Masuk"Rani, kamu kenapa?!" pekik Bu Arum terkejut saat melihat putri kesayangannya pulang dengan mata sembap dan wajah berantakan.Rani hanya bergeming dengan pandangan kosong. Pikirannya masih dipenuhi bayangan perhiasan miliaran rupiah dan tas-tas mewahnya yang kini ludes dilucuti."Rani, kamu sakit?!" tanya Bu Arum lagi seraya mengguncang-guncang lengan putrinya dengan panik.Rani tersentak sadar. Buru-buru ia menggeleng pelan dengan raut lemas. "Tidak, Bu...""Lalu kenapa?! Terus ini koper kamu kenapa dibawa pulang lagi ke sini? Katanya kamu tinggal di mess tempat kerja?"Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu semakin membuat kepala Rani terasa mau pecah."Ibu jangan banyak tanya dulu, bisa nggak?! Aku capek!" bentak Rani dengan mata nyalang, tak sanggup lagi menahan rasa frustrasinya."Astaga! Anak ini kalau ditanya orang tua pasti selalu sewot dan tidak jelas!" gerutu Bu Arum kesal.Rani menghela napas kasar, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa lusuh dengan kasar."Aku dipecat!" boh
Di penthouse, Rani sibuk memasukkan barang-barang berharganya ke dalam koper. Dengan tangan gemetar, wanita itu menutup koper tersebut lalu bergegas melangkah keluar.Namun, sungguh malang nasibnya. Saat pintu baru saja dibuka, Sekar sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah angkuh. Dua pria berbadan kekar tampak bersiaga mendampingi wanita paruh baya itu di belakang.Rani menelan ludahnya kasar. Tatapan tajam Sekar seolah siap mengulitinya hidup-hidup saat itu juga."Wanita jalang, mau ke mana kamu?!" tanya Sekar dingin, melangkah mendekat mengikis jarak."A-aku... aku akan—"Belum sempat Rani menyelesaikan ucapannya, tawa cemooh dari wanita paruh baya itu langsung memotong."Kamu mau kabur?! Membawa pergi barang-barang mewah yang dibeli memakai uangku?!" ejek Sekar penuh rasa jijik. "Tidak akan, Sayang! Kamu tidak akan bisa melangkah pergi sebelum menyerahkan kunci penthouse dan seluruh barang mewah ini!"Sekar melempar selembar kertas tepat ke wajah Rani. Kertas itu berisi rinc
"Apa, ada insiden?!" pekik Selina terkejut."Benar sekali, Nyonya. Tadi istri sah Tuan Heri datang dan melabrak mereka, sehingga terjadi cekcok hebat di tengah pesta!" jawab anak buah Leon yang disuruh memata-matai Rani.Selina langsung diserang rasa resah yang luar biasa. Ia menatap suaminya yang juga tengah mendengarkan laporan tersebut."Leon, ayo kita cari Rani! Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Bagaimanapun juga, dia itu adikku!" mohon Selina dengan raut wajah panik.Leon mengangguk tegas. "Ayo, Sayang. Kita kembali ke pesta itu."Keduanya bergegas meninggalkan anak buah Leon. Tanpa membuang waktu, mereka melompat masuk ke dalam mobil dan melesat cepat kembali menuju hotel tempat acara berlangsung.Namun, sesampainya di hotel, suasana halaman dan lobi sudah sepi serta sunyi. Pesta tampaknya telah bubar lebih awal akibat kekacauan tadi, membuat Selina semakin panik."Leon, Rani tidak ada! Ke mana lagi kita harus mencarinya?!" ucap Selina seraya meremas-remas jarinya yang gemet
"Se-sekar... ke-kenapa kamu ada di sini?" tanya Om Heri terbata-bata, tubuhnya mendadak kaku melihat kehadiran istri sahnya.Namun, Sekar tidak menjawab pertanyaan itu sedikit pun. Dengan mata menyalang penuh amarah, wanita itu melangkah lebar lalu secepat kilat menjambak rambut Rani dengan sangat keras."Dasar gadis murahan! Apa yang dijanjikan tua bangka ini sampai kamu mau dijadikan simpanan olehnya?!" bentak Sekar murka, menarik kepala Rani hingga mendongak.Rani meringis kesakitan, jemarinya berjuang mencengkeram tangan Sekar yang mencengkeram erat rambutnya. "Aww! Lepas! Lepaskan aku!""Sekar, kamu jangan gila! Ini di tempat umum!" bentak Om Heri panik setengah mati, berusaha melerai jemari istrinya.Sekar justru terkekeh sumbang. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia sengaja melayangkan tatapan tajam ke sekeliling area ballroom. Keributan itu seketika menarik perhatian, membuat puluhan tamu bergaun dan berjas mewah berdatangan mengelilingi mereka karena penasaran."Lihat semuanya!
"Baguslah, akhirnya Kak Selina pergi juga!" gumam Rani seraya menyeringai puas menatap pintu keluar ballroom.Om Heri yang mendengar gumaman itu langsung merapat ke arah wanitanya dengan raut penasaran."Memangnya siapa sih dia, Sayang?""Dia itu kakakku, Om. Kakak satu ibu," adu Rani bersungut-sungut dengan nada memelas yang dibuat-buat. "Tapi setelah menikah dengan Tuan Leon, dia benar-benar lupa segalanya. Bahkan aku dan Ibu dibiarkan kelaparan!""Astaga, tidak tahu diri sekali!" umpat pria tua itu sinis. "Tapi mulai sekarang kamu tidak usah memikirkan kakakmu itu, Sayang. Sekarang ada Om yang akan menuruti semua kemauan kamu dan ibumu."Rani tersenyum senang mendengar janji manis itu. Ia semakin merapatkan pegangan tangannya di lengan Om Heri."Om Heri baik deh, aku jadi makin cinta!"Pria tua itu terkekeh puas, lalu mengecup gemas pucuk kepala Rani."Ya sudah, ayo Om kenalkan pada teman-teman Om di sana," ajak Om Heri seraya menunjuk ke arah deretan pria paruh baya yang tengah me
"Kak Selina!"Wajah Rani mendadak pucat pasi. Matanya membelalak tak percaya saat menangkap keberadaan kakaknya di sana."Rani, kamu sedang apa di sini? Terus... siapa dia?" Tatapan Selina tertuju lurus pada Om Heri. Laki-laki paruh baya itu pun beralih menatap Rani, menuntut penjelasan.Rani semakin gelagapan. Otaknya berputar keras mencari alasan yang logis dan masuk akal."Baby, siapa dia?" tanya pria tua itu heran. Namun, saat pandangannya bersitatap dengan Leon yang terkenal sebagai pengusaha muda yang sukses, senyum Om Heri seketika mengembang hangat."Bukankah ini Tuan Leon? Lalu... wanita di samping Anda ini, apakah istri Anda?" tanya Om Heri sopan.Leon hanya mengangguk singkat dengan raut wajah tetap datar dan dingin. "Benar, wanita di samping saya adalah istri saya."Selina yang tak bisa berpikir jernih melihat adiknya bersanding dengan pria setua itu langsung bergerak maju. Tangannya terulur hendak menarik lengan Rani, tetapi dengan secepat kilat Rani menepisnya kasar."K







