Share

Warung Kesukaan

last update Last Updated: 2025-07-02 19:47:35

Ayudhia meregangkan kedua tangan di udara untuk mengurai sedikit ketegangan pada otot-ototnya yang kaku karena baru saja menyelesaikan pekerjaan yang Disya berikan.

“Akhirnya selesai juga,” gumamnya lalu menghela napas lega.

Ayudhia mengecek jam di ponselnya, dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh menit. Ayudhia segera membawa berkas itu ke ruangan Disya kemudian meletakkan dengan rapi di meja managernya itu

Ayudhia sedang memasukkan buku sketsa dan beberapa alat tulis ke dalam tas, dan merapikan alat-alat lainnya di sisi meja kantor Ayudhia, ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Arlo terpampang di layar.

“Halo, iya, Tuan,” sapa Ayudhia begitu menjawab panggilan itu.

“Di mana kamu?”

Suara datar dari seberang panggilan cukup menusuk di telinga Ayudhia.

“Saya masih di kantor. Ada beberapa pekerjaan yang tadi harus saya selesaikan hari ini juga.”

“Tunggu di sana.”

Ayudhia mengerutkan kening. Dia mau membalas ucapan Arlo, tetapi panggilan itu sudah berakhir.

Apa Arlo akan datang menjemputnya?

Ayudhia tidak yakin, mungkin Arlo menyuruh sopirnya. 

Lobby Atelier sudah diselimuti kegelapan, hanya beberapa lampu sorot yang tersisa, membiaskan cahaya remang-remang di lantai marmer hitam. Ayudhia melangkah tergesa, suara tumit sepatunya menggema.

Di meja depan, satpam yang berjaga mengangkat kepala, matanya sedikit membesar melihat Ayudhia yang baru akan pulang. “Baru pulang, Mbak?” sapanya, nada suaranya terselip keheranan.

Ayudhia hanya tersenyum tipis, kelelahan terpancar jelas di wajahnya. “Iya, Pak. Banyak yang harus diselesaikan,” jawabnya singkat. Mungkin Bapak Satpam itu heran masih melihat karyawan Atelier di kantor selarut ini. “Mari, Pak,” pamit Ayudhia setelahnya, menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum pada satpam tersebut.

Kemudian, Ayudhia memilih berdiri di depan lobby, sesekali mengecek pintu masuk area perusahaan, menunggu mobil yang datang menjemputnya. Dia memerhatikan sekitar, tempatnya berdiri sekarang yang paling terang karena banyak mendapat cahaya, sehingga sopir yang disuruh Arlo pasti bisa dengan mudah menemukannya di sana.

Beberapa saat kemudian, sorot lampu mobil memancar. Sebuah mobil hitam sedan mewah melaju perlahan, kemudian berhenti tepat di hadapan Ayudhia. Dia melangkah mendekat, berniat membuka pintu belakang, tetapi kaca jendela depan sudah lebih dulu terbuka. Ayudhia sedikit tersentak, melihat Arlo duduk di belakang kemudi.

“Masuk.” 

Ayudhia bergerak kikuk membuka pintu mobil dan masuk. Ayudhia diam, begitu juga dengan Arlo. Mobil itu kini melaju meninggalkan area perusahaan ditemani keheningan yang menyelimuti kabin.

Saat keduanya masih sama-sama diam, suara dari perut Ayudhia memecah keheningan. Ayudhia langsung menyentuh perutnya sambil meringis malu. Pipinya terasa panas, Ayudhia sedikit melirik Arlo, berharap Arlo tidak mendengarnya. Perutnya tidak bisa diajak kompromi untuk menunggu mereka sampai di rumah.

“Kamu belum makan?” tanya Arlo tanpa menoleh sama sekali pada Ayudhia.

Ayudhia akhirnya menoleh pada Arlo, dengan rasa canggung dan senyum kecil dia menjawab, “Iya, belum sempat.”

Namun, Arlo kembali fokus menyetir, tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Ayudhia jadi ikut terdiam, menunggu mereka sampai di rumah saja. Akan tetapi, ternyata Arlo tidak langsung mengajaknya pulang. Pria itu justru menghentikan mobil di bahu jalan, di dekat sebuah warung kecil yang hanya buka saat malam hari.

Bibir Ayudhia merekah lebar. Dia buru-buru melepas seatbelt dan berkata, “Ini warung kesukaan saya, makanan di sini enak-enak. Kok Anda tahu ada warung ini di sini?” Ada rasa heran menyelimuti benaknya. Arlo, seorang pria yang selalu tampil rapi dan berkuasa, makan di pinggir jalan seperti ini? Rasanya agak aneh baginya.

“Hanya kebetulan lihat.”

Ayudhia menoleh pada Arlo yang sedang melepas sabuk pengaman kemudian turun dari mobil. Ayudhia mengangguk pelan, kebetulan melihat memang masuk akal. Ayudhia segera keluar menyusul Arlo.

Mereka akhirnya duduk berhadapan di warung makan itu. Makanan yang Ayudhia dan Arlo pesan sudah disajikan di meja. Ayudhia melirik Arlo yang bersiap makan, masih tak menyangka pria kaya raya seperti Arlo mau makan di pinggir jalan.

Ayudhia masih terus memandangi wajah Arlo. Dia tidak makan, tetapi malah menggunakan tangan untuk menyangga dagu, sedangkan sikunya bertumpu di meja. Ayudhia terus memandangi wajah pria yang menjadi suami kontraknya ini.

Tampan, hidungnya mancung, garis rahangnya begitu tegas dan kokoh, bahkan Arlo memiliki bulu mata yang sangat indah, pria ini begitu sempurna.

“Kenapa memandangiku?” 

Ayudhia tersentak. Meskipun Arlo tak menatap Ayudhia, ternyata Arlo menyadari apa yang sedang dilakukannya. Tanpa sadar mengagumi suami kontraknya ini.

“Tidak ada,” balas Ayudhia lalu kembali mengambil alat makannya yang tadi sempat diletakkan di atas piring.

Namun, sebelum Ayudhia mulai makan, dia kembali menatap Arlo yang sedang mengunyah.

“Apa saya boleh minta sesuatu?” tanya Ayudhia.

“Apa kamu berhak meminta sesuatu dariku?” 

Ayudhia memanyunkan bibir mendengar jawaban dingin Arlo.

“Padahal saya tidak akan meminta harta Anda, kenapa Anda bicara begitu,” protes Ayudhia lalu mengaduk-aduk makanannya.

Arlo akhirnya menatap Ayudhia yang cemberut.

“Minta apa?” tanya Arlo pada akhirnya.

Seketika senyum merekah di wajah Ayudhia.

“Anda akan mengabulkannya, ‘kan? Kalau begitu akan saya katakan waktu kita sudah sampai rumah,” jawab Ayudhia sambil tersenyum-senyum penuh arti.

Dahi Arlo berkerut samar, apa yang diinginkan oleh Ayudhia?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Viva Oke
minta apa sih Ayudhia..eh dingin datar kayak kulkas ternyata mau jg ngikutin maunya Ayudhia. Arlo emang beda .
goodnovel comment avatar
~•°Putri Nurril°•~
kenapa aku curiga kalau sebenanya Arlo ada rasa smaa si ayu
goodnovel comment avatar
Nonna_Ayra
minta apa ayu??? hehheee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Tanda Terima Kasih

    Kakak, terima kasih sudah mengikuti kisah Arlo dan Ayudhia. Dan ... setiap awal pasti ada akhir. Seperti kisah mereka yang harus sampai di sini. Tapi ... kalian jangan cemas, meski kisah mereka berhenti di sini, tapi aku sudah nyiapin cerita baru, cerita El dengan kisah uniknya sendiri. Dan, tentunya akan ada si kecil Leya yang nanti akan ikut menghibur kalian semua. Kapan tayang? Tunggu notifikasi buku baru dariku, ya. Terima kasih banyak, salam hangat dari aku. (⁠ʘ⁠ᴗ⁠ʘ⁠✿⁠)

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Akhir

    Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, dan kondisi Leya yang bagus. Ayudhia akhirnya sudah pulang. Di rumah Arlo. Semua keluarga berkumpul bersama, membagi kebahagiaan satu sama lain. “Dia sudah selesai menyusu?” tanya Andreas ketika melihat Ayudhia merapikan pakaiannya. Tatapan Ayudhia tertuju pada Andreas, dia mengangguk pelan ketika berkata, “Sudah, Pa.” Andreas segera menghampiri, dengan gerakan lincah dia mengambil Leya dari gendongan Ayudhia. “Lihat cucuku yang cantik, pipimu sudah lebih berisi dari sebelumnya, hm ….” Andreas mengambil tisu basah, dengan pelan membersihkan sisa susu yang menempel di bibir cucunya ini. “Kalau besar nanti, dia pasti akan sangat cantik dan menggemaskan,” balas William, menatap ke arah Ayudhia dan Arlo, William kembali berucap, “Apa aku bisa tinggal di sini lebih lama? Jika masa visaku habis, aku ingin terus memperpanjangnya agar bisa melihat pertumbuhan Leya?” Ayudhia terkesiap. Dia tidak menyangka William sampai akan melakukan itu d

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Kebahagiaan Untuk Semua

    Di rumah Arlo.William baru saja membaca pesan yang Alina kirimkan. Pria tua ini sangat senang mengetahui Ayudhia mau melahirkan.“Kenapa Andreas malah belum datang, padahal cucunya baru saja lahir.”William mencoba menghubungi Andreas untuk memberitahukan kabar bahagia ini, sayangnya Andreas tidak bisa dihubungi, sampai membuat William kesal.“Dasar, sudahlah. Biarkan saja dia terlambat tahu kalau Ayudhia sudah melahirkan.”William begitu bersemangat. Dia melangkah cepat mencari sopir yang diperintah Arlo untuk mengantar ke mana pun William ingin pergi.“Anda mau ke mana, Tuan?” tanya sopir.“Ke rumah sakit, cucuku akhirnya melahirkan,” jawab William dengan suara penuh semangat.Sopir sangat senang mendengar kabar bahagia itu. Dia membuka pintu mobil untuk William.William siap masuk ke mobil, tetapi tatapannya lebih dulu tertuju ke mobil yang baru memasuki gerbang.Mobil itu milik Andreas.“Aku pergi dengan mereka saja.” William berubah haluan. Dia melangkah untuk menghadang mobil A

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Melahirkan Lancar

    Bola mata Arlo membulat lebar mendengar apa yang Ayudhia katakan. Saat pintu lift terbuka di lobby, Arlo segera menggendong istrinya. Dia melangkah cepat menuju mobil yang sudah menunggu di depan. “Ke rumah sakit, cepat!” perintah Arlo pada sopir yang baru saja membukakan pintu untuknya. Begitu Arlo masuk ke dalam mobil bersama Ayudhia, sopir langsung memacu mobil meninggalkan Atelier, menuju rumah sakit yang untungnya tidak jauh dari perusahaan. Arlo merasakan cengkraman tangan Ayudhia begitu kuat di lengannya. Ditatapnya wajah Ayudhia yang meringis menahan sakit. “Bertahan, kita hampir sampai di rumah sakit,” lirih Arlo dengan suara tertahan. Tidak tega melihat Ayudhia kesakitan seperti ini. Ayudhia meringis dengan mata terpejam saat merasakan kontraksi yang terus menerus terjadi. Bahkan dia berulang kali mengambil napas dan mengembuskan perlahan seperti yang diajarkan saat di kelas senam ibu hamil. Wajah Arlo ikut memucat. Dia benar-benar panik karena cairan bening t

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Kontraksi, Lagi?

    “Ayu, ada apa?” tanya Maya langsung meletakkan cangkir di meja, dia melangkah memutari meja untuk mencapai di sisi Ayudhia.Memegangi lengan Ayudhia, Maya menatap panik karena Ayudhia tidak menjawab.Sedangkan Ayudhia, dia kembali duduk sambil mencoba mengatur napasnya.Dengan wajah panik, Maya mencoba memastikan. “Ayu, kamu belum mau melahirkan, ‘kan? Usia kandunganmu baru tujuh bulan, ‘kan?” “Ada apa, May?” Maya masih menatap panik saat melihat Della datang bertanya.“Ayudhia tiba-tiba merintih sambil pegang perut,” jawab Maya.Della membulatkan bola mata lebar. “Ayu, kamu baik-baik saja? Apa mau ke rumah sakit buat periksa?” tanya Della.Maya mengangguk-angguk mengiyakan.Ayudhia masih tak membalas. Dia mencoba mengatur napasnya, saat merasakan mulas di perutnya perlahan menghilang, barulah Ayudhia menatap ke Maya dan Della.“Sepertinya hanya kontraksi palsu,” jawab Ayudhia masih dengan wajah lesu.“Kamu yakin? Bukan benar-benar mau melahirkan?” tanya Maya memastikan.Ayudhia men

  • Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan   Tetap Bekerja

    Ayudhia duduk di ruang keluarga sambil meluruskan kedua kakinya. Mereka sudah pulang ke rumah sejak beberapa hari lalu, setelah mengurus masalah panti hingga selesai.Ayahnya akan menjadi donatur tetap panti bahkan merencanakan pembangunan panti yang lebih layak dan besar untuk anak-anak.“Kenapa? Kakimu pegal?”Suara Arlo membuat Ayudhia menoleh, bibirnya terulas senyum tipis menatap kedatangan suaminya.“Agak pegal, tapi tidak apa-apa, kok,” balas Ayudia.Duduk di dekat kaki Ayudhia. Arlo sedikit mengangkat kedua kaki Ayudhia sebelum diletakkan ke atas pangkuannya.“Ar, mau apa?” tanya Ayudhia terkejut dengan yang dilakukan suaminya.“Memijat kakimu,” balas Arlo.Ayudhia sangat terkejut, dia ingin mencegah tetapi suaminya sudah memijat kakinya lebih dulu.Menatap suaminya yang menekan-nekan kakinya dengan lembut, Ayudhia mengembuskan napas pelan dengan senyum bahagia karena Arlo selalu memberikan yang terbaik untuknya. “Aku baik-baik saja, Ar.”“Kamu bilang baik, tapi kedua kakimu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status