Share

97.Rasa Kecewa

Author: Lusiana
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-31 11:13:59

****

Ponselku tergeletak di meja kerja sejak pagi. Layarnya sempat menyala beberapa kali, tetapi aku terlalu sibuk atau terlalu pengecut untuk benar-benar menatapnya. Aku tahu hari ini apa. Aku tahu janji apa yang pernah kuucapkan. Namun seperti biasa, aku menundanya. Menganggap semuanya bisa menunggu.

Sampai akhirnya aku membuka pesan itu.

Mas, hari ini ulang tahun Arka.

Dadaku langsung terasa sesak. Jam di dinding menunjukkan sore menjelang malam. Aku menelan ludah, mencoba meyakinkan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pernikahan Penuh Luka   212.Rumah yang Utuh

    **** Waktu terasa berjalan lebih cepat setelah itu. Perutku mulai benar-benar terlihat. Bukan lagi rahasia kecil yang hanya kami tahu, tapi kenyataan yang ikut bergerak setiap kali aku melangkah. “Mas, perut Ibu sudah kayak balon,” komentar Bara suatu sore sambil menempelkan pipinya. “Balon mahal,” sahut Bara cepat. Aku tertawa kecil. “Kenapa mahal?” “Karena isinya dua.” Arka terlihat bangga setiap kali orang bertanya, “Kembar ya?” Ia akan menjawab dengan dada dibusungkan, “Iya. Adek satu dan adek dua. Aku kakaknya.” **** Memasuki bulan terakhir, langkahku makin pelan. Nafasku lebih pendek. Dan malam-malamku lebih sering terbangun. Suatu malam, kontraksi kecil datang seperti gelombang tipis. Aku menggenggam lengan Bara. “Mas…” Ia langsung terbangun. “Kenapa? Sakit?” “Kayaknya mulai.” Wajahnya berubah tegang dalam satu detik. “Sekarang?” “Belum terlalu kuat. Tapi teratur.” Ia sudah duduk, meraih ponsel, tas rumah sakit yang memang sudah disiapkan seja

  • Pernikahan Penuh Luka   211.Retak yang Diperbaiki

    **** Pagi itu suasana rumah sedikit tegang. Bara sudah siap berangkat, tapi ponselnya terus berdering tanpa henti. Nama manajer proyeknya muncul berkali-kali. “Ada apa lagi, Mas?” tanyaku dari meja makan sambil menyuapi Arka. Ia menjawab telepon dengan wajah serius. “Iya… saya sudah bilang, jangan mulai pengecoran sebelum saya cek ulang… Tidak, jangan ambil keputusan sendiri.” Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Setelah telepon ditutup, ia mengusap wajahnya kasar. “Mas?” panggilku pelan. “Ada supplier yang coba main cepat. Mereka mau pakai material alternatif tanpa approval.” “Lebih murah?” tanyaku. “Iya. Tapi kualitasnya belum jelas.” Arka yang sedang makan tiba-tiba menyela, “Ayah jangan pakai yang jelek.” Bara menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Iya, Mas. Ayah nggak mau rumahnya retak.” Arka mengangguk puas lalu kembali makan. Aku berdiri dan mendekat ke Bara. “Mas terlalu keras tadi.” Ia menghela napas. “Kalau aku lembek, mereka anggap bisa ditekan.

  • Pernikahan Penuh Luka   210.Pondasi yang Kuat

    **** Pagi itu Bara sudah rapi sebelum jam tujuh. Kemeja putihnya licin, jam tangan terpasang, wajahnya lebih serius dari biasanya. Aku berdiri di depan lemari sambil memperhatikan dari pantulan cermin. “Mas mau ke kantor pusat hari ini?” tanyaku. “Iya,” jawabnya singkat. “Kantor proyek atau yang di pusat?” “Pusat. Ada rapat direksi.” Aku tersenyum kecil. “Serius banget nadanya.” Ia menoleh dan mendekat. “Ini pertama kali aku pimpin rapat sejak Ayah resmi serahkan operasional penuh.” Aku mengangguk pelan. Perusahaan properti itu memang dibangun dari nol oleh Pak Sofiyan. Perumahan, ruko, sampai apartemen—semuanya berdiri dari kerja kerasnya. Dan sekarang, tongkat estafet itu ada di tangan Bara. “Kamu siap, Mas?” tanyaku lembut. Ia terdiam sebentar. “Harus siap.” Aku mendekat dan membenarkan kerah kemejanya. “Mas itu bukan cuma anak pemilik perusahaan. Mas itu orang yang kerja dari bawah. Semua orang di sana tahu itu.” Bara tersenyum tipis. “Ibu juga bilang beg

  • Pernikahan Penuh Luka   209.Belajar Membagi

    **** Kabar tentang dua detak itu menyebar lebih cepat dari yang kuduga. Belum genap dua hari, Bu Indah sudah datang membawa dua kantong besar berisi pakaian bayi. “Ini netral semua ya. Kalau nanti satu laki-laki, satu perempuan, tetap bisa dipakai,” katanya sambil mengeluarkan satu per satu baju mungil dari tas. Aku tertawa kecil. “Bu, ini masih lama.” “Lama dari mana? Kembar itu waktunya terasa dua kali lebih cepat,” jawabnya yakin. Bara berdiri di samping lemari, memperhatikan tumpukan baju yang makin tinggi. “Bu, rumah kita bukan gudang.” Bu Indah melotot. “Ini bukan gudang. Ini persiapan.” Pak Sofiyan masuk beberapa menit kemudian, kursi rodanya didorong perlahan oleh Bara. “Apa lagi yang diborong?” tanyanya santai. “Cuma sedikit,” jawab Bu Indah defensif. “Sedikit versi Ibu itu biasanya setengah toko,” balasnya tenang. Aku dan Bara saling pandang, menahan tawa. Arka tiba-tiba muncul membawa dua mobil-mobilan kecil. “Nenek, ini buat adek satu dan adek d

  • Pernikahan Penuh Luka   208.Dua Detak

    **** Pagi itu aku terbangun karena merasa ingin muntah,lalu pergi ke kamar mandi. “Aisyah!” suara Bara terdengar panik. Aku baru sadar suara itu. Bara sudah berdiri di sampingku, memegang rambutku, menepuk punggungku pelan. “Pelan… pelan… sudah, sudah…” Aku terengah. “Kayaknya lebih parah dari kemarin.” “Ini bukan ‘kayaknya’. Ini jelas lebih parah,” jawabnya tegas tapi lembut. Arka tiba-tiba muncul di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. “Bunda kenapa?” Bara langsung menggendongnya menjauh sedikit. “Bunda lagi mual, Mas.” Arka mengerutkan dahi. “Adek nakal?” Aku tertawa lemah. “Nggak. Adek cuma lagi tumbuh.” Arka berpikir serius. “Kalau tumbuh jangan bikin Bunda muntah dong.” Bara menahan senyum. “Nanti Ayah bisikin adek, ya.” Arka mengangguk mantap. “Iya. Bilangin jangan nakal.” Siang itu, karena mualku tak juga mereda, Bara memutuskan mengajakku kontrol lebih cepat. “Kita nggak usah tunggu jadwal,” katanya sambil membantu aku memakai cardigan.

  • Pernikahan Penuh Luka   207.Setelah Riuh

    **** Perjalanan pulang malam itu lebih sunyi dari biasanya. Arka tertidur di car seat, kepalanya miring dengan mulut sedikit terbuka. Nafasnya teratur, seolah keributan tadi hanyalah suara angin yang lewat tanpa makna. Di kursi depan, Bara menggenggam setir lebih erat dari biasanya. “Kamu marah sama Ibu?” tanyaku pelan. Ia menghela napas panjang. “Aku… nggak tahu harus marah atau sedih.” “Karena Bu Indah menyerang duluan?” “Karena aku pikir semua sudah selesai.” Lampu merah membuat mobil berhenti. Cahaya lampu jalan memantul di kaca, membuat wajah Bara terlihat lelah. “Kamu takut itu terulang lagi?” tanyaku. Ia menoleh sekilas. “Aku takut kamu capek. Kamu lagi hamil, harusnya nggak perlu menghadapi hal seperti tadi.” Aku tersenyum kecil. “Aku nggak sendiri.” Bara terdiam, lalu mengangguk pelan. “Iya. Kita.” Sesampainya di rumah, kami memindahkan Arka ke tempat tidur. Ia bergumam pelan, “Aku jaga Bunda…” sebelum kembali tenggelam dalam mimpi. Aku dan Bara du

  • Pernikahan Penuh Luka   28 Penjelasan

    Setelah aku mencoba menjelaskan semua masalah ini, Bara hanya menatapku lama. Tatapannya sulit kutebak entah marah, bingung, atau sedang menimbang-nimbang sesuatu tentangku. Rasanya seperti dadaku dihimpit batu besar setiap kali matanya menatap tanpa kata-kata. Seolah aku berada di ruang kosong yang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Pernikahan Penuh Luka   43 Demi Arka

    Bara keluar dari kamar ketika mendengar suara seseorang dari arah luar. Langkahnya terdengar pelan, namun cukup jelas bagi telingaku yang sejak tadi tidak benar-benar bisa beristirahat. Aku menoleh sedikit dari arah dispenser dan melihat sosoknya berdiri di ambang pintu. Sorot matanya tampak kosong

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Pernikahan Penuh Luka   46 Salah Paham

    Aku tahu sekali, setelah ini keadaan tidak akan baik-baik saja.Bela berdiri di ambang pintu kamar dengan tangan terlipat di dada, wajahnya menegang, dan sorot matanya tampak seperti seseorang yang sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja.Aku masih menggendong Arka di pelukanku. Bocah kec

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Pernikahan Penuh Luka   49 Berfikir Positif

    Setelah Bela mengatakan hal itu, dia segera keluar dari kamarku. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang membuat dadaku terasa sesak. Aku belum sepenuhnya memahami apa maksud ucapannya barusan, namun jelas kata-katanya terus berputar-putar di pikiranku. Belum sempat aku menenangkan diri,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status