Masuk**** Aku terbangun dengan perasaan yang… ringan. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku membuka mata tanpa rasa terancam. Tanpa bayangan Aisyah yang mondar-mandir di rumah ini dengan wajah sabar tapi menyebalkan itu. Tanpa suara langkahnya di dapur. Tanpa tatapan matanya yang selalu membuatku merasa seperti orang ketiga padahal kini, akulah pusat segalanya. Aku tersenyum kecil sambil mengusap perutku yang sudah membesar. “Kita menang,” bisikku pelan. “Akhirnya.” Aku bangkit perlahan dari ranjang, memastikan gerakanku terlihat hati-hati. Aku tahu Bara selalu memperhatikan hal itu. Semakin aku terlihat lemah dan rapuh, semakin ia merasa bertanggung jawab dan semakin jauh Aisyah tersingkir. Aku melangkah keluar kamar dan berhenti sejenak di lorong. Sunyi. Rumah ini terasa berbeda. Lebih luas. Lebih lega. Seperti sebuah panggung yang akhirnya hanya menyisakan satu pemeran utama. Aku berjalan ke dapur. Tak ada Aisyah. Tak ada suara wajan. Tak ada aroma masakan sederhana yan
**** Pintu rumah itu tertutup pelan. Tidak ada suara bantingan. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah seperti yang sempat kutakutkan. Justru keheningan itulah yang membuat dadaku terasa aneh seperti ada sesuatu yang tertinggal, tapi aku terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Aku berdiri di ruang keluarga, mematung. Tanganku mengepal tanpa sadar. “Mas…” suara Bela memecah keheningan. Ia bangkit dari sofa perlahan, satu tangannya masih setia memegangi perutnya. “Kamu nggak apa-apa?” Aku menghembuskan napas panjang. “Aku baik-baik saja.” Kebohongan. Aku berjalan menjauh, mendekati jendela. Tirai sedikit tersibak. Halaman rumah kosong. Tak ada bayangan Aisyah. Tak ada langkah tergesa. Ia benar-benar pergi. Begitu saja. “Mas nggak perlu terlalu dipikirkan,” kata Bela lembut sambil mendekat. “Aisyah cuma lagi emosi. Nanti juga balik sendiri.” Aku menoleh cepat. “Dia pergi sama Arka.” Bela terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. “Justru itu. Seorang ibu pasti miki
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku melangkah keluar dari rumah yang pernah kusebut sebagai tempat pulang. Pintu besar itu tertutup di belakangku tanpa suara, tapi dentumannya terasa keras di dadaku. Seolah bukan pintu yang menutup, melainkan seluruh hidupku yang runtuh dalam satu tarikan napas. Tangis Arka masih terdengar pelan di dadaku. Aku mengeratkan pelukan, membungkus tubuh kecilnya dengan jaketku sendiri. Angin malam menusuk kulit, tapi tak sedingin perlakuan yang baru saja kuterima. “Sudah, Nak… Ibu di sini,” bisikku sambil terus berjalan menuruni anak tangga. “Mama nggak akan ninggalin kamu.” Lampu teras masih menyala terang. Ironis. Rumah itu terang, hangat, dan penuh kehidupan tapi tidak lagi untukku. Aku berhenti sejenak di halaman, menoleh ke belakang. Jendela ruang keluarga masih terbuka sedikit. Bayangan Bara dan Bela tampak samar di balik tirai. Mereka masih di sana. Bersama. Tanpa aku. Dadaku sesak. “Mas…” gumamku lirih, meski tahu ia takka
“Duduk.” Satu kata itu meluncur dingin dari mulut Bara, tanpa emosi, tanpa ragu. Seolah aku bukan lagi istrinya, melainkan orang asing yang tak pantas berdiri di hadapannya. Tubuhku terhempas ke sofa ruang keluarga. Lututku terasa lemas, jantungku berdegup tak beraturan. Arka masih dalam gendonganku, tubuh kecilnya gemetar, tangisnya tak kunjung reda sejak tadi. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, berusaha menenangkan, meski hatiku sendiri sedang porak-poranda. Di seberang sofa, Bela sudah duduk lebih dulu. Kedua tangannya memegangi perutnya yang kini membesar, wajahnya pucat atau setidaknya terlihat pucat dengan tatapan sendu yang dibuat-buat. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Bara dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kamu jangan kasar-kasar,” ucapnya lembut, nadanya penuh kepura-puraan. “Kasihan Aisyah…” Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan Bara. Aku menunduk, jemariku mencengkeram kain gendongan Arka. Kasihan? Dari semua yang terjadi, dari semua luk
**** Aku melewati Bara yang masih duduk di tepi ranjang dengan bahu kaku dan tatapan kosong. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sejak pertengkaran tadi. Aku memilih tak menoleh lagi. Dengan hati yang terasa penuh luka, aku menggendong Arka dan melangkah keluar menuju teras depan rumah. Udara malam menyambut kami. Dinginnya menusuk kulit, tapi tak sedingin hatiku. Aku mengelus punggung Arka yang terlelap di bahuku. Napasnya teratur, kecil, dan rapuh. Dadaku terasa sesak. Aku menunduk, menempelkan kening ke rambutnya. “Nak… enggak apa-apa,” bisikku lirih, suaraku hampir pecah. “Kamu masih punya Ibu. Ibu janji, Ibu bakal mengusahakan apa pun buat kamu. Ibu enggak akan ninggalin kamu, ya…” Mataku panas. Aku menahan air mata agar tak jatuh di wajahnya. Belum sempat aku menenangkan diri, dari arah depan terdengar suara mesin mobil yang begitu kukenal. Lampu mobil menyala terang, lalu mati. Aku menghela napas panjang. Aku tahu itu pasti Bela. Benar saja. Bela tu
**** Ponselku tergeletak di meja kerja sejak pagi. Layarnya sempat menyala beberapa kali, tetapi aku terlalu sibuk atau terlalu pengecut untuk benar-benar menatapnya. Aku tahu hari ini apa. Aku tahu janji apa yang pernah kuucapkan. Namun seperti biasa, aku menundanya. Menganggap semuanya bisa menunggu. Sampai akhirnya aku membuka pesan itu. Mas, hari ini ulang tahun Arka. Dadaku langsung terasa sesak. Jam di dinding menunjukkan sore menjelang malam. Aku menelan ludah, mencoba meyakinkan diri bahwa masih ada waktu. Aku berdiri, meraih jaket, dan bergegas keluar dari ruangan. Namun langkahku terhenti saat ponselku kembali bergetar. Pesan lain masuk. Foto. Kue kecil dengan satu lilin. Arka berdiri di sampingnya, tersenyum tipis, mata sembab. Aisyah berada di belakangnya, memeluk pundaknya. Wajah Aisyah istri pertamaku,itu pucat, matanya merah, senyumnya nyaris tak ada. Tanganku gemetar. Aku duduk kembali, napasku memburu. Kepalaku berdenyut keras. Gambaran Arka meniup l







