Mag-log in“Ayah memintaku ke kantor pusat Medical Buana Group sore ini. Kamu tidak keberatan kalau kutinggal sebentar?” tanya Marsena sambil bersiap masuk ke mobilnya.Adhira mengangguk santai dan tersenyum manis. “Tentu saja tidak. Memangnya apa yang kamu cemaskan?”Wajah kaku Marsena seketika melunak. Perlahan, tangannya terangkat mengusap lembut rambut Adhira.“Kamu tidak perlu memasukkan ucapan tajam Nenek ke hati. Bagaimanapun juga, kamu istriku. Aku yang akan pasang badan melindungimu.”Adhira terkekeh pelan mendengar ucapan posesif itu. Ia menepuk-nepuk pelan bahu tegap suaminya. “Aku paham, kok. Kamu tidak usah khawatir berlebihan. Beliau cuma seorang nenek tua, aku pasti bisa menghadapinya dengan baik.”Wajah Marsena masih tampak ragu. Namun akhirnya, ia memejamkan mata sejenak lalu berkata pelan, “Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu.”Adhira mengangguk riang. Tepat saat Marsena berbalik hendak membuka pintu mobil, Adhira cepat-cepat menahan lengan kemeja suaminya.“Tunggu sebentar!
“Lucu, ‘kan?” tanya Adhira sambil menunjukkan sapu tangan sulamannya dengan mata berbinar antusias.Sang nenek hanya melirik sekilas kain putih itu, lalu berdeham singkat. “Mm.”Adhira kemudian menengadahkan sebelah tangannya ke arah sang nenek. Gerakan itu membuat wanita tua di kursi roda tersebut menatapnya bingung.“Mau apa lagi kamu sekarang?” cetus sang nenek heran.Adhira menghela napas pelan. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung meraih tangan sang nenek dan meletakkan sapu tangan sulaman sakura itu di telapak tangannya.“Nenek harus janji padaku untuk selalu memakai sapu tangan ini, ya,” ucap Adhira mantap.Sang nenek buru-buru meletakkan sapu tangan itu ke meja nakas, lalu menyahut acuh tak acuh. “Untuk apa? Sapu tanganku di lemari masih menumpuk, semuanya dari merek terkenal dunia.”Adhira menggeleng cepat. “Sapu tangan ini jelas beda, Nek. Koleksi Nenek di lemari mungkin harganya puluhan kali lipat lebih mahal, tapi apa semuanya dibuat khusus dengan penuh cinta?”Sang nenek s
Adhira membuka matanya perlahan saat merasakan usapan lembut di dahinya.“Mm…” Ia menggeliat pelan, mengumpulkan kesadarannya.“Sudah bangun?” Suara berat Marsena terdengar dari dekatnya.Adhira mengerjapkan mata beberapa kali lalu bangkit duduk di sofa. Ia baru sadar selembar selimut tebal yang hangat sudah membungkus tubuhnya dengan rapi.Ia mendongak menatap suaminya. “Kenapa kamu memberiku selimut sehangat ini? Bukannya semalam aku sudah bilang tidak usah memedulikanku dulu?”Marsena menggeleng pelan. “Bukan aku yang menyelimutimu, tapi Nenek.”Adhira langsung tertegun. Matanya membelalak kaget. “Nenek yang menyelimutiku?”Marsena mengangguk mantap. “Pelayan yang mengantar selimut ini menceritakannya langsung padaku.”Adhira tersenyum puas, bangga dengan pencapaian kecilnya. Ia lalu berbalik dan mengambil sapu tangan yang sudah selesai disulamnya.“Lihat ini, bagus dan lucu, ‘kan? Aku sengaja menyul
“Cucuku?” cemooh sang nenek.Namun, Adhira sama sekali tidak memedulikan tatapan sinis itu. Ia tetap tersenyum ramah dan melangkah mendekat ke tepi ranjang.“Nenek sebenarnya sakit apa?”Marsena menyusul tepat di belakang Adhira, menatap sang nenek dengan saksama.Wanita tua itu membuang muka dengan enggan. “Cuma flu biasa dan darah tinggiku naik sedikit akhir-akhir ini. Itu saja. Kamu tidak perlu pura-pura khawatir padaku.”Adhira menghela napas pelan, lalu duduk di tepi ranjang tanpa ragu.“Kenapa aku harus pura-pura khawatir, Nek? Nenek tidak lihat kantung mataku yang hitam dan tebal ini?” Adhira menunjuk bawah matanya yang menghitam dengan wajah memelas.Sang nenek melirik malas.Dari belakang, Marsena menyela pelan, “Adhira baru saja selesai jaga malam di rumah sakit, Nek. Aku sudah menyuruhnya istirahat di rumah, tapi begitu dengar Nenek sakit, dia tetap keras kepala minta ke sini.”Sang nenek sem
“Ini belum semuanya. Masih ada puluhan sertifikat gedung dan tanah di brankas rumah. Nanti kutunjukkan begitu kita pulang,” ujar Marsena lagi. Adhira makin bungkam. Apa-apaan ini? Ia menatap takjub deretan kartu bernilai fantastis di atas meja. Apa pria kaku di depannya ini mendadak mengubahnya jadi orang terkaya nomor satu di dunia? “Semua kartu ini aset pribadiku. Jadi dana operasional rumah sakit maupun bisnis Buana Group tidak akan terganggu sama sekali,” tambah Marsena dengan wajah polos. Adhira tersentak dari lamunannya. Ia berdeham pelan untuk menutupi rasa canggung, lalu memasang wajah acuh tak acuh sambil kembali menatap mangkuk makanannya. “Untuk apa kamu repot-repot memberikan semua kartu ini padaku?” tanya Adhira. “Merasa kasihan karena melihatku hampir ‘kalah saing’ dari mantan tunanganmu di lobi tadi?” Kening Marsena berkerut dalam. “Kamu sungguh berpikir begitu?” Adhira menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya tidak?” Marsena terdiam kaku, mencerna kalimat tajam ist
“Luar biasa sekali aksimu di lobi tadi!” bisik Amira heboh, membuntuti langkah Adhira begitu memasuki ruang observasi. Qanita yang berjalan di sampingnya ikut menyahut bersemangat. “Itu keren, sih!” Ia lantas memasang raut wajah datar yang dibuat-buat demi menirukan gaya bicara Adhira. "Jadi... menurut sudut pandang Anda, saya jauh lebih tidak berhak mengawasi rumah sakit ini ketimbang Anda?" Adhira menghembuskan napas tipisnya, menyusun berkas di mejanya. “Kenapa kalian berdua belum pulang? Ini sudah larut malam.” Amira membalas luwes. “Mana bisa kami langsung pulang kalau ada tontonan seru seperti tadi?” Adhira memutar kedua bola matanya malas, melemparkan pertanyaan lain. “Di mana Abid?” Amira menyahut cepat. “Dia sakit. Ibunya bahkan sampai datang langsung dari kampung untuk merawatnya. Di rak rumahnya sekarang menumpuk banyak sekali obat-obatan tradisional.” Adhira menghela napas tipis. “Jadi aku harus bertugas sendirian malam ini?” Namun selang beberapa detik, Adhira mend







