Share

Bab 7

Author: Atonim
Hana bahkan belum sempat mencerna apa yang dikatakannya, Joel sudah lebih dulu menarik Ruby berdiri. Namun, Ruby yang menangis masih ingin berlutut. Joel pun setengah menyeret setengah memeluknya, barulah berhasil menghentikannya.

"Hana, seberapa besar pun kamu membenciku, kamu nggak seharusnya menyentuh seorang anak. Katakan padaku, di mana Ryu? Ruby nggak akan mempermasalahkannya."

Suara Joel cukup keras untuk didengar semua orang di gerbang sekolah. Beragam tatapan tertuju pada Hana. Hana hanya bisa berpura-pura tidak melihat apa-apa. Dia mengangkat kepala dan menegakkan dadanya, lalu menatap mata Joel.

"Aku nggak tahu apa yang kalian bicarakan. Seharian ini aku nggak melihat Ryu."

"Bu Hana, aku tahu kamu nggak bisa punya anak, jadi nggak tahan melihat Ryu tinggal di rumah Joel. Tapi anak itu nggak bersalah. Di mana kamu menyembunyikannya? Kumohon, beri tahu aku ...."

Ruby melepaskan diri dari Joel dan mencengkeram lengan Hana dengan keras. Kuku-kukunya menancap ke daging. Hana mengerutkan kening dan mundur. Belum sempat menepisnya, sebuah tamparan sudah mendarat di wajahnya.

"Perempuan jalang! Nggak bisa melahirkan anak saja sudah cukup memalukan. Bertahun-tahun ini masih terus menempeli Joel. Cepat katakan! Di mana kamu sembunyikan cucuku? Kalau dia terluka sedikit saja, aku nggak akan melepaskanmu!"

Hana tersungkur ke tanah akibat tamparan itu. Sudut bibirnya langsung bengkak. Dia menatap ibu Joel yang berkacak pinggang sambil memaki, menatap pandangan orang-orang di sekeliling yang perlahan berubah menjadi hinaan. Hatinya mendingin sedikit demi sedikit.

"Aku nggak menyembunyikannya."

Joel menundukkan pandangan, berjalan ke sisi Hana. Baru saja dia mengulurkan tangan, terdengar teriakan bersemangat dari seorang petugas. "Ketemu! Ketemu!"

Semua orang menoleh ke arah petugas itu. Dia menggendong Ryu yang seluruh tubuhnya berlumur lumpur kuning. Melihatnya, Joel berlari menghampiri, mengulurkan tangan, dan menggendong Ryu. Dia memeriksa dari atas ke bawah dengan teliti. Setelah memastikan anak itu tidak terluka, dia pun menghela napas lega.

Ruby juga segera maju. "Kamu hampir membuat Mama mati ketakutan! Lain kali masih berani ikut orang sembarangan? Cepat katakan, siapa yang menculikmu!"

"Dia! Dia yang menangkapku, lalu membuangku ke bukit belakang!" Ryu menunjuk Hana yang tergeletak di tanah sambil berteriak keras.

Begitu mendengarnya, ibu Joel langsung berkata, "Bawa dia ke ruang tahanan! Biarkan dia merenung beberapa hari!"

Saat berikutnya, dua orang maju dan menarik Hana berdiri dengan kasar, lalu menyeretnya pergi. Melihat wajah Hana yang pucat, mata Joel menegang. "Ibu, jangan ...."

"Hanya menyuruhnya merenung beberapa hari. Kalau berbuat salah, harus dihukum."

Hana berkata, "Aku sudah bilang ini nggak ada hubungannya denganku."

Joel membelakanginya dan tak lagi menatapnya. Suaranya rendah. "Kalau berbuat salah, harus dihukum. Setelah kamu selesai merenung, aku akan menjemputmu keluar."

Sisa harapan paling tersembunyi di hati Hana pun lenyap tanpa jejak pada saat ini. Dia dilempar ke dalam ruang tahanan yang sempit. Setiap hari dia meringkuk di sudut dinding, menatap cahaya yang masuk dari jendela besi kecil itu.

Sudah tiga hari berlalu. Joel tidak datang sekali pun. Setiap hari, makanan yang dibagikan menguar bau asam yang menyengat. Dia tidak menyentuhnya sedikit pun, hanya menatap cahaya di luar jendela sambil berdoa agar waktu berlalu lebih cepat.

Pada malam hari di hari keempat, dinding ruang tahanan diketuk.

"Hana, sekarang kamu tahu 'kan, di hati Joel, siapa yang lebih penting? Kamu nggak akan bisa mengalahkanku."

Suara Ruby yang penuh kemenangan menembus jendela besi. Hana menarik sudut bibirnya dengan lemah, tidak ingin berdebat dengannya.

"Jangan kira karena bersembunyi di dalam dan diam saja, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan. Aku nggak akan memberimu kesempatan lagi untuk merebut Joel. Hana, mati saja kamu!"

Ruby membakar jerami kering dan melemparkannya ke dalam ruangan melalui jendela besi. Api kian membesar. Hana merangkak ke arah pintu, menghantam dengan keras sambil berteriak. Namun, tidak satu pun orang merespons.

Entah sudah berapa lama berlalu, tepat ketika dia mengira dirinya akan terkubur di lautan api, pintu ruang tahanan didobrak hingga terbuka.

"Kami dari Pusat Riset 403. Proyek dimajukan dan malam ini juga harus berangkat. Organisasi akan merekayasa kematianmu akibat terbakar agar memudahkan penghapusan identitas."

Hana ditopang oleh seorang rekan dan dibawa naik ke mobil, menjauh dari lautan api. Dia terengah-engah menghirup udara.

Mobil mulai melaju. Cahaya api di kaca spion semakin menjauh. Dia pun akhirnya tak sanggup bertahan dan pingsan. Pada detik sebelum kehilangan kesadaran, sudut bibirnya terangkat samar.

Mulai saat ini, dia memperoleh kehidupan baru. 'Joel, kita nggak akan pernah bertemu lagi.'
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 17

    Hana baru keluar dari laboratorium malam itu. Seperti biasa, Kai ada di sisinya. Hampir setiap hari dia menunggu Hana pulang kerja bersama.Perasaan Kai pada Hana sudah menjadi hal yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan.Sejak pertemuan terakhir dengan Joel, Kai tidak lagi menyatakan perasaannya padanya. Karena Hana sudah mengatakan bahwa dia belum siap memulai hubungan baru, dia memilih untuk menunggu. Waktu masih panjang. Dia masih punya banyak waktu.Seperti biasanya, Kai mengantarnya sampai ke bawah gedung asrama."Besok pagi di kantin ada roti sayur kesukaanmu. Mau aku bawakan?"Mata Kai berbinar saat menatapnya, seperti anak anjing yang menggemaskan, membuat Hana sulit untuk mengucapkan penolakan."Boleh."Jawaban singkat Hana sudah cukup membuat hati Kai kegirangan. Di bawah cahaya bulan, punggung Kai yang menjauh tampak memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Setelah dia benar-benar pergi, Hana berbalik dan naik ke lantai atas. Dia pun tidak menyangka akan

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 16

    Hana terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh Joel. Bahkan sebelum otaknya sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu merespons.Ingatan otot yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya tanpa sadar mengangkat tangan. Jika saja dia tidak segera tersadar, mungkin kedua lengannya sudah melingkari pinggang pria itu.Kai terkejut oleh sosok yang tiba-tiba menerobos masuk. Dia segera bangkit dari tanah, bahkan tak sempat memedulikan debu yang menempel di wajahnya."Siapa kamu? Lepaskan dia!"Kai melayangkan pukulan ke arah Joel. Joel menghindar tanpa ragu, buru-buru melepaskan Hana dan membawanya ke samping, lalu membalas dengan pukulan yang lebih cepat.Keduanya terlibat perkelahian. Hana sempat berteriak dua kali dari samping, tetapi tidak berhasil menghentikan mereka. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu langsung menerobos ke tengah-tengah keduanya.Tinju Joel hampir mengenai dirinya. Saat dia melihat jelas mata Hana, tubuhnya terguncang hebat, tetapi sudah terlambat u

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 15

    Sejak eksperimen terakhir mengalami terobosan baru, Hana nyaris menghabiskan waktunya di laboratorium siang dan malam. Kadang, dia begitu sibuk sampai lupa makan.Pimpinan telah mengeluarkan perintah. Meskipun ingin bekerja lebih keras, para rekan di laboratorium tetap tidak boleh mengabaikan kesehatan diri sendiri. Karena itu, setiap sore Hana selalu diawasi oleh Kai untuk makan malam, lalu keluar dari laboratorium sebentar untuk menghirup udara segar.Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah sebulan dia berada di sini. Suhu di pegunungan rendah. Pakaiannya tipis, jadi tangannya selalu terasa dingin.Kai sangat perhatian. Dia khusus membuatkan penghangat tangan untuknya. Angin akhir musim gugur meniup dedaunan pohon-pohon. Salah satunya jatuh tepat di atas kepala Hana.Kai menatapnya dengan terpana, mengulurkan tangan ingin mengambil daun itu. Hana menyadari gerakannya dan refleks mundur selangkah."Aku hanya ingin membantumu mengambil daun yang jatuh." Suara Kai sangat pelan,

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 14

    Sebulan berlalu, Joel akhirnya menerima kenyataan bahwa Hana telah meninggal.Dia sudah mengajukan laporan perceraian dan kini menunggu persetujuan. Dalam hidupnya, dia hanya mengakui Hana sebagai istrinya.Papan arwah Hana selalu dia lap hingga mengilap. Di belakangnya diletakkan kotak abunya. Setiap hari, Joel menghabiskan waktu lama di sana bersamanya.Dia hendak mengajukan laporan ke atasan. Dia ingin dipindahkan kembali ke sini, ingin seumur hidup menjaga rumah yang pernah dia tempati bersama Hana. Selain itu, dia juga ingin menceraikan Ruby.Joel membawa berkas permohonan kerja yang sudah disiapkan ke kantor atasan. Atasan tidak ada di tempat. Seorang petugas menyuguhkan secangkir teh dan memintanya duduk menunggu.Saat hendak duduk, sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah surat di atas meja kerja. Tubuhnya langsung kaku. Dia perlahan melangkah mendekat dan melihat amplop di atas meja.Di bagian depan tertulis "Laporan Hasil Kerja Pusat Riset 403".Sorot mata Joel menajam, tatap

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 13

    Saat Hana terbangun, lingkungan di sekitarnya sudah sepenuhnya terasa asing.Dia menggerakkan punggung tangannya, merasakan cairan dingin mengalir masuk ke tubuhnya melalui pembuluh darah. Dia mengangkat kepala dan menatap sekeliling, seolah-olah masih belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.Ketika Kai masuk ke ruang rawat sambil membawa buah, barulah dia menyadari Hana sudah sadar. Dia segera meletakkan barang di tangannya, bergegas menghampiri, membantu Hana duduk, lalu menyusun bantal sandarannya dengan telaten."Ha ... Bu Hana, akhirnya kamu sadar. Ada bagian tubuh yang sakit? Aku panggilkan dokter ya," kata Kai, lalu berbalik keluar dengan cepat untuk memanggil dokter.Dokter segera datang, memeriksa kondisi Hana secara singkat, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyuruhnya beristirahat dengan baik.Hana menatap sinar matahari di luar jendela dan tanpa sadar menyipitkan mata. Dia teringat, dia berada di ruang tahanan. Ruby ingin membakarnya sampai mati, lalu rekan-rekan dari pus

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 12

    Joel memeluk kotak abu itu. Dia sendiri tidak tahu kapan dia akhirnya meninggalkan rumah duka, juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Hana.Begitu masuk, barulah dia menyadari banyak barang di rumah itu telah hilang. Di atas lemari, yang sebelumnya ada sebuah model kereta api kayu, barang yang paling berharga bagi Hana, kini juga sudah tidak ada. Mengingat hari ketika kereta api kayu itu rusak, hati Joel terasa seperti ditusuk puluhan ribu jarum dengan kejam.Tas pakaian Hana diletakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya tersimpan pakaian dan dokumen-dokumen.Jadi, dia memang ingin pergi. Dialah yang mengurungnya di ruang tahanan hingga menyebabkan kematiannya. Namun, kenapa ruang tahanan bisa terbakar? Jelas-jelas dia menyuruh Ruby untuk pergi memeriksa setiap hari.Joel tiba-tiba berdiri. "Ke rumah Keluarga Ariandra!"Petugas itu selalu mengikuti Joel. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan mobil di halaman.Saat kembali ke rumah Kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status