Se connecterMobil sedan berwarna hitam itu berhenti tepat di halaman rumah keluarga Maheswara.
Bianca menarik napas lega sebelum membuka pintu mobil. Semalaman ia berada di hotel bersama Damian. Ia sama sekali tidak terburu-buru pulang karena yakin Alexander masih berada di luar negeri untuk perjalanan bisnisnya. Sudah hampir dua tahun sejak pria itu meninggalkan Indonesia. Selama itu pula, rumah megah ini terasa lebih seperti tempat singgah daripada rumah tangga. Bianca merapikan rambutnya menggunakan kamera ponsel, memastikan tidak ada bekas yang mencurigakan. Setelah merasa penampilannya kembali rapi, ia melangkah masuk dengan wajah setenang mungkin. Klik. Pintu utama terbuka. “Selamat pagi, Nona Bianca.” Sapaan para pelayan membuat Bianca mengangguk singkat. Namun, baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Tubuhnya membeku. Seorang pria tengah duduk dengan tenang di sofa, kaki jenjangnya menyilang elegan. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sempurna, sementara sebuah tablet berada di tangannya. Deg. Jantung Bianca seolah berhenti berdetak. "Alexander...?" Pria itu hanya mengangkat pandangan sekilas. Wajah tampannya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. Setelah itu, ia kembali mengalihkan perhatian pada tablet di tangannya, seolah kemunculan Bianca bukan sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Bianca menelan ludah. "K-kapan kamu pulang?" "Semalam." Jawabannya singkat. Bianca memaksakan senyum. "Aku kira perjalanan bisnismu masih seminggu lagi." "Ada perubahan jadwal." Lagi-lagi hanya jawaban pendek. Suasana mendadak terasa canggung, Bianca mengepalkan jemarinya di balik tas tangan. Entah mengapa, tatapan Alexander yang dingin jauh lebih membuatnya gugup daripada kemarahan. "Aku... semalam menginap di rumah Mama." ucapnya cepat. "Mama tiba-tiba kurang enak badan, jadi aku memutuskan menemaninya." Alexander tidak memberikan respons. Melihat pria itu tetap diam, Bianca kembali melanjutkan penjelasannya. "Tadi pagi kondisinya sudah membaik. Makanya aku langsung pulang." Hening. Alexander akhirnya meletakkan tablet di atas meja, lalu berdiri dari sofa. Tubuhnya yang tinggi membuat Bianca tanpa sadar sedikit mendongak. "Apa... kamu marah?" tanya Bianca hati-hati. Alexander menatapnya beberapa detik. "Lalu menurutmu?" Bianca langsung menundukkan kepala. "Aku cuma takut kamu salah paham." "Tidak." Bianca mengangkat wajahnya kembali. "Aku tidak salah paham." Sorot mata Bianca seketika dipenuhi harapan. Namun harapan itu runtuh pada kalimat Alexander berikutnya. "Aku memang tidak peduli." Kalimat itu diucapkan begitu datar, tanpa nada mengejek ataupun emosi. Seolah keberadaan Bianca, ke mana wanita itu pergi, bahkan dengan siapa ia menghabiskan malamnya... sama sekali tidak memiliki arti baginya. Alexander merapikan manset kemejanya. "Selama namamu masih menyandang nama Maheswara, jangan buat masalah yang mencoreng keluarga." Setelah mengatakan itu, Alexander melangkah melewati Bianca tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tenang menuju ruang makan, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi. Tak lama kemudian, seorang pelayan tua yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga Maheswara menghampiri Bianca dengan senyum ramah. "Nyonya, apa Anda ingin sarapan terlebih dahulu? Atau langsung beristirahat di kamar?" Bianca tidak menjawab, tatapannya masih terpaku ke arah punggung Alexander yang semakin menjauh. Perlahan jemarinya mengepal di balik tas tangan yang masih digenggamnya erat. Dada Bianca terasa sesak. Bagaimana mungkin pria itu bisa sedingin ini? Bahkan setelah hampir dua tahun menikah, Alexander tidak pernah sekalipun menanyakan ke mana ia pergi, mengapa ia pulang pagi, atau apakah ia baik-baik saja. Seolah apa pun yang terjadi padanya tidak pernah penting. "...Nyonya?" panggil pelayan itu sekali lagi dengan hati-hati. Bianca tersentak dari lamunannya. "Tidak usah." Jawabnya pelan sebelum melangkah menuju tangga dengan wajah yang sulit dibaca. Di balik langkahnya yang tampak tenang, ada amarah yang perlahan memenuhi dadanya. Kalau saja Alexander mau sedikit lebih peduli. Mungkin ia tidak akan terus kembali kepada Damian. *** Siang harinya, Rosaline memutuskan keluar rumah. Pikirannya masih dipenuhi lipstik yang kini tersimpan rapi di dalam tasnya. Semakin lama ia berada di rumah, semakin sulit baginya mengusir berbagai dugaan yang terus bermunculan. Mobilnya berhenti di depan sebuah kafe sederhana yang berada di persimpangan jalan. Bangunannya tidak sebesar restoran mewah langganan para pebisnis, tetapi suasananya hangat dan selalu ramai oleh pengunjung. Tempat itu memiliki arti tersendiri bagi Rosaline. Pemiliknya adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak kecil. Berbeda dengan Rosaline yang lahir di keluarga konglomerat, sahabatnya berasal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya membangun usaha itu dari nol hingga akhirnya berkembang menjadi kafe yang cukup dikenal. Di masa-masa sulit, keluarga Adiwijaya juga pernah membantu permodalan tanpa pernah meminta imbalan. Meski memiliki latar belakang yang sangat berbeda, persahabatan mereka tidak pernah berubah. Rosaline mendorong pintu kaca kafe itu. Kring... Bel pintu berbunyi pelan, seorang perempuan berambut cokelat yang diikat menjadi ekor kuda langsung menoleh dari balik meja kasir, wajahnya seketika berbinar. "Rosaa!" Serunya sambil berlari kecil menghampiri, senyum tipis akhirnya menghiasi wajah Rosaline. "Anna." Anna langsung memeluk sahabatnya erat. "Astaga, susah banget ngajak kamu keluar. Aku sampai mikir jangan-jangan kamu lupa masih punya sahabat." Rosaline terkekeh pelan. "Aku cuma lagi sibuk." "Sibuk apa? Sibuk ngurus suami?" Godaan itu membuat senyum Rosaline perlahan memudar, perubahan kecil di wajah sahabatnya tak luput dari perhatian Anna. Alisnya langsung berkerut. "Ros..." Tatapannya menelusuri wajah Rosaline beberapa saat. "Kamu habis nangis?" sambungnya memperhatikan. Rosaline buru-buru menggeleng sambil memaksakan senyum. "Nggak." Anna menghela napas pelan. "Kita udah temenan lebih dari dua puluh tahun. Kamu nggak bisa bohongin aku." Rosaline terdiam, untuk pertama kalinya sejak menemukan lipstik itu. Ia mulai merasa ingin menceritakan semuanya kepada seseorang. Rosaline menundukkan kepalanya. Bibirnya bergetar, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Detik berikutnya, ia justru melangkah maju dan kembali memeluk Anna erat. "Anna... hiks... aku merindukanmu." Isaknya pecah begitu saja di bahu sang sahabat. Anna sempat terdiam. Kedua tangannya membalas pelukan Rosaline, tetapi dahinya perlahan berkerut. Ia mengenal Rosaline sejak kecil. Sahabatnya itu bukan orang yang mudah menangis, apalagi hanya karena rindu. Dengan sigap Anna melepaskan pelukan mereka, lalu memegang kedua bahu Rosaline. "Apa Damian menyakitimu?" tanyanya tepat sasaran. Rosaline hanya terdiam. Air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa sanggup ia bendung. Melihat itu, Anna mengembuskan napas panjang. Ia tahu Rosaline belum siap menceritakan semuanya. "Ayo... kita duduk dulu." Rosaline mengangguk pelan. Anna pun menggandeng tangannya menuju salah satu meja yang masih kosong. Untung saja siang itu kafe sedang tidak terlalu ramai. Kalau tidak, isak tangis Rosaline pasti sudah menjadi pusat perhatian para pengunjung. Begitu Rosaline duduk, Anna segera memanggil salah seorang pelayan. "Tolong siapkan camilan sama minuman buat kami, ya." "Baik, Kak Anna." Setelah pelayan itu pergi, Anna ikut duduk di hadapan Rosaline. Tatapannya kali ini jauh lebih serius. "Apa perasaanmu sudah lebih baik sekarang?" "Damian selingkuh." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Rosaline hingga membuat Anna membelalakkan mata. "Tidak... sepertinya Damian selingkuh," lanjut Rosaline cepat, seolah ingin mengoreksi ucapannya sendiri. Anna mengembuskan napas pelan. "Jadi, kamu sudah yakin dia selingkuh, atau baru curiga?" Rosaline membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah lipstik berwarna hitam dengan aksen emas. Ia meletakkannya perlahan di atas meja. "Aku belum tahu. Tapi aku menemukan ini di saku jasnya. Lipstik ini jatuh waktu aku mau mencuci jas Damian." Anna langsung meraih lipstik itu. Matanya membulat saat melihat logo yang terukir di bagian tutupnya. "Ya Tuhan... Rosa, kamu tahu ini?" Rosaline menggeleng pelan. "Ini lipstik edisi terbatas dari brand mewah. Harganya belasan juta rupiah." Anna mengangkat pandangannya. "Apa Damian yang membelikannya?" Rosaline hanya terdiam. Ia memang tahu lipstik itu mahal, tetapi tidak tahu apakah Damian yang membelinya atau bukan. Anna menggeleng tak habis pikir. "Kalau benar Damian yang membelikannya, berarti dia benar-benar nggak tahu diri. Semua yang dia punya sekarang bisa bertahan karena keluargamu. Kalau bukan karena keluarga Adiwijaya yang melunasi utang keluarga Atmadja, mungkin perusahaan mereka sudah bangkrut sejak dua tahun lalu." Rosaline menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya. "Anna..." "Hm?" "Mau bantu aku?" "Maksudmu?" Rosaline menatap sahabatnya dengan sorot mata yang dipenuhi keraguan. "Aku ingin cari tahu... siapa pemilik lipstik ini." Tanpa ragu sedikit pun, Anna mengangguk. "Baik. Aku akan bantu kamu." Bersambung…Kedua pegawai butik itu segera menundukkan kepala. Setelah Bianca menyebut nama keluarga Maheswara, mereka tentu tidak berani lagi bersikap terlalu keras. Awalnya mereka memang tidak mengetahui bahwa wanita tersebut berasal dari keluarga Maheswara.Namun mereka juga mengenal Rosaline sebagai pelanggan tetap yang cukup sering berbelanja di butik itu. Terlebih lagi, Rosaline berasal dari keluarga Adiwijaya, salah satu keluarga terpandang yang kedudukannya hampir setara dengan keluarga Maheswara.Mereka berada dalam posisi yang serba salah.“Maaf, Nyonya. Meskipun Anda berasal dari keluarga Maheswara, tetapi—”“Sudahlah.”Rosaline segera memotong ucapan pegawai tersebut. Tatapannya beralih kepada gaun biru yang masih berada di tangan pegawai.“Kalau kamu memang menginginkan gaun ini, ambil saja. Kebetulan aku juga sudah tidak menginginkannya lagi.”Pegawai yang memegang gaun itu langsung menatap Rosaline dengan sedikit terkejut.“Nyonya Rosaline…”“Tidak apa-apa.” Rosaline tersenyum tipi
Rosaline masih sibuk menggulir layar ponselnya, mencari-cari pria yang sekiranya cocok untuk dijadikan selingkuhannya. Namun semakin lama ia mencari, semakin tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Ada yang terlihat tidak sesuai dengan kriterianya, ada pula yang menurutnya terlalu mencolok. Setelah beberapa saat, Rosaline akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja makan sambil mengembuskan napas kesal.“Kenapa nggak ada yang sesuai kriteriaku, sih?” gumamnya pelan.Rosaline menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sejak memutuskan untuk membalas perlakuan Damian, ia memang sudah memikirkan satu hal dengan serius.Ia membutuhkan seorang pria yang tepat, bukan sembarang pria yang bisa membuat Damian cemburu. Tetapi seseorang yang cukup menarik untuk membuat suaminya benar-benar merasakan sakit yang sama.Sayangnya, mencari pria yang sesuai keinginannya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.Rosaline pun kembali sibuk menggulir layar ponselnya, sesekali memperhat
Damian menatap layar ponselnya. Entah sudah berapa kali ia memeriksa layar tersebut, tetapi tidak ada satu pun pesan dari Rosaline.Biasanya, wanita itu akan mengirimkan banyak pesan kepadanya. Bahkan ketika Damian memberitahukan bahwa dirinya sedang lembur, Rosaline hampir selalu membalasnya, entah sekadar bertanya kapan ia pulang atau mengingatkannya untuk tidak terlalu larut.Namun malam ini berbeda.Pesan yang Damian kirimkan sejak beberapa waktu lalu bahkan belum dibalas sama sekali.Damian mengernyit kecil.Rosaline benar-benar sedikit berubah sekarang. Bukan hanya penampilannya saja, tetapi sikapnya juga.“Pak, untuk konsep pestanya bagaimana jadinya?” tanya Dino, salah satu staf bagian event perusahaan, yang sejak tadi ada di ruang kerja Damian.Damian yang sempat melamun akhirnya mengalihkan pandangan dari ponselnya.“Pestanya?”“Iya, Pak. Untuk konsep dan dekorasinya. Apa kita tetap mengikuti konsep awal atau ada perubahan?”Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu terdia
Rosaline sibuk menyiapkan beberapa hidangan di dapur. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia baru tiba di rumah sekitar pukul enam sore dan begitu sampai, ia langsung bergegas menyiapkan makan malam.Ia tidak ingin Damian curiga jika hari ini dirinya tidak menyiapkan makanan. Bisa-bisa pria itu justru mulai bertanya tentang kegiatannya seharian dan mencari tahu ke mana saja ia pergi.Rosaline tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.Sampai saat ini, ia bahkan belum menemukan sosok pria yang tepat untuk dijadikan selingkuhan. Ia hanya perlu menunggu sampai menemukan pria yang benar-benar sesuai dengan rencananya. Setelah itu, barulah ia akan mengungkapkan semuanya kepada Damian.Untuk sekarang, ia harus tetap terlihat seperti istri yang tidak tahu apa-apa.Saat Rosaline sedang sibuk mengaduk masakan, tiba-tiba ponsel yang berada di atas meja berbunyi.Ting!Suara notifikasi pesan masuk itu membuat tangannya berhenti sejenak. Begitu layar menyala, sebuah nama langsung terlihat jelas.
Baru saja Rosaline hendak membuka pintu mobilnya, Alexander sudah lebih dulu menahannya. Pria itu menutup pintu tersebut sebelum akhirnya membalikkan tubuh Rosaline agar menghadap kepadanya.BRAKH!Gerakannya membuat Rosaline terkejut. Kini tubuh kecilnya berdiri begitu dekat dengan Alexander, bahkan ruang geraknya seolah terkunci oleh tubuh tegap pria itu.“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Alexander dengan tatapan serius, menatap langsung ke wajah Rosaline.Rosaline mengerutkan kening.Kenapa dia menghindarinya?Apa Alexander masih belum mengerti juga? Atau pria di hadapannya ini sudah lupa bahwa dirinya sudah menikah?Seharusnya Alexander tahu batasan mereka sekarang. Terlebih setelah pertemuan mereka malam itu, Rosaline justru semakin ingin menjaga jarak.“Apa kamu begitu membenciku sampai bahkan menatap wajahku pun kamu nggak mau?” tanyanya lagi.Rosaline terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan terangkat, menatap mata Alexander yang kini terlihat penuh tanda tanya.“Rosa, aku
“Jadi, kamu mau bagaimana? Mau menegurnya langsung?” tanya Sean sambil melipat kedua tangannya di depan dada.“Nggak perlu.” Alexander menggeleng pelan. “Kita gunakan Ridho sebagai mata-mata untuk mencari tahu apa saja yang sedang dilakukan Arya. Kalau kita mematikan apinya sekarang, permainan ini nggak akan seru.”Senyum tipis nan licik muncul di wajah Alexander.Sean terkekeh kecil. “Benar juga. Kamu memang pintar, Alex.”“Kalau begitu, kita jalankan rencana ini. Kita pura-pura nggak tahu apa-apa soal obat tersebut. Lalu suruh Ridho mengatakan kepada Arya bahwa dia berhasil menjalankan rencananya.”Sean mengangguk. “Dengan begitu, Arya akan merasa semuanya berjalan sesuai rencananya dan nggak akan curiga kalau kita sebenarnya sudah mengetahui semuanya.”Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali teringat pada satu hal.“Lalu bagaimana dengan wanita yang sudah dipersiapkan Ridho untukku?” tanyanya. “Bukankah malam itu seharusnya dia datang ke







