? Masa? Aku lagi syuting, grup kru banyak sekali, mungkin chat-nya ketimpa.""Ke depannya bisa ajak kamu keluar main? Nggak ada maksud lain, cuma merasa kita cukup cocok.""Boleh saja kalau ada kesempatan. Cuma akhir-akhir ini lagi sibuk, masih syuting."Selama bertahun-tahun di industri ini, Jilly sudah sangat mahir berbasa-basi. Dia berniat membuat tuan muda ini kehilangan minat sendiri. Nanti juga rasa penasarannya akan hilang.Setelah merias wajahnya secara sederhana, Jilly menoleh ke Maggie. "Kita masih tunggu siapa sih? Kok makanannya belum keluar?"Begitu mendengar itu, Maggie baru sadar orangnya memang belum lengkap. Dia membuka kunci ponsel dan mengirim pesan kepada seniornya.[ Kak, sudah sampai? Nomor rua
"Hah?" Maggie belum sempat bereaksi, kursinya sudah digeser ke sisi lain. Easton mengulurkan tangan menarik kursi yang didudukinya, menyeretnya duduk di sampingnya."Kenapa kamu duduk sejauh itu dariku?"Maggie menatapnya dengan bingung. "Memangnya iya?"Dia hanya sedikit mencondong ke arah Jilly, mana ada menjauh darinya.Di sebelah kirinya adalah Easton, di sebelah kanannya adalah Jilly. Bahkan kalau dia duduk tepat di tengah pun, Easton mungkin tetap akan bersikeras mengatakan dia mencondong ke arah Jilly."Iya. Nyonya Devantara, tolong jangan sampai lupa suami demi teman, bisa?" Easton mencubit telapak tangan Maggie, lalu bersandar sedikit ke belakang, menoleh ke arah Jilly."Pak Easton." Jilly menjalankan profesionalisme pekerja sampai akhir. Meskipun sudah syuting seharian, dia tetap tersenyum cerah sambil mengangkat gelas anggur, berinisiatif bersulang dengan bosnya.Easton mendentingkan gelasnya dengan sopan. "Sudahlah, jangan terlalu kaku. Itu bukan sifatmu.""Hehe. Terima kas







