Share

Bab 4

Author: Atonim
Cengkeraman Joel semakin kuat. Hana berusaha melepaskan diri, tetapi dia tetap tidak mau melepaskan, terus menatap matanya dengan keras kepala. "Kamu mau ke mana?"

"Lepaskan. Aku mau ...." Hana meronta dengan sekuat tenaga. Dari sudut matanya, dia masih bisa melihat Joel memegang koper milik ibu dan anak itu. Pada detik berikutnya, kata-kata itu hampir saja terucap.

Saat itu, Ruby tiba-tiba mengulurkan tangannya. Satu tangannya diletakkan di punggung tangan Joel, tangan lainnya menekan lengan Hana. Dengan sedikit bantuan darinya, tangan Joel pun terlepas.

"Joel, kenapa kamu kasar sekali pada Bu Hana? Bu Hana mau ke sekolah, 'kan? Tenang saja, yang dirusak Ryu pasti akan kuganti."

"Nggak perlu," ujar Hana dengan dingin.

Dia menepis tangan Ruby, lalu berbalik dan keluar dari rumah. Dia berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak peduli, tetapi pikirannya justru tak terkendali, terus memutar ulang adegan Ruby dan Joel yang tadi saling menggenggam tangan dengan begitu akrab.

Begitu membayangkan pemandangan itu, perut Hana terasa mual, ingin muntah.

Sambil menahan rasa tidak nyaman, Hana merapikan progres belajar kelasnya, menuliskannya dengan teliti di buku catatan. Meskipun akan pergi, dia tetap ingin melakukan lebih banyak untuk para muridnya.

Sore harinya, dia masuk ke kelas. Awalnya, dia berniat memberi tahu para murid bahwa dia sudah mengundurkan diri dan akan segera pergi. Namun, tepat saat dia hendak berbicara, kepala sekolah mengetuk pintu dan menyelanya.

"Bu Hana, anak ini akan menumpang belajar di kelas ini beberapa hari. Pak Joel bilang dia kerabat jauh. Seharusnya dia sudah memberitahumu."

Kapur di tangan Hana patah. Getaran kecil yang disebabkan gesekan kuku dan kapur pun menjadi sangat sulit diabaikan karena kata-kata kepala sekolah itu.

Joel sama sekali tidak memberitahunya. Atau mungkin dia merasa kebohongannya sempurna? Bukan hanya membawa anak itu ke rumah, tetapi juga ke sekolah. Apakah Joel benar-benar menganggapnya bodoh?

Ryu dipimpin kepala sekolah duduk di kursi kosong di barisan paling belakang kelas. Hana menahan dirinya dengan sekuat tenaga.

Ini sekolah. Ryu adalah murid. Hana berbalik, memejamkan mata erat-erat, lalu kembali menulis di papan tulis dan mulai mengajar dengan tenang.

Di kelas, Ryu berkali-kali membuat keributan. Hana hanya menegurnya singkat. Menjelang akhir pelajaran, dia semakin keterlaluan. Dia menggunting sejumput rambut siswi di depannya.

"Ryu, ikut aku ke kantor!"

Saat ini sudah jam pulang sekolah. Di kantor tidak ada orang lain, hanya ada Hana dan Ryu.

Ini pertama kalinya Hana mengamati anak ini dengan saksama. Dia mewarisi postur tinggi Joel. Baru enam tahun, tetapi sudah lebih tinggi dari anak seusianya. Alis dan matanya pun persis seperti Joel.

Hana menarik napas dalam-dalam, terus mengingatkan dirinya bahwa anak itu tidak bersalah dan tidak seharusnya menjadi sasaran pelampiasannya. Yang salah adalah Joel, bukan orang lain.

"Besok suruh ibumu pindahkan kamu ke kelas bawah. Ini kelas tiga, kamu baru enam tahun, nggak akan bisa mengikuti pelajarannya."

Namun, ucapan Ryu berikutnya membuatnya tertegun. "Kamu bilang aku enam tahun? Aku sudah delapan tahun!"

Tangan Hana yang sedang membalik halaman berhenti. Kertas berdesir tertiup angin. Dia mengira dirinya salah dengar, lalu bertanya lagi dengan ekspresi kosong. "Delapan tahun?"

"Ya, aku delapan tahun!" Setelah berkata demikian, Ryu melihat Ruby masuk ke kantor. Dia berlari ke arah Ruby dengan gembira.

Ruby memeluknya, memeriksanya dengan saksama, lalu berjalan ke depan Hana. "Bu Hana, Ryu memang nakal. Biar aku yang mendisiplinkannya."

Sambil berkata begitu, dia mengambil penggaris segitiga di atas meja dan memukul pantat Ryu. Ryu menjerit kesakitan. Hana hanya merasa kepalanya semakin pusing. Di telinganya, kalimat "aku delapan tahun" terus berulang, sementara potongan-potongan masa lalu berputar di depan mata.

Saat menerima lamaran, Joel berlutut dengan satu kaki, memohon dengan penuh kesungguhan,

"Hana, aku akan menyayangimu, mencintaimu, dan menghormatimu seumur hidup. Menikahlah denganku."

Saat dia menghalangi sebilah pisau demi Joel dan terbangun di rumah sakit, tatapan Joel penuh rasa sakit. "Hana, meskipun kamu nggak bisa melahirkan, aku nggak akan meninggalkanmu."

Setiap kali Hana mengusulkan ikut dinas militer, Joel memeluknya dan berjanji dengan sungguh-sungguh, "Hana, aku nggak ingin kamu ikut menderita bersamaku. Tunggu sampai aku meraih pencapaian. Setelah itu, aku bisa dipindahkan kembali dan kita nggak akan pernah berpisah lagi."

Semua adegan penuh kasih itu buyar. Teriakan dan tangisan Ryu menarik Hana kembali ke kenyataan. Ryu berusia delapan tahun. Artinya, sejak awal Joel sudah membohonginya. Dia menipunya selama tujuh tahun.

Ruby mendorong dengan keras. Ryu menabrak meja dan kursi, lalu menghantam punggung kaki Hana. Hana mendadak berdiri. Perut bagian bawahnya tiba-tiba terasa sangat sakit hingga hampir membuatnya terjatuh. Dia mengangkat meja dan kursi itu sambil menahan rasa sakit, tetapi tersandung karena Ruby.

"Bu Hana, meskipun anak ini nakal, kamu nggak boleh memukulnya seperti itu," kata Ruby sambil menangis dan membantu Ryu berdiri.

"Ada apa ini?" Joel bergegas masuk ke kantor. Melihat pergelangan kaki Ryu yang bengkak, dia segera menggendongnya.

"Ini bukan salah Bu Hana. Ryu terlalu nakal, pantas kalau dipukul."

Hana belum pernah melihat orang yang berubah sikap secepat membalik halaman buku. Menahan rasa sakit di perutnya, dia berdiri. "Ryu, coba kamu yang bilang. Siapa yang memukulmu?"

Mata Ryu berputar, lalu dia menyembunyikan wajahnya di dada Joel. "Bu Hana yang memukulku."

Hana tidak menyangka anak itu akan berbohong. "Kamu bohong!"

"Cukup!" Joel membentak, "Dia hanya anak kecil, mana mungkin dia bohong? Hana, aku nggak nyangka kamu bisa memperlakukan muridmu seperti ini. Ke mana perginya etika gurumu?"

Hana tertegun. Rasa sakit di perut bawahnya semakin parah. Wajahnya pun semakin pucat. "Aku juga nggak nyangka kamu begitu peduli pada anak seorang rekan seperjuangan. Dia ini sebenarnya anak rekanmu atau ...."

"Ryu pingsan karena kesakitan! Cepat ke rumah sakit!" teriak Ruby. Joel menunduk melihat mata anak itu yang terpejam, lalu berbalik dan pergi dengan panik.

Menatap punggungnya yang menjauh, perut bawah Hana dilanda rasa sakit yang hebat. Dia tak sanggup bertahan dan roboh ke lantai.

Kebetulan seorang guru masuk ke kantor. Melihat Hana jatuh, dia segera berlari membantunya.

Hana hanya merasakan gelombang demi gelombang rasa sakit dari perutnya. Dia mencengkeram lengan pakaian rekan kerjanya. "Joel ... Joel baru saja keluar. Tolong panggil dia kembali. Suruh dia antar aku ke rumah sakit ...."

Rekan kerjanya segera berlari keluar. Hana belum pernah merasa waktu berjalan sepelan ini. Saat guru itu kembali, dia tetap sendirian.

"Pak Joel seperti lagi ada urusan mendesak. Dia pergi sebelum sempat dengar penjelasanku!"

Hana akhirnya tak sanggup lagi bertahan. Pandangannya menggelap. Dia benar-benar pingsan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 17

    Hana baru keluar dari laboratorium malam itu. Seperti biasa, Kai ada di sisinya. Hampir setiap hari dia menunggu Hana pulang kerja bersama.Perasaan Kai pada Hana sudah menjadi hal yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan.Sejak pertemuan terakhir dengan Joel, Kai tidak lagi menyatakan perasaannya padanya. Karena Hana sudah mengatakan bahwa dia belum siap memulai hubungan baru, dia memilih untuk menunggu. Waktu masih panjang. Dia masih punya banyak waktu.Seperti biasanya, Kai mengantarnya sampai ke bawah gedung asrama."Besok pagi di kantin ada roti sayur kesukaanmu. Mau aku bawakan?"Mata Kai berbinar saat menatapnya, seperti anak anjing yang menggemaskan, membuat Hana sulit untuk mengucapkan penolakan."Boleh."Jawaban singkat Hana sudah cukup membuat hati Kai kegirangan. Di bawah cahaya bulan, punggung Kai yang menjauh tampak memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Setelah dia benar-benar pergi, Hana berbalik dan naik ke lantai atas. Dia pun tidak menyangka akan

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 16

    Hana terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh Joel. Bahkan sebelum otaknya sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu merespons.Ingatan otot yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya tanpa sadar mengangkat tangan. Jika saja dia tidak segera tersadar, mungkin kedua lengannya sudah melingkari pinggang pria itu.Kai terkejut oleh sosok yang tiba-tiba menerobos masuk. Dia segera bangkit dari tanah, bahkan tak sempat memedulikan debu yang menempel di wajahnya."Siapa kamu? Lepaskan dia!"Kai melayangkan pukulan ke arah Joel. Joel menghindar tanpa ragu, buru-buru melepaskan Hana dan membawanya ke samping, lalu membalas dengan pukulan yang lebih cepat.Keduanya terlibat perkelahian. Hana sempat berteriak dua kali dari samping, tetapi tidak berhasil menghentikan mereka. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu langsung menerobos ke tengah-tengah keduanya.Tinju Joel hampir mengenai dirinya. Saat dia melihat jelas mata Hana, tubuhnya terguncang hebat, tetapi sudah terlambat u

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 15

    Sejak eksperimen terakhir mengalami terobosan baru, Hana nyaris menghabiskan waktunya di laboratorium siang dan malam. Kadang, dia begitu sibuk sampai lupa makan.Pimpinan telah mengeluarkan perintah. Meskipun ingin bekerja lebih keras, para rekan di laboratorium tetap tidak boleh mengabaikan kesehatan diri sendiri. Karena itu, setiap sore Hana selalu diawasi oleh Kai untuk makan malam, lalu keluar dari laboratorium sebentar untuk menghirup udara segar.Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah sebulan dia berada di sini. Suhu di pegunungan rendah. Pakaiannya tipis, jadi tangannya selalu terasa dingin.Kai sangat perhatian. Dia khusus membuatkan penghangat tangan untuknya. Angin akhir musim gugur meniup dedaunan pohon-pohon. Salah satunya jatuh tepat di atas kepala Hana.Kai menatapnya dengan terpana, mengulurkan tangan ingin mengambil daun itu. Hana menyadari gerakannya dan refleks mundur selangkah."Aku hanya ingin membantumu mengambil daun yang jatuh." Suara Kai sangat pelan,

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 14

    Sebulan berlalu, Joel akhirnya menerima kenyataan bahwa Hana telah meninggal.Dia sudah mengajukan laporan perceraian dan kini menunggu persetujuan. Dalam hidupnya, dia hanya mengakui Hana sebagai istrinya.Papan arwah Hana selalu dia lap hingga mengilap. Di belakangnya diletakkan kotak abunya. Setiap hari, Joel menghabiskan waktu lama di sana bersamanya.Dia hendak mengajukan laporan ke atasan. Dia ingin dipindahkan kembali ke sini, ingin seumur hidup menjaga rumah yang pernah dia tempati bersama Hana. Selain itu, dia juga ingin menceraikan Ruby.Joel membawa berkas permohonan kerja yang sudah disiapkan ke kantor atasan. Atasan tidak ada di tempat. Seorang petugas menyuguhkan secangkir teh dan memintanya duduk menunggu.Saat hendak duduk, sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah surat di atas meja kerja. Tubuhnya langsung kaku. Dia perlahan melangkah mendekat dan melihat amplop di atas meja.Di bagian depan tertulis "Laporan Hasil Kerja Pusat Riset 403".Sorot mata Joel menajam, tatap

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 13

    Saat Hana terbangun, lingkungan di sekitarnya sudah sepenuhnya terasa asing.Dia menggerakkan punggung tangannya, merasakan cairan dingin mengalir masuk ke tubuhnya melalui pembuluh darah. Dia mengangkat kepala dan menatap sekeliling, seolah-olah masih belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.Ketika Kai masuk ke ruang rawat sambil membawa buah, barulah dia menyadari Hana sudah sadar. Dia segera meletakkan barang di tangannya, bergegas menghampiri, membantu Hana duduk, lalu menyusun bantal sandarannya dengan telaten."Ha ... Bu Hana, akhirnya kamu sadar. Ada bagian tubuh yang sakit? Aku panggilkan dokter ya," kata Kai, lalu berbalik keluar dengan cepat untuk memanggil dokter.Dokter segera datang, memeriksa kondisi Hana secara singkat, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyuruhnya beristirahat dengan baik.Hana menatap sinar matahari di luar jendela dan tanpa sadar menyipitkan mata. Dia teringat, dia berada di ruang tahanan. Ruby ingin membakarnya sampai mati, lalu rekan-rekan dari pus

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 12

    Joel memeluk kotak abu itu. Dia sendiri tidak tahu kapan dia akhirnya meninggalkan rumah duka, juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Hana.Begitu masuk, barulah dia menyadari banyak barang di rumah itu telah hilang. Di atas lemari, yang sebelumnya ada sebuah model kereta api kayu, barang yang paling berharga bagi Hana, kini juga sudah tidak ada. Mengingat hari ketika kereta api kayu itu rusak, hati Joel terasa seperti ditusuk puluhan ribu jarum dengan kejam.Tas pakaian Hana diletakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya tersimpan pakaian dan dokumen-dokumen.Jadi, dia memang ingin pergi. Dialah yang mengurungnya di ruang tahanan hingga menyebabkan kematiannya. Namun, kenapa ruang tahanan bisa terbakar? Jelas-jelas dia menyuruh Ruby untuk pergi memeriksa setiap hari.Joel tiba-tiba berdiri. "Ke rumah Keluarga Ariandra!"Petugas itu selalu mengikuti Joel. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan mobil di halaman.Saat kembali ke rumah Kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status