Share

Bab 6

Author: Atonim
Prosedur aborsi itu berlangsung sangat cepat. Hana merasa dirinya hanya tidur sebentar. Ketika terbangun, sudah ada sesuatu yang menghilang dari tubuhnya, seolah-olah hal itu tidak pernah ada sejak awal.

Joel tidak kembali lagi ke rumah sakit. Keesokan harinya, Hana keluar dari rumah sakit sendirian dan pulang ke rumah. Pintu rumah tidak tertutup rapat. Sebelum masuk, Hana sudah melihat Joel dan Ruby berpelukan di dalam.

Napas Ruby terengah-engah. "Joel, ini masih siang hari ...."

Suara Joel rendah. "Kenapa memangnya? Anak sudah pergi ke sekolah, kamu takut apa? Bukannya kamu yang merayuku?"

Hana seolah-olah terpaku di tempat, kakinya tak bisa bergerak. Di dalam rumah, Joel sudah tak sabar lagi. Dia menggenggam tangan Ruby dan meletakkannya di ikat pinggangnya sendiri. Suaranya serak. "Ayo, buka."

Hana seperti menyiksa dirinya sendiri dengan terus menatap. Matanya sudah perih dan hatinya pun nyeri, tetapi dia tetap berdiri kaku di tempat.

Urat-urat di lengan Joel menonjol, telinganya memerah. Bahu dan punggungnya yang lebar hampir sepenuhnya menyelimuti Ruby. Wajahnya saat larut dalam gairah .... Hana mengenalnya terlalu baik.

Begitu terlintas di benaknya bahwa Joel juga pernah menemani dirinya dengan penampilan seperti itu di malam yang tak terhitung jumlahnya, rasa mual yang tak tertahankan menyerbu Hana.

Suara muntah memutuskan suasana di dalam rumah. Joel tersadar, cepat-cepat merapikan pakaiannya, lalu berjalan ke arah pintu dan mendapati Hana menangis tersedu-sedu sambil muntah kosong dengan kesakitan.

Dia mengulurkan tangan dan merangkul bahunya. "Kenapa, Hana? Bukannya kamu masih di rumah sakit?"

Kehangatan telapak tangannya menembus kain pakaian, tetapi Hana tak kuasa menahan diri untuk menggigil. Dia mundur selangkah dan menepis tangannya. "Jangan sentuh aku! Jijik!"

Pandangan Hana menggelap. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Saat dia hampir jatuh, Joel segera merangkulnya.

"Hana, meskipun kamu marah padaku, kamu tetap harus menjaga kondisi tubuhmu. Ini salahku. Nggak ada hubungannya dengan Ruby. Karena kamu sudah melihatnya, aku nggak akan banyak bicara. Bertahun-tahun ini, Ruby sudah banyak menderita. Kamu boleh pukul atau marah padaku. Aku terima."

Hana pernah membayangkan saat Joel tahu bahwa dirinya mengetahui kebenarannya, mungkin Joel akan memeluknya dan terus mengakui kesalahan, mungkin berlutut memohon pengampunan .... Namun, dia sama sekali tak pernah membayangkan sikap yang seperti ini.

Di matanya mungkin ada secuil rasa bersalah, tetapi dia justru mengucapkan kata-kata seperti itu dengan begitu percaya diri.

Kekecewaan Hana mencapai puncak pada saat ini. Karena terlalu kecewa, dia justru menjadi tenang. "Kalian lanjutkan saja. Aku pulang untuk ambil sesuatu. Aku masih harus ke sekolah."

Ketenangannya membuat Joel merasa kesal. Dia menarik Hana dengan kasar. "Hana, kamu mau aku bagaimana lagi? Kamu nggak bisa punya anak. Selama bertahun-tahun ini, aku setia padamu. Apa itu belum cukup? Siapa yang nggak tahu betapa baiknya aku padamu?"

"Kamu sudah hampir 30. Kalau kamu meninggalkanku, siapa yang mau sama kamu? Kalau kamu mencintaiku, bukankah seharusnya kamu bisa menoleransi orang-orang di sekitarku? Aku hanya melakukan kesalahan yang semua pria bisa lakukan. Apa kamu nggak bisa memaafkanku sekali saja?"

"Benar! Semua ini salahku sendiri. Memangnya apa salahmu? Yang salah itu aku. Aku yang salah menilai orang. Dulu aku seharusnya nggak menghalangi pisau itu untukmu!" Kata-kata itu terucap. Hati Hana kembali tercabik-cabik.

Melihat tatapannya yang sarat duka, hati Joel terasa perih. Dia menyesali ucapannya yang tidak dijaga dengan baik, lalu melunakkan sikapnya untuk membujuk. "Aku tadi kehilangan akal. Hana, maafkan aku. Kamu mau ke sekolah, 'kan? Aku antar."

Hana mengabaikannya dan pergi begitu saja. Joel mengikuti dari dekat. Di jalan, mereka bertemu tetangga. Selalu saja terdengar kalimat "Pak Joel memang sayang sekali pada istrinya, setiap hari antar jemput Bu Hana".

Ucapan seperti itu sudah cukup sering didengar Hana selama bertahun-tahun ini. Dulu setiap kali mendengarnya, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Cinta Joel padanya diketahui semua orang. Namun sekarang, kata-kata itu terdengar sangat menyindir.

Sepanjang jalan, Hana tidak berkata apa-apa. Setibanya di gerbang sekolah, Joel memeluknya dengan paksa. "Urusan kita, kita bicarakan nanti malam. Setelah pulang sekolah, aku jemput."

Hana menolak dengan dingin, "Nggak perlu."

Hana datang ke sekolah hari ini untuk serah terima dengan guru baru. Guru baru itu sudah mulai mengajar. Hari ini, Hana tidak perlu masuk kelas dan hanya membereskan berkas di kantor.

Waktu pulang sekolah sudah berlalu beberapa saat. Hana menyerahkan semua barang kepada guru baru.

Tinggal tujuh hari lagi. Tujuh hari kemudian, dia akan meninggalkan tempat ini.

Saat berjalan ke gerbang sekolah, tanpa sadar dia menoleh ke arah bawah pohon itu. Setelah tersadar, dia tersenyum, mengejek dirinya sendiri. Ingatan otot benar-benar menakutkan. Bertahun-tahun ini, setiap kali Joel kembali, dia selalu menunggunya pulang di bawah pohon itu.

Hana sedang melamun ketika Ruby tiba-tiba muncul. Dia mencengkeram lengan Hana, lalu berlutut di hadapannya.

"Bu Hana, kalau kamu nggak menyukaiku, aku akan pergi. Tapi kamu nggak boleh mencelakai anakku. Dia adalah nyawaku!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 17

    Hana baru keluar dari laboratorium malam itu. Seperti biasa, Kai ada di sisinya. Hampir setiap hari dia menunggu Hana pulang kerja bersama.Perasaan Kai pada Hana sudah menjadi hal yang dipahami semua orang tanpa perlu diucapkan.Sejak pertemuan terakhir dengan Joel, Kai tidak lagi menyatakan perasaannya padanya. Karena Hana sudah mengatakan bahwa dia belum siap memulai hubungan baru, dia memilih untuk menunggu. Waktu masih panjang. Dia masih punya banyak waktu.Seperti biasanya, Kai mengantarnya sampai ke bawah gedung asrama."Besok pagi di kantin ada roti sayur kesukaanmu. Mau aku bawakan?"Mata Kai berbinar saat menatapnya, seperti anak anjing yang menggemaskan, membuat Hana sulit untuk mengucapkan penolakan."Boleh."Jawaban singkat Hana sudah cukup membuat hati Kai kegirangan. Di bawah cahaya bulan, punggung Kai yang menjauh tampak memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Setelah dia benar-benar pergi, Hana berbalik dan naik ke lantai atas. Dia pun tidak menyangka akan

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 16

    Hana terpaku di tempat. Seluruh tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh Joel. Bahkan sebelum otaknya sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu merespons.Ingatan otot yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya tanpa sadar mengangkat tangan. Jika saja dia tidak segera tersadar, mungkin kedua lengannya sudah melingkari pinggang pria itu.Kai terkejut oleh sosok yang tiba-tiba menerobos masuk. Dia segera bangkit dari tanah, bahkan tak sempat memedulikan debu yang menempel di wajahnya."Siapa kamu? Lepaskan dia!"Kai melayangkan pukulan ke arah Joel. Joel menghindar tanpa ragu, buru-buru melepaskan Hana dan membawanya ke samping, lalu membalas dengan pukulan yang lebih cepat.Keduanya terlibat perkelahian. Hana sempat berteriak dua kali dari samping, tetapi tidak berhasil menghentikan mereka. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu langsung menerobos ke tengah-tengah keduanya.Tinju Joel hampir mengenai dirinya. Saat dia melihat jelas mata Hana, tubuhnya terguncang hebat, tetapi sudah terlambat u

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 15

    Sejak eksperimen terakhir mengalami terobosan baru, Hana nyaris menghabiskan waktunya di laboratorium siang dan malam. Kadang, dia begitu sibuk sampai lupa makan.Pimpinan telah mengeluarkan perintah. Meskipun ingin bekerja lebih keras, para rekan di laboratorium tetap tidak boleh mengabaikan kesehatan diri sendiri. Karena itu, setiap sore Hana selalu diawasi oleh Kai untuk makan malam, lalu keluar dari laboratorium sebentar untuk menghirup udara segar.Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, sudah sebulan dia berada di sini. Suhu di pegunungan rendah. Pakaiannya tipis, jadi tangannya selalu terasa dingin.Kai sangat perhatian. Dia khusus membuatkan penghangat tangan untuknya. Angin akhir musim gugur meniup dedaunan pohon-pohon. Salah satunya jatuh tepat di atas kepala Hana.Kai menatapnya dengan terpana, mengulurkan tangan ingin mengambil daun itu. Hana menyadari gerakannya dan refleks mundur selangkah."Aku hanya ingin membantumu mengambil daun yang jatuh." Suara Kai sangat pelan,

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 14

    Sebulan berlalu, Joel akhirnya menerima kenyataan bahwa Hana telah meninggal.Dia sudah mengajukan laporan perceraian dan kini menunggu persetujuan. Dalam hidupnya, dia hanya mengakui Hana sebagai istrinya.Papan arwah Hana selalu dia lap hingga mengilap. Di belakangnya diletakkan kotak abunya. Setiap hari, Joel menghabiskan waktu lama di sana bersamanya.Dia hendak mengajukan laporan ke atasan. Dia ingin dipindahkan kembali ke sini, ingin seumur hidup menjaga rumah yang pernah dia tempati bersama Hana. Selain itu, dia juga ingin menceraikan Ruby.Joel membawa berkas permohonan kerja yang sudah disiapkan ke kantor atasan. Atasan tidak ada di tempat. Seorang petugas menyuguhkan secangkir teh dan memintanya duduk menunggu.Saat hendak duduk, sudut matanya tiba-tiba menangkap sebuah surat di atas meja kerja. Tubuhnya langsung kaku. Dia perlahan melangkah mendekat dan melihat amplop di atas meja.Di bagian depan tertulis "Laporan Hasil Kerja Pusat Riset 403".Sorot mata Joel menajam, tatap

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 13

    Saat Hana terbangun, lingkungan di sekitarnya sudah sepenuhnya terasa asing.Dia menggerakkan punggung tangannya, merasakan cairan dingin mengalir masuk ke tubuhnya melalui pembuluh darah. Dia mengangkat kepala dan menatap sekeliling, seolah-olah masih belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.Ketika Kai masuk ke ruang rawat sambil membawa buah, barulah dia menyadari Hana sudah sadar. Dia segera meletakkan barang di tangannya, bergegas menghampiri, membantu Hana duduk, lalu menyusun bantal sandarannya dengan telaten."Ha ... Bu Hana, akhirnya kamu sadar. Ada bagian tubuh yang sakit? Aku panggilkan dokter ya," kata Kai, lalu berbalik keluar dengan cepat untuk memanggil dokter.Dokter segera datang, memeriksa kondisi Hana secara singkat, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu menyuruhnya beristirahat dengan baik.Hana menatap sinar matahari di luar jendela dan tanpa sadar menyipitkan mata. Dia teringat, dia berada di ruang tahanan. Ruby ingin membakarnya sampai mati, lalu rekan-rekan dari pus

  • Pernikahan Semu yang Berawal Dari Kebohongan   Bab 12

    Joel memeluk kotak abu itu. Dia sendiri tidak tahu kapan dia akhirnya meninggalkan rumah duka, juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Hana.Begitu masuk, barulah dia menyadari banyak barang di rumah itu telah hilang. Di atas lemari, yang sebelumnya ada sebuah model kereta api kayu, barang yang paling berharga bagi Hana, kini juga sudah tidak ada. Mengingat hari ketika kereta api kayu itu rusak, hati Joel terasa seperti ditusuk puluhan ribu jarum dengan kejam.Tas pakaian Hana diletakkan di sisi tempat tidur. Di dalamnya tersimpan pakaian dan dokumen-dokumen.Jadi, dia memang ingin pergi. Dialah yang mengurungnya di ruang tahanan hingga menyebabkan kematiannya. Namun, kenapa ruang tahanan bisa terbakar? Jelas-jelas dia menyuruh Ruby untuk pergi memeriksa setiap hari.Joel tiba-tiba berdiri. "Ke rumah Keluarga Ariandra!"Petugas itu selalu mengikuti Joel. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan mobil di halaman.Saat kembali ke rumah Kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status