Home / Rumah Tangga / Perselingkuhan di Siang Hari / Bab 50 - Api yang Membesar

Share

Bab 50 - Api yang Membesar

Author: Wee Daevii
last update Huling Na-update: 2025-12-01 17:40:32

Kembang api masih mekar satu per satu di langit Jakarta—merah, hijau, ungu—semuanya memantul di mata Kiara, membuat malam itu seperti terasa jauh lebih berwarna.

Arhan berdiri tepat di belakangnya,ia merangkul Kiara dari belakang.

Pelan, dan penuh keromantisan.

Kiara tidak menjauh.

Kedua tangannya justru terangkat, menyentuh lengan Arhan yang melingkar di bahunya.

Keduanya sama-sama diam, hanya menatap langit.

Cincin di jari mereka—dua cincin berbeda—berkilat tipis terkena cahaya kembang api.

Kesadaran itu menampar mereka seketika.

Perlahan, Kiara menurunkan tangan Arhan dari bahunya.

Namun jari mereka masih saling menggenggam—erat, seperti enggan dilepas.

Dan ketika Kiara akhirnya menatap Arhan, hatinya terjun bebas begitu saja. Tak terhitung sudah berapa kali ia jatuh pada pria ini …, jatuh tanpa bisa menahan dirinya sendiri.

“Kiara….” suara Arhan memanggil dengan lembut. “Aku ingin tinggal bersamamu.”

Dunia Kiara berhenti.

Kalimat itu bukan angin lalu. Bukan sekadar luapan emosi s
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 97 - Ada Kehidupan Baru

    Kiara berniat memastikan kebenaran itu."Ibu Kiara Andryana," panggil seorang perawat yang keluar dari ruang poli obgyn.Kiara segera berdiri dan bersiap masuk ke sana. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, Aris sudah berdiri di sampingnya.“Aku ikut,” katanya tegas.Kiara menoleh.“Bagaimanapun,” ucapnya pelan tapi tak memberi ruang untuk ditolak, “aku masih suamimu.”Kiara tak punya alasan untuk menolak. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil, pasrah, membiarkan Aris berjalan di sisinya masuk ke ruangan itu.Dokter mempersilakan Kiara berbaring. Gel dingin dioleskan ke perutnya. Alat USG ditekan perlahan—lalu sedikit lebih kuat—sementara mata dokter fokus pada monitor di hadapannya. Ruangan terasa hening, seakan semua napas tertahan.Di layar yang tergantung di dinding, sebuah kantung kehamilan terlihat jelas. Di dalamnya, sebuah titik kecil—nyaris tak berbentuk, namun nyata. Hidup. Kiara menatapnya tanpa berkedip. Tenggorokannya mengencang. Ada kegelisahan di sana, tap

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 96 - Ternyata Harus Sejauh Ini

    Erwin menggendong bayi itu dengan hati-hati, seolah takut satu gerakan kecil saja bisa merusak keajaiban yang sedang ia pegang.Di taman itu, cahaya matahari sore jatuh lembut di sela dedaunan. Angin berembus pelan, membawa suara tawa anak-anak lain dari kejauhan. Dalam momen itu, dunia terasa jauh lebih ringan bagi Erwin—hanya ada dirinya dan putra kecilnya, terbingkai hangat dalam pelukan yang penuh rasa syukur.Wajah mungil itu begitu familiar. Garis alisnya, hidung kecilnya, bahkan cara ia mengerjap, semuanya seperti cerminan dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih kecil. Erwin tersenyum, senyum yang rapuh namun tulus. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh pipi bayi itu, mengusapnya pelan.“Hei,” bisiknya, hampir tak terdengar, sambil menggerakkan jarinya sedikit, mengajak bayi itu bermain.Bayi itu menatapnya, lalu tersenyum. Senyum polos tanpa beban, seolah benar-benar mengerti bahwa dirinya sedang diajak bercanda. Dada Erwin menghangat, lalu rasa perih itu datang—pelan, dalam,

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 95 - Berjalan di Atas Cangkang yang Retak

    Kiara duduk di ranjang rumah sakit, punggungnya bersandar pada bantal putih yang terlalu bersih untuk hancurnya perasaan yang ia miliki. Selang infus menggantung di sisi tangannya. Lampu kamar redup, tapi hatinya bahkan terasa lebih gelap lagi.Aris duduk di hadapannya.Jarak mereka tidak sampai satu meter, tapi terasa seperti dua dunia yang tak lagi saling mengenal.Tidak ada yang berbicara.Kiara menunduk, matanya terpaku pada jemarinya sendiri—jemari yang masih menyisakan bekas luka tipis. Aris pun tidak menatapnya. Pandangannya kosong, menempel pada lantai.Waktu berjalan pelan. Sangat pelan.Lalu Aris menarik napas panjang. Suaranya keluar lirih, nyaris tak terdengar.“Kiara…”Ia berhenti sejenak, seperti harus mengumpulkan keberanian untuk berlari ke tempat yang penuh ranjau.“Ayo kita bercerai.”Kalimat itu jatuh begitu saja dengan nada lelah.Kiara tidak bereaksi.Ia tetap duduk di sana, tak sedikitpun mengubah posisinya. Ia terus menunduk, seolah kalimat itu hanyalah suara la

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 94 - Abu dan Kesedihan yang Mendalam

    Api merambat cepat.Kain lap yang terbakar menjalar ke sisi penanak nasi, lidah api memantul ke kabin kitchen set yang mulai menghitam. Bau hangus memenuhi dapur, asap menebal, menusuk hidung dan mata.Namun Kiara tidak bergerak.Ia masih duduk di lantai, memeluk buku itu erat-erat. Tangisnya pecah dengan teriakan suara yang jelas, bahunya naik turun menahan sesak yang tak lagi bisa ia kendalikan. Dunia seolah menghimpitnya tepat pada rasa kehilangan yang menyesakkan dadanya.Tekanan dan kesedihan yang menumpuk terlalu lama membuatnya tak menyadari bahaya yang kini berada begitu dekat.Api menyala. Asap mengepul.Kiara tetap menangis.Lalu ia bangkit.Gerakannya tidak panik. Tidak tergesa. Matanya kosong, pikirannya seperti terlepas dari tubuhnya sendiri.“Aku akan membuang semuanya,” gumamnya lirih.“Harus kubuang semuanya.”Ia meletakkan buku itu ke tengah api yang mulai berkobar. Kertas-kertasnya mengerut, hangus perlahan, huruf-huruf yang pernah berarti segalanya berubah menjadi a

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 93 - Di balik Kaca, di Dalam Api

    Rani duduk di kursi roda di depan kaca besar ruang perawatan. Tubuhnya masih pucat, pakaian rumah sakit membalutnya longgar. Selang infus menempel di tangannya, sisa-sisa kelelahan persalinan masih jelas terlihat di wajahnya.Namun matanya berbinar.Di balik kaca itu, seorang bayi laki-laki tertidur di dalam inkubator. Tubuhnya kecil, napasnya teratur, begitu nyata—dan begitu hidup. Senyum Rani mengembang perlahan, tulus, seolah semua rasa sakit yang ia lewati tadi malam menemukan maknanya di sana.Langkah seseorang mendekat. Seorang laki-laki berdiri di sampingnya, ikut menatap ke arah bayi mungil itu.Rani tidak langsung menoleh. Ia mengira itu suaminya.“Makasih ya, Mas…” ucapnya pelan.Kalimat itu terhenti di udara.Senyumnya runtuh seketika saat ia menoleh dan mendapati wajah yang tidak ia harapkan.Erwin.Darah di wajah Rani seolah surut. Tangannya mencengkeram sandaran kursi roda. “Ngapain kamu ke sini?!” suaranya rendah, gelisah.Erwin tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 92 - Payung, Minuman Kaleng, dan Perempuan Bernama Kiara

    Aris terus berjalan tanpa tujuan. Langkahnya membawanya keluar dari kompleks, hingga berhenti di depan minimarket yang masih terang meski malam mulai turun. Ia masuk sebentar, mengambil minuman kaleng dari rak pendingin, lalu membayarnya tanpa benar-benar melihat kasir.Ia duduk di kursi plastik di depan minimarket itu. Membuka kalengnya dalam satu tarikan.Tegukan pertama terasa dingin dan pahit di tenggorokan. Entah kenapa, rasa itu menariknya jauh ke belakang—ke masa yang nyaris ia lupa pernah ia miliki.Dulu, minuman ini juga yang Kiara pesan.Saat itu ia masih dokter umum di sebuah klinik kecil dekat kampus. Seragamnya sederhana, lelahnya nyata, tapi hidup terasa ringan. Mereka bertemu di sebuah tempat makan cepat saji tak jauh dari sana. Kiara berdiri di depan kasir, wajahnya sedikit panik saat merogoh tas dan sakunya.“Sebentar…” gumamnya pelan.Aris, yang mengantre tepat di belakangnya, melihat kegugupan itu. Tanpa banyak pikir, ia maju setengah langk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status