LOGINRosaline menatap Anna beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Kalau begitu... kita mulai menyelidikinya dari mana?" Anna kembali melirik lipstik yang masih berada di atas meja. “Lipstik ini cuma dijual di beberapa butik kosmetik resmi. Kalau kita mulai dari sana, kemungkinan kita bisa menemukan petunjuk.” Rosaline mengernyit. "Jadi?" "Kita harus ke butik kosmetiknya. Salah satunya ada di mal mewah di pusat kota." Anna berhenti sejenak, lalu menatap Rosaline dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tapi ada satu masalah." Rosaline ikut menunduk melihat penampilannya. "Masalah apa?” Anna menghela napas. "Kamu nggak mungkin datang ke sana dengan penampilan begini, kan?" Rosaline hanya berkedip bingung. Hari itu ia memang hanya mengenakan kaus polos berwarna putih yang dipadukan dengan celana panjang hitam serta sandal sederhana. Siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka kalau wanita itu adalah putri tunggal keluarga Adiwijaya yang datang menggunakan mobil mewah lengkap dengan sopir pribadi. Penampilannya justru lebih mirip asisten rumah tangga daripada seorang pewaris konglomerat. "Jadi maksudmu..." "Kita ubah penampilan kamu dulu." Anna langsung berdiri dari kursinya. "Kebetulan di dekat sini ada salon. Sekalian cari baju yang lebih cocok." Belum sempat Rosaline menjawab, Anna sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo." "E-eh, Anna..." Rosaline hanya bisa pasrah mengikuti langkah sahabatnya keluar dari kafe. Di saat yang bersamaan, salah seorang pelayan datang membawa nampan berisi camilan dan minuman. "Lho, Kak Anna... pesanannya?" Anna menoleh sekilas sambil terus berjalan. "Kalian aja yang makan." "Eh?" Pelayan itu hanya bisa berdiri mematung sambil mengedipkan mata berkali-kali, kebingungan melihat atasannya pergi begitu saja sebelum sempat menyentuh pesanannya. *** Sementara itu, Damian baru saja tiba di Maheswara Group. Begitu turun dari mobil, ia langsung mengembuskan napas panjang sambil melonggarkan dasinya. “Capek juga…” Baru beberapa jam yang lalu ia pulang ke rumah setelah menghabiskan malam bersama Bianca. Ia bahkan belum sempat beristirahat dengan tenang, tetapi sejak pagi ayah mertuanya sudah menelepon dan memintanya menghadiri rapat penting di Maheswara Group sebagai perwakilan Adiwijaya Group. Mau tak mau, ia harus datang. Sebelum berangkat tadi, Damian sempat menyadari rumah dalam keadaan sepi. Rosaline tidak terlihat di mana pun. Ia tidak tahu ke mana istrinya pergi, dan sejujurnya ia juga tidak peduli. Selama Rosaline tidak membuat masalah, itu sudah cukup baginya. Damian melangkah memasuki lobi perusahaan. Beberapa karyawan yang mengenalnya langsung menundukkan kepala memberi salam. “Selamat siang, Pak Damian.” Damian hanya mengangguk singkat sebelum berjalan menuju ruang rapat. Di sepanjang perjalanan, ia kembali membaca agenda rapat di ponselnya. Menurut informasi yang diterimanya, rapat hari itu akan dipimpin oleh perwakilan Maheswara Group. Karena Alexander sudah hampir dua tahun berada di luar negeri, Damian mengira yang akan memimpin rapat adalah salah satu direktur kepercayaannya. Sesampainya di depan ruang rapat, Damian langsung membuka pintu dan masuk. Para petinggi dari berbagai perusahaan tampak sudah memenuhi ruangan. Belum sempat ia duduk, seluruh peserta rapat mendadak berdiri serempak. Damian mengernyit. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan tenang. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak sempurna, sementara wajahnya yang dingin langsung membuat suasana ruangan berubah hening. Deg. Damian membelalakkan mata. Alexander Maheswara… Bukankah pria itu masih berada di luar negeri? Seluruh peserta rapat serempak berdiri begitu Alexander memasuki ruangan, beberapa di antaranya menunduk hormat sambil menyapa. “Selamat datang, Pak Alexander.” Damian masih terpaku di tempatnya. Keterkejutannya membuat ia sama sekali lupa memberikan salam seperti yang lain. Keheningan itu sontak mengundang perhatian. Beberapa orang yang masih menundukkan kepala perlahan melirik ke arahnya dengan bingung. Di saat yang sama, Alexander menghentikan langkahnya. Sorot mata dinginnya beralih kepada Damian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan mereka bertemu. Entah mengapa, Damian merasakan tekanan yang begitu besar hanya dari sepasang mata itu. Tama, asisten pribadi Alexander yang berdiri di sampingnya, tampak mengernyit heran melihat Damian hanya diam mematung. “Ada yang ingin Anda ucapkan?” tanyanya sopan, memecah keheningan. Damian baru tersadar dari lamunannya. Ia berdeham pelan sebelum buru-buru menundukkan kepala. “Ah… tidak.” Sudut bibirnya membentuk senyum kaku. “Maaf, saya lancang. Selamat siang, Pak Alexander.” Alexander tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Tatapannya tetap datar, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya. “Tidak perlu sungkan,” ucapnya singkat. “Silakan duduk.” Tanpa menunggu respons siapa pun, Alexander langsung berjalan menuju kursi utama di ujung meja rapat. Seluruh peserta kembali duduk, sementara Damian diam-diam mengembuskan napas lega. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Di dalam hati, ia tak bisa berhenti berpikir. Orang seperti Alexander Maheswara… tampan, berwibawa, kaya, dan memiliki karier yang nyaris sempurna. Bagaimana mungkin Bianca tidak mencintai pria seperti itu? Hanya ada dua kemungkinan, Bianca memang benar-benar mencintainya atau… Alexander yang tidak pernah membuka hatinya untuk sang istri. Namun dugaan itu perlahan buyar ketika Alexander kembali mengangkat pandangan ke arahnya. Tatapan pria itu begitu datar, seolah Damian hanyalah salah satu tamu rapat yang tidak memiliki arti apa pun. Damian segera menarik napas sebelum memperkenalkan diri. “Perkenalkan, Pak Alexander. Saya Damian Atmadja, perwakilan dari Adiwijaya Group.” Alexander terdiam beberapa saat begitu mendengar nama perusahaan yang disebutkan Damian. Adiwijaya Group. Tanpa sadar, jemarinya mengepal pelan di bawah meja. Wajahnya memang tetap tenang, tetapi perubahan kecil itu tak luput dari perhatian Tama yang berdiri tepat di belakang kursinya. Beberapa detik kemudian, Alexander kembali mengangkat pandangan. "Baik. Silakan duduk." Nada suaranya tetap datar, seolah tidak terjadi apa pun. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang terasa berbeda. Damian kembali duduk, tetapi pikirannya masih tertuju pada reaksi Alexander barusan. Hanya sesaat, namun ia yakin pria itu sempat berubah ketika mendengar nama Adiwijaya Group. ‘Apa dia membenciku?’ Pikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja, jantung Damian kembali berdegup lebih cepat. ‘Apa jangan-jangan... dia sudah tahu kalau semalam aku bersama Bianca?’ Namun, dugaan itu segera ia tepis sendiri. Mustahil. Hubungannya dengan Bianca selama ini selalu mereka sembunyikan dengan sangat rapi. Lagi pula, Alexander baru kembali ke Indonesia semalam. Tidak mungkin pria itu sudah mengetahui semuanya hanya dalam waktu sesingkat itu. Damian menggeleng pelan, berusaha mengusir pikirannya. ‘Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.’ Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Ada tujuan lain yang jauh lebih penting. Selama ini, ia selalu datang sebagai perwakilan Adiwijaya Group, perusahaan milik keluarga mertuanya. Padahal yang benar-benar ingin ia besarkan adalah Atmadja Group, perusahaan warisan keluarganya sendiri. Ia tidak bisa selamanya berada di bawah bayang-bayang keluarga Adiwijaya. Karena itu, Damian harus memanfaatkan kesempatan hari ini sebaik mungkin. Kalau ia berhasil membangun kerja sama langsung dengan Maheswara Group melalui Atmadja Group, perlahan ia bisa melepaskan ketergantungannya pada keluarga sang mertua. Sementara sikap Alexander tadi, Damian memilih menganggapnya hanya perasaannya saja. Alexander membuka map hitam yang berada di hadapannya. Tatapan tajamnya menyapu seluruh peserta rapat sebelum akhirnya berhenti pada Damian. “Baik, kita mulai.” Suasana ruangan seketika hening. Satu per satu perwakilan perusahaan mulai memaparkan laporan dan proposal kerja sama yang telah dipersiapkan. Alexander mendengarkan semuanya tanpa banyak bicara. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat yang mampu membuat para peserta rapat terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Hingga akhirnya giliran Damian tiba. Ia berdiri sambil membawa proposal kerja sama yang selama beberapa hari terakhir telah disiapkannya. “Perkenalkan sekali lagi, saya Damian Atmadja, perwakilan dari Adiwijaya Group. Proposal ini berisi rencana kerja sama pengembangan kawasan komersial antara Adiwijaya Group dan Maheswara Group….” Damian menjelaskan seluruh isi proposal dengan tenang. Sesekali ia menunjukkan data dan proyeksi keuntungan yang telah disusun timnya. Setelah hampir lima belas menit, penjelasannya pun selesai. Alexander menutup map di hadapannya perlahan. “Proposal ini cukup baik.” Damian yang mendengarnya diam-diam mengembuskan napas lega. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. “Tetapi analisis risikonya masih kurang mendalam. Tambahkan skenario jika harga material meningkat, keterlambatan pembangunan, dan perubahan kondisi pasar.” “Baik, Pak Alexander.” Alexander mengangguk tipis. “Meski begitu, saya menerima proposal kerja sama ini.” Ucapan itu sontak membuat beberapa peserta rapat saling berpandangan. Damian sendiri tampak sedikit terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka proposal tersebut akan disetujui secepat itu. “Alasannya sederhana,” lanjut Alexander sambil menatap Damian datar. “Keluarga Adiwijaya sudah saya anggap seperti keluarga sendiri.” Deg. Jantung Damian seketika berdegup lebih cepat. Keningnya berkerut bingung. Selama ini ia tidak pernah mendengar bahwa keluarga Maheswara memiliki hubungan sedekat itu dengan keluarga Adiwijaya. Tanpa sadar, bayangan wajah Elang Adiwijaya, ayah mertuanya, terlintas di benaknya. Apa Alexander mengenal ayah mertuanya? Atau… ada hubungan lain yang selama ini tidak pernah ia ketahui? Damian menatap Alexander beberapa saat. Namun pria itu kembali membuka berkas lain, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukanlah sesuatu yang penting. Bersambung…Kini mereka bertiga sedang berbicara santai. Minuman yang tadi dipesankan kepada Tama oleh Sean dan Jeremy pun sudah datang. Sesekali Sean berbicara sambil menyesap kopi miliknya, sementara Jeremy hanya diam mendengarkan setelah Sean selesai menjelaskan kejadian di klub minggu lalu.“Tapi ngomong-ngomong, berarti kamu sudah bertemu dengan Rosaline?” tanya Jeremy, memotong pembicaraan Sean yang sedang berbicara dengan Alexander.“Sudah, bahkan kami bertemu juga semalam,” jawab Alexander.“Semalam?”“Iya. Tadi kan aku sudah bilang. Semalam suami Rosaline membuat pesta, dan Alexander datang ke sana. Di sana mereka bertemu,” jelas Sean.Jeremy mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, senyum jahil mulai muncul di wajahnya.“Jadi, gimana rasanya bertemu dengan kekasih masa kecilmu?”“Kekasih apanya? Memangnya mereka punya hubungan?” balas Sean, seolah menyindir Alexander.Alexander langsung mendelik tajam ke arah Sean, sedangkan Jeremy justru tertawa melihat reaksi sahabatnya.“Hahaha, benar
Siang itu, Bianca dan Rosaline sedang berada di sebuah toko aksesori. Keduanya sibuk memilih beberapa bros, peniti, dan gantungan lucu yang ingin mereka beli.Namun, di tengah kesibukan itu, pandangan Bianca tiba-tiba tertuju pada sebuah gelang pasangan yang terpajang di dalam etalase.Bianca terdiam sesaat.Gelang itu mengingatkannya pada masa sekolah dulu. Saat itu, ia pernah memiliki gelang pasangan yang sama bersama Damian. Kenangan lama tersebut membuat sudut bibirnya terangkat tipis.Tanpa berpikir panjang, Bianca menunjuk gelang itu kepada pegawai toko dan memintanya untuk mengambilkan.Rosaline yang melihatnya hanya diam. Pandangannya mengikuti gelang pasangan yang baru saja dibeli Bianca.Apa wanita itu membelikannya untuk Alexander?“Rosaline, kamu mau beli ini juga nggak?” tanya Bianca sambil memperlihatkan gelang tersebut.“Ah, nggak. Aku nggak terlalu suka gelang seperti itu.”“Benarkah? Padahal lucu, lho.” Bianca tersenyum kecil. “Dulu waktu sekolah, aku dan pacarku juga
Mendengar jawaban Alexander, lagi-lagi Sean tertawa. Memang sejak dulu Rosaline adalah wanita yang keras kepala. Bahkan, hanya Rosaline yang berani melawan perintah Alexander tanpa merasa takut sedikit pun.Namun, meskipun begitu, Alexander selalu memanjakannya. Karena itulah Sean dan Jeremy tahu bahwa perasaan Alexander kepada wanita itu bukan sekadar perasaan seorang teman masa kecil.“Aku heran, kenapa hubungan kalian bisa sedingin ini sekarang? Padahal dulu kalian—”“Alex! Kamu sarapan di rumah?”Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari seberang telepon, membuat Sean seketika terdiam. Ia tahu siapa yang datang.Ya, siapa lagi kalau bukan Bianca.“Kalau tahu kamu sarapan di rumah, aku bisa menyiapkan piring untukmu,” sambung Bianca sambil menghampiri Alexander dengan wajah sumringah.Namun, kehadiran Bianca sama sekali tidak mendapat sambutan dari Alexander. Wajah pria itu tetap datar. Ia bahkan hanya menyeruput kopi di tangannya seolah kedatangan istrinya bukan sesuatu yang p
“Punya anak?”Setelah dua tahun pria itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya, sekarang Damian tiba-tiba menginginkan seorang anak darinya?Rosaline benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan suaminya. Dengan sadar, ia melepaskan tangan Damian yang berada di lengannya. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya sama sekali tidak tenang.“Aku mau pergi tidur. Hari ini aku sangat lelah. Kita lakukan lain kali saja, ya.”Rosaline hendak bangkit, tetapi Damian menahan kedua bahunya hingga wanita itu kembali terduduk.“Kita belum pernah melakukannya sama sekali. Apa kamu nggak menginginkannya, Sayang?”“Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalau masih ada banyak hal yang harus kamu urus? Terutama perusahaan. Jadi, kita tunda lebih dulu.”“Aku sudah berubah pikiran sekarang. Aku rasa lebih baik kita memiliki anak. Anak itu penting, Sayang. Apalagi untuk pewaris nantinya.”“Damian, kamu masih muda dan sehat. Lagipula—”“Rosaline… kamu nggak menolakku, kan?”Damian memotong ucapan
“Kita selingkuh saja. Bagaimana?”Rosaline seketika membeku.Matanya membulat lebar menatap Alexander, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria itu.“Apa katamu?”“Aku nggak akan mengatakannya dua kali. Kita selingkuh saja. Kamu mau atau nggak?”“Ya nggaklah! Kamu sudah gila, ya, Lex?”“Selingkuh bohongan.”“Apa maksud kamu?”“Kita bisa pura-pura dekat di depan mereka, seolah-olah mereka mengira kalau kita ini punya hubungan.”Rosaline masih terlihat tidak mengerti. Ia menatap Alexander dengan dahi berkerut.“Kamu masih nggak paham juga? Ini sama saja seperti kita punya hubungan palsu.”“Buat apa? Selingkuh saja, hubungannya diam-diam. Buat apa kita punya hubungan palsu?”“Ya tentu saja buat mereka curiga. Kamu nggak mau?”Rosaline kali ini terdiam.Ia tidak pernah berpikir bahwa rencana seperti ini akan berhasil. Namun, tetap saja, ia membutuhkan waktu untuk memikirkannya. Bagaimanapun, ini hanya sebuah kepalsuan.“Kamu boleh memikirkannya dulu,” ujar Ale
Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya Bianca dan Damian meninggalkan tempat itu. Suara langkah mereka perlahan menjauh hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Rosaline yang sejak tadi menahan tubuhnya dalam posisi yang sama mulai bisa bernapas lega. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri, tetapi setidaknya sekarang ia tidak perlu lagi khawatir akan ketahuan. Alexander mengintip sebentar ke arah lorong, memastikan Damian dan Bianca benar-benar sudah pergi. Setelah keadaan dirasa aman, ia kembali mengalihkan pandangan kepada Rosaline. “Stamina suamimu jelek juga. Baru dua puluh menit sudah selesai,” ejek Alexander dengan wajah santai. Rosaline langsung mendelik tajam. Tanpa banyak bicara, ia mendorong dada Alexander cukup keras hingga pria itu mundur beberapa langkah. Kini jarak di antara mereka kembali terbentang. “Kalau kamu memang bisa memuaskan istrimu, nggak mungkin dia sampai selingkuh dengan suamiku,” balas Rosaline kesal. “Kalau dia sampai mencari pria lain, ber







