Share

Bab 6 Serba 1000

Penulis: Aku_Ram
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-12 09:00:01

Wanita yang tubuhnya dipenuhi lemak turut berujar, “Untung bukan pemuda desa kita yang jadi korbannya.”

Korban? Hellow? Rasanya Lea ingin menyumpal mulut mereka dengan bakso mercon level 1000.

Nyinyir banget tahu nggak sih!

Lea berusaha menulikan telinga. Meski ia menjelaskan hingga mulutnya berbusa, mereka tidak akan memahami dirinya. Mereka hanya akan percaya pada pendapat mereka sendiri.

Bagaikan kotoran yang tak diharapkan. Lea dan Tanu diusir dari desa itu. Para warga di desa itu tidak sadar jika mereka baru saja mengusir pria yang memegang kendali atas mata pencaharian mereka.

Saking sentimennya, para warga minta mereka menunggu bus di perbatasan desa. Mereka takut kehadiran Lea dan Tanu memberikan anak-anak mereka pengaruh buruk.

Di halte yang penuh dengan tempelan wajah bakal calon anggota dewan dan kepala daerah. Lea dan suami dadakannya duduk berdampingan dengan tatapan lurus ke depan. Mereka baru saja melalui hal yang menggemparkan hidup tenang mereka berdua.

“Lea, kamu asli orang sini?” tanya laki-laki itu.

“Asli Tulungagung, tapi bukan asli desa ini. Aku tinggal di desa sebelah,” jawab Lea curi-curi pandang. Meski babak belur, ia bisa menilai jika wajah suaminya itu lumayan.

Tanu hanya mengangguk lalu bertanya, “Kamu kenal dengan pria bernama Pak Jay?”

Lea menggeleng. “Sejak kuliah aku tinggal di Surabaya, Mas. Dua tahun terakhir, justru aku tinggal di luar negri.”

“Saya ke sini nyari pria itu. Anehnya, semua orang yang saya tanya tidak tahu,” ungkap Tanu dan keduanya kembali terdiam memikirkan nasib masing-masing.

“Dalam tiga hari, hidupku benar-benar berjalan seperti roller coaster. Semua dimulai dari bayaran 1000 dollar. Tidur di kamar 1000-an. Lalu aku tiba di sini, diminta bayar satu milar alias 1000 juta. Dikasih mahar 1000 perak. Besok, 1000 apa lagi?” gumam Lea tanpa menanggapi ucapan suaminya.

Pria bertubuh mirip atlet itu duduk bersandar dengan mata terpejam. Lea hanya melirik sekilas. Ia cukup memaklumi. Tanu mungkin masih merasakan tubuhnya sakit setelah dihajar habisan-habisan semalam.

“Mas bukan penjahat, ‘kan?” tanya Lea tiba-tiba.

Setelah cukup lama diam, laki-laki itu membuka mata. “Kenapa kamu tanya begitu?”

“Semalam, saya lihat Mas dihajar, lebih tepatnya dikeroyok. Saya baru kepikiran. Jangan sampai Mas itu rampok yang lagi dikejar? Atau mungkin, lagi dikejar rentenir,” timpal Lea menelan salivanya kesat.

Laki-laki itu tersenyum tipis lalu berkata, “Telat kamu mikirnya. Tenang saja, saya bukan orang jahat. Saya hanya lagi apes saja ketemu mereka saat cari orang ke daerah ini.”

“Jadi Mas bukan orang Tulungagung?” gumam Lea mengangguk-angguk.

“Bukan.” Lea memicingkan mata lalu menyilang lengannya.

“Terus, Mas asli mana? Saya berhak tahu, soalnya saya ini istrinya Mas sekarang!” titahnya sok garang.

Tanu lagi-lagi menahan senyum. Gaya jutek gadis di sampingnya cukup menghibur. Padahal, beberapa saat lalu, Lea tidak berhenti menangis.

“Saya asli Surabaya. Tapi beberapa tahun terakhir, saya tinggal di kota lain.”

“Kalau kamu aslinya dari desa sebelah. Terus kenapa malah tinggal di kontrakan itu?” tanyanya heran.

“Aku diusir dari rumahku sendiri. Tepatnya, aku dirampok sama tanteku,” jawab Lea mendadak lesu.

Merasa jika topik yang ditanyakannya membuat gadis itu sedih, ia pun mencoba mengalihkannya. “Terima kasih atas baju ini juga. Setidaknya saya bisa keluar dengan pakaian layak.”

Lea menatap hoodie jumper yang dikenakan suaminya. “Anggap aja Mas beruntung. Tadinya itu buat seseorang. Tapi karena orangnya penipu, hadiahnya nggak jadi saya kasih.”

“Saya rasa kita sama-sama tahu ini tidak akan berhasil.” Suara itu serak tapi tetap terdengar tenang di antara gangguan deru angin.

Mata mereka bertemu, masing-masing memendam kebingungan. Semua ini terlalu tiba-tiba. Tak ada dalam rencana mereka berdua.

“Pernikahan ini ... tak pernah menjadi pilihan kita berdua. Saya akan menceraikan kamu secepatnya. Tapi tidak hari ini juga,” ucapnya dengan lugas.

Ada hal mendesak yang harus dilakukannya. Membawa gadis itu bersamanya juga bukan pilihan yang tepat.

“Belum cukup sehari menikah, sudah bahas cerai. Payah,” gumam Lea tertawa miris memikirkan hidupnya.

“Sekarang pukul berapa?” Pertanyaan itu berubah dingin. Tersinggung kali?

Lea menjawab sambil mengulurkan pergelangan tangannya di depan wajah suami dadakannya. Tanu mengamati sekitarnya. Dari kejauhan ada angkot yang melaju ke arah mereka.

“Tidak perlu menunggu besok,” ucap Lea tertawa.

“Untuk?” Tanu mengernyit heran.

“Tadi aku bilang, besok 1000 apa lagi? Aku baru nyadar kalau kita ketemunya baru 17 jam. Ini udah lebih dari 1000 menit sejak aku nolongin Mas dan jadi tunawisma,” terang Lea menertawakan nasibnya.

Laki-laki itu mengepalkan tangannya. Ada rasa iba yang menyeruak di hatinya. Ia ingin melindungi gadis itu, tapi ia juga tidak ingin Lea berada dalam bahaya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 120 Sumber Kebahagiaan

    Nyanyian selamat ulang tahun itu memenuhi ruangan. Balon berwarna putih dan biru memenuhi langit-langit ruangan. Dua boks bayi di dekat Keysa juga menjadi sorotan utama.Hari ini adalah hari ulang tahun Keysa yang keempat. Sekalgus menjadi hari aqiqah bayi kembar Lea dan Angga. Dua bayi laki-laki itu lahir dari program bayi tabung mereka.“Ayah, kenapa Om Juna belum datang?” tanya Keysa cemberut.“Om Juna masih di jalan, Sayang. Tadi Om Juna tolongin orang di ruang operasi dulu,” bujuk Arta memberi pengertian.“Keysa mau titip lilin sama dedek,” ungkap Keysa. Dedek yang dimaksudnya adalah puri sulung Juna dan Melati.Arta mengusap rambut panjang putri semata wayangnya. “Sabar ya, Sayang.”“Cucu nenek jangan sedih. Jangan cemberut juga. Nanti ada yang fotoin wajah jeleknya Keysa bagaimana?” hibur Ivanka. Seketika Keysa tersenyum manis. Gadis itu paling nati disebut jelek.Tak

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 119 Cemburu Sama Duren

    Bulan lalu mereka berkumpul di penthouse Angga. Kali ini, mereka semua berkumpul di rumah keluarga Juna. Mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan Juna dan Melati.Firmansyah, ayah Melati tampak berbincang dengan Gani. Papinya Juna belum kembali dari luar negri, sehingga Gani mewakili semua pembicaraan untuk iparnya. Mau bagaimana lagi, Juna ingin menikah akhir tahun ini juga.“Saat adik ipar saya mendengar lamaran putranya sudah diterima, dia langsung mengajukan permohonan kembali ke Indonesia. Sebagai dokter militer, ini pertama kalinya dia ingin pulang cepat dari wilayah konflik. Mungkin karena konflik yang satu ini, adalah salah satu masalah terbesarnya juga,” komentar Gani menunjuk keponakannya yang baru saja pulang.“Om kok ngomong kayak gitu di depan ayah mertuaku?” protes Juna merebahkan tubuh lelahnya di bean bag. “Aku ini anak baik, Om. Nggak kayak Angga.”“Tapi keras kepala kalia

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 118 Kejutan Tak Terduga

    Sejak dua jam lalu, Angga tidak berhenti cemberut. Penthouse miliknya sudah dipenuhi banyak tamu yang tidak diundang. Mereka beralasan ingin merayakan kesembuhan Lea yang hari ini sudah keluar dari rumah sakit.“Kapan kalian mau pulang?” tanya Angga.“Kapan-kapan,” jawab Juna.“Entar,” sahut Seno.“Mungkin malam, Pak CEO,” komentar Melati.“Bunda belum selesai bergosip sama Lea,” tambah Ivanka yang mengupas kulit buah apel.Sejak menantunya berhasil ditemukan, sikap wanita itu pada Lea, berubah total. Terlihat ia begitu perhatian. Bahkan, Ivanka tak malu mengakui jika ia ingin membayar kesalahannya pada Kayla, menantu pertamanya dengan mencurahkan banyak perhatian untuk Keysa dan Lea.“Pappa ….” Keysa memanggil dan mengulurkan potongan buah apel pada Angga.“Hap!” Angga memakan potongan buah itu dan ikut menjepit jari Keysa dengan bibirny

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 117 Kesempatan Kedua

    Heru tak pernah beranjak sejak Sonia menjalani persidangan. Sebisa mungkin ia berada di sisi Tari. Meski berkali-kali Tari mengusirnya pergi, tapi Heru sadar jika Tari membutuhkannya.Belajar dari semua kesalahannya. Belajar dari Angga dan Lea. Belajar dari komentar dan cibiran orang-orang padanya. Heru tahu jika keputusannya pagi itu untuk menghentikan Sonia menjadi titik balik kehidupannya.Penyesalannya setelah jatuh ke titik terendah dalam hidupnya telah Tuhan dengarkan. Dirinya diberi kesempatan kedua setelah terbukti tidak terlibat dalam rencana Sonia. Justru, ia berusaha mencegah Sonia mengubur Lea hidup-hidup.Seno yang terus mengawal kasus penculikan Lea dan Keysa, bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Pria itu mengaku tidak menyukainya, tapi menghargai upayanya untuk berubah.Tidak mudah menghapus rasa sakit hati. Tidak mudah menghancurkan ego. Tidak mudah pula untuk mengambil keputusan disaat diri kita mungkin saja akan dituduh sebagai sekut

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 116 Keputusan Gani dan Ivanka

    Romi dijebloskan ke dalam penjara. Ivanka sendiri yang menambahkan tuntutan pada keponakan kesayangannya itu. Keputusan itu Ivanka tegaskan setelah menerima bukti kejahatan Romi dari Seno.Dugaan Angga selama ini ternyata benar. Romi adalah dalang dari kecelakaan yang dialami Arta dan merenggut nyawa Kayla. Yang paling Ivanka sesalkan, ternyata selama ini ia sudah menjadi pion Romi.Selain karena ingin merebut posisi CEO Tanufood, Romi juga maruh dendam lain pada Arta. Romi merasa jika dirinya yang lebih dulu mengenal dan jatuh cinta pada Kayla. Akan tetapi, Kayla lebih memilih Arta dan menerima lamarannya.Kebencian Romi ia tumbuhkan di hati Ivanka. Ia menebar fitnah tentang Kayla sehingga membuat Ivanka tak pernah menyukai gadis itu. Apalagi menerima dengan tulus Kayla sebagai menantunya.“Mbak, tolong ampuni Romi. Putraku hanya khilaf,” pinta ibunya Romi.“Khilaf?” Ivanka tertawa sumbang.Wanita itu berdiri dengan

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 115 Merasa Dikudeta

    Entah kenapa Angga merasa dejavu saat Melati tanpa pertanda langsung membuka pintu kamar rawat inap Lea. “Jangan pingsan di situ lagi!” ucap Angga.Melati menyeringai lalu berkata, “Oh, gagal ciuman lagi ya, Pak?”Angga mendengus kesal. Sepertinya ia harus menjauhkan Melati dari istrinya. Ia juga kesal karena Juna malah senyum-senyum saja. Seakan-akan sepupunya itu menikmati saat dirinya dipojokkan seperti ini.“Lo pakai gigi berapa sih, Jun? Sana lo mojok sama cewek incaran lo. Punya ruangan pribadi nggak dimanfaatin. Gimana sih, lo?!” gerutu Angga. Menurutnya, kecepatan pergerakan Juna sangat lamban.“Sorry, gue bukan lo yang suka maksa Lea,” balas Juna tersenyum dan mempertahankan wibawanya.“Cih, nggak suka maksa tapi cium anak orang yang lagi pulas?” cibir Angga.“Mas Juna cium siapa emangnya, Mas? Belum juga jadian udah selingkuhin Mel!” protes Lea.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status