Share

Bab 5 Mahar 1000 Perak

Penulis: Aku_Ram
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-11 18:00:04

“KTP dia nggak ada, Pak,” sahut Lea menyodorkan KTP miliknya. Ia sendiri sudah mencarinya tapi tidak menemukannya.

Laki-laki yang berwajah lebam itu meringis merasakan denyutan di kepalanya. “Saya tidak tahu kenapa saya ada di sini,” ucap laki-laki itu.

“Semalam dia dibegal, Pak. Terus pingsan di depan, saya cuma nolongin,” ujar Lea berharap mereka mau mengerti.

“Nama kamu siapa?” tanya Pak RT membaca KTP Lea lalu menoleh pada laki-laki di sampingnya.

“Saya Lea, Pak.”

“Saya Ang- nama saya Tanu.”

Meski sudah memberikan penjelasan, tatapan mereka pada Lea tak berubah. Beberapa pertanyaan diajukan oleh Pak RT pada Tanu. Akan tetapi, para warga seakan tak puas. Lebih tepatnya, tidak percaya.

“Bohong, Pak RT! Semalam saya ke warung di samping gang. Saya lihat mereka jalan sambil pelukan. Mereka mesra-mesraan. Si cowoknya ini saya lihat cium kening ceweknya,” ucap seorang pria.

“Bukan mesra-mesraan, Pak! Saya bantu dia berdiri. Jalannya aja sempoyongan habis dihajar empat orang!” bantah Lea.

“Alasan aja kamu, Dek! Bilang aja, dia habis dipukulin bapakmu. Kalian di sini kumpul kebo karena kawin lari,” tambah warga lainnya.

Lea hanya bisa melongo. Sepertinya orang tadi berbakat jadi penulis novel. “Jujur aja, nanti kami panggilkan penghulu!” tambah yang lain.

“Mereka harus dinikahkan! Kalau tidak, desa kita bisa tercemar!” desak salah seorang warga.

“Nggak!” tolak Lea.

Seorang warga maju dan hendak melempari Lea dengan batu. Sejak tadi Lea sudah membuat mereka kesal. Akan tetapi, laki-laki di depan Pak RT langsung berdiri dan memeluknya.

Bugh!

Batu bata yang sedikit berlumut itu, mendarat tepat di punggung laki-laki yang mengaku sebagai Tanu. Laki-laki itu, meski samar, ia ingat jika gadis ini tidak berbohong dan benar menolongnya semalam.

“Hentikan!” pintanya. Suaranya serak tapi tetap tenang dan tegas.

“Lihat kan, mereka saling melindungi. Sudah jelas mereka bukan orang asing satu sama lain.”

“Mereka itu sudah jelas sepasang kekasih. Lihat ini!” ucap salah seorang warga yang mengambil isi paper bag di sudut kamar. “Ini jelas baju laki-laki.”

Lea menoleh dan mendapati hoodie jumper di tangan salah seorang warga. Pakaian itu sebenarnya hadiah untuk Heru. Tapi karena mereka putus, Lea tak jadi memberikannya.

Ingin dibuang, tapi sayang. Harganya juga lumayan mahal. Setidaknya bisa Lea jual kembali meski hanya bisa ditukar dengan sepasang sepatu brand lokal.

Rasanya kepala Lea mau meledak. Dari dua orang asing yang hanya menunjukkan rasa kemanusiaannya pada korban begal. Mendadak dirinya disangka sepasang kekasih yang bermesraan. Parahnya, dituding melakukan pelanggaran moral.

Sungguh ironis, bukan? Dirinya dipaksa menikah hanya karena ketahuan berduaan di dalam kamar.

Pak RT mengambil alih situasi. Tak ada pilihan lain, mereka harus mengikuti tuntutan warga. Kecuali, mereka mau dirajam dan diarak keliling desa.

Beberapa warga berusaha ingin menarik Lea keluar. Akan tetapi, Tanu mencoba menyembunyikan Lea di balik tubuhnya yang tinggi besar. Lea sendiri hanya setinggi bahunya.

Lea kembali tercengang. Tanu tiba-tiba mengiyakan tuntutan warga. Pernikahan yang dipaksakan itu, diambil dalam keadaan panik dan penuh tekanan.

“Kenapa aku nggak mati aja sekalian?” batin Lea yang merasa jika kedua kakinya lemas.

Tanu menggenggam tangan Lea. Lea ingin protes, tapi satu-satunya orang yang percaya dan mau melindunginya hanya Tanu. Apes sekali nasib mereka berdua.

Tak tersisa lagi ruang untuk memberikan penjelasan. Para warga bahkan mengancam akan memviralkan mereka berdua. Sungguh, Lea rasanya ingin tenggelam ke palung samudra.

Tuntutan pernikahan paksa untuk Lea dan Tanu terus menggema. Pak RT sendiri sudah berkali-kali menarik napas. Kalimat-kalimat hujatan mereka laksana sangkar yang menjerat.

Padahal, baik Lea maupun Tanu sama-sama tidak melakukan kesalahan. Dua anak manusia itu hanya terjebak di tempat asing. Diwaktu dan keadaan yang salah.

Di antara kerumunan warga yang heboh. Ada dua orang pria yang tersenyum. Mereka sumringah karena berhasil menghasut para warga.

Setelah ijab qabul itu terlaksana. Dua pria itu bergegas pergi. Mereka tiba di depan sebuah rumah dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Wanita itu tersenyum genit. Kemudian, ia memberikan beberapa lembar uang merah. Setelah dua orang itu pergi, wanita itu cekikikan.

“Anak itu akan diusir dan tidak akan kembali ke desa ini lagi. Rumah ini akhirnya akan menjadi milikku,” gumamnya kembali tertawa puas.

Di kelilingi banyak warga, dua anak manusia yang belum saling mengenal itu melangsungkan prosesi ijab qabul. Prosesi sakral itu berlangsung di ruang tamu pemilik kontrakan.

“Bagaimana saksi? Sah?” tanya sang penghulu pada kepala RT dan kepala desa setempat.

“Sah,” ucap dua pria yang diminta menjadi saksi nikah itu sembari mengangguk.

“SAAAHHH!!!” seru para warga.

Beberapa warga mengangkat kedua tangan. Mereka melantunkan doa yang dimpin sang penghulu. Namun, tak sedikit di antara mereka hanya diam dan mencibir puas.

“Kasihan ya, Nengnya cuma dikasih mahar serebu perak,” celutuk salah satu wanita yang mengenakan daster. Senyumnya tampak mengejek.

“Siapa suruh jadi cewek ganjen,” komentar wanita lain yang sebaya dengannya.

“Saya minta maaf atas apa yang kamu alami hari ini. Terima kasih juga sudah menolong saya. Saya pasti akan menebusnya,” ucapnya dengan serius.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 120 Sumber Kebahagiaan

    Nyanyian selamat ulang tahun itu memenuhi ruangan. Balon berwarna putih dan biru memenuhi langit-langit ruangan. Dua boks bayi di dekat Keysa juga menjadi sorotan utama.Hari ini adalah hari ulang tahun Keysa yang keempat. Sekalgus menjadi hari aqiqah bayi kembar Lea dan Angga. Dua bayi laki-laki itu lahir dari program bayi tabung mereka.“Ayah, kenapa Om Juna belum datang?” tanya Keysa cemberut.“Om Juna masih di jalan, Sayang. Tadi Om Juna tolongin orang di ruang operasi dulu,” bujuk Arta memberi pengertian.“Keysa mau titip lilin sama dedek,” ungkap Keysa. Dedek yang dimaksudnya adalah puri sulung Juna dan Melati.Arta mengusap rambut panjang putri semata wayangnya. “Sabar ya, Sayang.”“Cucu nenek jangan sedih. Jangan cemberut juga. Nanti ada yang fotoin wajah jeleknya Keysa bagaimana?” hibur Ivanka. Seketika Keysa tersenyum manis. Gadis itu paling nati disebut jelek.Tak

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 119 Cemburu Sama Duren

    Bulan lalu mereka berkumpul di penthouse Angga. Kali ini, mereka semua berkumpul di rumah keluarga Juna. Mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan Juna dan Melati.Firmansyah, ayah Melati tampak berbincang dengan Gani. Papinya Juna belum kembali dari luar negri, sehingga Gani mewakili semua pembicaraan untuk iparnya. Mau bagaimana lagi, Juna ingin menikah akhir tahun ini juga.“Saat adik ipar saya mendengar lamaran putranya sudah diterima, dia langsung mengajukan permohonan kembali ke Indonesia. Sebagai dokter militer, ini pertama kalinya dia ingin pulang cepat dari wilayah konflik. Mungkin karena konflik yang satu ini, adalah salah satu masalah terbesarnya juga,” komentar Gani menunjuk keponakannya yang baru saja pulang.“Om kok ngomong kayak gitu di depan ayah mertuaku?” protes Juna merebahkan tubuh lelahnya di bean bag. “Aku ini anak baik, Om. Nggak kayak Angga.”“Tapi keras kepala kalia

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 118 Kejutan Tak Terduga

    Sejak dua jam lalu, Angga tidak berhenti cemberut. Penthouse miliknya sudah dipenuhi banyak tamu yang tidak diundang. Mereka beralasan ingin merayakan kesembuhan Lea yang hari ini sudah keluar dari rumah sakit.“Kapan kalian mau pulang?” tanya Angga.“Kapan-kapan,” jawab Juna.“Entar,” sahut Seno.“Mungkin malam, Pak CEO,” komentar Melati.“Bunda belum selesai bergosip sama Lea,” tambah Ivanka yang mengupas kulit buah apel.Sejak menantunya berhasil ditemukan, sikap wanita itu pada Lea, berubah total. Terlihat ia begitu perhatian. Bahkan, Ivanka tak malu mengakui jika ia ingin membayar kesalahannya pada Kayla, menantu pertamanya dengan mencurahkan banyak perhatian untuk Keysa dan Lea.“Pappa ….” Keysa memanggil dan mengulurkan potongan buah apel pada Angga.“Hap!” Angga memakan potongan buah itu dan ikut menjepit jari Keysa dengan bibirny

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 117 Kesempatan Kedua

    Heru tak pernah beranjak sejak Sonia menjalani persidangan. Sebisa mungkin ia berada di sisi Tari. Meski berkali-kali Tari mengusirnya pergi, tapi Heru sadar jika Tari membutuhkannya.Belajar dari semua kesalahannya. Belajar dari Angga dan Lea. Belajar dari komentar dan cibiran orang-orang padanya. Heru tahu jika keputusannya pagi itu untuk menghentikan Sonia menjadi titik balik kehidupannya.Penyesalannya setelah jatuh ke titik terendah dalam hidupnya telah Tuhan dengarkan. Dirinya diberi kesempatan kedua setelah terbukti tidak terlibat dalam rencana Sonia. Justru, ia berusaha mencegah Sonia mengubur Lea hidup-hidup.Seno yang terus mengawal kasus penculikan Lea dan Keysa, bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Pria itu mengaku tidak menyukainya, tapi menghargai upayanya untuk berubah.Tidak mudah menghapus rasa sakit hati. Tidak mudah menghancurkan ego. Tidak mudah pula untuk mengambil keputusan disaat diri kita mungkin saja akan dituduh sebagai sekut

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 116 Keputusan Gani dan Ivanka

    Romi dijebloskan ke dalam penjara. Ivanka sendiri yang menambahkan tuntutan pada keponakan kesayangannya itu. Keputusan itu Ivanka tegaskan setelah menerima bukti kejahatan Romi dari Seno.Dugaan Angga selama ini ternyata benar. Romi adalah dalang dari kecelakaan yang dialami Arta dan merenggut nyawa Kayla. Yang paling Ivanka sesalkan, ternyata selama ini ia sudah menjadi pion Romi.Selain karena ingin merebut posisi CEO Tanufood, Romi juga maruh dendam lain pada Arta. Romi merasa jika dirinya yang lebih dulu mengenal dan jatuh cinta pada Kayla. Akan tetapi, Kayla lebih memilih Arta dan menerima lamarannya.Kebencian Romi ia tumbuhkan di hati Ivanka. Ia menebar fitnah tentang Kayla sehingga membuat Ivanka tak pernah menyukai gadis itu. Apalagi menerima dengan tulus Kayla sebagai menantunya.“Mbak, tolong ampuni Romi. Putraku hanya khilaf,” pinta ibunya Romi.“Khilaf?” Ivanka tertawa sumbang.Wanita itu berdiri dengan

  • Pernikahan Dengan Sang Penguasa: Suamiku Bukan Petani Biasa   Bab 115 Merasa Dikudeta

    Entah kenapa Angga merasa dejavu saat Melati tanpa pertanda langsung membuka pintu kamar rawat inap Lea. “Jangan pingsan di situ lagi!” ucap Angga.Melati menyeringai lalu berkata, “Oh, gagal ciuman lagi ya, Pak?”Angga mendengus kesal. Sepertinya ia harus menjauhkan Melati dari istrinya. Ia juga kesal karena Juna malah senyum-senyum saja. Seakan-akan sepupunya itu menikmati saat dirinya dipojokkan seperti ini.“Lo pakai gigi berapa sih, Jun? Sana lo mojok sama cewek incaran lo. Punya ruangan pribadi nggak dimanfaatin. Gimana sih, lo?!” gerutu Angga. Menurutnya, kecepatan pergerakan Juna sangat lamban.“Sorry, gue bukan lo yang suka maksa Lea,” balas Juna tersenyum dan mempertahankan wibawanya.“Cih, nggak suka maksa tapi cium anak orang yang lagi pulas?” cibir Angga.“Mas Juna cium siapa emangnya, Mas? Belum juga jadian udah selingkuhin Mel!” protes Lea.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status