Beranda / Rumah Tangga / Pernikahan Penuh Luka / 177.Di Antara Dua Diam

Share

177.Di Antara Dua Diam

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 09:38:35

****

Aku menutup pintu perlahan setelah Bara pergi. Suara engselnya nyaris tak terdengar, tapi dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang berat. Rumah kembali sunyi sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Sunyi yang penuh gema kata-kata.

Aku berdiri beberapa detik di dekat pintu, punggungku bersandar, napas terasa pendek. Tanganku gemetar tanpa sadar.

Bara sudah menceraikan Bela.

Kalimat itu terus berputar di kepalaku, beradu dengan kenangan lama, luka yang belum sepenuhnya kering, dan sat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   192.Riuh di Lobi

    *** Pagi itu sebenarnya berjalan biasa. Aku datang lebih awal ke kantor, menyelesaikan beberapa berkas sebelum rapat mingguan. Kepalaku masih dipenuhi percakapan semalam dengan Aisyah. Pelan-pelan. Kata itu terus terngiang. Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar. Pesan dari Aisyah. Jangan lupa makan siang. Aku tersenyum kecil. Siap, partner. Baru saja aku duduk, suara gaduh terdengar dari luar ruanganku. Awalnya samar seperti bisik-bisik yang berubah jadi riuh. Lalu terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. “Kalian semua harus tahu! Saya istrinya Bara!” Tanganku membeku. Tidak mungkin. Aku berdiri cepat dan membuka pintu ruang kerja. Di lobi kantor, Bela berdiri dengan bayi dalam gendongannya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah seperti habis menangis. Beberapa karyawan menatap dengan ekspresi campur aduk kaget, penasaran, sebagian jelas menikmati drama. “Bela?” suaraku rendah, menahan emosi. “Kamu ngapain di sini?” Ia langsung menoleh pada

  • Pernikahan Penuh Luka   191.Pelan-Pelan, Tapi Bersama

    **** Pagi itu datang tanpa drama. Aku bangun lebih dulu dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, menyentuh wajah Arka yang masih terlelap di tengah kasurnya. Bara masih tertidur di sisi lain, napasnya teratur. Aku memperhatikannya beberapa detik. Dulu, melihatnya tidur seperti itu terasa biasa saja. Sekarang, ada perasaan lain bukan cinta yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih tenang. Seperti keputusan yang diulang setiap hari. Bara bergerak pelan, lalu membuka mata. “Kamu ngapain lihat-lihat aku begitu?” suaranya serak. “Aku lagi memastikan.” “Memastikan apa?” Ia menyipitkan mata. “Masih orang yang sama nggak.” Ia tersenyum kecil. “Dan?” “Masih. Cuma versi lebih sadar dosa.” Bara tertawa pelan. “Itu kemajuan.” Aku bangkit dari kasur. “Bangun. Kamu janji mau bikin sarapan.” Ia langsung duduk. “Serius kamu ingat?” “Janji investasi kepercayaan, kan?” Ia mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu Direktur Kepercayaan.” Di dapur, Bara terlihat terlalu seriu

  • Pernikahan Penuh Luka   190.Rumah yang Dipilih

    *** Aku selalu percaya satu hal luka tidak hilang hanya karena seseorang berjanji. Luka butuh waktu. Butuh bukti. Mobil berhenti di depan rumah. Bara mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Arka sudah lebih dulu membuka pintu belakang. “Ayah cepet, nanti Arka yang buka pintu!” serunya semangat. Aku tersenyum tipis. Bara menoleh padaku. “Kamu capek?” “Enggak,” jawabku pelan. “Cuma banyak yang dipikirin.” Ia mengangguk. “Tentang tadi?” Aku menghela napas. “Tentang semuanya.” Kami turun bersama. Arka sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan ekspresi serius. “Ayah, sekarang kita beneran nggak berantem lagi kan?” tanyanya polos. Bara berlutut di depannya. “Ayah sama Ibu nggak berantem.” “Terus kemarin-kemarin itu apa?” Aku dan Bara saling pandang. “Itu… belajar,” jawabku akhirnya. “Belajar apa?” “Belajar supaya jadi keluarga yang lebih baik,” kata Bara lembut. Arka mengangguk seperti orang dewasa kecil. “Oh. Kalau gitu Arka juga mau belajar.” Bara tertawa pelan.

  • Pernikahan Penuh Luka   189.Janji di Atas Tanah Sunyi

    **** “Aku marah,” katanya jujur. “Tapi bukan ke kamu.” Aku terdiam. “Lalu ke siapa?” “Ke keadaan. Ke masa lalu yang nggak pernah benar-benar selesai,” jawab Aisyah pelan. “Dan mungkin… ke diriku sendiri yang masih harus belajar percaya lagi.” Aku berdiri di depannya, tak berani menyentuhnya dulu. “Aku nggak akan lari lagi.” Ia menatapku lama. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu konsisten.” Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. “Iya, Bu,” jawab Aisyah. Pintu terbuka, dan Ibu masuk lebih dulu. Di belakangnya, Ayah duduk di kursi roda, tangannya bertumpu di sandaran. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. “Ayah mau bicara sebentar,” katanya pelan. Aku langsung mendekat dan membantu mendorong kursi roda beliau sedikit masuk ke dalam kamar. Ibu duduk di sisi ranjang. “Besok pagi Ibu dan Ayah mau pulang.” “Cepat sekali, Bu?” tanyaku. Ayah tersenyum tipis. “Rumah juga harus ditengok. Lagipula… rasanya kalian butuh ruang tanpa

  • Pernikahan Penuh Luka   188.Ketukan yang Menguji

    **** Hari ketiga di rumah itu berjalan lebih tenang dari yang kuduga. Ibu masih menjaga jarak, tapi tidak lagi melempar kalimat setajam hari pertama. Ayah beberapa kali mengajak Arka bermain di ruang tengah. Aisyah mulai menata dapur kecil di lantai dua, membuat ruang itu terasa lebih hidup. Malam itu, untuk pertama kalinya kami makan bersama tanpa suasana terlalu kaku. Ibu bahkan memasak sayur kesukaan Ayah. “Aisyah, tambahkan sambalnya sedikit,” kata Ibu tiba-tiba. Aisyah menoleh, sedikit terkejut. “Baik, Bu.” Aku menangkap sorot mata istriku. Ada harapan kecil yang tumbuh. Arka berceloteh tanpa henti. “Ayah tadi ajarin aku naik sepeda kecil di halaman! Aku hampir nggak jatuh!” “Hampir?” aku mengangkat alis. “Sedikit aja,” bantahnya cepat. Ayah tertawa pelan. Ibu menggeleng tipis. Untuk beberapa menit, suasana itu terasa… normal. Lalu. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu depan terdengar keras. Terlalu keras untuk jam segini. Ibu menoleh ke arah pintu.

  • Pernikahan Penuh Luka   187.Di Balik Pintu yang Sama

    **** Pagi kepindahan itu datang terlalu cepat. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Aisyah masih tertidur di sampingku, Arka meringkuk di antara kami seperti pagar kecil yang hangat. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap mereka. Ini alasanku. Bukan rumah. Bukan gengsi. Bukan pembuktian pada Mama. Mereka. “Ayah…” gumam Arka setengah sadar. Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. “Iya, jagoan.” Aisyah membuka mata perlahan. “Sudah pagi?” “Iya.” Aku bangkit. “Kita mulai beres-beres.” Ia duduk, menatap sekeliling kontrakan kecil itu. Tempat yang jadi saksi kami belajar bertahan tanpa campur tangan siapa pun. Tempat yang sempit, tapi hangat. “Kamu yakin?” tanyanya lagi, entah untuk keberapa kali. Aku mendekat, mengecup keningnya. “Aku lebih takut kehilangan kamu lagi daripada menghadapi Mama.” Ia terdiam. Lalu mengangguk pelan. **** Menjelang siang, mobil pick-up sewaan sudah terisi kardus dan koper. Tidak banyak. Hidup kami memang tidak pernah penuh barang. Y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status