เข้าสู่ระบบAroma tumisan bawang merah dan bawang putih masih menggantung di udara ketika Aisyah akhirnya meletakkan sendok kayu di atas meja dapur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat dari waktu subuh, dan lengannya terasa pegal setelah berkutat berjam-jam di dapur sempit kontrakan itu. Namun, rasa lelahnya sedikit terbayar ketika ia menatap deretan panci berisi masakan yang sudah matang tongkol balado yang mengilap, sayur lodeh hangat, dan nasi putih yang mengepul perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Alhamdulillah… selesai juga,semoga hari ini jualanku laris manis,tekadku sudah bulat,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa menunda waktu, Aisyah segera mengangkat satu per satu panci ke warung kecil di depan kontrakan. Warung itu tak besar, hanya berupa etalase sederhana dengan meja panjang dan beberapa kursi plastik. Namun letaknya sangat strategis tepat di pinggir jalan yang ramai, tak jauh dari deretan kantor. Setiap pagi, orang-orang berl
**** Di tempat lain, Aisyah mulai menata hidupnya kembali perlahan, rapuh, namun penuh tekad bersama Arka, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Rumah kecil yang kini mereka tempati tak megah, dindingnya polos dan perabotannya sederhana. Namun bagi Aisyah, tempat itu adalah ruang aman. Di sanalah ia dan Arka belajar hidup tanpa luka yang terus diungkit, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Aisyah duduk di lantai beralaskan tikar tipis, menghitung sisa bahan jualan yang ia beli sore tadi. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembap, tetapi sorotnya tak lagi kosong. Arka duduk di sampingnya, memeluk boneka lusuh kesayangannya, menatap ibunya dengan mata polos yang membuat dada Aisyah sering kali terasa sesak. “Nak,” panggil Aisyah lembut, menghentikan hitungannya. Ia menoleh pada Arka dan tersenyum tipis. “Besok kita bisa jualan makanan di warung depan. Arka temani Ibu, ya?” Arka mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan. Senyum kecil mengembang di bibirnya, senyum yang
Setelah berkeliling hampir ke seluruh sudut kota, mencari Aisyah dengan sisa harapan yang terus menipis, aku akhirnya menyerah. Tidak ada jejaknya. Tidak ada bayangannya. Seakan perempuan itu benar-benar menghilang dari hidupku, pergi membawa luka yang tak sempat kuobati. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan sejenak. Menunduk, menahan napas yang terasa berat di dada. Kepalaku penuh oleh satu pertanyaan yang terus berputar: ke mana Aisyah pergi? Tapi kota ini terlalu luas, dan aku terlalu terlambat menyadari betapa pentingnya dia. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan pusat kota, aku melirik ponselku. Layarnya menyala menampilkan puluhan pesan masuk. Semua dari Bela. Pesan-pesan yang saling menyusul, bernada cemas, marah, sekaligus menuntut. Mas, kamu di mana? Kenapa belum pulang? Ini sudah malam. Kamu sama siapa? Mas, jawab aku! Aku menghela napas panjang lalu mematikan layar ponsel tanpa membalas satu pun pesannya. T
Malam terasa semakin pekat saat aku keluar dari rumah orang tuaku. Langkah kakiku gontai, seolah seluruh tubuh kehilangan tenaga. Kata-kata ayah masih terngiang jelas di kepalaku, berulang tanpa ampun. Itu kezaliman, Bara. Aku masuk ke mobil, menutup pintu dengan keras. Tanganku gemetar saat menggenggam setir. Napasku memburu, dadaku sesak seperti dihimpit beban yang terlalu berat. “Aisyah…” gumamku lirih. Aku menyalakan mesin dan melajukan mobil tanpa tujuan pasti. Jalanan kota tampak lengang, namun pikiranku penuh sesak. Aku menelpon nomor Aisyah berkali-kali. Tidak aktif. Pesan-pesanku hanya berderet centang satu. Ke mana kamu pergi? Aku berhenti di pinggir jalan, memukul setir dengan frustasi. “Sial!” teriakku, suaraku pecah. Bayangan wajah Aisyah saat aku mengusirnya kembali terlintas. Tatapannya waktu itu bukan marah, melainkan kecewa kecewa yang dalam dan dingin. “Aku cuma lagi emosi,” kataku pada diriku sendiri, tapi suara itu terdengar kosong. Tidak ada pemb
Pak Sofiyan tiba-tiba menarik tangannya dari genggamanku. Gerakan itu tegas, membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Namun aura amarahnya begitu nyata hingga membuat ruangan terasa semakin sempit. “Berdiri kamu, Bara,” ucapnya dingin. Aku tersentak. Dengan tubuh gemetar, aku bangkit berdiri. Air mataku belum berhenti mengalir, tapi ayahku sama sekali tak menunjukkan belas kasihan. Tatapannya tajam, menusuk tepat ke dadaku. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua pengakuanmu barusan?” tanyanya dengan suara berat. Aku menggeleng pelan. “Bukan karena kamu menikah lagi,” lanjutnya. “Bukan juga karena kamu berbohong pada istrimu. Tapi karena kamu dengan mudahnya mengusir perempuan yang sudah mengorbankan hidupnya untukmu.” Aku terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan mana pun. “Ayah…” suaraku nyaris tak terdengar. Pak Sofiyan menghela napas kasar. Tangannya mengepal, jelas menahan emosi yang hampir meledak. “Aisyah datang ke keluarga ini d
Aku tidak langsung pulang ke rumah setelah keluar dari kantor. Setir mobil justru kubelokkan menuju rumah kedua orang tuaku. Entah sejak kapan keputusan itu muncul, yang jelas kakiku terasa berat, sementara dadaku semakin sesak. Di sepanjang perjalanan, pikiranku tak pernah benar-benar tenang. Nama Aisyah dan Arka terus berputar di kepalaku seperti rekaman yang diputar tanpa henti. Ke mana kamu sekarang, Aisyah? Kenapa kamu benar-benar pergi? Aku memukul setir pelan, menahan emosi yang bercampur antara marah, menyesal, dan takut. Bayangan wajah Aisyah yang dingin, serta Arka yang menatapku polos namun terluka, terus menghantuiku. “Aku harus jujur sama ayah,” gumamku lirih. Mobil akhirnya berhenti di pekarangan rumah yang sejak kecil menjadi tempatku pulang. Rumah yang dulu selalu terasa hangat, namun malam ini justru membuat langkahku ragu. Aku menarik napas panjang sebelum turun, seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi hukuman yang tak terelakkan. Aku masuk ke dalam r







