Share

Persimpangan Pilihan
Persimpangan Pilihan
Penulis: Ayas Larasati

1. Mendung Awan Hitam

Pagi yang cukup cerah ini Raline Ayunda sedang fokus mengendarai motor agar bisa cepat sampai ke kampusnya. Dia bilang; itu adalah kampus kesayangannya. Bagaimana tidak, Raline Ayunda merasa kuliahnya berjalan begitu lama ia tidak segera bertemu dengan skripsi — sidang proposal atau jenjang terakhir kuliah pada umumnya. Pagi yang cukup cerah ini kota Surabaya sedang dipadati kendaraan yang sedang berlalu lalang. Tenang, Raline bukan mahasiswa bandel ia malah termasuk mahasiswa yang begitu rajin mengikuti setiap mata kuliahnya dan pagi yang cerah ini Raline ditemani oleh sebuah lagu yang mengalun di telinganya. 

🎵 Rossa - Pudar 

Itu adalah salah satu cara Raline agar tidak ikutan emosi di jalan karena pengendara motor atau mobil kadang suka ugal-ugalan bahkan semaunya sendiri. 

"Kenapa lagunya bisa pas gini?" Raline berkata di balik maskernya. 

Lagu yang Raline putar terus mengalun sampai ia tiba di parkiran kampusnya. Tidak perlu membutuhkan waktu yang begitu lama untuk sampai ke kampus tercintanya, ia hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja. 

Melepas helm — berkaca di kaca spion motor — merapikan pakaian lalu berjalan ke arah gedung fakultas. Headset yang masih berada di telinganya membuat ia berulang kali mengayun-ayunkan kepalanya sesekali ia memetik jari untuk mengikuti ritme irama lagu yang ia dengar, begitu terus sampai seseorang menepuk pundaknya. 

"Line!" 

Raline yang terkejut langsung menoleh ke arah seseorang itu sambil melepaskan headsetnya. 

"Pagi, sayang" ucap Raline sambil tersenyum kepada seseorang itu 

"Pesanku kenapa tidak dibalas?" 

"Masih di jalan, belum sempat membuka ponsel. Ini saja masih asyik mendengarkan lagu. Kamu mau mendengarnya juga?" Raline menyodorkan headset kepada seseorang itu. 

"Tidak. Aku ingin marah denganmu" 

"Huft, pagi-pagi dapat sarapan amarah. Harusnya kecupan manis atau senyuman yang menawan gitu" sambung Raline sambil melanjutkan langkah kakinya. 

"Semalam kenapa lama membalas pesanku? Kamu sedang bersama lelaki lain lagi?" 

"Ck, By, kenapa harus membahasnya sepagi ini?" Raline yang berdecak kesal lalu memberhentikan langkahnya. 

"Kamu duluan yang mulai. Akhir-akhir ini kamu sering lama membalas pesanku nggak cuma itu, kamu juga sering tidak mengangkat telponku" 

Raline hanya menghela nafas dan menatap Robby. Robby Wijayanto, kekasih Raline. Mereka sudah cukup lama menjalin hubungan semenjak kelas tiga SMA. Kalau dihitung-hitung mereka sudah mau tiga tahun pacaran. 

Semenjak kejadian itu, Raline sedikit kesal dengan sikap Robby yang seakan terus mengekang — terus menanyakan keberadaannya dan mereka juga sering terlibat perdebatan renyah yang sebenarnya sepele banget, namun buat mereka itu nggak bisa dibiarkan. 

Pagi yang cerah itu berubah menjadi mendung awan hitam gelap untuk hati Raline. Suasana hatinya seketika berubah saat dicecar pertanyaan terus menerus oleh Robby. 

"Kenapa balasnya lama?" 

"Kamu sedang bersama lelaki lain, kan?" 

"Terus, kenapa nggak langsung kabari aku?" 

"Kamu kenapa, sih, Line?" 

"Sudah nggak sayang sama aku?" 

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Raline, ia hanya perlu meninggalkan Robby di depan gedung fakultasnya dan membiarkan Robby tenggelam dengan pertanyaan yang ia buat sendiri. Dengan begitu, Robby hanya berdecak kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. 

"Ada yang nggak beres lagi sama Raline" 

Tanpa menunggu lama, Robby berbalik badan dan berjalan ke arah fakultasnya. Tidak begitu jauh jaraknya, namun Robby masih merasa kesal dengan sikap kekasihnya. 

Sekarang suasana hati mereka skornya satu sama. Sama-sama mendung berawan hitam gelap. Robby bersikap seperti ini tentu memiliki alasan yang kuat. Ia tidak ingin Raline melakukan hal itu lagi. Namun, mereka tetap bertahan di atas egonya masing-masing yang mengatakan kalau diri mereka tidak salah. 

✨✨✨

Di kelas Raline duduk dengan membantingkan tubuhnya ke kursi. Kalau diibaratkan seperti sedang membuat roti yang adonannya dibanting di atas meja marmer dan Raline tidak berhenti berdecak sambil mematikan lagu di ponselnya. Ia juga langsung membuka pesan dari Robby yang isinya sama seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh Robby tadi.

"Hmm.. kalau seperti ini terus lama-lama aku akan menjadi pasir yang sedang digenggam, pelan-pelan aku keluar dari celah jari-jari itu" Raline berkata dalam hatinya karena ia tidak ingin teman-temannya terganggu dengan cuaca buruk ini. 

"Pagi-pagi sudah mendung gini.. mataharinya kemana, ya?" Ucap salah satu teman kelas Raline yang terhitung dekat juga dengan Raline. Ia sedang menggoda Raline yang baru saja tiba di kelas. 

"Tadi ada waktu berangkat kuliah" 

"Terus sekarang kemana?" 

"Hilang tadi di parkiran motor" 

"Kenapa,sih, cantik? Jangan mendung-mendung banget, dong. Temennya juga pengen lihat yang cerah-cerah" 

"Robby" jawab Raline yang sambil mengerucutkan bibirnya. 

"Baiklah, nggak ikut-ikut kalau masalah itu" 

"Sebel banget. Pagi-pagi sudah dicecar pertanyaan yang bikin suasana hatiku berubah gini" 

"Sudah paham sama resiko berpacaran,kan? Kalau nggak mau kayak gini nggak usah pacaran" 

"Argh, bicara denganmu tidak menemukan solusi" 

"Sekarang gini, Robby kayak gitu pasti punya alasan. Kamu pikir baik-baik kamu pernah melakukan apa?" 

Raline mengernyitkan dahinya sejenak seraya berpikir ia pernah melakukan apa dengan Robby sampai membuatnya seperti ini. 

"Ya, itu,kan, kejadiannya sudah lama, Ge" 

"Lama atau sebentar kalau itu bikin sakit hati seseorang, itu bakal jadi pemicu dia jadi gini sama kamu" 

"Lagian, kamu sok cantik banget pakai jalan sama cowok lain" sambung Geisha. 

Raline hanya melamun sambil mengingat kejadian tersebut. Ia kembali mengingat jika ia pernah membuat Robby sakit hati yang paling sakit. Nggak ada obatnya kalau sudah bicara tentang sakit hati, yang ada malah bikin orang bisa trauma dengan kejadian itu bahkan takut jika pasangannya melakukan hal yang sama. 

Dengan mengatasnamakan sayang dan cinta, Robby tetap memilih melanjutkan hubungan dengan Raline. Walaupun, Robby sudah di buat sakit sesakitnya oleh Raline. 

Raline juga punya alasan kenapa ia melakukan hal itu; menemui mantannya dan jalan-jalan sore bersamanya. Raline merasa hubungannya terlalu monoton, rutinitas pacarannya hanya itu-itu saja. Menanyakan kabar — mengerjakan tugas bersama — makan di kantin atau di cafe luar kampus. Monoton, secara tidak langsung Raline bosan dengan hubungannya.

*** 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
larasati egha
Pernah di keadaan kayak Raline gitu,sih.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status