แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Vale
Adriel beberapa hari terakhir sibuk dengan urusan bisnis mafianya dan sama sekali lupa bahwa dia berjanji merayakan ulang tahunku bersamaku.

Tapi itu tidak penting lagi, karena aku sudah tidak memiliki perasaan padanya lagi.

Akhirnya dia ingat dan memutuskan untuk menebusnya.

Bukan sekadar tiket, Adriel bilang dia sudah menggunakan beberapa koneksi agar artis favoritku tampil secara pribadi. Seseorang yang sudah lama aku kagumi. Dalam dunianya, meminta jasa orang lain adalah hal biasa, tapi tetap saja, mendekati sosok terkenal seperti itu bukanlah hal mudah, bahkan untuk pewaris keluarga mafia yang diam-diam memiliki jaringan luas di seluruh Valmora.

Aku pernah mencoba sebelumnya dan gagal. Jadi ketika dia menyebutnya dengan santai, seolah itu hal sepele, dan mengajakku pergi, aku langsung setuju tanpa ragu.

Malam itu, aku tiba lebih awal dan menunggu di luar gedung opera.

Aku menunggu.

Lampu jalan Luminor memantul di trotoar yang basah, cahaya meredup di tengah gerimis halus yang perlahan menembus mantelku. Kota terasa sunyi, berat dan seolah menahan napas.

Lalu ponselku bergetar.

Bukan pesan dari Adriel.

Melainkan unggahan Instagram dari Isabel.

Dia mengunggah foto memamerkan dua tiket VIP ke Opera Luminor.

Teksnya berbunyi:

[Meski aku tidak terlalu mengerti, menyenangkan rasanya punya orang-orang yang kusayangi di dekatku.]

Foto itu tidak menampilkan wajah dan hanya dua sosok duduk berdampingan.

Sekilas, bisa siapa saja.

Tapi kemudian aku melihatnya.

Tepi jas gelap, dan sedikit tergulung. Jahitan khas di manset yang bersih dan rapi ... tidak salah lagi.

Aku mengenali jas itu.

Aku pernah memesannya khusus untuk Adriel bertahun-tahun lalu, melalui penjahit pribadi yang hanya bekerja untuk keluarga seperti kami. Kainnya, potongannya, dan bahkan lapisan dalamnya yang nyaris tidak terlihat, yang tidak dimiliki orang lain.

Dadaku terasa sesak.

Tidak ada keraguan.

Adriel.

Hujan dingin melekat di rambutku dan menetes ke leher, meresap ke dalam pakaian, membuatku kedinginan sampai ke tulang.

Tapi dingin di dadaku jauh lebih parah.

Ponselku bergetar lagi.

Kali ini dari ibuku.

Dia memberitahuku bahwa pernikahan dijadwalkan dua minggu lagi.

Semua keluarga mafia besar telah dihubungi, dan mereka semua berjanji akan hadir. Aku juga bisa menyampaikan ide lain jika ada.

"Tidak perlu. Biarkan saja sesuai rencana."

Dalam dunia kami, menunda pernikahan bukan sekadar urusan pribadi.

Itu adalah sinyal yang bisa memengaruhi aliansi, reputasi, dan keseimbangan. Aku tidak ingin memperumit hal ini lagi.

Badai semakin deras, dingin menembus tubuh sampai aku menggigil dan hampir pingsan.

Akhirnya Adriel menelepon.

Suaranya santai seperti sedang menandai sesuatu dalam daftar.

"Kenapa belum pulang?"

Aku tetap tenang, suara datar tanpa emosi.

"Apa kau lupa janjimu padaku?"

Ada jeda singkat, dan sembrono. Tanda bahwa dia sedang mengingat-ingat.

Keheningan pun terjadi di ujung telepon.

"Oh … tunggu." Suaranya berubah lebih tajam, seolah baru tersadar sesuatu.

"Hari ini. Kita seharusnya bertemu hari ini."

Dia menghela napas pelan.

"Maaf. Aku benar-benar lupa."

"Aku ada urusan siang tadi, tapi seharusnya aku menelepon. Itu salahku."

Dia ragu sebentar, lalu menambahkan dengan tergesa, "Kamu masih di sana? Aku bisa datang sekarang. Atau kita jadwalkan ulang besok, akhir pekan. Ke mana pun kamu mau."

Aku mendengar dengan tenang.

"Sudah kuduga," kataku dengan nada datar dan tenang. "Tidak apa-apa."

"Tidak, tidak boleh begitu," katanya seketika. "Aku seharusnya tidak…"

"Beneran," potongku lembut. "Aku akan pulang sendiri sebentar lagi. Kau tidak perlu buru-buru."

Ada jeda lagi.

"Setidaknya biarkan aku menjemputmu," desaknya dengan suaranya yang pelan. "Sudah larut."

"Tidak perlu," jawabku. "Aku baik-baik saja."

Dia terdiam sesaat, seolah mencari kata yang tepat.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Kirim pesan kalau sudah sampai rumah."

"Oke."

Saat panggilan berakhir, aku tidak merasa kecewa.

Aku sudah menduga hasil ini sejak menekan nomor teleponnya.

Dan ketika sudah membayangkan akhir ceritanya, rasa sakitnya tidak terlalu menusuk saat benar-benar terjadi.

Beberapa saat kemudian, Isabel memperbarui Instagramnya lagi.

[Dia tidak mau aku sakit di cuaca seperti ini, jadi dia membuatkan cokelat panas dan mendesakku untuk tetap hangat. Pria yang benar-benar merawat kita itu sulit ditolak.]

Foto itu menunjukkan punggung Adriel, dan terlihat jelas dia bekerja keras membuat cokelat panas.

Aku menatap layar sebentar, lalu mematikannya, karena aku tidak peduli lagi.

Malam di tengah hujan membuatku lelah dan terguncang, tubuhku terkuras bukan karena sakit, tapi karena stres dan kurang tidur.

Dokter menyebutnya kelelahan akut dan menyarankan istirahat serta menjauh dari rangsangan yang tak perlu.

Aku menggunakan itu sebagai alasan untuk pindah dari kamar utama, memberitahu Adriel aku butuh sendiri dan ketenangan.

Untuk pertama kalinya, Adriel menyingkirkan semua urusan keluarga, pertemuan, negosiasi, serta kewajiban yang datang bersama posisinya, dan tetap tinggal dengan niat merawatku.

Tapi aku tidak lagi membutuhkan perhatiannya.

Bukan versi perhatiannya yang ini.

"Aku hanya butuh ketenangan," kataku tenang. "Aku terlalu banyak rangsangan. Terlalu banyak orang, terlalu banyak kebisingan. Aku akan baik-baik saja sendiri. Kau urus saja tanggung jawabmu."

Dia mengerutkan alis, menatapku diam, seolah mencoba menemukan titik di mana semuanya berubah.

"Kamu dulu paling ingin aku ada saat keadaan sulit," katanya perlahan. "Kok bisa berubah?"

Aku menundukkan kepala, menyembunyikan semuanya di mataku, dan memaksa tersenyum kecil yang sopan.

"Dulu aku masih anak-anak, tidak mengerti apa-apa, tapi sekarang aku mengerti dirimu."

Sekilas, raut tidak percaya melintas di wajahnya, karena aku selalu begitu menempel padanya.

"Benarkah?"

"Aku baik-baik saja," jawabku tenang. "Beneran, kamu bisa pergi sekarang."

Dia ragu sebentar, lalu teringat Isabel menunggunya.

"Baiklah," katanya. "Hubungi aku kalau ada apa-apa."

Setelah menutup pintu, aku menghela napas lega panjang, dan bersiap untuk beristirahat.

Saat bangun, ponselku menyala dan ada pesan lagi dari ibuku.

Rencana pernikahan akhirnya selesai.

Dia juga mengirimkan selusin proposal desain pernikahan, masing-masing dirancang dengan sangat rinci.

Aku menggulirnya sambil setengah acuh, dan memperbesar beberapa desain. Tata letak kursi, pengamanan, dan simbol bunga, semuanya sudah dipersiapkan sampai uraian terkecil.

Aku begitu tenggelam sampai tidak mendengar Adriel masuk sampai tiba-tiba dia merebut ponselku dan melemparkannya ke tempat tidur.

"Untuk apa kamu melihat desain pernikahan?" tanyanya dengan alis berkerut.

Ada ketajaman di suaranya, tapi juga ada yang lain.

Sekilas ketegangan dan rasa waspada.

Sejenak aku berpikir dia tahu.

Bahwa dia menyadari aku sedang merencanakan pernikahan sendiri yang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya.

Jariku menggantung di layar. Aku hampir bicara ketika dia menghela napas pelan, seakan menenangkan diri.

"Karina," katanya, menurunkan suara. "Kau juga tahu bagaimana keadaan sekarang."

Pandangan matanya tidak sepenuhnya menatapku.

"Aku baru saja jadi Pemimpin Keluarga. Seluruh organisasi mengawasi setiap langkahku."

Dia terdiam sejenak, dan memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Tahun ini … tidak mungkin bisa."

Itu dia.

Bukan penolakan.

Hanya penundaan yang dibungkus alasan.

"Aku tidak menolak," tambahnya cepat, seolah takut aku salah paham. "Aku cuma butuh waktu. Kau mengerti, kan?"

Aku tersenyum tipis dan hati-hati.

"Itu bukan punyaku," kataku. "Itu pernikahan seorang teman. Dia minta aku membantunya memilih."

Dia berhenti sejenak.

Lalu terlihat jelas bahunya rileks.

"Oh." Sebuah napas keluar, yang jelas tidak sengaja dilepas.

"Aku kira .…"

Dia menghentikan ucapannya, lalu tertawa pelan, seolah malu dengan reaksinya sendiri.

"Bagus," katanya. "Aku tidak ingin kamu khawatir. Atau merasa tertekan."

Suaranya melunak, hampir terdengar lembut.

"Tahun depan." Janji itu keluar sambil menatap mataku. "Aku akan memberimu pernikahan yang membuat semua orang iri. Sesuatu yang pantas untukmu."

Aku mengangguk.

Tapi saat dia bicara, yang kudengar hanyalah kelegaan di suaranya, bukan karena dia menenangkanku, tapi karena dia sadar masih punya waktu untuk terus berbohong.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 9

    Jamuan Keluarga Wijaya diadakan di sebuah kediaman batu tua di atas bukit.Lampu gantung kristal.Meja-meja panjang berlapis beludru hitam.Segalanya penuh dengan hierarki dan sejarah.Saat Adriel melangkah masuk, dia langsung merasakannya.Hening sejenak.Perubahan yang begitu halus.Suara-suara rendah mengikuti langkahnya seperti bayangan."Itu dia … pewaris Keluarga Mahendra.""Bukankah jalur pesisir mereka baru saja kehilangan tiga rute?""Kudengar itu karena dia menikahi perempuan yang salah.""Perempuan yang tidak paham aturan."Rahang Adriel mengeras.Dia terus berjalan.Isabel menegang di belakangnya.Jari-jarinya menggenggam lengan bajunya secara refleks.Bisik-bisik lain terdengar cukup jelas"Kalian lihat Austin Pratama akhir-akhir ini?""Tentu. Sejak dia menikahi wanita itu, kinerjanya melesat.""Rute dibuka kembali, dan kemitraan aktif lagi. Kuartal ini dia mendapatkan keuntungan besar."Hening sejenak.Lalu satu kalimat paling menusuk, diucapkan seolah tanpa maksud."Lucu

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 8

    Jamuan bersama Keluarga Wijaya diadakan di Hotel Montrose.Zona netral.Keluarga Kusuma.Tempat ini sengaja dipilih karena tidak benar-benar milik siapa pun dan karena itu, semua orang harus bersikap sopan dan hadir.Austin dan aku tiba tepat waktu.Tidak terlalu cepat.Tidak terlambat.Begitu kami melangkah ke aula, percakapan mereda, dan topik bergeser perlahan.Pandangan orang-orang mengikuti kami, bukan lagi dengan rasa ingin tahu, tapi dengan rasa hormat.Aku merasakannya dengan jelas.Ini bukan pengawasan.Ini penerimaan.Tangan Austin lembut menyentuh pinggangku, memberikan rasa nyaman."Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."Dan memang begitu.Sampai aku melihat Adriel.Dia berdiri di seberang ruangan, berpakaian sempurna seperti biasa, dan dengan Isabel di sisinya. Perempuan itu tertawa keras, satu lengannya melingkari lengan Adriel, seolah kedekatan fisik bisa mengamankan posisinya.Adriel tidak tertawa.Dia menatapku.Tidak terang-teranga

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 7

    Keesokan paginya, ada sesuatu yang terasa tidak beres di rumah Adriel.Ruang yang seharusnya sunyi justru bising.Dan tempat yang seharusnya hangat malah hening.Isabel sudah bangun.Dia berdiri di dekat meja dapur, ponsel menempel di telinganya, suaranya sengaja ditinggikan dan seolah rumah itu sendiri adalah penonton yang perlu dia buat terkesan."Aku sudah bilang, tidak masalah," katanya dengan nada tidak sabar. "Adriel yang akan mengurusnya. Nama Keluarga Mahendra tidak akan dipertanyakan hanya karena hal sekecil ini."Adriel berhenti di ambang pintu."Apa tadi kamu bilang?"Isabel menoleh, terkejut, lalu merapikan ekspresinya dengan mudah."Oh, tidak penting. Hanya gala amal minggu depan. Aku bilang ke penyelenggaranya kita akan datang.""Kamu bilang ke mereka?" Suaranya menajam. "Kamu bilang apa tepatnya?!"Isabel melambaikan tangan seolah menepisnya. "Santai saja. Aku cuma memberi isyarat soal proyek pengembangan pelabuhan yang kamu sebut sebelumnya. Itu akan menarik orang yang

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 6

    Kediaman Keluarga Pratama benar-benar berbeda dari milik Adriel.Di sini, aku tidak merasakan tekanan apa pun.Tidak ada yang mengawasi setiap gerakku.Tidak ada yang membetulkan postur tubuhku, dan tidak ada yang mengingatkanku harus berdiri di mana.Austin berjalan di sampingku."Lewat sini," katanya sambil memberi isyarat lembut, lalu kami menyusuri koridor yang disinari sinar matahari. Jendela-jendela tinggi menghadap ke halaman dalam, cahaya menembus pepohonan zaitun yang tertata rapi dengan begitu tenang dan damai.Saat itu aku sadar, tidak ada yang terburu-buru padaku.Tidak ada yang memaksaku memainkan peran.Tidak ada yang memaksaku patuh.Tidak ada yang memaksaku diam."Bagian ini biasanya dipakai untuk rapat internal," lanjut Austin. "Tapi di sini lebih tenang. Kalau kamu ingin sedikit privasi, tempat ini tidak masalah. Dan tentu saja, kamu bebas pergi ke mana pun."Aku berhenti melangkah. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."Dia ikut berhenti dan menoleh ke arahku."Itu me

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 5

    Sesaat saja, dia memaksa dirinya percaya bahwa itu halusinasi.Wajahnya langsung pucat dengan begitu cepat sampai rasanya menakutkan.Jarinya membeku di udara, buket itu terlepas dari genggamannya dan jatuh miring di kursi kulit di sebelahnya.Aku melihat semuanya.Detik ketika ekspresinya runtuh.Saat kewibawaannya yang selama bertahun-tahun dia jaga dengan begitu hati-hati retak di hadapan semua orang yang penting baginya.Tatapan kami bertemu.Pupil matanya bergetar.Dia mendorong pintu terbuka dan melangkah lurus ke jalan, tak menghiraukan klakson, desahan kaget, atau barisan pengamanan yang tiba-tiba menutup rapat.Dan kemudian kekacauan terjadi."Apa yang kamu lakukan?!" Seseorang berteriak.Adriel tidak mendengar apa pun."Karina!" Dia menyebut namaku dengan refleks.Dia melangkah ke arahku.Pengawal bergerak cepat.Mereka meraih lengannya.Terdengar bentakan perintah dari berbagai arah.Beberapa tubuh segera bergerak menghalangi langkahnya dengan sigap dan terlatih."Pak, Anda

  • Pernikahan yang Tidak Pernah Dia Sadari   Bab 4

    Ini pertama kalinya aku melihatnya kehilangan kendali.Aku menatapnya tenang dan berkata, "Aku akan segera menikah. Mungkin semua ini sebaiknya kita tinggalkan saja."Kalimat itu langsung berefek.Adriel membeku. Rahangnya yang tegang perlahan mengendur, namun wajahnya kembali gelap."Kenapa kamu selalu terburu-buru?" katanya dan nada kesal jelas terdengar. "Jangan memaksaku. Aku sudah mengatur pesta pantai untukmu. Manfaatkanlah beberapa hari untuk istirahat."Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Kamu akan datang, kan? Besok genap enam tahun kita bersama."Aku hampir saja berkata tidak.Tapi kemudian aku berpikir, jika aku hendak pergi meninggalkannya, setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan benar.Keesokan harinya, pantai cerah dan musiknya menggema.Aku mengenakan gaun yang sama seperti hari pertama kami bertemu.Di sampingku, tergeletak sebuah koper berisi semua hadiah Adriel selama bertahun-tahun, di dalamnya ada jam tangan, gelang, surat, dan janji-janji berha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status