Share

Bab 3

Penulis: Vale
Satu jam setelah dia pergi, mengaku ada masalah di kasino bawah tanah.

Ponselku bergetar lagi, bukan pesan dari Adriel, tapi notifikasi dari grup percakapan pribadi.

Ini salah satu lingkaran yang hanya terbuka bagi mereka yang namanya sungguh memiliki makna.

Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada basa-basi.

Saat ada perubahan, kabar bergerak lebih cepat daripada rumor manapun.

Akun Adriel.

Dia hampir tidak pernah membuat unggahan secara publik. Di dunianya, terlihat di publik itu berisiko. Apa pun yang dibagikan bisa dianggap niat atau aliansi.

Aku membuka gambar itu.

[Ketika orang yang tepat berdiri di sisimu, kamu tidak lagi ragu. Kamu akan memilihnya dan resmi memasuki pernikahan.]

Di bawah judul itu ada foto Isabel dan Adriel.

Gambar berikutnya menunjukkan tanggal pernikahan mereka.

Pesan-pesan langsung membanjiri percakapan. Tidak ada emoji. Tidak ada simpati. Hanya reaksi tegas dari orang-orang yang paham benar artinya.

Seorang teman bersama mengirimiku pesan, [Ya Tuhan. Apa yang dipikirkan Adriel? Dia mau menikahi wanita biasa.]

Aku keluar dari percakapan dan memeriksa profil Adriel sendiri.

Unggahan itu masih ada.

Kurang dari sepuluh menit kemudian unggahan itu hilang.

Tanpa penjelasan. Tanpa klarifikasi.

Lalu, hampir tanpa jeda, teks dan gambar yang sama muncul lagi dan kali ini di Instagram Isabel, seolah menjadi pengumumannya sendiri.

Di dunia kami, jenis perpindahan seperti itu bukan kebetulan.

Ini sengaja.

Lalu ponselku berdering.

Dulu, aku pasti langsung mengangkatnya dengan marah, dan menghadapi dia dengan mata berlinang. Tapi kali ini, aku tidak.

Kali ini, aku membiarkannya berdering seperti panggilan mengganggu.

Beberapa menit kemudian, panggilan berakhir, dan ruangan kembali sunyi seperti semula.

Melihat unggahan Isabel, aku tidak merasa tersakiti, dan tidak ada amarah membara.

Kalau pun harus merasakan sesuatu, itu hanyalah rasa konyol.

Pernikahan mereka dan pernikahanku jatuh di hari yang sama. Aku tak tahu apakah ini kebetulan atau takdir.

Malam itu, saat Adreil akhirnya pulang, aku sudah berada di ranjang dengan mata terpejam dan napas tenang berpura-pura tertidur.

Dia bergerak pelan di ruangan, langkahnya terukur dan waspada, sangat berbeda dari arogansi yang biasanya dia kenakan begitu mudah sebagai pewaris keluarga berkuasa.

"Karina," tanyanya pelan, nada marah samar terdengar di suaranya.

"Aku meneleponmu tadi, kenapa kamu tidak angkat?"

Aku berpura-pura baru terbangun.

"Pasti aku tertidur, aku tidak mendengarmu."

Dia menghela napas lega, mendekat, dan meraih selimut untuk menutupiku.

"Sudah merasa lebih baik?"

Tepat saat itu, sebuah aroma yang bukan miliknya tercium.

Bau itu membuatku mual.

Aku bergeser sedikit, menghindari sentuhannya.

Dia berhenti sejenak.

"Karina," tanyanya hati-hati dengan suara rendah. "Apa kamu melihat sesuatu?"

Aku menutup mata, dan tidak ingin menatapnya.

"Tidak. Aku hanya lelah dan ingin tidur."

Dia tidak menanyakan lebih jauh.

Malam itu, aku tidur nyenyak sampai fajar.

Ketika bangun keesokan paginya, aku merasa beban berat terangkat dari bahuku, seakan tidak ada yang bisa menahanku lagi.

Dengan pikiran jernih, aku mulai mengemas barang-barangku.

Aku menghapus setiap jejak diriku dari rumah ini yang sebenarnya tidak pernah benar-benar milikku.

Barulah aku menyadari betapa banyak barang pasangan yang pernah kubeli selama bertahun-tahun.

Adriel dulu bilang aku kekanak-kanakan, itu akan merusak reputasi keluarga mafia, tapi dia tetap memakainya bersamaku.

Hanya saja sejak Isabel muncul, dia tidak pernah lagi memakainya.

Melihat semua itu, aku tidak bisa menahan tawa pada diriku sendiri. Sebagai putri kesayangan keluarga, aku bahkan bukan wanita biasa.

Saat mencari, aku menemukan sebuah buku harian.

Isinya penuh kenangan Adriel dan aku, dipenuhi cintaku dan janji-janji Adriel.

Tercatat bertahun-tahun yang kami habiskan bersama.

Tapi sejak Isabel datang, buku itu menghilang.

Ketika Adriel pulang, aku sedang memasukkan buku harian itu ke mesin penghancur kertas.

Dia bergegas maju, wajahnya menampakkan sorot takut dan marah, lalu meraih kembali buku itu. Mengabaikan luka di jarinya, dia menatapku dengan marah.

"Apa kamu gila?" Dia menuntut. "Kenapa kamu menghancurkan buku harian itu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 9

    Jamuan Keluarga Wijaya diadakan di sebuah kediaman batu tua di atas bukit.Lampu gantung kristal.Meja-meja panjang berlapis beludru hitam.Segalanya penuh dengan hierarki dan sejarah.Saat Adriel melangkah masuk, dia langsung merasakannya.Hening sejenak.Perubahan yang begitu halus.Suara-suara rendah mengikuti langkahnya seperti bayangan."Itu dia … pewaris Keluarga Mahendra.""Bukankah jalur pesisir mereka baru saja kehilangan tiga rute?""Kudengar itu karena dia menikahi perempuan yang salah.""Perempuan yang tidak paham aturan."Rahang Adriel mengeras.Dia terus berjalan.Isabel menegang di belakangnya.Jari-jarinya menggenggam lengan bajunya secara refleks.Bisik-bisik lain terdengar cukup jelas"Kalian lihat Austin Pratama akhir-akhir ini?""Tentu. Sejak dia menikahi wanita itu, kinerjanya melesat.""Rute dibuka kembali, dan kemitraan aktif lagi. Kuartal ini dia mendapatkan keuntungan besar."Hening sejenak.Lalu satu kalimat paling menusuk, diucapkan seolah tanpa maksud."Lucu

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 8

    Jamuan bersama Keluarga Wijaya diadakan di Hotel Montrose.Zona netral.Keluarga Kusuma.Tempat ini sengaja dipilih karena tidak benar-benar milik siapa pun dan karena itu, semua orang harus bersikap sopan dan hadir.Austin dan aku tiba tepat waktu.Tidak terlalu cepat.Tidak terlambat.Begitu kami melangkah ke aula, percakapan mereda, dan topik bergeser perlahan.Pandangan orang-orang mengikuti kami, bukan lagi dengan rasa ingin tahu, tapi dengan rasa hormat.Aku merasakannya dengan jelas.Ini bukan pengawasan.Ini penerimaan.Tangan Austin lembut menyentuh pinggangku, memberikan rasa nyaman."Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."Dan memang begitu.Sampai aku melihat Adriel.Dia berdiri di seberang ruangan, berpakaian sempurna seperti biasa, dan dengan Isabel di sisinya. Perempuan itu tertawa keras, satu lengannya melingkari lengan Adriel, seolah kedekatan fisik bisa mengamankan posisinya.Adriel tidak tertawa.Dia menatapku.Tidak terang-teranga

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 7

    Keesokan paginya, ada sesuatu yang terasa tidak beres di rumah Adriel.Ruang yang seharusnya sunyi justru bising.Dan tempat yang seharusnya hangat malah hening.Isabel sudah bangun.Dia berdiri di dekat meja dapur, ponsel menempel di telinganya, suaranya sengaja ditinggikan dan seolah rumah itu sendiri adalah penonton yang perlu dia buat terkesan."Aku sudah bilang, tidak masalah," katanya dengan nada tidak sabar. "Adriel yang akan mengurusnya. Nama Keluarga Mahendra tidak akan dipertanyakan hanya karena hal sekecil ini."Adriel berhenti di ambang pintu."Apa tadi kamu bilang?"Isabel menoleh, terkejut, lalu merapikan ekspresinya dengan mudah."Oh, tidak penting. Hanya gala amal minggu depan. Aku bilang ke penyelenggaranya kita akan datang.""Kamu bilang ke mereka?" Suaranya menajam. "Kamu bilang apa tepatnya?!"Isabel melambaikan tangan seolah menepisnya. "Santai saja. Aku cuma memberi isyarat soal proyek pengembangan pelabuhan yang kamu sebut sebelumnya. Itu akan menarik orang yang

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 6

    Kediaman Keluarga Pratama benar-benar berbeda dari milik Adriel.Di sini, aku tidak merasakan tekanan apa pun.Tidak ada yang mengawasi setiap gerakku.Tidak ada yang membetulkan postur tubuhku, dan tidak ada yang mengingatkanku harus berdiri di mana.Austin berjalan di sampingku."Lewat sini," katanya sambil memberi isyarat lembut, lalu kami menyusuri koridor yang disinari sinar matahari. Jendela-jendela tinggi menghadap ke halaman dalam, cahaya menembus pepohonan zaitun yang tertata rapi dengan begitu tenang dan damai.Saat itu aku sadar, tidak ada yang terburu-buru padaku.Tidak ada yang memaksaku memainkan peran.Tidak ada yang memaksaku patuh.Tidak ada yang memaksaku diam."Bagian ini biasanya dipakai untuk rapat internal," lanjut Austin. "Tapi di sini lebih tenang. Kalau kamu ingin sedikit privasi, tempat ini tidak masalah. Dan tentu saja, kamu bebas pergi ke mana pun."Aku berhenti melangkah. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."Dia ikut berhenti dan menoleh ke arahku."Itu me

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 5

    Sesaat saja, dia memaksa dirinya percaya bahwa itu halusinasi.Wajahnya langsung pucat dengan begitu cepat sampai rasanya menakutkan.Jarinya membeku di udara, buket itu terlepas dari genggamannya dan jatuh miring di kursi kulit di sebelahnya.Aku melihat semuanya.Detik ketika ekspresinya runtuh.Saat kewibawaannya yang selama bertahun-tahun dia jaga dengan begitu hati-hati retak di hadapan semua orang yang penting baginya.Tatapan kami bertemu.Pupil matanya bergetar.Dia mendorong pintu terbuka dan melangkah lurus ke jalan, tak menghiraukan klakson, desahan kaget, atau barisan pengamanan yang tiba-tiba menutup rapat.Dan kemudian kekacauan terjadi."Apa yang kamu lakukan?!" Seseorang berteriak.Adriel tidak mendengar apa pun."Karina!" Dia menyebut namaku dengan refleks.Dia melangkah ke arahku.Pengawal bergerak cepat.Mereka meraih lengannya.Terdengar bentakan perintah dari berbagai arah.Beberapa tubuh segera bergerak menghalangi langkahnya dengan sigap dan terlatih."Pak, Anda

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 4

    Ini pertama kalinya aku melihatnya kehilangan kendali.Aku menatapnya tenang dan berkata, "Aku akan segera menikah. Mungkin semua ini sebaiknya kita tinggalkan saja."Kalimat itu langsung berefek.Adriel membeku. Rahangnya yang tegang perlahan mengendur, namun wajahnya kembali gelap."Kenapa kamu selalu terburu-buru?" katanya dan nada kesal jelas terdengar. "Jangan memaksaku. Aku sudah mengatur pesta pantai untukmu. Manfaatkanlah beberapa hari untuk istirahat."Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Kamu akan datang, kan? Besok genap enam tahun kita bersama."Aku hampir saja berkata tidak.Tapi kemudian aku berpikir, jika aku hendak pergi meninggalkannya, setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan benar.Keesokan harinya, pantai cerah dan musiknya menggema.Aku mengenakan gaun yang sama seperti hari pertama kami bertemu.Di sampingku, tergeletak sebuah koper berisi semua hadiah Adriel selama bertahun-tahun, di dalamnya ada jam tangan, gelang, surat, dan janji-janji berha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status