Home / Rumah Tangga / Perselingkuhan di Siang Hari / Bab 11 - Naungan yang Menghangatkan

Share

Bab 11 - Naungan yang Menghangatkan

Author: Wee Daevii
last update Huling Na-update: 2025-10-23 13:25:34
Kiara menatap sosok di belakangnya. Napasnya sedikit terengah, rambutnya yang basah, menempel di dahi, matanya membulat mengenali wajah di balik payung itu.

"Arhan?"

Pria itu tersenyum kecil. Payung di tangannya miring sedikit ke arah Kiara, memastikan bahunya tak basah, sementara separuh bahunya sendiri terkena hujan, tak tetutup sepenuhnya oleh payung.

Untuk sesaat waktu seolah melambat. Mereka saling tatap. Pandangan mereka benar-benar bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Kali ini, Kiar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 114 - Payung yang Menutup Sempurna

    Kiara duduk di bangku angkutan umum yang bergerak pelan menyusuri jalan kota. Di sekelilingnya, hampir semua penumpang adalah perempuan paruh baya—wajah-wajah lelah yang menyimpan cerita masing-masing. Ia menatap keluar jendela, lalu tanpa sadar merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pena—sebuah pena pemberian Arhan yang seolah mengalirkan kembali keberanian, mendorongnya untuk sekali lagi merajut mimpi yang sempat ia lepaskan.Ia menggenggamnya sebentar, hatinya berbisik, akhirnya aku menjalani hidup sebagai Kiara yang sebenar-benarnya. Seorang penulis yang tak begitu pandai, yang setiap harinya masih mencemaskan masalah uang. Angkutan itu berhenti di depan pasar tradisional. Kiara turun dan langsung disambut riuh suara tawar-menawar, bau ikan segar, dan langkah kaki yang saling berdesakan. Pasar itu hidup, ramai, dan terasa nyata. Ia berjalan menyusuri deretan pedagang seafood, ikan-ikan laut berkilau di atas es, air mengalir di lantai semen.Kiara berjongkok di depan seorang pedag

  • Perselingkuhan di Siang Hari   113 - Aku Menjadi Aku yang Sebenarnya

    Kiara tersenyum kecil pada Alea yang ia dudukkan di atas koper begitu mereka memasuki pelataran rumah itu. Rumah kecil di Solo—tidak luas dan jauh dari mewah, Alea memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos, seakan tempat itu sudah menyambutnya lebih dulu. "Akhirnya sampai juga,” gumam Kiara pelan, entah untuk Alea atau untuk dirinya sendiri. Saat mereka hampir tiba di depan pintu, angin tiba-tiba berembus lebih dingin. Rintik hujan pun jatuh, lalu dengan cepat berubah menjadi deras. Kiara terkesiap kecil, sebelum akhirnya tertawa—tawa singkat yang hangat di tengah udara dingin. Dengan gerakan tergesa namun tetap ringan, ia menggendong Alea dan menarik koper dengan tangan satunya, berlari kecil melintasi halaman yang perlahan mengilap oleh air hujan. Hujan membasahi wajah mereka. Beberapa helai rambut Kiara menempel di kening, sementara bagian bahunya mulai basah. Begitu tiba di depan pintu, ia berhenti, napasnya terengah tipis. Alea pun ikut sedikit basah, pipinya me

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 112 - Musim Hujan Telah Berakhir

    Kiara melipat pakaian terakhir ke dalam koper dengan gerakan pelan, sesekali matanya menyapu semua sisi rumah. Ada perasaan hangat sekaligus perih di sana. Rumah yang selama ini menjadi tempat ia belajar bertahan, belajar menemukan bahagia, dan belajar terbiasa untuk memeluk rasa sepinya.Ia berhenti di depan lemari kecil dekat ruang tamu. Di sana, sebuah bingkai foto berdiri miring. Foto Aris. Senyumnya sederhana, seperti biasa. Ekspresi yang tenang, tidak pernah berlebihan, seakan hidupnya memang tak harus dirayakan terlalu keras.Kiara meraih bingkai itu, membersihkan debu tipis di permukaannya dengan ibu jari.Sekali lagi… aku sangat berterima kasih kepadamu, ucapnya dalam hati.Kau orang yang baik. Sangat-sangat baik, bahkan untuk luka-luka yang telah kuberikan.Ia meletakkan kembali foto itu, lalu menghela napas panjang—sebelum akhirnya berbalik dan mulai menarik koper ke arah pintu. Namun, langkahnya tertahan. Udara di ruangan itu terasa berubah—heningnya berbeda. Kiara mendon

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 111 - Perpisahan

    Arhan berdiri terpaku di depan jendela apartemennya. Di luar sana, jalanan terkubur di bawah tumpukan salju yang memutih—pemandangan yang dingin, bisu, dan terasa begitu asing. Berkali-kali ia mengusap telapak tangannya, mencoba mengusir gigil yang bukan hanya berasal dari cuaca, melainkan juga dari kegelisahan yang entah sejak kapan menetap di dadanya.Ia menyalakan televisi, membiarkan kebisingan apa pun mengisi sudut-sudut ruangan agar kesepian tak terlalu menyesakkan. Langkahnya kemudian beralih ke dapur kecil. Dengan gerakan mekanis, ia memasukkan satu kapsul kopi ke dalam mesin. Di negeri asing inilah ia memilih menepi, mencoba menyusun kembali kepingan studinya yang sempat tertunda.Suara mesin kopi berdengung pelan, bersahut-sahutan dengan gumam suara dari ruang tengah. Cairan hitam pekat mulai menetes, perlahan mengisi gelas bening di tangannya. Aroma pahit yang hangat segera menguar—kontras dengan hawa dingin yang merayap masuk dari balik celah kaca.Tepat saat gelas itu pen

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 110 - Keputusan Terakhir

    Dua tahun kemudian.Aris berdiri di Terminal 3 keberangkatan internasional. Bandara pagi itu ramai, tapi tidak bising—suara langkah kaki, roda koper yang diseret, dan pengumuman keberangkatan saling bertumpuk seperti kebisingan yang tertib. Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, membuat semuanya terasa dingin dan terlalu terang.Ia berada di depan konter pelayanan check-in bagasi. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras—seakan ada sesuatu yang terus ia tekan agar tak keluar ke permukaan.“Bisa dibantu tiket online dan berkas-berkasnya, Pak. Untuk keberangkatan berapa orang?” tanya petugas dengan senyum profesional.Aris mengangguk kecil, lalu menyerahkan ponselnya.“Untuk tiga—” ucapannya terhenti.Ia refleks menoleh ke belakang.Tidak jauh dari barisan antrean, Kiara berdiri sambil menggendong putri kecilnya. Anak itu sudah bisa berjalan, tapi pagi ini tampak lebih senang bersandar di bahu ibunya. Kiara tidak menatap Aris. Pandangannya kosong, menembus keramaian banda

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 109 - Luka yang tak Pernah Selesai

    Aris baru saja meletakkan kunci mobil di atas meja ketika akhirnya bertanya, suaranya tenang, tak ada sama sekali terselip nada kekecewaan.“Kamu baik-baik saja?”Pertanyaan itu membuat Kiara terdiam. Ia bahkan mengira Aris akan marah, atau setidaknya bertanya—tentang keributan, tentang tatapan orang-orang, tentang orang yang menyebutnya sebagai istri dari orang lain. Tapi tidak. Yang ia dapat justru pertanyaan paling sederhana, sekaligus membuatnya terus saja merasa berdosa.Kiara mengangguk pelan, lalu menggeleng lagi. Bibirnya terbuka, ragu. Penuh kehati-hatian.“Mas…”Aris langsung menoleh. “Udah,” potongnya lembut. “Kamu nggak usah bahas lagi. Nggak usah bilang maaf juga.”Kiara menatapnya.“Aku tahu kamu mau minta maaf, kan?” lanjut Aris. “Sekarang anggap aja kejadian tadi nggak pernah ada.”Kalimat itu seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, hati Kiara justru terasa makin perih.Belum sempat ia bicara lagi, bel rumah berbunyi.Keduanya saling pandang.Lalu tanpa menunggu dibuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status