ANMELDENRosaline masih sibuk menggulir layar ponselnya, mencari-cari pria yang sekiranya cocok untuk dijadikan selingkuhannya. Namun semakin lama ia mencari, semakin tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Ada yang terlihat tidak sesuai dengan kriterianya, ada pula yang menurutnya terlalu mencolok. Setelah beberapa saat, Rosaline akhirnya menyerah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja makan sambil mengembuskan napas kesal.“Kenapa nggak ada yang sesuai kriteriaku, sih?” gumamnya pelan.Rosaline menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sejak memutuskan untuk membalas perlakuan Damian, ia memang sudah memikirkan satu hal dengan serius.Ia membutuhkan seorang pria yang tepat, bukan sembarang pria yang bisa membuat Damian cemburu. Tetapi seseorang yang cukup menarik untuk membuat suaminya benar-benar merasakan sakit yang sama.Sayangnya, mencari pria yang sesuai keinginannya ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.Rosaline pun kembali sibuk menggulir layar ponselnya, sesekali memperhat
Damian menatap layar ponselnya. Entah sudah berapa kali ia memeriksa layar tersebut, tetapi tidak ada satu pun pesan dari Rosaline.Biasanya, wanita itu akan mengirimkan banyak pesan kepadanya. Bahkan ketika Damian memberitahukan bahwa dirinya sedang lembur, Rosaline hampir selalu membalasnya, entah sekadar bertanya kapan ia pulang atau mengingatkannya untuk tidak terlalu larut.Namun malam ini berbeda.Pesan yang Damian kirimkan sejak beberapa waktu lalu bahkan belum dibalas sama sekali.Damian mengernyit kecil.Rosaline benar-benar sedikit berubah sekarang. Bukan hanya penampilannya saja, tetapi sikapnya juga.“Pak, untuk konsep pestanya bagaimana jadinya?” tanya Dino, salah satu staf bagian event perusahaan, yang sejak tadi ada di ruang kerja Damian.Damian yang sempat melamun akhirnya mengalihkan pandangan dari ponselnya.“Pestanya?”“Iya, Pak. Untuk konsep dan dekorasinya. Apa kita tetap mengikuti konsep awal atau ada perubahan?”Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu terdia
Rosaline sibuk menyiapkan beberapa hidangan di dapur. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia baru tiba di rumah sekitar pukul enam sore dan begitu sampai, ia langsung bergegas menyiapkan makan malam.Ia tidak ingin Damian curiga jika hari ini dirinya tidak menyiapkan makanan. Bisa-bisa pria itu justru mulai bertanya tentang kegiatannya seharian dan mencari tahu ke mana saja ia pergi.Rosaline tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.Sampai saat ini, ia bahkan belum menemukan sosok pria yang tepat untuk dijadikan selingkuhan. Ia hanya perlu menunggu sampai menemukan pria yang benar-benar sesuai dengan rencananya. Setelah itu, barulah ia akan mengungkapkan semuanya kepada Damian.Untuk sekarang, ia harus tetap terlihat seperti istri yang tidak tahu apa-apa.Saat Rosaline sedang sibuk mengaduk masakan, tiba-tiba ponsel yang berada di atas meja berbunyi.Ting!Suara notifikasi pesan masuk itu membuat tangannya berhenti sejenak. Begitu layar menyala, sebuah nama langsung terlihat jelas.
Baru saja Rosaline hendak membuka pintu mobilnya, Alexander sudah lebih dulu menahannya. Pria itu menutup pintu tersebut sebelum akhirnya membalikkan tubuh Rosaline agar menghadap kepadanya.BRAKH!Gerakannya membuat Rosaline terkejut. Kini tubuh kecilnya berdiri begitu dekat dengan Alexander, bahkan ruang geraknya seolah terkunci oleh tubuh tegap pria itu.“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Alexander dengan tatapan serius, menatap langsung ke wajah Rosaline.Rosaline mengerutkan kening.Kenapa dia menghindarinya?Apa Alexander masih belum mengerti juga? Atau pria di hadapannya ini sudah lupa bahwa dirinya sudah menikah?Seharusnya Alexander tahu batasan mereka sekarang. Terlebih setelah pertemuan mereka malam itu, Rosaline justru semakin ingin menjaga jarak.“Apa kamu begitu membenciku sampai bahkan menatap wajahku pun kamu nggak mau?” tanyanya lagi.Rosaline terdiam beberapa saat. Tatapannya perlahan terangkat, menatap mata Alexander yang kini terlihat penuh tanda tanya.“Rosa, aku
“Jadi, kamu mau bagaimana? Mau menegurnya langsung?” tanya Sean sambil melipat kedua tangannya di depan dada.“Nggak perlu.” Alexander menggeleng pelan. “Kita gunakan Ridho sebagai mata-mata untuk mencari tahu apa saja yang sedang dilakukan Arya. Kalau kita mematikan apinya sekarang, permainan ini nggak akan seru.”Senyum tipis nan licik muncul di wajah Alexander.Sean terkekeh kecil. “Benar juga. Kamu memang pintar, Alex.”“Kalau begitu, kita jalankan rencana ini. Kita pura-pura nggak tahu apa-apa soal obat tersebut. Lalu suruh Ridho mengatakan kepada Arya bahwa dia berhasil menjalankan rencananya.”Sean mengangguk. “Dengan begitu, Arya akan merasa semuanya berjalan sesuai rencananya dan nggak akan curiga kalau kita sebenarnya sudah mengetahui semuanya.”Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali teringat pada satu hal.“Lalu bagaimana dengan wanita yang sudah dipersiapkan Ridho untukku?” tanyanya. “Bukankah malam itu seharusnya dia datang ke
Sore itu, Alexander akhirnya tiba di sebuah kafe yang alamatnya dikirimkan Sean beberapa jam sebelumnya. Mobil hitam yang membawanya berhenti tepat di persimpangan jalan, di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan nama berwarna putih yang bertuliskan Kafe Terindah.Alexander menurunkan pandangannya pada ponsel yang masih berada di tangannya, memastikan nama kafe tersebut sesuai dengan alamat yang dikirim Sean.Benar.Ia kemudian turun dari mobil, disusul Tama yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.Begitu Alexander membuka pintu kaca kafe, sebuah suara bel kecil terdengar.Kringg…Suasana di dalam jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Kafe itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat sederhana dan hangat. Beberapa meja kayu tertata rapi, lampu-lampu kecil menggantung di langit-langit, sementara aroma kopi dan makanan ringan memenuhi udara.Alexander mengedarkan pandangan, mencari sosok Sean.Tak butuh waktu lama, ia menemukannya di salah satu sudut ruangan. Sean sedang dud







