MasukRonny menatap balik Yohanna. Dari tatapan mata Yohanna itu, Ronny bisa membaca isi hatinya meski masih tidak terlalu jelas. Sebagian besar rasa yang terkandung dalam sorot matanya itu masih sebatas rasa rasa yang didasari oleh kekaguman. Di saat seperti ini Ronny masih belum bisa mengutarakan isi hatinya. Dia masih harus menunggu sebentar lagi. “Di mataku, kamu juga seorang perempuan yang paling hebat. Aku juga mengagumi kamu. Terkadang kamu kelihatan serius banget dan jadi terkesan dingin. Tapi bagiku, kapan pun kamu selalu terlihat sempurna.” Sikap Yohanna terhadap Ronny sudah sangat baik semenjak Ronny bekerja sebagai koki pribadinya. Kebaikan itu terus bertambah setelah Yohanna mengetahui kalau Ronny adalah anak keluarga Adhitama. Ronny percaya Yohanna sudah menganggap dia sebagai teman, karena cara Yohanna memperlakukannya memang benar-benar seperti seorang teman. Namun yang Ronny inginkan darinya bukan sekadar menjadi teman. Dia ingin menjadi suami yang dipercaya dan dicintai
“Non Michelle nggak usah khawatir. Aku pasti menjaga Yohanna dengan baik,” Ronny menyahut. Michelle datang dengan terburu-buru, dan pergi dengan terburu-buru juga. Yohanna tentu saja menangkap maksud tersirat yang tersembunyi di balik ucapan Michelle, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan membiarkan Ronny menuntunnya masuk ke dalam rumah. Rumah masih dalam keadaan terang, tetapi sudah tidak ada orang lagi di lantai bawah. Semua sudah beristirahat di kamar masing-masing. Pelayan rumah sengaja membiarkan lampu tetap menyala menunggu Yohanna pulang. Dalam rumah juga dilengkapi dengan mesin penghangat ruangan. Begitu mereka masuk ke dalam rumah, Yohanna melepas jaket dan mengembalikannya pada Ronny. Ronny mengambil jaketnya kembali dan mengikuti Yohanna sampai ke depan sofa. Setelah Yohanna duduk, dia pun dengan halus bertanya, “Kamu mau minum sup hangat dulu untuk hilangin mabuknya?” “Boleh, biar sakit kepalaku nggak makin arah,” jawab Yohanna sembari dia memijat pelipisnya. Lanta
Pengawal Yohanna tidak berani menyentuh. Dia hanya memanggil Yohanna dan itu tidak cukup untuk membangunkannya. Ronny tidak cuma memanggil tapi juga menepuk wajah Yohanna dengan perlahan sehingga Yohanna tak lama langsung terbangun. Ketika membuka mata dan melihat wajah Ronny ada tepat di depan mata, Yohanna kira dia sedang bermimpi. Bisa-bisanya dia bermimpi tentang Ronny. Apakah mungkin ini berarti Yohanna tertarik padanya? Jika tidak, mana mungkin dia akan memimpikan Ronny. Sekian lama Yohanna hidup di dunia, baru kali ini dia bermimpi tentang lawan jenis. Yohanna hendak meraba wajah Ronny. Namun ketika baru mengangkat tangannya, dia sadar kalau ini bukanlah mimpi. Ini adalah realita. Ronny baru saja mandi. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Yohanna bisa mencium aroma sedap dari tubuhnya. Yohanna langsung menurunkan tangan secara diam-diam dan berharap Ronny tidak menyadari gerak-geriknya tadi agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Yohanna.” Suara Ronny yang lembut dan merdu d
Cakra sudah tidak punya apa-apa lagi. Tanpa uang dan kekuasaan, dengan apa dia bisa membebaskan ketiga putranya? “Papa lebih baik pulang saja. Kalau sudah ada kabar dari pengadilan, nanti kami jemput. Kita dengar saja apa keputusan dari pengadilan.” Cakra langsung berdiri dan pergi dalam kondisi marah-marah. Setelah Cakra pergi, Alisa bertanya kepada Marcella, “Kak, kita benar nggak ngapa-ngapain, nih? Anakku masih kecil. Kalau dia punya papa yang pernah dipenjara, masa depannya bisa rusak.” “Mau gimana lagi? Kalaupun mau bantu, kita nggak bisa apa-apa. Kita sudah tahulah kayak gimana Felicia. Nggak mungkin dia mau maafin mereka begitu saja setelah apa yang terjadi. Coba ingat-ingat lagi di tahun lalu, watu mereka ketahuan selingkuh, gimana perlakuan mereka ke kita. “Iya juga. Kalau begitu biar saja mereka dipenjara, deh,” kata Alisa setelah mengingat kembali masa lalunya. “Kak Marcella, Felicia lagi dirawat di rumah sakit, apa kita jenguk saja?” “Boleh, tapi besok, ya. Besok aku
Cakra diam membisu. Dia juga tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar pengacara. Semasa Patricia hidup, uang yang pernah Cakra pegang tidak pernah lebih dari satu juta. Cakra hidup dengan meminta uang dari anaknya secara diam-diam ketika mereka sudah dewasa dan memiliki penghasilan sendiri. Pada saat itu Cakra sempat merasakan seperti apa rasanya menjadi orang kaya. Dia hidup foya-foya, tetapi uang itu sudah habis, dan dia tidak memiliki tabungan. Sejak dulu Cakra memang terbiasa hidup boros dan tidak pernah bisa menyimpan uangnya dengan baik. Dia juga tidak memiliki aset atas namanya sendiri karena selalu dikontrol ketat oleh Patricia. Rumah yang sekarang Cakra tempati dibangun dengan uang Patricia sendiri, tetapi rumah itu dibangun bukan atas nama Cakra, tetapi atas nama ketiga anak mereka. Setelah Patricia pergi, tiga putranya yang bertugas merawat Cakra dengan memberi uang setiap bulan sebesar ratusan juta. Jika semuanya dijumlahkan, Cakra bisa menjalani masa tua yang lebih d
Walau demikian, Felicia berbaring dan menahan rasa sakitnya. Matanya memerah dan mulai meneteskan air mata. Vandi yang baru masuk melihat Felicia menangis. Dia pun mendekat dan duduk di sampingnya. Dia juga mengambilkan selembar tisu untuk mengusap air matanya. “Air matamu nggak pantas keluar demi mereka,” kata Vandi. Felicia terduduk dan masuk ke dalam pelukan Vandi. Dia berkata, “Vandi, cuma kamu yang aku punya.” Vandi mendekap erat Felicia dan berkata padanya dengan penuh simpati, “Felicia, aku akan terus ada di sisimu selamanya. Nggak peduli apa pun yang terjadi, aku selalu siap menemani. Andaikan bumi kiamat pun, aku bakal melindungi kamu. Kalau kamu merasa sedih, nangis saja.” Biarlah Felicia menangis agar dia bisa benar-benar berdamai dengan masa lalunya. Dengan ini hubungan dia dengan keluarganya benar-benar terputus. Felicia menangis sejadi-jadinya. Ini akan menjadi yang terakhir kali. Kelak, dia dan keluarganya akan menjalani kehidupan masing-masing. Sementara itu, Cakra







