MasukMereka bersepeda menyusuri jalanan kecil yang membelah perbukitan. Arhan berada di depan, mengayuh dengan santai, sementara Kiara duduk membonceng di belakang, kedua tangannya berpegangan di pinggang pria itu. Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma bunga liar dan dedaunan kering.
Dalam diam, Kiara berbicara pada dirinya sendiri. Sinar matahari pukul tiga sore…. Pada hari-hari biasa, jam segini tak pernah berarti apa-apa. Biasanya aku hanya lelah, tergesa, memikirkan pesanan kafe, jam pulang, dan hal-hal yang harus kuselesaikan. Tapi sekarang… rasanya begitu berbeda. Sangat-sangat membuatku bahagia. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat sehelai daun yang tergeletak di pinggir jalan, dan batu-batu kecil yang terserak, seolah sedang menyusun ceritanya sendiri. Aku ingin tahu, batinnya pelan, apa yang membuatku sebahagia ini. Arhan tiba-tiba memperlambat laju sepedanya, lalu berhenti. Kiara hampir kehiDewi masih duduk di kursinya, pandangannya mengikuti kendaraan Arhan yang mulai melaju menjauh dari kafe. Lampu sein menyala, lalu menghilang di tikungan. Dewi tidak langsung beranjak. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya.Di tempat lain, Kiara sedang berada di dapur kecil rumah itu. Kompor menyala, aroma masakan perlahan memenuhi ruangan. Ponselnya bergetar di atas meja.Arhan:Tunggu sebentar lagi. Aku sudah dekat, sebentar lagi sampai. Kiara tersenyum tanpa sadar. Senyum yang ringan dan jujur. Ia mematikan kompor, melepas celemek, lalu berlari kecil ke arah halaman depan. Angin malam menyapu wajahnya.Dalam hatinya, ia berbisik,Aku tahu suara langkah kakinya. Aku tahu cara pintu itu terbuka. Langkah-langkah manis itu kini segera menuju ke arahku.Saat langkah Kiara berhenti di tengah halaman, pintu pagar depan terbuka.Arhan berdiri di sana.“Kamu nggak harus keluar,” kata Arhan lembut.Kiara tidak menjawab. Ia hanya melangkah cepat ke ar
Menjelang senja, Kiara masih menunggu.Langit mulai meredup, matahari perlahan turun di balik pepohonan. Kiara berdiri di halaman rumah, jari-jarinya menggenggam liontin semanggi di lehernya. Ia memutar-mutar benda kecil itu tanpa sadar, seolah dari sanalah rasa tenang akan datang.Tak lama, ia duduk di kursi ayunan kayu. Ayunannya bergerak pelan, berderit kecil, menemani detik-detik yang terasa berjalan terlalu lambat. Pandangannya terus tertuju ke arah pintu gerbang depan. Namun sosok yang ia tunggu tak kunjung muncul.Kiara menghela napas panjang.Dari saku celananya, ia mengeluarkan ponsel yang sejak dua hari lalu dimatikan. Sebentar ia ragu, lalu menekan tombol daya. Layar menyala. Beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar.Sebuah panggilan masuk.Nama Rani muncul di layar.Kiara tersenyum kecil. Senyum yang tipis, tapi hangat. Ia hampir lupa bahwa di dunia yang terasa runtuh ini, masih ada satu orang lagi yang selalu berdiri di sisinya—tanpa syarat, tanpa tuntutan.Ia mengges
Di malam ketika Kiara terbangun karena mimpi buruk, Arhan menenangkannya hingga napas perempuan itu kembali teratur dan tubuhnya mengendur dalam pelukan. Lama Arhan menatap wajah yang kini terlelap itu, seolah memastikan tidurnya benar-benar pulih. Setelah yakin Kiara tak lagi gelisah, ia bergerak perlahan, berhati-hati agar tak membangunkannya. Tangannya meraih ponsel yang sejak kemarin sengaja dimatikan. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi berhamburan memenuhi layar, namun Arhan mengabaikannya. Ia langsung mencari satu nama—lalu menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama panggilan itu langsung tersambung.“Berani sekali kamu menghubungiku,” suara Aris terdengar dingin, menahan amarah. “Setelah membawa kabur istri orang.”Arhan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak membalas dengan nada tinggi. “Saya ingin bertemu, Pak Aris,” katanya tenang. “Saya ingin menyelesaikan semua ini secepatnya. Kita bicarakan langsung.”Di seberang, terdengar tawa singkat tanpa kehangatan. “Nyali kamu
Aris sudah tiba di Jogja sore itu. Lampu-lampu restoran hotel tempat ia menginap menyala terang, memantulkan cahaya hangat yang justru berseberangan dengan suasana di antara mereka. Aris dan Dewi duduk saling berhadapan, dua cangkir kopi terletak di meja, nyaris tak tersentuh. Dewi memecah keheningan lebih dulu. “Akhirnya kamu bergerak juga,” katanya datar. “Tidak cuma duduk menunggu istrimu pulang.” Aris menghela napas pelan. “Sebenarnya aku percaya Kiara bakal pulang sendiri.” Belum sempat kalimat itu benar-benar mengendap, Dewi menyela. Ia menurunkan cangkir yang baru saja diminumnya dengan suara kecil namun tegas. “Kita tidak sedang membicarakan anak remaja yang kabur dari rumah,” ujarnya tajam. “Ini perempuan dewasa yang memilih pergi dengan pria lain.” Aris menautkan jarinya, menatap meja. “Baiklah. Karena aku sudah sampai di sini,” katanya akhirnya, “katakan… kira-kira di mana istriku sekarang berada.” Dewi mengangkat bahu tipis. “Kita harus mencarinya. Kita tidak bisa
Mereka akhirnya tiba di rumah itu—sebuah bangunan sederhana yang berdiri tenang di tengah alam, dikelilingi pepohonan dan udara yang terasa lebih jujur. Arhan menuntun sepeda ke samping, lalu menoleh pada Kiara.“Kalau begitu kamu mandi dulu,” katanya santai. “Aku siapin makan malam.”Kiara tak langsung menjawab. Ia justru memeluk Arhan dari belakang, menempelkan pipinya di punggung pria itu. Pelukannya lembut, namun terasa menahan.“Sebentar lagi,” ucapnya pelan. “Aku ingin lebih lama berdua sama kamu. Sebentar lagi saja.”Arhan terdiam sejenak, lalu memutar tubuhnya. Ia memegang kedua tangan Kiara, menatap wajah itu dengan senyum yang tak dibuat-buat.Kiara menarik tangan Arhan, membawanya ke sebuah kursi kayu ayunan di teras. Mereka duduk berdampingan. Kiara menyilangkan kaki, satu tangannya menyangga pipi, menatap Arhan dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Ceritakan tentang masa kecilmu,” pintanya. “Tentang kakek dan nenekmu yang dulu tinggal di sini.”
Mereka bersepeda menyusuri jalanan kecil yang membelah perbukitan. Arhan berada di depan, mengayuh dengan santai, sementara Kiara duduk membonceng di belakang, kedua tangannya berpegangan di pinggang pria itu. Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma bunga liar dan dedaunan kering. Dalam diam, Kiara berbicara pada dirinya sendiri. Sinar matahari pukul tiga sore…. Pada hari-hari biasa, jam segini tak pernah berarti apa-apa. Biasanya aku hanya lelah, tergesa, memikirkan pesanan kafe, jam pulang, dan hal-hal yang harus kuselesaikan. Tapi sekarang… rasanya begitu berbeda. Sangat-sangat membuatku bahagia. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat sehelai daun yang tergeletak di pinggir jalan, dan batu-batu kecil yang terserak, seolah sedang menyusun ceritanya sendiri. Aku ingin tahu, batinnya pelan, apa yang membuatku sebahagia ini. Arhan tiba-tiba memperlambat laju sepedanya, lalu berhenti. Kiara hampir kehi







