Share

Bab 3

Author: Atonim
Saat Hana pulang ke rumah, di punggung tangannya yang tersiram air panas telah muncul deretan lepuhan. Keadaannya yang linglung dan kehilangan arah membuat pembantu sangat terkejut.

"Nyonya, kenapa ini? Tanganmu melepuh karena terbakar. Ini harus segera ditangani di rumah sakit. Aku telepon Tuan ya," kata pembantu sambil hendak menelepon.

Hana menghentikannya. "Nggak usah. Tolong oleskan salep luka bakar saja."

"Takut Tuan khawatir ya? Benar juga. Biasanya Tuan pulang enam bulan sekali. Kali ini, baru dua bulan sudah pulang. Katanya karena dengar Nyonya masuk angin ya? Sekarang malah kena luka bakar begini. Kalau Tuan lihat, pasti bakal sedih banget."

Pembantu itu mengambil obat dan mengoleskannya ke tangan Hana dengan hati-hati. "Apa gerakan saya terlalu kasar? Sakit nggak?"

Semua orang merasa bahwa Joel sangat mencintainya. Namun, mereka tidak tahu bahwa cinta Joel bukan hanya diberikan kepadanya, melainkan juga kepada perempuan lain.

Dengan tangan satunya, Hana menyentuh pipinya dan baru menyadari bahwa wajahnya sudah basah oleh air mata. Dia menyekanya, lalu memaksakan sebuah senyuman. "Terima kasih, Bi. Nggak sakit kok."

Setelah pembantu itu pergi, Hana mulai merapikan barang-barangnya. Saat itulah dia menyadari bahwa di rumah ini, jejak Joel ternyata sangat sedikit.

Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang, Joel tidak tinggal lama. Di lemari hanya ada beberapa set pakaiannya. Di meja rias ada foto dirinya dan Joel. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi.

Segalanya sebenarnya sudah memberi pertanda. Hanya saja, dia terlalu bodoh, terlalu percaya pada Joel, hingga selama bertahun-tahun tertipu tanpa menyadarinya.

Malam itu Joel tidak pulang. Hana berguling-guling dengan gelisah hingga baru tertidur menjelang subuh.

Keesokan paginya, Hana terbangun oleh suara ribut di ruang tamu. Dia mengira pembantu yang datang, tetapi malah melihat Ruby dan Ryu di rumahnya.

Ryu berdiri di atas bangku, mengulurkan tangan mengambil kereta api kayu kecil di atas lemari. Itu adalah benda paling berharga milik Hana, satu-satunya peninggalan yang ditinggalkan orang tuanya.

"Jangan sentuh!" teriak Hana dengan keras.

Ryu terkejut sampai tubuhnya tersentak, tetapi tangannya masih mencengkeram kereta api kayu itu. Ruby menggendongnya turun dan menurunkannya ke lantai.

"Bu Hana, aku dan Ryu akan numpang tinggal di sini untuk sementara," kata Ruby, bibirnya melengkung membentuk senyuman, tetapi matanya berkilat dingin.

Hana tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke depan Ryu. "Kembalikan padaku."

Ryu menatapnya. Kedua tangannya disembunyikan ke belakang punggung, dagunya terangkat tinggi. "Apa yang sudah kuambil itu milikku."

"Bu Hana, masa kamu mempermasalahkan hal kecil dengan anak-anak? Cuma mainan. Anak ini cuma penasaran. Kalau Joel ada di sini, dia pasti akan memberikannya. Lagi pula, dia anak Joel. Kamu seharusnya sudah tahu sejak lama, 'kan?"

Hana meliriknya sekilas tanpa menanggapi. Dia mengulurkan tangan hendak mengambil kembali kereta api kayu itu. Melihat itu, Ruby tampak mengerti.

"Jadi, kamu memang sudah tahu. Kalau begitu, kenapa kamu masih menahan Joel dan nggak pergi? Hari ini, aku akan memperlihatkan padamu, di hatinya siapa yang sebenarnya lebih penting." Selesai mengatakan itu, Ruby mendorong Ryu dengan keras. Dia jatuh ke lantai dan langsung menangis keras.

"Ada apa ini?" Joel muncul di ambang pintu sambil membawa sebuah koper. Melihat anak itu duduk di lantai sambil menangis, dia mengambil langkah besar dan langsung menggendongnya.

"Joel, jangan salahkan Bu Hana. Ini salah kami. Aku nggak mendidik anak dengan baik. Begitu melihat barang orang lain, dia langsung ingin memilikinya. Semua salahku," ujar Ruby sambil merebut kereta api kayu itu dari tangan Ryu.

"Bu Hana, anak ini masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Ini, aku kembalikan padamu."

Yang Hana inginkan hanyalah mengambil kembali kereta api kayu itu. Dia sama sekali tidak berminat mendengar maksud tersembunyi dalam kata-kata Ruby. Dia mengulurkan tangannya, tetapi sebelum benda itu sempat dia sentuh, Ruby sudah melepaskannya. Benda itu pun jatuh ke lantai dan seketika hancur berkeping-keping.

Itu satu-satunya peninggalan orang tuanya!

Dengan hati yang remuk, Hana memunguti potongan kayu yang hancur. Serpihan kayu berserakan di lantai, sudah tak mungkin disusun kembali seperti semula.

"Hanya demi benda kayu seperti itu, kamu sampai tega menyakiti anak sekecil ini?" kata Joel dengan dingin.

Hana berdiri dan menatapnya. "Hanya benda kayu? Orang lain nggak tahu, masa kamu juga nggak tahu? Ini peninggalan orang tuaku."

Ekspresi Joel membeku sejenak. Ruby meraih lengannya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak tahu benda itu sepenting ini. Semua salahku dan Ryu. Kami seharusnya nggak datang. Joel, jangan marah pada Bu Hana. Aku dan Ryu pergi saja."

Dia berpura-pura hendak pergi, tetapi Joel langsung menariknya. Dengan sedikit rasa bersalah di matanya, dia menoleh ke arah Hana dan berbicara dengan pelan.

"Ryu lagi sakit. Mereka berdua akan tinggal di sini beberapa hari. Jangan bersikap perhitungan sama mereka. Nanti aku buatkan kereta api kayu yang baru untukmu ya?"

Hana merasa lucu, tetapi matanya terasa perih dan panas. "Ya, ya. Tinggal saja. Mau berapa hari pun boleh. Toh aku sebentar lagi akan pergi."

Dia memasukkan pecahan-pecahan itu ke dalam kantong kain dengan hati-hati, lalu berbalik, hendak pergi. Joel tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat, menatapnya lekat-lekat. "Kamu mau ke mana?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 17

    Hana baru keluar dari laboratorium malam itu. Seperti biasa, Kai ada di sisinya. Hampir setiap hari dia menunggu Hana pulang kerja bersama.Perasaan Kai pada Hana sudah menjadi hal yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan.Sejak pertemuan terakhir dengan Joel, Kai tidak lagi menyatakan perasaannya padanya. Karena Hana sudah mengatakan bahwa dia belum siap memulai hubungan baru, dia memilih untuk menunggu. Waktu masih panjang. Dia masih punya banyak waktu.Seperti biasanya, Kai mengantarnya sampai ke bawah gedung asrama."Besok pagi di kantin ada roti sayur kesukaanmu. Mau aku bawakan?"Mata Kai berbinar saat menatapnya, seperti anak anjing yang menggemaskan, membuat Hana sulit untuk mengucapkan penolakan."Boleh."Jawaban singkat Hana sudah cukup membuat hati Kai kegirangan. Di bawah cahaya bulan, punggung Kai yang menjauh tampak memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Setelah dia benar-benar pergi, Hana berbalik dan naik ke lantai atas. Dia pun tidak menyangka akan

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 16

    Hana terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh Joel. Bahkan sebelum otaknya sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu merespons.Ingatan otot yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya tanpa sadar mengangkat tangan. Jika saja dia tidak segera tersadar, mungkin kedua lengannya sudah melingkari pinggang pria itu.Kai terkejut oleh sosok yang tiba-tiba menerobos masuk. Dia segera bangkit dari tanah, bahkan tak sempat memedulikan debu yang menempel di wajahnya."Siapa kamu? Lepaskan dia!"Kai melayangkan pukulan ke arah Joel. Joel menghindar tanpa ragu, buru-buru melepaskan Hana dan membawanya ke samping, lalu membalas dengan pukulan yang lebih cepat.Keduanya terlibat perkelahian. Hana sempat berteriak dua kali dari samping, tetapi tidak berhasil menghentikan mereka. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu langsung menerobos ke tengah-tengah keduanya.Tinju Joel hampir mengenai dirinya. Saat dia melihat jelas mata Hana, tubuhnya terguncang hebat, tetapi sudah terlambat u

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 15

    Sejak eksperimen terakhir mengalami terobosan baru, Hana nyaris menghabiskan waktunya di laboratorium siang dan malam. Kadang, dia begitu sibuk sampai lupa makan.Pimpinan telah mengeluarkan perintah. Meskipun ingin bekerja lebih keras, para rekan di laboratorium tetap tidak boleh mengabaikan kesehatan diri sendiri. Karena itu, setiap sore Hana selalu diawasi oleh Kai untuk makan malam, lalu keluar dari laboratorium sebentar untuk menghirup udara segar.Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah sebulan dia berada di sini. Suhu di pegunungan rendah. Pakaiannya tipis, jadi tangannya selalu terasa dingin.Kai sangat perhatian. Dia khusus membuatkan penghangat tangan untuknya. Angin akhir musim gugur meniup dedaunan pohon-pohon. Salah satunya jatuh tepat di atas kepala Hana.Kai menatapnya dengan terpana, mengulurkan tangan ingin mengambil daun itu. Hana menyadari gerakannya dan refleks mundur selangkah."Aku hanya ingin membantumu mengambil daun yang jatuh." Suara Kai sangat pelan,

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 14

    Sebulan berlalu, Joel akhirnya menerima kenyataan bahwa Hana telah meninggal.Dia sudah mengajukan laporan perceraian dan kini menunggu persetujuan. Dalam hidupnya, dia hanya mengakui Hana sebagai istrinya.Papan arwah Hana selalu dia lap hingga mengilap. Di belakangnya diletakkan kotak abunya. Setiap hari, Joel menghabiskan waktu lama di sana bersamanya.Dia hendak mengajukan laporan ke atasan. Dia ingin dipindahkan kembali ke sini, ingin seumur hidup menjaga rumah yang pernah dia tempati bersama Hana. Selain itu, dia juga ingin menceraikan Ruby.Joel membawa berkas permohonan kerja yang sudah disiapkan ke kantor atasan. Atasan tidak ada di tempat. Seorang petugas menyuguhkan secangkir teh dan memintanya duduk menunggu.Saat hendak duduk, sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah surat di atas meja kerja. Tubuhnya langsung kaku. Dia perlahan melangkah mendekat dan melihat amplop di atas meja.Di bagian depan tertulis "Laporan Hasil Kerja Pusat Riset 403".Sorot mata Joel menajam, tatap

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 13

    Saat Hana terbangun, lingkungan di sekitarnya sudah sepenuhnya terasa asing.Dia menggerakkan punggung tangannya, merasakan cairan dingin mengalir masuk ke tubuhnya melalui pembuluh darah. Dia mengangkat kepala dan menatap sekeliling, seolah-olah masih belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.Ketika Kai masuk ke ruang rawat sambil membawa buah, barulah dia menyadari Hana sudah sadar. Dia segera meletakkan barang di tangannya, bergegas menghampiri, membantu Hana duduk, lalu menyusun bantal sandarannya dengan telaten."Ha ... Bu Hana, akhirnya kamu sadar. Ada bagian tubuh yang sakit? Aku panggilkan dokter ya," kata Kai, lalu berbalik keluar dengan cepat untuk memanggil dokter.Dokter segera datang, memeriksa kondisi Hana secara singkat, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyuruhnya beristirahat dengan baik.Hana menatap sinar matahari di luar jendela dan tanpa sadar menyipitkan mata. Dia teringat, dia berada di ruang tahanan. Ruby ingin membakarnya sampai mati, lalu rekan-rekan dari pus

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 12

    Joel memeluk kotak abu itu. Dia sendiri tidak tahu kapan dia akhirnya meninggalkan rumah duka, juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Hana.Begitu masuk, barulah dia menyadari banyak barang di rumah itu telah hilang. Di atas lemari, yang sebelumnya ada sebuah model kereta api kayu, barang yang paling berharga bagi Hana, kini juga sudah tidak ada. Mengingat hari ketika kereta api kayu itu rusak, hati Joel terasa seperti ditusuk puluhan ribu jarum dengan kejam.Tas pakaian Hana diletakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya tersimpan pakaian dan dokumen-dokumen.Jadi, dia memang ingin pergi. Dialah yang mengurungnya di ruang tahanan hingga menyebabkan kematiannya. Namun, kenapa ruang tahanan bisa terbakar? Jelas-jelas dia menyuruh Ruby untuk pergi memeriksa setiap hari.Joel tiba-tiba berdiri. "Ke rumah Keluarga Ariandra!"Petugas itu selalu mengikuti Joel. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan mobil di halaman.Saat kembali ke rumah Kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status