LOGINJingga merebahkan tubuhnya yang terasa pegal di atas sofa ruang tamu dengan helaan napas panjang. Akhirnya, ia bisa pulang ke apartemen dengan perasaan yang lega. Ia bersyukur masalah utang ayah tirinya pada Juragan Anwar sudah khatam. Ketika pria itu memberikan ancaman padanya, sebuah pertolongan datang. Bak dewa penolong, Pak RT datang bersama dua warga membawa berkas pendataan warga. Juragan Anwar langsung salah tingkah dan buru-buru bersikap sopan. Dengan saksi Pak RT, Jingga bisa menuntut kwitansi resmi bertanda tangan. Urusan utang Arman akhirnya resmi selesai.Saking lelahnya, untuk kedua kalinya, ia ketiduran di sofa dengan posisi kaki selonjoran dan mulut yang sedikit terbuka. Namun ketika ia terbangun saat malam hari, ia diam sejenak, menatap pintu kamar utama Arjuna. Lampu kamar itu tampaknya gelap. “Pak Arjuna sepertinya tidak pulang ke rumah.” Monolognya sembari menatap jam dinding yang menunjukan pukul satu malam. Dengan kesadaran yang tersisa, ia menyeret kakinya ma
“Terus aku harus bagaimana? Lagian bapak tiriku nyari masalah terus. Dia berhutang pada rentenir sedangkan rentenir itu nagihnya pake preman. Pake ngancem mau hancurin rumah coba.” Jelas Jingga dengan napas yang tersengal. Rasa kesal bercampur amarah pada Arman meledak juga. Karina menatap Jingga dengan tatapan yang simpatik. Ia merangkul lengan sahabatnya dengan erat sementara itu kepalanya berlabuh di atas pundak Jingga. “Malang bener nasibmu, Gia. Sorry, ya. Aku gak bisa bantu secara finansial. Soalnya aku aja kere. Orang tuaku memang ‘have’ tapi aku masih miskin.”Jingga mengembuskan napas panjang. “Semoga semua masalah ini cepat selesai. Lama-lama capek juga.” Ia mengerutkan wajah. “Kenapa hidupku isinya uang, uang, dan uang terus, sih? Penderitaan tiada akhir.”Karina menoleh. Jingga mengangkat bahu pasrah. “Beda sama Ki Pat Kay. Kalau dia menderita karena perempuan, aku menderita karena tagihan.”Karina mengerjap. Ia menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar tiba-tiba mirip caha
…Pagi hari sebelum ke kampus, Jingga berdiri di dalam bilik ATM kampus UPAC. Dengan jemari gemetar dan napas tertahan, ia memasukkan Black Card milik Arjuna. Logika dan gengsinya berteriak, tetapi bayangan ibunya membuat pertahanannya rubuh. Ia tidak mau ibunya diganggu oleh para debt collector dengan ancaman mereka. Ibunya harus tinggal dengan aman dan nyaman setelah pulang kembali ke rumah. Bzzzt... kletek, kletek! Mesin ATM memuntahkan uang tunai puluhan juta. Jingga memeluk uang itu dalam tasnya dengan perasaan campur aduk, lega sekaligus meratapi utang budi raksasa pada suami kontraknya.Ia menundukan kepalanya sembari bergumam resah. “Pak Arjuna, aku pinjem uangmu ya. Nanti aku balikin lagi.”Gadis berambut panjang itu keluar dari bilik ATM setelah lebih dulu menoleh ke kanan dan kiri. Entah kenapa, ia merasa seperti baru saja melakukan transaksi kriminal. Padahal kartunya memang milik sendiri. Lebih tepatnya, kartu yang diberikan Arjuna kepadanya.Jingga bahkan sempat memer
Keesokan harinya, Pagi hari, Jingga sudah membuat sarapan sederhana yakni nasi goreng orak arik telur kecap dilengkapi kerupuk. Harum aroma bumbu sudah mengusik pria dingin yang baru saja keluar dari kamarnya.Arjuna sudah memakai setelan kerja kasual rapi. Ia berangkat pagi sekali. Ketika melihat suami kontraknya berjalan melewati area pantry, Jingga langsung menyapanya dengan penuh ramah tamah. “Selamat pagi, Pak Arjuna!” sapanya dengan senyum yang selebar masalahnya. Arjuna menoleh dengan mata yang memicing. Sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Apa yang sedang gadis itu lakukan di pagi hari? Memasak? Bencana besar? Bukankah dia terluka?“Pagi, Pak Arjuna!” sapa Jingga kedua kalinya. “Pagi.” Jawab Arjuna irit. “Tenang, Pak. Anda tidak usah khawatir. Aku sudah membersihkan area dapur kotor kok. Aku gak banyak pakai perkakas dapur.” Jingga menjelaskan sebelum Arjuna bertanya. Ia berjalan menghampiri pria itu dengan sedikit canggung. “Pak, aku udah buat sarapan pagi. Bagaimana
Sembari menenteng kanvas berukuran besar, menggendong tas ransel di punggung dan tas tabung di pundak sebelah kirinya, Jingga menyeret kakinya ke pinggir jalan. Ia akan segera memesan taksi saja dari depan sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah mobil SUV berwarna Santorini Black baru saja melewatinya begitu saja. Sang pengemudi bahkan tak bersedia melirik sedikitpun pada Jingga yang sedang berjalan dengan wajah sendu dan kuyu. Ketika sebuah taksi konvensional lewat, Jingga langsung menghentikannya. Supir itu turun dan membantu Jingga memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil. “Mau kemana Mbak?” tanya sang supir sembari menutup bagasi. “Ke apartemen WK Grand Regency, Pak,” jawab Jingga malas. Sang supir taksi sempat terkejut mendengar alamat yang dituju penumpangnya. Bukankah apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah di ibukota.Ketika Jingga naik, sang supir langsung menyalakan argometer kemudian mulai melajukan kendaraan beroda empat te
Setelah kepergian Bude Ratih, Abimana menatap Jingga dengan cara yang tak biasa. “Katakan dengan jujur, Jingga. Kartu Black Card tadi punya siapa? Lalu siapa yang memberi pinjaman untuk operasi ibumu?” suara Abimana tidak tinggi tetapi cukup membuat suasana terasa menegangkan. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu …Jingga hanya mengatupkan bibirnya rapat. Haruskah ia bicara terus terang soal hal itu? Soal pinjaman dengan syarat pernikahan kontrak begitu? Abimana menghela panjang. Tatapannya masih tertuju Jingga dengan penuh telisik. Namun, detik berikutnya, ia mengembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan interogasinya. “Jingga, katakan siapa orang ... yang membiayai operasi Ibumu? Apa ada hubungannya dengan pria kaya yang memberi kartu itu?”Jingga menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun sahara. Matanya bergerak liar, memikirkan sejuta opsi kebohongan instan yang biasa ia rakit dalam hitungan detik.Ia mem







