MasukSetelah insiden lift, suasana kerja sama antara Bank Maxi dan Star Leap menjadi agak canggung.Pada sore hari di hari kedua, setelah tiba di Sarnya, kedua belah pihak menyelesaikan kerja sama tersebut.Teresa tampak sangat gembira. Penampilannya yang penuh semangat sangat kontras dengan sosok pekerja lesu dua hari sebelumnya. Benar-benar seperti dua orang yang berbeda.Bus bisnis yang mereka tumpangi berhenti di depan air mancur hotel. Satu per satu rombongan turun dari kendaraan. Baru saja Maggie turun, terdengar sorak-sorai riuh penuh kegembiraan.Dari lobi hotel keluar sekelompok pria modis dengan tubuh proporsional dan wajah rupawan. Mata Teresa sampai terbelalak."Perjalanan ini benar-benar nggak sia-sia."Maggie tidak mengerti, lalu tanpa sadar bertanya, "Siapa mereka?""Kompetisi Model Muda Nasional tahun ini diadakan di Sarnya. Para peserta pria tampan dan wanita cantik diatur panitia untuk menginap di hotel ini."Sambil melihat para pria tampan dengan mata berbinar-binar, Tere
Maggie menangkupkan air dan membasuh wajahnya, lalu bergumam pelan, "Kalau mau tidur ya tidur, kalau nggak ya begadang saja."Mandi kali ini terasa sangat lama. Di dalam hati, dia terus memperkirakan waktu. Dia perlahan-lahan mengeringkan air di tubuhnya, lalu mengenakan jubah mandi.Begitu mendorong pintu kamar mandi, hawa dingin dari AC langsung menerpa wajahnya, membuatnya tak kuasa merinding.Reaksi kehamilan kali ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Maggie jadi agak tidak tahan dingin.Kamar begitu sunyi, sebagian besar lampu sudah dimatikan. Hanya tersisa satu lampu lantai di sisi tempat tidur yang memancarkan cahaya redup kekuningan, menghadirkan sedikit kehangatan.Easton sudah tidur? Maggie menjulurkan kepala, melihat sekilas, lalu berjalan pelan ke sisi tempat tidur dan mencoba memanggil, "Hei, kamu sudah tidur?"Tidak ada respons sama sekali. Pria itu membelakanginya. Dalam cahaya temaram, wajahnya tak terlihat jelas.Rambut Maggie masih meneteskan air. Dia ragu apakah h
Maggie meletakkan ponselnya, lalu menyapukan pandangannya ke area bar restoran. Harus diakui, memang bisa dibilang sebagai makanan sisa.Teresa melirik sekali. Rasa jijiknya begitu jelas terlihat. Dia diam-diam menarik Maggie, lalu berbisik, "Tadi aku lihat di sebelah ada beberapa warung seafood bakar. Ayo, aku ajak kamu makan enak."Maggie merasa bersalah dan menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku nggak ikut deh. Nggak nafsu makan. Mau ke kamar saja."Teresa agak kecewa, tetapi tidak memaksa lagi. "Ya sudah, cepat istirahat sana."Maggie keluar dari lift seperti pencuri. Dia berjalan sampai ke ujung lorong, lalu menuju sebuah presidential suite. Setelah melihat sekeliling dengan waspada, dia mengetuk pintu.Pintu segera terbuka. Sebuah tangan besar menariknya masuk. Easton berjongkok, mengganti sepatu Maggie dengan tangannya sendiri.Bahkan sebelum Maggie sempat bereaksi, dia sudah diangkat dan didudukkan di atas lemari sepatu di area foyer."Kenapa? Kangen?" Tangan Easton sangat tidak
"Dasar nggak tahu balas budi, apa aku kekurangan satu kata terima kasih itu?" Dia menggeleng tak berdaya, sedikit menyesal. Satu ciuman yang sudah sampai di depan pintu begitu saja dilewatkan.Kaeso sudah menunggu di lobi. Matanya terpaku pada pintu tangga. Maggie merapikan pakaian dan rambutnya, berjalan cepat ke luar.Kaeso melirik ke belakang, tidak melihat sosok Easton. Sebagai orang yang peka, hatinya langsung mengerti. Dengan sigap, dia menyerahkan sarapan yang dibungkus dari resor. "Ini khusus disiapkan Pak Easton untuk Bu Maggie. Dibawa dan dimakan di jalan saja."Maggie tertegun, lalu segera mengerti. Dia mengangguk dan menerimanya.....Easton duduk di dalam mobil, menatap beberapa bus besar di depannya dengan tatapan penuh pikiran. Dia memberi perintah, "Susun satu salinan jadwal beberapa hari ini dari Bank Maxi dan kirimkan padaku."Kaeso segera mengangguk.Easton sama sekali tidak berminat pergi ke resor klien kelas atas itu. Dengan malas, dia menyuruh sopir kembali ke hot
Baru setelah suara langkah kaki di tangga semakin menjauh, Maggie menghela napas lega. "Mereka sudah pergi ...."Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan besar sudah merangkulnya ke dalam pelukan. Mata hitam Easton sedalam jurang tanpa dasar, bulu matanya yang panjang dan lebat menjatuhkan bayangan tipis."Easton, kamu ...."Detik berikutnya, bibir lembut dan sejuk itu langsung membungkam sisa ucapannya. Easton mencium dengan penuh kasih. Satu tangan besarnya menahan tengkuk Maggie, jari-jarinya yang panjang dan tegas menyusup ke sela rambutnya.Maggie didesak hingga ke dinding. Terdengar bunyi "duk" pelan ketika tangan Easton membentur tembok.Keduanya sedikit mendapatkan kembali kewarasan, tetapi suasana panas dan ambigu itu tetap berputar di udara."Anggap ini bunga. Pokoknya nanti baru bayar," ujar Easton sambil menatapnya lurus. Napasnya sedikit berat, dasar matanya dipenuhi hasrat yang tak terjelaskan.Maggie menggigit bibir bawahnya. Bulu matanya yang lentik terkulai
Maggie tetap diam, seperti burung unta yang ingin menanamkan kepalanya ke tanah.Setelah Easton memarahinya panjang lebar, barulah Maggie mengangkat kepala dengan wajah memelas. "Kamu sudah selesai marah belum ...."Mata Easton yang dalam tampak suram. Kemudian, dia menghela napas. "Kamu sadar nggak apa yang kamu lakuin?"Maggie tertegun beberapa detik, lalu mengangguk dengan rasa bersalah."Maggie, sekarang di dalam perutmu ada bayi. Satu tubuh, dua detak jantung. Kamu harus bertanggung jawab pada bayi ini. Kamu pernah mikirin akibat naik sampai lantai 19?""Kamu merasa dirimu sehat sekali? Nasihat dokter sudah kamu lupakan semua? Aku sudah cari di internet, tiga bulan pertama harus ekstra hati-hati. Aku sudah menahan diri, kenapa kamu nggak bisa nurut?"Easton berjalan ke anak tangga di bawahnya, lalu memegangnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya ke dalam pelukan.Dia benar-benar terlalu marah. Sejak melihat papan pemberitahuan bahwa lift sedang diperbaiki, hatinya sudah merasa t







