Mag-log inBlurb: Lea kabur setelah kehilangan keperawanannya karena cinta satu malam, dengan pria yang disangkanya seorang mafia. Namun, nasib sial Lea tak berakhir sampai di situ saja, kekasihnya selingkuh dengan sepupunya sendiri. Dunianya kembali runtuh karena diusir dari rumah. Saat mencari kontrakan, Lea menolong seorang korban begal dan malah disangka berzina, hingga dinikahkan paksa oleh warga. Bagaimana nasib Lea yang kembali dihina karena menikahi Tanu, seorang pria miskin yang mengaku berprofesi sebagai petani? Apa jadinya jika orang-orang yang menghina dan menghianatinya selama ini, berada dalam kendali si Tuan Petani? Lantas, bagaimana rumah tangga Lea saat ia tahu, bosnya adalah orang yang pernah tidur dengannya? Ikuti kisah Lea dan suaminya, si Petani Berdasi!
view more“Ahhh .. damn! Hmmm… shit!” Suara desahan Axel yang sedang mendesah nikmat nyaring terdengar.
Pria itu berdiri di bawah shower yang lupa dinyalakan, memegang miliknya yang berdenyut sambil memejamkan mata. Tangan bergerak pelan dengan napas yang memburu, satu tangan menopang tubuh, setiap hentakan tangan membuatnya melayang. Pria itu melenguh lagi ketika hampir sampai ke puncak kenikmatan. Gerakan tangannya semakin cepat, hingga puncak hasrat itu pecah dalam kehangatan yang memabukkan dan dibarengi desahan panjang. Tanpa Axel sadari, seorang wanita berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan terangkat, hendak mengetuk pintu. Mata gadis itu terbelalak, kepalan tangannya menguat, wajahnya menegang mendengar suara yang tak seharusnya didengar. Gadis itu mematung, suara seksi Axel membuatnya meremang. Tetapi, dia pun merasa ketakutan, segan dan … panas. Kendati suara gemercik air terdengar, ia belum berpindah. Justru menangkup pipinya yang panas. “Hari pertama bekerja, aku sudah mendengar suara desahan Tuan.” Gadis itu segera mengedarkan pandang sambil menelan ludah yang menusuk kerongkongan. “N-nyonya nggak ada, kan? Aku takut dikira ngintip.” Beberapa menit dia mematung di sana, suara pintu terbuka membuatnya panik. Seorang pria berusia 33 tahun melangkah keluar, hanya berbalut handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air jatuh perlahan melewati garis rahangnya yang tegas, menelusuri dada bidang berotot. Otot perutnya persis roti sobek yang sering dicelupin teh hangat. Bahunya lebar, dadanya kokoh dan wajahnya memikat. Wanita itu terpana. Pandangannya terhenti pada wajah sang pria, begitu tampan, dengan sorot mata yang dingin. Kehadiran pria itu di depan matanya seperti potret kesempurnaan yang hidup, membuat jantungnya berdetak tak terkendali. “Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?” Suara bariton Axel menyadarkan gadis itu. “Aaaaa!” Suara teriakannya membuat Axel mengernyit. Dahayu bergegas menutup muka dengan tangan, memejamkan mata begitu erat hingga kelopak matanya berkerut. Menggeleng cepat untuk menyangkal, “Aku nggak dengar apa-apa, Tuan. Maafkan aku.” Dahayu bergegas balik badan, tak mau berlama-lama berhadapan dengan Axel yang terus menatapnya tajam, seperti akan dimangsa. Mengingat suara desahan tuannya, Dahayu langsung mendekap tubuh, bergidik ngeri. “Permisi, Tuan,” katanya tanpa menurunkan tangan kanan yang menutup mata. “Tunggu!” Suara bariton Axel membekukan seluruh tubuh Dahayu. Gadis itu terpaksa menunggu. Suara langkah kaki Axel yang mendekat, seirama dengan detak jantungnya. Dahayu menggigit bibir, menusuk jari dengan kuku, benar-benar panik. Dahayu bisa merasakan kehadiran Axel yang berdiri tepat di hadapannya. “A-ada apa, Tuan?” “Kau belum menjawab pertanyaanku,” tukas Axel. Dahayu menurunkan tangan, tersenyum kikuk ketika bersitatap dengan Axel. Dengan cepat dia membungkukan badan, tetapi kepalanya malah menyundul perut sixpack Axel yang langsung meringis. “Maaf, Tuan, saya nggak sengaja.” Dahayu mengurungkan niat ingin memeriksa keadaan perut Axel. Dia yang merasa bersalah, memukul pelan kepalanya. “Kamu siapa?” Suara Axel meninggi, tampaknya dia kesal. “Saya Dahayu Bestari, Tuan. Pelayan pribadi Anda yang baru.” Dahayu menundukkan pandangan. “Pelayan pribadi?” Axel balik tanya dan hanya ditanggapi dengan anggukan. “Siapa yang memperkerjakanmu?” tanya Axel, dahinya semakin berkerut. Selama ini dia tidak pernah meminta dicarikan pelayan pribadi. “Nyonya.” Dahayu belum berani menatap wajah Axel. Jawaban yang dilontarkan Dahayu membuat Axel kehilangan kata-kata. Dia mengusap wajah, timbul rasa kesal dalam hati, tangannya terkepal melihat foto pernikahan mereka yang tanpa senyuman. “Naomi?” tanya Axel tanpa mengalihkan tatap. “Benar. Nyonya Naomi.” Wanita yang rambutnya dikepang dua itu merapikan kacamata karena gugup. “Ck.” Axel berdecak. “Kenapa kau lancang masuk ke kamarku?” tanya Axel, giginya bergemeretak. Wajahnya memperlihatkan ketidaksukaan yang sangat jelas. “Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah. Kata Nyonya, setiap Anda pulang, saya harus menyiapkan semua keperluan Anda. Saya sudah mengetuk pintu, tapi nggak ada jawaban. Mungkin karena Anda sedang—” Dahayu menghentikan ucapan, mengulum bibir setelah sadar dia hampir kelepasan bicara. Tatapan tajam Axel hunuskan pada Dahayu yang semakin terancam. Dia kembali menunduk, menggigit bibir bawah, merutuk dirinya yang tidak bisa menjaga mulut. Bagaimana kalau Axel tersinggung setelah tahu dia mendengar suara desahannya? Apakah dia akan dipecat? ‘Tapi, mengapa Tuan bermain solo? Padahal punya istri secantik Nyonya Naomi,’ batin Dahayu, mengamati Axel dari atas ke bawah. “Apa yang kau lihat?” tanya Axel, tatapannya tambah garang. Dahayu menyadari kesalahannya. Buru-buru menggelengkan kepala. “N-nggak, Tuan. Saya nggak lihat apa-apa, kok.” Axel melangkah mendekat, membuat Dahayu refleks mundur selangkah, tetapi punggungnya sudah terhimpit meja. Jemarinya mengangkat dagu gadis itu, memaksa mata mereka bertemu. “Berapa usiamu?” tanyanya, dengan tatapan mengintimidasi. “24 tahun, Tuan.” Dahayu meremas rok, takut Axel akan melakukan sesuatu yang tidak pantas. Axel tersenyum tipis. ‘Dia sengaja mengirim gadis muda untukku? Naomi, kau istri yang buruk,’ batin Axel, geram. “Kemasi barangmu. Aku tidak butuh pelayan pribadi.” Axel hendak pergi setelah itu. “Tuan….” Dahayu menggenggam tangan Axel. “Jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Axel menatap Dahayu, tatapannya turun pada tangan gadis itu yang berani menyentuhnya. “Maaf.” Dahayu segera menarik tangannya. “Jangan pecat saya, Tuan.” Gadis itu menangkupkan tangan di depan wajah. “Saya berjanji akan bekerja dengan baik. Tolong, Tuan.” Dahayu terus mengiba, hatinya cemas karena pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber pengharapan untuk menjalani hidup bagi Ibu dan adik-adiknya di kampung. “Hmm!” Axel mengangguk pelan. “Keluar.” Dahayu tersenyum lebar. Membungkuk berulang kali sambil mengucapkan, “Terima kasih, Tuan.” “Keluar!” tukas Axel, dia merasa sangat terganggu dengan keberadaan Dahayu. Dahayu begitu senang karena dirinya tidak jadi dipecat. Ia hendak berlari keluar, namun lantai yang basah oleh tetesan air dari rambut Axel membuat langkahnya tergelincir. Gadis itu panik, tangannya meraih apa saja untuk menahan diri supaya tidak jatuh, tetapi yang terpegang justru handuk Axel. Dahayu menariknya tanpa sadar, hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Gadis itu meringis. Handuk di genggaman sang gadis membuat Axel tertegun beberapa detik, menatapnya dengan ekspresi sulit diartikan. “Kau…!” suara Axel terdengar berat. Dahayu mendongak. Matanya melebar, wajahnya pucat bercampur malu melihat milik Axel yang sedang tidur. Dia mengangkat handuk yang dipegang, dan menjerit setelah menyadari ini bukanlah ilusi. ‘Astaga! Besar dan panjang sekali.’ Dahayu menjerit dalam hati. Axel menghela napas panjang. “Kau benar-benar pembuat masalah.”Nyanyian selamat ulang tahun itu memenuhi ruangan. Balon berwarna putih dan biru memenuhi langit-langit ruangan. Dua boks bayi di dekat Keysa juga menjadi sorotan utama.Hari ini adalah hari ulang tahun Keysa yang keempat. Sekalgus menjadi hari aqiqah bayi kembar Lea dan Angga. Dua bayi laki-laki itu lahir dari program bayi tabung mereka.“Ayah, kenapa Om Juna belum datang?” tanya Keysa cemberut.“Om Juna masih di jalan, Sayang. Tadi Om Juna tolongin orang di ruang operasi dulu,” bujuk Arta memberi pengertian.“Keysa mau titip lilin sama dedek,” ungkap Keysa. Dedek yang dimaksudnya adalah puri sulung Juna dan Melati.Arta mengusap rambut panjang putri semata wayangnya. “Sabar ya, Sayang.”“Cucu nenek jangan sedih. Jangan cemberut juga. Nanti ada yang fotoin wajah jeleknya Keysa bagaimana?” hibur Ivanka. Seketika Keysa tersenyum manis. Gadis itu paling nati disebut jelek.Tak
Bulan lalu mereka berkumpul di penthouse Angga. Kali ini, mereka semua berkumpul di rumah keluarga Juna. Mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan Juna dan Melati.Firmansyah, ayah Melati tampak berbincang dengan Gani. Papinya Juna belum kembali dari luar negri, sehingga Gani mewakili semua pembicaraan untuk iparnya. Mau bagaimana lagi, Juna ingin menikah akhir tahun ini juga.“Saat adik ipar saya mendengar lamaran putranya sudah diterima, dia langsung mengajukan permohonan kembali ke Indonesia. Sebagai dokter militer, ini pertama kalinya dia ingin pulang cepat dari wilayah konflik. Mungkin karena konflik yang satu ini, adalah salah satu masalah terbesarnya juga,” komentar Gani menunjuk keponakannya yang baru saja pulang.“Om kok ngomong kayak gitu di depan ayah mertuaku?” protes Juna merebahkan tubuh lelahnya di bean bag. “Aku ini anak baik, Om. Nggak kayak Angga.”“Tapi keras kepala kalia
Sejak dua jam lalu, Angga tidak berhenti cemberut. Penthouse miliknya sudah dipenuhi banyak tamu yang tidak diundang. Mereka beralasan ingin merayakan kesembuhan Lea yang hari ini sudah keluar dari rumah sakit.“Kapan kalian mau pulang?” tanya Angga.“Kapan-kapan,” jawab Juna.“Entar,” sahut Seno.“Mungkin malam, Pak CEO,” komentar Melati.“Bunda belum selesai bergosip sama Lea,” tambah Ivanka yang mengupas kulit buah apel.Sejak menantunya berhasil ditemukan, sikap wanita itu pada Lea, berubah total. Terlihat ia begitu perhatian. Bahkan, Ivanka tak malu mengakui jika ia ingin membayar kesalahannya pada Kayla, menantu pertamanya dengan mencurahkan banyak perhatian untuk Keysa dan Lea.“Pappa ….” Keysa memanggil dan mengulurkan potongan buah apel pada Angga.“Hap!” Angga memakan potongan buah itu dan ikut menjepit jari Keysa dengan bibirny
Heru tak pernah beranjak sejak Sonia menjalani persidangan. Sebisa mungkin ia berada di sisi Tari. Meski berkali-kali Tari mengusirnya pergi, tapi Heru sadar jika Tari membutuhkannya.Belajar dari semua kesalahannya. Belajar dari Angga dan Lea. Belajar dari komentar dan cibiran orang-orang padanya. Heru tahu jika keputusannya pagi itu untuk menghentikan Sonia menjadi titik balik kehidupannya.Penyesalannya setelah jatuh ke titik terendah dalam hidupnya telah Tuhan dengarkan. Dirinya diberi kesempatan kedua setelah terbukti tidak terlibat dalam rencana Sonia. Justru, ia berusaha mencegah Sonia mengubur Lea hidup-hidup.Seno yang terus mengawal kasus penculikan Lea dan Keysa, bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Pria itu mengaku tidak menyukainya, tapi menghargai upayanya untuk berubah.Tidak mudah menghapus rasa sakit hati. Tidak mudah menghancurkan ego. Tidak mudah pula untuk mengambil keputusan disaat diri kita mungkin saja akan dituduh sebagai sekut
Angga beranjak dari kursi, lalu duduk di sisi tempat tidur. Didekapnya Lea yang tangisnya kini tak terbendung. Tadinya Angga mengira Lea belum mengetahui kehamilannya. Angga pikir lebih baik untuk tidak membahas masalah ini sampai Lea keluar dari rumah sakit."Kita sama-sama menginginkanny
Ketidakhadiran Lea di kantor selama sebulan terakhir menghadirkan banyak tanya. Banyak rekan kerjanya di Tanufood yang penasaran ke mana Lea. Pasalnya, karyawan di tim Adecoagro juga mencarinya.“Aku heran loh, ke mana Lea sebenarnya? Masa anak Adecoagro malah nanya ke aku?” un
Ponsel Lea terus berdering. Akan tetapi, tak ada satupun dari anggota keluarga Hartanuwiguna yang menyadarinya. Benda itu terus bergetar di laci nakas. Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di antara hospital bed tempat Melati dan Keysa tertidur pulas, akhirnya menyadari
Romi dijebloskan ke dalam penjara. Ivanka sendiri yang menambahkan tuntutan pada keponakan kesayangannya itu. Keputusan itu Ivanka tegaskan setelah menerima bukti kejahatan Romi dari Seno.Dugaan Angga selama ini ternyata benar. Romi adalah dalang dari kecelakaan yang dialami Arta dan mere












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu