MasukCahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai ruang makan yang masih dipenuhi aroma cokelat semalam. Kue ulang tahun yang telah kehilangan keindahannya masih berada di tengah meja, lilin yang telah padam berdiri miring dengan lelehan malam sebelumnya yang mengeras di sekelilingnya.
Hidangan yang sejak semalam disiapkan dengan penuh perhatian kini telah dingin, nyaris tak lagi mengeluarkan aroma. Klik! Suara pintu utama yang terbuka memecah keheningan rumah. Damian melangkah masuk dengan wajah lelah. Jas yang dikenakannya semalam masih melekat rapi di tubuhnya, hanya saja kini sedikit kusut. Ia baru saja menghabiskan malam di tempat lain, lalu memilih pulang ketika matahari mulai terbit. Langkahnya terhenti begitu memasuki ruang makan, sepasang matanya menangkap sosok wanita yang tertidur di atas meja. Rosaline. Kepalanya bertumpu di atas kedua lengan yang terlipat. Rambut panjangnya sedikit berantakan, sementara celemek yang semalam dikenakannya bahkan masih melingkar di pinggang. Di hadapannya, kue ulang tahun itu masih utuh. Belum tersentuh sedikit pun. Entah sejak pukul berapa wanita itu tertidur di sana. Damian memandangnya tanpa ekspresi, tidak ada rasa bersalah, tidak ada penyesalan. Wajahnya tetap datar sebelum kembali berjalan mendekat. Mungkin suara langkah kakinya terlalu jelas, sehingga Rosaline yang sedang terlelap seketika membuka kelopak matanya perlahan. Butuh beberapa detik bagi kesadarannya untuk kembali utuh. Begitu melihat Damian berdiri tak jauh darinya, senyum kecil langsung menghiasi wajahnya. "Kamu sudah pulang...." Suara Rosaline masih terdengar serak karena baru bangun tidur, tetapi kebahagiaan di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Ia segera berdiri hingga kursinya sedikit bergeser ke belakang. "Aku... aku ketiduran." Rosaline menunduk sebentar, merasa sedikit malu. "Aku sebenarnya mau menunggumu." Damian hanya melirik jam dinding, membuat Rosaline pun ikut menoleh. Baru saat itulah ia menyadari waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat. Ia benar-benar menunggu semalaman. Namun anehnya, bukan rasa kesal yang memenuhi hatinya. Melainkan lega. Yang terpenting, Damian akhirnya pulang. "Aku hangatkan makanannya dulu, ya?" ucap Rosaline buru-buru. "Steaknya mungkin sudah dingin, tapi sebentar saja pasti hangat lagi. Atau... kalau kamu mau, aku bisa buat sarapan baru." Tanpa menunggu jawaban, Rosaline sudah hendak membawa piring-piring itu ke dapur. "Nggak usah." Langkahnya langsung terhenti, Damian melepaskan jasnya lalu menyampirkannya di sandaran kursi. "Aku sudah makan." Kalimat sederhana itu membuat tangan Rosaline yang memegang piring sedikit menegang. "Oh..." Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Ia mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat begitu dipaksakan. "Kalau begitu... bagaimana dengan kuenya?" Rosaline menunjuk kue yang masih utuh di tengah meja. "Aku membuatnya khusus untukmu." lanjutnya. Damian menoleh sekilas, tatapannya hanya singgah beberapa detik sebelum kembali berpindah. "Aku tidak sedang ingin makan yang manis." Rosaline menundukkan kepala. "Baik...." Suasana kembali sunyi. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada pertanyaan mengapa ia menunggu semalaman, dan tidak ada permintaan maaf karena telah membuatnya menanti. Bagi Damian, semua itu seolah bukan sesuatu yang penting. "Aku mau mandi." Damian berjalan melewati Rosaline tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Rosaline tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung pria itu yang perlahan menghilang di balik tangga. Beberapa saat kemudian, senyum tipis kembali ia paksakan menghiasi wajahnya. "Yang penting... dia sudah pulang." Rosaline mulai membereskan meja makan. Satu per satu piring yang semalam ia siapkan dibawanya ke dapur, kue ulang tahun yang masih utuh ia simpan kembali ke dalam kulkas. Mungkin nanti Damian berubah pikiran dan ingin mencicipinya. Saat hendak kembali ke dapur, pandangannya tertuju pada jas yang baru saja dilepas Damian dan disampirkan begitu saja di sandaran kursi. “Kalau tidak langsung dicuci, nanti debunya menempel.” gumamnya pelan. Rosaline mengambil jas itu dengan hati-hati. Namun baru saja ia hendak melipatnya, matanya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti. Di bagian kerah jas itu tampak samar noda berwarna merah muda. Rosaline mengernyit, ia mengangkat jas tersebut lebih dekat ke arah cahaya. Bekas lipstik. Dadanya seketika terasa sesak, namun sedetik kemudian ia buru-buru menggeleng pelan. “Mungkin… tidak sengaja.” Damian sering menghadiri rapat dengan klien maupun menghadiri acara perusahaan, mungkin ada seseorang yang tidak sengaja menyenggolnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dengan napas yang masih sedikit tidak teratur, Rosaline kembali melangkah menuju ruang cuci. Namun baru beberapa langkah, sesuatu terjatuh dari saku bagian dalam jas itu. Tak! Benda kecil itu menggelinding pelan di atas lantai marmer. Rosaline spontan menghentikan langkahnya, lalu membungkuk untuk mengambilnya. Sesaat kemudian, tubuhnya membeku. Di telapak tangannya kini tergeletak sebuah lipstik berwarna hitam dengan aksen emas, lengkap dengan logo dari salah satu merek kosmetik mewah yang sangat terkenal. Rosaline mengenali merek itu, harganya tidak murah. Dan yang lebih penting… itu bukan miliknya. Selama ini ia bahkan jarang memakai riasan. Lipstik yang ia miliki hanyalah beberapa warna lembut dengan harga biasa, bukan produk mewah seperti yang kini berada di genggamannya. Perlahan pandangannya kembali beralih ke noda merah muda di kerah jas Damian. Jantungnya berdetak semakin kencang, jika tadi ia masih bisa mencari alasan. Kini ia tidak lagi tahu harus membela suaminya dengan alasan apa. Rosaline hanya berdiri mematung di tengah ruang makan yang sunyi, menggenggam lipstik itu erat-erat. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun menikah, sebuah pertanyaan yang selama ini selalu ia hindari akhirnya muncul di benaknya. Benarkah Damian selama ini hanya lembur? *** Damian baru saja masuk ke dalam kamar. Ia mengembuskan napas pelan sembari melepaskan satu per satu kancing kemejanya. Pagi itu ia berniat membersihkan diri terlebih dahulu sebelum istirahat. Namun, baru saja beberapa kancing terlepas, ponselnya yang berada di atas nakas bergetar. Ada sebuah pesan dari Bianca, yang baru saja di kirim olehnya. > Lipstikku sengaja aku tinggalin di jas kamu, biar Rosaline yang nemuin. Bukankah itu lebih cepat? Rahang Damian langsung mengeras. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengetik balasan. > Jangan bertindak semaumu. Aku belum ingin dia tahu. Tak butuh waktu lama, Bianca kembali membalas. > Memangnya kenapa? Cepat atau lambat dia juga bakal tahu. Sekalian aja dia sadar kalau kamu nggak pernah benar-benar jadi miliknya. Damian menatap layar ponselnya beberapa detik. Napasnya terdengar berat. Ia memang berniat menceraikan Rosaline. Namun bukan sekarang, masih ada banyak hal yang harus ia selesaikan sebelum mengambil keputusan itu. Kalau Rosaline mengetahui semuanya lebih dulu, keadaan hanya akan menjadi rumit. Tanpa membalas pesan Bianca lagi, Damian langsung bergegas keluar kamar dan menuruni tangga. Mendengar suara langkah kaki, Rosaline yang masih berdiri di ruang makan buru-buru menggenggam lipstik itu semakin erat. "Aku tadi lupa ambil ponsel.” Damian berjalan mendekat dengan wajah setenang mungkin. Tatapannya langsung jatuh pada jas hitam yang berada di tangan Rosaline. "Mau dicuci?" "Iya." "Biar aku ambil ponselku dulu." Rosaline mengangguk pelan lalu menyerahkan jas itu. Begitu jas itu berpindah ke tangannya, Damian segera menyusuri saku bagian dalam dengan gerakan yang berusaha terlihat biasa saja. Tangannya menyusuri saku bagian dalam jas itu. Kosong. Ia berpindah ke saku sebelah. Tetap tidak ada. Rahang Damian mengeras. Ke mana lipstik itu? Apa tertinggal di mobil… atau… Pandangannya tanpa sadar bertemu dengan mata Rosaline yang sejak tadi hanya diam memperhatikannya. Hening. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Rosaline menggigit bibir pelan. Ia tahu persis benda apa yang sedang dicari Damian, tetapi memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Sementara Damian mulai diliputi tanda tanya. Kalau memang Rosaline sudah menemukannya, kenapa wanita itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Beberapa detik kemudian, Damian mengembalikan jas itu. “Mungkin ponselku ada di kamar.” Ucapannya terdengar tenang, meski pikirannya tidak lagi setenang itu. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali menaiki tangga. Rosaline hanya memandangi punggung suaminya yang perlahan menghilang. Jemarinya masih menggenggam erat lipstik berwarna hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik celemek. Untuk pertama kalinya… Ia memilih menyimpan sebuah rahasia dari Damian. Bersambung…Kini mereka bertiga sedang berbicara santai. Minuman yang tadi dipesankan kepada Tama oleh Sean dan Jeremy pun sudah datang. Sesekali Sean berbicara sambil menyesap kopi miliknya, sementara Jeremy hanya diam mendengarkan setelah Sean selesai menjelaskan kejadian di klub minggu lalu.“Tapi ngomong-ngomong, berarti kamu sudah bertemu dengan Rosaline?” tanya Jeremy, memotong pembicaraan Sean yang sedang berbicara dengan Alexander.“Sudah, bahkan kami bertemu juga semalam,” jawab Alexander.“Semalam?”“Iya. Tadi kan aku sudah bilang. Semalam suami Rosaline membuat pesta, dan Alexander datang ke sana. Di sana mereka bertemu,” jelas Sean.Jeremy mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, senyum jahil mulai muncul di wajahnya.“Jadi, gimana rasanya bertemu dengan kekasih masa kecilmu?”“Kekasih apanya? Memangnya mereka punya hubungan?” balas Sean, seolah menyindir Alexander.Alexander langsung mendelik tajam ke arah Sean, sedangkan Jeremy justru tertawa melihat reaksi sahabatnya.“Hahaha, benar
Siang itu, Bianca dan Rosaline sedang berada di sebuah toko aksesori. Keduanya sibuk memilih beberapa bros, peniti, dan gantungan lucu yang ingin mereka beli.Namun, di tengah kesibukan itu, pandangan Bianca tiba-tiba tertuju pada sebuah gelang pasangan yang terpajang di dalam etalase.Bianca terdiam sesaat.Gelang itu mengingatkannya pada masa sekolah dulu. Saat itu, ia pernah memiliki gelang pasangan yang sama bersama Damian. Kenangan lama tersebut membuat sudut bibirnya terangkat tipis.Tanpa berpikir panjang, Bianca menunjuk gelang itu kepada pegawai toko dan memintanya untuk mengambilkan.Rosaline yang melihatnya hanya diam. Pandangannya mengikuti gelang pasangan yang baru saja dibeli Bianca.Apa wanita itu membelikannya untuk Alexander?“Rosaline, kamu mau beli ini juga nggak?” tanya Bianca sambil memperlihatkan gelang tersebut.“Ah, nggak. Aku nggak terlalu suka gelang seperti itu.”“Benarkah? Padahal lucu, lho.” Bianca tersenyum kecil. “Dulu waktu sekolah, aku dan pacarku juga
Mendengar jawaban Alexander, lagi-lagi Sean tertawa. Memang sejak dulu Rosaline adalah wanita yang keras kepala. Bahkan, hanya Rosaline yang berani melawan perintah Alexander tanpa merasa takut sedikit pun.Namun, meskipun begitu, Alexander selalu memanjakannya. Karena itulah Sean dan Jeremy tahu bahwa perasaan Alexander kepada wanita itu bukan sekadar perasaan seorang teman masa kecil.“Aku heran, kenapa hubungan kalian bisa sedingin ini sekarang? Padahal dulu kalian—”“Alex! Kamu sarapan di rumah?”Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari seberang telepon, membuat Sean seketika terdiam. Ia tahu siapa yang datang.Ya, siapa lagi kalau bukan Bianca.“Kalau tahu kamu sarapan di rumah, aku bisa menyiapkan piring untukmu,” sambung Bianca sambil menghampiri Alexander dengan wajah sumringah.Namun, kehadiran Bianca sama sekali tidak mendapat sambutan dari Alexander. Wajah pria itu tetap datar. Ia bahkan hanya menyeruput kopi di tangannya seolah kedatangan istrinya bukan sesuatu yang p
“Punya anak?”Setelah dua tahun pria itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya, sekarang Damian tiba-tiba menginginkan seorang anak darinya?Rosaline benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan suaminya. Dengan sadar, ia melepaskan tangan Damian yang berada di lengannya. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya sama sekali tidak tenang.“Aku mau pergi tidur. Hari ini aku sangat lelah. Kita lakukan lain kali saja, ya.”Rosaline hendak bangkit, tetapi Damian menahan kedua bahunya hingga wanita itu kembali terduduk.“Kita belum pernah melakukannya sama sekali. Apa kamu nggak menginginkannya, Sayang?”“Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalau masih ada banyak hal yang harus kamu urus? Terutama perusahaan. Jadi, kita tunda lebih dulu.”“Aku sudah berubah pikiran sekarang. Aku rasa lebih baik kita memiliki anak. Anak itu penting, Sayang. Apalagi untuk pewaris nantinya.”“Damian, kamu masih muda dan sehat. Lagipula—”“Rosaline… kamu nggak menolakku, kan?”Damian memotong ucapan
“Kita selingkuh saja. Bagaimana?”Rosaline seketika membeku.Matanya membulat lebar menatap Alexander, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria itu.“Apa katamu?”“Aku nggak akan mengatakannya dua kali. Kita selingkuh saja. Kamu mau atau nggak?”“Ya nggaklah! Kamu sudah gila, ya, Lex?”“Selingkuh bohongan.”“Apa maksud kamu?”“Kita bisa pura-pura dekat di depan mereka, seolah-olah mereka mengira kalau kita ini punya hubungan.”Rosaline masih terlihat tidak mengerti. Ia menatap Alexander dengan dahi berkerut.“Kamu masih nggak paham juga? Ini sama saja seperti kita punya hubungan palsu.”“Buat apa? Selingkuh saja, hubungannya diam-diam. Buat apa kita punya hubungan palsu?”“Ya tentu saja buat mereka curiga. Kamu nggak mau?”Rosaline kali ini terdiam.Ia tidak pernah berpikir bahwa rencana seperti ini akan berhasil. Namun, tetap saja, ia membutuhkan waktu untuk memikirkannya. Bagaimanapun, ini hanya sebuah kepalsuan.“Kamu boleh memikirkannya dulu,” ujar Ale
Setelah dua puluh menit berlalu, akhirnya Bianca dan Damian meninggalkan tempat itu. Suara langkah mereka perlahan menjauh hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Rosaline yang sejak tadi menahan tubuhnya dalam posisi yang sama mulai bisa bernapas lega. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri, tetapi setidaknya sekarang ia tidak perlu lagi khawatir akan ketahuan. Alexander mengintip sebentar ke arah lorong, memastikan Damian dan Bianca benar-benar sudah pergi. Setelah keadaan dirasa aman, ia kembali mengalihkan pandangan kepada Rosaline. “Stamina suamimu jelek juga. Baru dua puluh menit sudah selesai,” ejek Alexander dengan wajah santai. Rosaline langsung mendelik tajam. Tanpa banyak bicara, ia mendorong dada Alexander cukup keras hingga pria itu mundur beberapa langkah. Kini jarak di antara mereka kembali terbentang. “Kalau kamu memang bisa memuaskan istrimu, nggak mungkin dia sampai selingkuh dengan suamiku,” balas Rosaline kesal. “Kalau dia sampai mencari pria lain, ber







