แชร์

BAB 3 - KEPUTUSAN YANG SULIT

ผู้เขียน: Memey Yin
last update วันที่เผยแพร่: 2021-08-15 14:57:50

Pada akhirnya setelah melihat bagaimana dua keluarganya berbahagia atas pernikahan mereka, Bulan urung mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya.

“Berikan kesempatan pada pernikahan ini, Bulan. Kita pasti bisa menjalaninya.” 

“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Bulan.

“Aku yang akan mengatakan semuanya. Ini semua salahku,” jawabnya.

“Jika istrimu berarti untukmu, lalu apa artinya aku di antara kalian, Mas?” Suara Bulan kembali terdengar.

“Aku masih belajar menerima semua ini, Bulan.”

Pada akhirnya Bulan meminta waktu dan kesempatan untuk memikirkan ucapan Alfan, walaupun ia tidak yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Karena ia tahu bahwa sejatinya tidak ada wanita yang mau jika suaminya dibagi dengan wanita lain, termasuk dirinya. Walaupun hubungannya dengan Alfan belum menumbuhkan debaran dan getaran di hati, sejujurnya Bulan hanya menginginkan pernikahan sekali selama hidupnya.

“Tolong, jangan katakan apapun pada keluarga kita.” 

Bulan mengangguk menyanggupi permintaan Alfan.

“Di depan semua orang, kamu adalah satu-satunya istriku.”

“Tapi pada kenyataannya, akulah istri keduamu.” 

Bulan tersenyum miris. 

“Sekali lagi, maafkan aku, Bulan. Akulah yang paling bersalah di sini,” sahut Alfan.

“Kamu memang bersalah.” 

Alfan mengangguk. 

“Kamu jahat, Mas.” 

Alfan kembali mengangguk membenarkan ucapan Bulan.

Tangis Bulan kembali pecah. Kenapa kehidupan rumit ini harus menyapa dirinya? Apa kesalahannya hingga ia harus berada di titik ini. 

“Maaf.” Hanya itulah yang mampu diucapkan Alfan atas rasa bersalahnya.

Ini benar-benar seperti mimpi buruk untuknya.

Ketika keinginan dan harapan tak sesuai dengan kenyataan, Bulan memilih berserah diri kepada sang pemberi kehidupan. Memohon dan berharap bahwa semua ujian yang datang padanya segera menemukan jalan terbaik.

“Ya Allah, jika memang takdirku harus seperti ini. Hamba mohon kuatkan diri ini dan besarkan hati hamba untuk menerima segala sesuatu yang sudah terjadi.” 

“Amin.” 

Bulan terisak pelan ketika ia baru saja menyelesaikan sholat di sepertiga malam.

Manusia hanya bisa berencana, tapi kuasa Tuhan tetaplah yang utama. Dan di atas sajadah ini Bulan memohon ampun atas segala dosa-dosanya dan memohon yang terbaik untuk hidupnya.

Jika memang ini takdir yang telah digariskan untuknya. Semoga ia sabar dan tegar dalam menjalaninya. Satu kata sederhana yang sulit untuk dilakukan. 

Sudah tiga hari tiga malam Bulan dan Alfan menginap di hotel. Sudah dua malam pula Bulan meminta petunjuk pada sang pemberi kehidupan. Hingga pada akhirnya ia memilih bertahan menjadi istri seorang Alfan Fatih Herlambang.

Istri yang sah secara hukum dan agama. Wanita pertama dan satu-satunya yang diketahui adalah istri dari Alfan Fatih Herlambang. Namun pada kenyataannya, ia kembali harus tertampar akan statusnya bahwa ia hanyalah yang kedua. 

Siap ataupun tidak. Ia harus berbagi suami dengan wanita yang diketahui bernama Zahra.

“Terima kasih, Bulan.” Alfan menatapnya dengan ketulusan.

Bulan mengangguk. 

“Pulang sekarang?” tanya Alfan.

“Mampir ke rumah dulu. Aku mau ngambil barang-barang keperluanku.” 

Alfan mengangguk. 

“Kamu tidak ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Alfan membuka obrolan. 

Bulan menggeleng. “Tidak, terima kasih,” ucapnya.

Alfan menyeret satu koper berukuran sedang yang berisi pakaiannya dan Bulan selama menginap di hotel. Setelah cek out, mobil yang dikendarai Alfan melaju membela padatnya kota Jakarta yang tidak pernah tidur. Apalagi ketika siang hari seperti ini, kemacetan menjadi hal yang biasa terjadi.

Mobil yang dikendarai Alfan sudah masuk ke dalam halaman rumah yang sangat luas bergaya eropa dengan pilar-pilar besar sebagai ciri khasnya. 

Rumah milik keluarga Latief ini memang berbeda dari yang lain karena dibangun ulang oleh pemiliknya. Juga menjadi salah satu rumah yang sangat luas dan besar dengan halaman yang luas karena menggabungkan empat kavling untuk mendapatkan rumah impian. 

Rumah yang indah dan mewah dengan mobil berbagai merk berjajar rapi di garasi.

Bulan turun diikuti Alfan. Mereka berdua langsung masuk dan disambut dengan asisten rumah tangga yang sedang membersihkan pajangan dinding di ruang tamu.

“Non Bulan sudah kembali,” sapa wanita paruh baya itu sambil melempar senyum tipis.

Bulan mengangguk dan balas tersenyum. 

“Selamat datang, Den Alfan.”

“Terima kasih, Bi.” 

“Non Bulan dan Den Alfan mau makan siang? Bibi siapkan ya,” tawarnya kepada sepasang pengantin baru tersebut.

Alfan mengangguk. “Terima kasih, Bi.” 

“Sama-sama, Den Alfan.” 

Tidak perlu ditanya kemana kedua orang tua Bulan. Sudah pasti mereka sedang bekerja dan akan pulang larut malam untuk tidur dan kembali di pagi hari. 

Entah apa yang kedua orang tuanya cari hingga lupa waktu bahkan terkadang sampai lupa pada anak sendiri hanya untuk mengejar materi yang bahkan lebih dari cukup mereka miliki.

“Boleh aku jalan-jalan di sekitar sini?” tanya Alfan membuyarkan lamunan wanita cantik itu. 

Bulan mengangguk.

“Mau menemani?” tanya Alfan.

Banyak hal yang ingin Alfan ketahui tentang Bulan, tapi entah mengapa ia tak bisa memulainya.

Bulan menggeleng. “Aku harus membereskan keperluanku, Mas.” 

“Ya sudah.” 

Bulan menuju kamarnya untuk mengambil keperluannya sedangkan Alfan berkeliling rumah.

Alfan dan Bulan duduk di meja makan menyantap makanan yang telah disediakan. 

Sesekali Alfan menoleh ke arah istrinya yang makan dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian.

“Kenapa melihatku?” tanya Bulan membuat Alfan tersedak karena merasa ketahuan.

Uhuk! Uhuk! 

“Hati-hati, Mas.” Bulan menyodorkan segelas air ke arah suaminya.

“Terima kasih, Bulan.” 

Hingga pada sore harinya, Alfan menemui Bulan yang saat itu sedang duduk di samping kolam renang. Wajah wanita itu terlihat seperti kehilangan banyak semangat. Ada raut kesedihan dan luka yang tersorot dari manik matanya.

“Bulan,” panggilnya membuat wanita itu menoleh.

“Ya,” sahutnya dengan pelan. “Jika butuh sesuatu kamu bisa memintanya pada bibi.” 

Alfan tertawa. “Aku ingin melihat senyum di wajahmu. Siapa yang bisa membantuku melakukannya?” Terdengar manis tapi sayang mulut itu juga yang telah tertutup rapat menutupi kedustaan.

“Mencoba merayuku?” tanya Bulan dengan datar. “Sayangnya aku bukan wanita yang mudah melupakan,” sambungnya dengan wajah menunduk memandangi pantulan dirinya di permukaan air.

“Aku hanya sedang berusaha mengakrabkan diri. Kita harus saling mengenal,” ucap Alfan.

“Maybe not now. Kita masih sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, Mas.” Bulan menghembuskan napas pelan diiringi desahan lirih dari bibirnya.

Hening untuk beberapa saat sampai Bulan memilih mengakhiri kegiatannya. Ia menoleh menatap Alfan sekilas sebelum meninggalkan kolam dengan tatapan mata Alfan yang masih mengikutinya.

“Aku bersalah. Bagaimana aku bisa menebus semuanya?” lirihnya sambil tertunduk.

To Be Continue ….

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Yen San
lanjutkan kak..
goodnovel comment avatar
Watilaras Risky
wahhhh ni nopel pertama pemerannya religius ...............
goodnovel comment avatar
Watilaras Risky
next ... keren kak cerita mengalir aj
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 144 - AKHIR PERJALANAN & MENJEMPUT BAHAGIA

    Sebelum Dewi tertangkap, Alfan sudah bergerak lebih dulu. Ia bukan tipe pria yang menunggu sampai musuh menyerang dua kali. Di ruang kerjanya malam itu, Alfan berdiri di depan jendela besar sambil menatap taman belakang rumahnya. Di belakangnya, Putu Hendra membuka beberapa berkas tebal di atas meja. “Semua sudah kita kumpulkan,” ujarnya. Alfan menoleh. “Seberapa besar?” “Lebih besar dari yang kita kira.” Putu mendorong satu map ke depan. “Perusahaan keluarga Dewi ternyata hanya kedok.” Alfan membuka berkas itu perlahan. Isinya membuat rahangnya mengeras. Pencucian uang. Perdagangan ilegal. Pemalsuan dokumen impor. Nama keluarga itu muncul di hampir semua laporan. “Sudah berapa lama?” tanya Alfan. “Bertahun-tahun.” Putu menunjuk beberapa halaman lain. “Yang paling menarik mereka menggunakan jaringan agen penyalur tenaga kerja sebagai jalur transaksi.” Alfan langsung teringat sesuatu. Agen tempat Dewi mendaftar. “Jadi itu sebabnya mereka bisa menyusupkan Dewi ke rumahku,

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 143 - AKHIR KEJAHATAN

    Dewi masih menatap foto di tangannya dengan wajah pucat. Tangannya gemetar, tetapi ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat panik.“Saya hanya keluar sebentar malam itu,” katanya akhirnya.Alfan tertawa pendek. “Keluar sebentar?” ulangnya pelan. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di meja di depan Dewi. “Keluar sebentar sampai bertemu seseorang di luar pagar rumah? Di tengah malam. Diam-diam pula.”Tubuh Dewi menegang. “Saya tidak tahu maksud Tuan.”Putu Hendra menyilangkan tangan. “Jangan berpura-pura bodoh. Foto itu jelas menunjukkan kamu berbicara dengan seseorang.”Dewi menelan ludah. “Itu hanya orang yang salah alamat.”Alfan menatapnya tanpa berkedip. “Lalu kenapa Nena yang melihat kalian justru mati satu jam kemudian?”Kalimat itu membuat Dewi kehilangan kata-kata. Namun ia masih mencoba mempertahankan jawabannya.“Bagaimana Tuan bisa menuduh saya seperti itu? Saya juga sedih atas kematian Nena.”Alfan berdiri tegak. Tatapannya berubah tajam.“Kalau begitu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 142 - RAHASIA NENA

    “Kami menemukan ini. Seratus meter dari lokasi kejadian.”Seorang polisi menyerahkan plastik klip bening berisi ponsel dan dompet milik Nena.Alfan menerima benda itu dengan wajah kaku. “Tidak ada penyelidikan?” tanyanya tajam.“Kami akan tetap memburu pelaku, Tuan,” jawab polisi itu hati-hati. “Kesimpulan sementara tabrak lari. Namun kasus bisa naik kapan saja jika pelaku tertangkap dan motifnya terungkap.”“Plat mobil yang digunakan tidak terdaftar. Jadi cukup sulit untuk mengidentifikasi.”Rahang Alfan mengeras.“Terima kasih. Tolong lakukan apa saja untuk menangkap pelaku. Ini menyangkut nyawa seseorang.”“Lakukan yang terbaik.”Polisi itu mengangguk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah besar itu.Usai para petugas pergi, Alfan berdiri lama di ruang tamu. Plastik berisi ponsel Nena masih berada di tangannya.Tatapannya kosong.Tabrak lari.Kalimat itu terus berputar di kepalanya.Namun, entah kenapa … Hatinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.Dengan langkah bera

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 141 - MENINGGAL

    “Kamu kenapa menatap kami seperti itu, Dewi?”Ayesha bertanya kala melihat Dewi menatap mereka tanpa berkedip. Ia tersenyum. Berhasil menggoyahkan pertahanan gadis itu. Dengan sengaja ia mempertontonkan kemesraan bersama sang suami saat gadis itu mengantar minuman.Sengaja.Biar terbakar sekalian.“Tidak apa-apa, Nyonya. Hanya kagum dengan keluarga Anda yang harmonis. Memiliki anak dan suami yang manis. Saya berharap suatu nanti bisa mendapatkan suami seperti Tuan Alfan.”Ayesha terkekeh pelan. “Kamu tidak tahu saja sebrengsek apa suamiku dulu.”“Maksudnya, Nyonya?”“Aku tidak ingin mengumbar aib suamiku, tapi apa yang kamu lihat manis hari ini adalah buah dari apa yang telah kami lewati. Jika hari ini kami masih bersama, itu karena takdir Tuhan yang masih memberi kami kesempatan kedua.”Alfan mengeratkan pelukan, lalu mengecup kening sang istri singkat. “Terima kasih karena masih mau menerimaku.”“Mom, Dad, yang benar saja. Jangan mengumbar kemesraan di depan anak kecil.” Arzen prote

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 140 - SENGGATA DEWI AMBARANI

    Dewi menggenggam erat pintu kamar mandi, tubuhnya benar-benar tak terkendali. Wajahnya memerah, keringat bercucuran, napasnya terengah. Bayangan Alfan seolah mengepung dari segala sisi. Membuat tubuhnya semakin bergetar hebat menahan ledakan gairah yang membuncah. “Kenapa bisa begini?!” desisnya panik. Ia tak menyangka obat itu justru berbalik melawan dirinya. Ketukan keras di pintu membuat jantungnya hampir meloncat. “Dewi, kamu kenapa?” suara Nena terdengar keras. “Tidak apa-apa, Mbak. Perutku melilit sekali,” sahut Dewi dengan suara gemetar, berusaha menormalkan nada suaranya. Panik menyeruak. Buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu membuka pintu sedikit. “Maaf, Mbak. Aku tadi masih di kamar mandi. Panas sekali rasanya.” Nena mengamati wajah Dewi yang basah, pipinya merah padam, tubuhnya bergetar pelan. “Kamu sakit?” tanyanya curiga. “Cuma kecapekan, Mbak.” Dewi tersenyum kaku, berusaha menutup pintu lagi. Namun, tatapan tajam Nena menelisik hingga ke hatinya. “K

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 139 - SENJATA MAKAN TUAN

    “Mas, kamu baik-baik saja, kan?” Ayesha yang sejak pagi gelisah, menghubungi suaminya.“Ada apa?” tanya Alfan dengan nada heran.“Tidak apa-apa, hanya saja perasaanku tidak enak.”“Cepatlah pulang. Sepertinya kamu sangat merindukanku,” godanya sambil terkekeh.“Aku serius, Mas!” desis Ayesha.“Semuanya baik-baik saja, Sayang. Cepatlah pulang. Aku merindukanmu.”Ayesha singkirkan perasaan itu dari dalam dirinya. Namun, ketukan pintu di kamarnya membuat wanita itu berpaling.Di depan pintu, kliennya berdiri dengan senyum lebar. Seolah bisa menebak apa yang terjadi, Ayesha langsung menggeleng tegas.“Kali ini tidak ada tawar menawar lagi, Nona. Sudah cukup saya memaklumi permintaanmu.”“Hanya kali ini saja, Nyonya. Saya mohon.”“Saya tidak bisa.”“Saya akan membayar waktu Anda selama di sini.”Ayesha lemparkan senyum lebar, garis halus di sekitar matanya terlihat samar. “Ini bukan tentang nominal, Nona. Ini soal rasa profesional. Kesepakatan Anda sudah terlalu melenceng jauh. Demi bertah

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 4 - DITINGGALKAN

    Bulan dan Alfan turun dari lantai dua. Mereka akan langsung pergi ke rumah pribadi milik Alfan. Kedua orang tuanya sudah menunggu di ruang tamu. Beberapa koper besar sudah dimasukkan ke dalam mobil lebih dulu. Bulan memeluk Mami Tari dan Papi Ja

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 9 - PERMINTAAN MAMA

    Pagi itu Bulan sudah mandi dan bersiap turun ke lantai dua dengan membawa beberapa paper bag yang berisi oleh-oleh dari Bali. Dibantu oleh bibi asisten rumah tangga, Bulan membawa semua barang-barang itu ke ruang keluarga untuk dibagikan ke semua orang.

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 2 - KENYATAAN

    “Jangan terlalu banyak berpikir. Dokter mengatakan kamu tidak boleh terlalu stress.” Alfan duduk di sisi ranjang seraya menatapnya dengan perasaan bersalah. “Maaf semua ini karena aku,” sambungnya dengan helaan napas yang terdengar penuh t

  • Pernikahan Rahasia Suamiku   BAB 1 - AWAL SEGALANYA

    Saya terima nikah dan kawinnya Queena Bulan Latief binti Jacob Al Latief dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas batangan seberat 100 gram dibayar tunai. Sah! Sah! “Alhamdulilah.” Suara itu terdengar menggema di dalam rumah mewah keluarga Latief ketika lelaki dengan perawakan tinggi dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status