Masuk**** “Kenapa sih semuanya harus ada Aisyah, Aisyah, dan Aisyah?” gumamku penuh amarah. Dadaku naik turun, napasku terasa sesak. Sejak tadi kepalaku dipenuhi satu nama itu nama perempuan yang terus menghantui hidup Bara dan, tanpa sadar, merenggut posisiku sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa tinggal diam. Tidak lagi. Aisyah harus benar-benar pergi dari kehidupan Bara. Harus. Hanya dengan begitu bapak tua itu ayah mertua yang selalu memandangku sebelah mata akan mau menerima kehadiranku sepenuhnya. Langkah kakiku terasa berat saat keluar dari ruang tamu, meninggalkan kedua mertuaku yang barusan saja membuat harga diriku seperti diinjak-injak. Senyum palsu, tatapan sinis, dan kalimat-kalimat halus yang menyudutkanku masih terngiang jelas di kepala. Aku menutup pintu kamar agak keras, lalu duduk di tepi ranjang dengan tangan gemetar. Rasa dongkol dan marah itu belum juga reda. Dadaku panas. Tanganku meraih ponsel tanpa ragu. Aku membuka kontak seseorang yang selama ini kerap memb
Keheningan setelah ucapan Bela terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Ruang keluarga itu seperti kehilangan udara. Aku bisa mendengar detak jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menghitung mundur sesuatu yang tak terlihat namun pasti akan meledak. Ayah berdiri dari duduknya. Gerakannya lambat, tapi penuh wibawa yang membuat siapa pun enggan menyela. Tatapannya tajam mengarah pada Bela, lalu beralih kepadaku. Dadaku bergetar saat mata itu berhenti tepat di wajahku. “Kamu,” katanya dingin, “sejak kapan kamu belajar diam seperti ini, Bara?” Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Semua kalimat berdesakan di kepala, tapi tak satu pun berani keluar. “Ayah bicara denganmu,” tekan ayah. Bu Indah ikut berdiri. “Pak, jangan begitu. Bara juga sedang tertekan.” “Tertekan?” ayah tersenyum miring. “Dia yang memilih jalan ini. Dia yang memutuskan melukai amanat orang lain.” Aku mengangkat kepala. Kali ini, aku tak bisa lagi bersembunyi. “Ayah,” suaraku se
Kami turun berdua dari tangga rumah itu. Bela tetap menggenggam tanganku, jemarinya erat seolah takut aku akan menghilang jika dilepaskan. Senyum tipis masih bertengger di bibirnya, senyum yang dipaksakan, tapi cukup untuk memberi ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tangan satunya mengusap pundakku pelan, sebuah isyarat yang seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, dadaku justru terasa semakin sesak. Begitu kami memasuki ruang keluarga, tatapanku langsung bertemu dengan ayah. Matanya menatap Bela tanpa sedikit pun usaha menyembunyikan ketidaksukaan. Raut itu terlalu jelas dingin, menilai, dan penuh jarak. Seolah Bela adalah tamu tak diundang di rumah ini. Bela, dengan sikap yang tetap terjaga, menyalami ayah dan ibu. Bu Indah tersenyum, senyum seorang ibu yang selalu berusaha menjaga suasana tetap hangat meski retakan mulai tampak di mana-mana. Kami pun duduk. Bela masih di sampingku, masih menggenggam tanganku. Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara ayah. “Sudah se
Sambungan telepon itu sudah kumatikan sejak beberapa menit lalu, namun kegelisahan justru semakin menyesakkan dadaku. Ponsel di tanganku terasa berat, seolah menyimpan beban yang tak sanggup kutanggung sendiri. Aku berdiri di dekat jendela, menatap halaman rumah yang masih lengang, sementara pikiranku dipenuhi bayangan wajah ayah tatapan tajamnya, suaranya yang tegas, dan prinsip hidupnya yang tak pernah bisa ditawar. “Mas, kamu kenapa sih? Dari tadi kelihatan gelisah,” suara Bela terdengar ceria, seolah tak ada awan gelap yang sedang menggantung di atas kepala kami. Ia mendekat, menyentuh lenganku dengan senyum penuh keyakinan. “Katamu kamu sudah cerita sama ayah. Aku yakin ayah kamu pasti merestui kita. Setelah itu, kita bakal bisa bersama selamanya.” Aku tak langsung menjawab. Kata-kata Bela berputar-putar di kepalaku, namun tak satu pun mampu keluar dari mulutku. Bukan karena aku tak ingin bersamanya, tapi karena aku tahu betul siapa ayahku. Ia bukan pria yang mudah diyakinkan
**** Di rumah, Bela tampak bermalas-malasan ketika aku pulang dari kantor. Pintu kubuka pelan, berharap entah kenapa ada suara langkah atau sapaan kecil yang menyambutku. Namun yang kudapat hanya keheningan. Bela duduk di kursi ruang tengah, tubuhnya bersandar malas, matanya terpaku pada layar ponsel seolah dunia di sekitarnya tak ada. Aku melangkah masuk, meletakkan tas kerja di atas meja. Bela bahkan tidak melirik. “Kamu lagi apa, sayang?” tanyaku, berusaha terdengar santai meski lelah seharian masih menggantung di bahuku. Aku berdiri tepat di depannya. Bela akhirnya mengangkat wajah, tapi hanya sepersekian detik sebelum kembali fokus pada ponselnya. “Nggak ada,” jawabnya datar. “Lagi lihat-lihat baju bayi.” Itu saja. Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, ‘Capek?’ atau ‘Gimana kerjaan hari ini?’ Nada suaranya cuek, seolah aku hanya lewat seperti bayangan. “Oh…” gumamku singkat. Aku menunggu. Mungkin dia akan menanyakan kegiatanku hari ini. Mungkin dia akan bangkit,
Aku menghela napas pelan. Warung kecil ini akhirnya kembali lengang. Bau masakan yang sejak pagi menempel di udara masih terasa, bercampur dengan aroma teh hangat yang mengepul samar. Tanganku terasa pegal, tapi hatiku sedikit lebih ringan. Setidaknya hari ini kami bisa makan dengan layak. Aku melirik ke arah meja sudut. Arka duduk manis di kursinya, kaki kecilnya menggantung, sementara Dokter Aldi duduk di seberangnya. Piring makan dokter Aldi sudah kosong, hanya tersisa teh hangat di gelasnya yang tinggal separuh. Arka tampak sibuk memainkan sendok, sesekali menoleh ke arahku dengan senyum kecil yang selalu berhasil menguatkanku. Aku melangkah mendekat dan tersenyum sopan. “Dokter Aldi mau nambah?” tanyaku ringan. Dokter Aldi mendongak, sedikit terkejut, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. “Sudah kenyang, Syah. Masakanmu memang selalu bikin susah berhenti, tapi kalau nambah nanti aku nggak bisa berdiri,” candanya. Aku tertawa kecil, lalu menarik kursi dan duduk di se







