Share

Bab 2

Author: Atonim
Keesokan harinya, saat jam pulang sekolah, Hana menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada kepala sekolah.

Kepala sekolah menghargai bakat. Hana sudah mengajar di sekolah itu selama bertahun-tahun, para murid juga sangat menyukainya. Namun, kepala sekolah tidak bisa menghalanginya.

"Kami semua tentu nggak ingin kamu pergi, tapi aku juga tahu kamu dan Joel begitu dekat. Cepat atau lambat, kamu pasti akan ikut dinas bersamanya. Dia juga pasti nggak tenang membiarkanmu sendirian di sini. Jadi, aku nggak akan menghalangimu."

Semua orang tahu bahwa dia dan Joel adalah pasangan yang penuh kasih, tetapi tidak ada yang tahu bahwa semua itu hanyalah kepalsuan.

"Bukan begitu. Joel ...."

Kepala sekolah memahami dan melambaikan tangan. "Aku tahu. Aku juga pernah muda. Lagi pula, kamu dan Joel memang sudah waktunya punya anak."

Tahun itu, demi menyelamatkan Joel, Hana sudah lama kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Selama bertahun-tahun ini, meskipun para senior Keluarga Ariandra bersikap dingin padanya, tak pernah ada yang menyalahkannya karena hal itu.

Dia mengira itu hasil dari Joel yang menentang orang tuanya, tetapi tak pernah terpikirkan olehnya bahwa sebenarnya karena Joel sudah lebih dulu memiliki anak.

Hana terdiam dan tidak melanjutkan penjelasan. Kelasnya nanti akan diserahkan kepada guru baru. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyelesaikan serah terima pekerjaan dalam waktu yang tersisa.

Saat Hana keluar dari sekolah, dia melihat Joel berdiri di bawah pohon tak jauh dari gerbang sekolah. Di sampingnya terparkir sebuah mobil dan di dalamnya tampak ada orang yang duduk.

Guru-guru dari sekolah yang sama juga melihat Joel. "Pak Joel, jemput Bu Hana pulang ya?"

Mendengar itu, Joel langsung mendongak. Begitu melihat Hana, dia berlari beberapa langkah ke arahnya dan memeluknya.

Saat ini memang jam pulang sekolah. Para guru dan murid di gerbang sekolah melihat pemandangan itu, tetapi mereka sudah terbiasa. Selama bertahun-tahun, setiap kali Joel pulang, dia selalu menjemput Hana di gerbang sekolah.

Dari tubuhnya tercium aroma yang sangat dikenal Hana. Bau pakaian yang dipakai semalaman tanpa dilepas sebenarnya tidak enak. Namun dulu, Hana selalu memeluknya erat-erat, karena bau itu adalah bukti cinta Joel padanya.

Hana menatap janggut tipis yang tumbuh di dagunya dan lingkar hitam samar di bawah matanya. Saat hendak berbicara, suaranya justru tercekat dan air mata lebih dulu jatuh.

"Ada apa? Masih nggak enak badan? Meskipun aku nggak di sini, kamu harus tetap jaga dirimu. Awal musim gugur itu masa paling mudah masuk angin. Kemarin begitu dengar kamu sakit, aku langsung minta cuti dan pulang."

Joel menyeka air mata Hana dengan panik. Telapak tangannya yang hangat dan kering menangkup wajah Hana, sementara tatapannya penuh kekhawatiran dan kepedulian.

Tatapan penuh cinta itu seperti sebilah pisau pendek, tumpul tetapi menancap di jantung. Sakitnya membuat orang sulit melepaskan.

Akhirnya ....

"Ini pasti Bu Hana ya? Aku sering dengar Joel menyebutmu." Ruby berdiri di belakang Joel.

Tubuh Hana menegang. Dia tidak percaya, Joel benar-benar berani membawa wanita itu pulang, membawanya langsung ke hadapannya.

Joel tidak menyadari keanehannya. Dia melepaskan pelukannya, mundur selangkah, lalu berdiri di samping Ruby sambil memperkenalkan, "Hana, ini Ruby. Istri dari rekan seperjuanganku yang sudah tiada."

Istri dari rekan seperjuangan yang sudah tiada .... Ujung bibir Hana tertarik membentuk senyuman. Belum sempat dia bereaksi, seorang petugas berlari dengan wajah panik dan membisikkan sesuatu di telinga Joel.

Hana terus menatap Joel. Setelah mendengar laporan itu, dia segera berkata, "Hana, ada urusan mendesak di kesatuan. Kamu pulang sendiri dulu ya."

Setelah selesai berbicara, dia menarik Ruby naik ke mobil dan pergi begitu saja.

Joel membohonginya. Dia jelas-jelas mendengar kata "rumah sakit" dan "anak".

Hana sendiri tidak tahu mengapa dia membuntuti mereka sampai ke rumah sakit. Dia berdiri kaku di luar ruang rawat, mendengar Joel meluapkan amarahnya.

"Sudah setengah hari, kenapa demamnya belum juga turun? Anak ini ditusuk jarum berkali-kali baru bisa tepat. Kalian semua kerja pakai otak atau nggak sih?"

Kepala perawat rumah sakit, Miko, adalah sahabat baik Hana. Dia mengerutkan kening. "Joel, kamu sok apa sih di rumah sakit? Anak ini nggak mau diam saat disuntik, jadi harus ditusuk dua kali. Buat apa kamu lampiaskan amarah ke rekan kami?"

"Papa, aku sakit sekali ...." Wajah Ryu pucat. Air mata mengalir di pipinya, membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.

Ekspresi Joel langsung berubah. Dia memeluknya dengan lembut dan membujuknya. Miko seperti disambar petir, menatap pemandangan di depannya. Dia bahkan tidak berani percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Joel, anak ini panggil kamu apa?" Mata Miko menyala penuh amarah.

"Kamu nggak merasa bersalah pada Hana? Dulu demi menyelamatkanmu, dia sampai terluka parah dan kehilangan kemampuan untuk melahirkan. Kamu malah diam-diam memelihara perempuan dan anak di luar? Kamu bahkan berani membawa mereka ke hadapanku. Kamu nggak takut aku kasih tahu Hana?"

Udara membeku sesaat. Joel berucap dengan nada rendah, "Aku dan Ruby barulah suami istri yang sah. Kalau kamu benar-benar menginginkan yang terbaik untuk Hana, jangan beri tahu dia."

"Aku mencintai Hana, jadi aku menyembunyikannya. Tapi Keluarga Ariandra nggak boleh putus keturunan. Kamu sahabat Hana, tentu kamu juga nggak ingin dia terluka. Soal hari ini, aku yakin kamu tahu apa yang nggak boleh diucapkan."

"Kamu gila .... Kamu bahkan ingin aku membantumu menyembunyikannya dari Hana ...."

"Aku sudah melihat surat mutasi ayahmu. Kalau kamu ingin mutasinya berjalan lancar, kamu tahu harus berbuat apa." Tatapan Joel dingin dan tajam.

Kata-kata Miko tersangkut di tenggorokannya, tak bisa dilontarkan.

"Aku tahu aku yang nggak pantas untuk Joel, tapi anak kami nggak bersalah. Mohon rawat dia dengan sungguh-sungguh ...." Ruby terisak. Joel menarik tangannya dan memeluknya.

"Siapa yang berani menelantarkan anakku? Kamu juga, jangan hanya memikirkan anak. Tubuhmu sendiri juga harus dijaga. Nanti biar dokter resepkan vitamin untukmu. Kamu adalah pahlawan Keluarga Ariandra. Jangan katakan hal bodoh seperti itu lagi."

Hana melihat dari luar pintu. Joel menangkup wajah Ruby dengan gerakan lembut. Tatapan yang dia berikan pada Ruby sama persis dengan tatapan yang tadi dia berikan pada Hana di gerbang sekolah.

Dia mencintai Ruby dengan sepenuh hati. Lalu, dirinya? Di mana posisi Hana bagi Joel?

Hana akhirnya tak mampu menahan lagi. Dia terhuyung mundur dan tanpa sengaja menabrak gelas air yang dibawa seorang pasien yang lewat.

Air panas menyiram punggung tangannya, seketika memerah. Orang itu tidak terluka dan terus bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"

Hana seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Tanpa menoleh lagi, dia berlari keluar dari rumah sakit.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 17

    Hana baru keluar dari laboratorium malam itu. Seperti biasa, Kai ada di sisinya. Hampir setiap hari dia menunggu Hana pulang kerja bersama.Perasaan Kai pada Hana sudah menjadi hal yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan.Sejak pertemuan terakhir dengan Joel, Kai tidak lagi menyatakan perasaannya padanya. Karena Hana sudah mengatakan bahwa dia belum siap memulai hubungan baru, dia memilih untuk menunggu. Waktu masih panjang. Dia masih punya banyak waktu.Seperti biasanya, Kai mengantarnya sampai ke bawah gedung asrama."Besok pagi di kantin ada roti sayur kesukaanmu. Mau aku bawakan?"Mata Kai berbinar saat menatapnya, seperti anak anjing yang menggemaskan, membuat Hana sulit untuk mengucapkan penolakan."Boleh."Jawaban singkat Hana sudah cukup membuat hati Kai kegirangan. Di bawah cahaya bulan, punggung Kai yang menjauh tampak memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Setelah dia benar-benar pergi, Hana berbalik dan naik ke lantai atas. Dia pun tidak menyangka akan

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 16

    Hana terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh Joel. Bahkan sebelum otaknya sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu merespons.Ingatan otot yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya tanpa sadar mengangkat tangan. Jika saja dia tidak segera tersadar, mungkin kedua lengannya sudah melingkari pinggang pria itu.Kai terkejut oleh sosok yang tiba-tiba menerobos masuk. Dia segera bangkit dari tanah, bahkan tak sempat memedulikan debu yang menempel di wajahnya."Siapa kamu? Lepaskan dia!"Kai melayangkan pukulan ke arah Joel. Joel menghindar tanpa ragu, buru-buru melepaskan Hana dan membawanya ke samping, lalu membalas dengan pukulan yang lebih cepat.Keduanya terlibat perkelahian. Hana sempat berteriak dua kali dari samping, tetapi tidak berhasil menghentikan mereka. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu langsung menerobos ke tengah-tengah keduanya.Tinju Joel hampir mengenai dirinya. Saat dia melihat jelas mata Hana, tubuhnya terguncang hebat, tetapi sudah terlambat u

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 15

    Sejak eksperimen terakhir mengalami terobosan baru, Hana nyaris menghabiskan waktunya di laboratorium siang dan malam. Kadang, dia begitu sibuk sampai lupa makan.Pimpinan telah mengeluarkan perintah. Meskipun ingin bekerja lebih keras, para rekan di laboratorium tetap tidak boleh mengabaikan kesehatan diri sendiri. Karena itu, setiap sore Hana selalu diawasi oleh Kai untuk makan malam, lalu keluar dari laboratorium sebentar untuk menghirup udara segar.Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah sebulan dia berada di sini. Suhu di pegunungan rendah. Pakaiannya tipis, jadi tangannya selalu terasa dingin.Kai sangat perhatian. Dia khusus membuatkan penghangat tangan untuknya. Angin akhir musim gugur meniup dedaunan pohon-pohon. Salah satunya jatuh tepat di atas kepala Hana.Kai menatapnya dengan terpana, mengulurkan tangan ingin mengambil daun itu. Hana menyadari gerakannya dan refleks mundur selangkah."Aku hanya ingin membantumu mengambil daun yang jatuh." Suara Kai sangat pelan,

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 14

    Sebulan berlalu, Joel akhirnya menerima kenyataan bahwa Hana telah meninggal.Dia sudah mengajukan laporan perceraian dan kini menunggu persetujuan. Dalam hidupnya, dia hanya mengakui Hana sebagai istrinya.Papan arwah Hana selalu dia lap hingga mengilap. Di belakangnya diletakkan kotak abunya. Setiap hari, Joel menghabiskan waktu lama di sana bersamanya.Dia hendak mengajukan laporan ke atasan. Dia ingin dipindahkan kembali ke sini, ingin seumur hidup menjaga rumah yang pernah dia tempati bersama Hana. Selain itu, dia juga ingin menceraikan Ruby.Joel membawa berkas permohonan kerja yang sudah disiapkan ke kantor atasan. Atasan tidak ada di tempat. Seorang petugas menyuguhkan secangkir teh dan memintanya duduk menunggu.Saat hendak duduk, sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah surat di atas meja kerja. Tubuhnya langsung kaku. Dia perlahan melangkah mendekat dan melihat amplop di atas meja.Di bagian depan tertulis "Laporan Hasil Kerja Pusat Riset 403".Sorot mata Joel menajam, tatap

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 13

    Saat Hana terbangun, lingkungan di sekitarnya sudah sepenuhnya terasa asing.Dia menggerakkan punggung tangannya, merasakan cairan dingin mengalir masuk ke tubuhnya melalui pembuluh darah. Dia mengangkat kepala dan menatap sekeliling, seolah-olah masih belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.Ketika Kai masuk ke ruang rawat sambil membawa buah, barulah dia menyadari Hana sudah sadar. Dia segera meletakkan barang di tangannya, bergegas menghampiri, membantu Hana duduk, lalu menyusun bantal sandarannya dengan telaten."Ha ... Bu Hana, akhirnya kamu sadar. Ada bagian tubuh yang sakit? Aku panggilkan dokter ya," kata Kai, lalu berbalik keluar dengan cepat untuk memanggil dokter.Dokter segera datang, memeriksa kondisi Hana secara singkat, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyuruhnya beristirahat dengan baik.Hana menatap sinar matahari di luar jendela dan tanpa sadar menyipitkan mata. Dia teringat, dia berada di ruang tahanan. Ruby ingin membakarnya sampai mati, lalu rekan-rekan dari pus

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 12

    Joel memeluk kotak abu itu. Dia sendiri tidak tahu kapan dia akhirnya meninggalkan rumah duka, juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Hana.Begitu masuk, barulah dia menyadari banyak barang di rumah itu telah hilang. Di atas lemari, yang sebelumnya ada sebuah model kereta api kayu, barang yang paling berharga bagi Hana, kini juga sudah tidak ada. Mengingat hari ketika kereta api kayu itu rusak, hati Joel terasa seperti ditusuk puluhan ribu jarum dengan kejam.Tas pakaian Hana diletakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya tersimpan pakaian dan dokumen-dokumen.Jadi, dia memang ingin pergi. Dialah yang mengurungnya di ruang tahanan hingga menyebabkan kematiannya. Namun, kenapa ruang tahanan bisa terbakar? Jelas-jelas dia menyuruh Ruby untuk pergi memeriksa setiap hari.Joel tiba-tiba berdiri. "Ke rumah Keluarga Ariandra!"Petugas itu selalu mengikuti Joel. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan mobil di halaman.Saat kembali ke rumah Kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status