แชร์

3. Perisai Sang Pewaris

ผู้เขียน: NoeraAmeera
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-08 09:10:38

"Tutup mulut kalian dan jangan pernah sebutkan pertukaran ini sampai hari pernikahan tiba!" Suara Salsabila mendesis tajam, menghentikan tawa kemenangan yang baru saja meledak di taman malam itu.

Langkah kakinya tertahan di atas rerumputan, berbalik dengan tatapan yang sanggup membekukan darah Jasper dan Eliza. Jemarinya mencengkeram map hitam berisi surat aset dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Jika sampai telinga keluarga Svarga mendengar rencana ini sebelum janji suci diucapkan, aku bersumpah akan menyeret kalian semua ke neraka yang paling dalam," ancam Salsabila dengan nada rendah yang sarat akan racun.

Mereka tertawa, sementara para pelayan berbisik-bisik tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar mereka.

Safira mendongak, melipat kedua tangan di dada dengan senyum meremehkan yang menghias bibirnya. "Kamu tidak perlu mengancam kami, Kakak Sayang, karena aku pun tidak sudi berbagi pangeranku denganmu."

Jasper mengangguk cepat, menyeka keringat dingin yang mendadak terbit di pelipisnya setelah mendengar gertakan putri sulungnya. "Papa akan memastikan semua pelayan mengunci mulut mereka rapat-rapat demi kelancaran bisnis kita."

Eliza segera merangkul pundak Safira, mengelus rambut putrinya dengan binar mata yang memancarkan keserakahan tanpa batas. "Putriku tersayang akhirnya akan memakai mahkota tertinggi sebagai istri dari penguasa tunggal Svarga."

Ketiga orang itu saling melempar senyum penuh kemenangan, mulai tenggelam dalam fantasi kemewahan baru yang akan segera mereka nikmati. Mereka mengabaikan eksistensi Salsabila yang kini perlahan membalikkan tubuh untuk meninggalkan area taman mansion.

"Nona Salsabila, kau tidak apa-apa?" Nanny, kepala pelayan wanita menghampiri Salsabila.

Gadis itu hanya diam.

"Kasihan Nona Salsabila, Tuan Jasper sungguh tega pada anak kandungnya," sahut pelayan muda.

Salsabila berjalan membelah koridor sunyi rumah, melangkah lurus menuju pintu kayu kusam di sudut paling belakang. Sepasang matanya terasa panas, namun ia memaksa kelopak matanya melebar demi menahan bulir air mata agar tidak jatuh. Tangannya yang gemetar mendorong pintu kayu tersebut, menuruni satu demi satu anak tangga semen yang dingin dan berdebu.

Langkah kakinya terhenti tepat di tengah gudang bawah tanah yang selama lima tahun ini dipaksa menjadi ruang tidurnya. Salsabila menyandarkan punggungnya pada dinding batako yang lembap, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai.

Hingga kemarin siang, tempat gelap ini adalah satu-satunya saksi bisu betapa ia memuja nama Lazarus dalam setiap doa malamnya. Remaja yatim piatu itu dahulu sangat meyakini bahwa pemuda Svarga tersebut adalah satu-satunya masa depan yang akan menyelamatkannya. Keyakinan buta itu kini menjelma menjadi belati paling berkarat, menikam dadanya tepat setelah sebuah kebenaran terungkap di kediaman Svarga.

Salsabila memejamkan mata, membiarkan memori kemarin siang kembali berputar kasar di balik dinding kepalanya.

***

Siang itu, ia berdiri membeku di balik pilar lantai dua mansion Svarga, tidak sengaja menangkap gaung suara Lazarus dari dalam ruang kerja.

"Aku hanya mencintai Safira, Ibu, dan keberadaan Salsabila sejak awal hanyalah perisai terbaikku," ujar Lazarus dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan.

"Perisai?" Napas Salsabila sempat terhenti di balik pilar, tangannya membekap mulutnya sendiri agar jeritan syoknya tidak lolos ke udara.

Lazarus berjalan mendekati jendela besar, menatap hamparan taman luas dengan sorot mata yang penuh kalkulasi politik. "Mata semua musuh bisnis kita sedang tertuju pada tahta Svarga, mencari celah untuk menghancurkan pewarisnya."

"Bagaimana dengan kakakmu, Rafael?" tanya sebuah suara lembut yang tak lain adalah milik Lady Florist, sang ibu.

Lazarus mendengus hambar, memutar gelas kristal di tangannya hingga es di dalamnya berdenting pelan. "Rafael sudah hancur sejak pembunuhan gagal itu, dia selamat namun kedua kakinya lumpuh total dan selamanya akan koma."

"Ibu tidak menyangka kamu memiliki rencana seburuk ini, Lazarus," ucap Lady Florist, suaranya bergetar menahan rasa tidak percaya yang mendalam. "Pikiranmu terlalu licik untuk mengorbankan gadis malang seperti Salsabila."

Lazarus membalikkan badan, menatap ibunya dengan sepasang mata yang mengeras tanpa secercah rasa bersalah sedikit pun. "Salsabila berbeda dengan Safira yang rapuh, jalang kecil dari gudang bawah tanah itu sangat tangguh dan bisa bertahan dari serangan apa pun."

Lady Florist berdiri dari kursi kerjanya, memukul permukaan meja kayu mahoni dengan telapak tangan yang gemetar hebat. "Semua permainan gila ini tidak adil untuk Salsabila, dia kehilangan ibunya dan sekarang kamu berniat menghancurkan hidupnya!"

"Ibu tahu seberapa tersiksanya aku selama ini?" Lazarus membalas dengan bentakan yang mengguncang keheningan ruangan mewah tersebut. "Setiap kali aku terpaksa menyentuh tangan Salsabila, aku merasa sedang mengkhianati kesucian Safira!"

Salsabila merasakan jantungnya seperti diremas oleh tangan tak terlihat, kenyataan itu jauh lebih dingin daripada lantai gudang tempatnya berpijak.

"Aku muak harus berpura-pura mencintai gadis sekasar Salsabila hanya demi menyenangkan sandiwara yang kubuat sendiri," lanjut Lazarus, napasnya memburu frustrasi. "Setiap detik bersamanya membuatku ingin melarikan diri sejauh mungkin dari wajahnya yang memuakkan."

Lazarus mencengkeram tepi meja, menatap ibunya dengan pandangan memohon yang dipenuhi oleh egoisme tingkat tinggi. "Ini tidak adil untuk kami berdua, terutama untuk Safira-ku yang begitu tulus, polos, dan tidak berdosa."

***

Salsabila membuka matanya di dalam kegelapan gudang, menatap langit-langit semen dengan senyum getir yang menyedihkan. Di mata Lazarus, dirinya mungkin hanyalah sosok monster mengerikan yang dipenuhi dendam dan kekasaran hingga layak mendapatkan rasa jijik. Pemuda itu mengagungkan kesucian Safira, menganggap adik tirinya sebagai malaikat tanpa noda yang harus dilindungi dengan nyawa orang lain.

Lazarus yang agung tidak pernah tahu bahwa malaikat polos yang dicintainya adalah iblis sejati di dalam kehidupan nyata Salsabila. Safira adalah sosok yang merebut kamarnya, menghancurkan sisa pakaian peninggalan ibunya, dan menertawakannya saat ia kelaparan di bawah tanah. Salsabila melirik dokumen di tangannya, bersiap menukar bidak catur dalam pernikahan yang dikira Lazarus akan menjadi akhir dari penderitaannya.

***

"Berlutut dan memohonlah seperti anjing, atau belati ibumu ini akan menjadi rongsokan tidak berguna!" Safira tertawa melengking sambil mengayun-ayunkan belati berukir perak di depan wajah Salsabila yang sembab.

Logam berkilau itu adalah satu-satunya peninggalan Camelia yang tersisa setelah Jasper menguras seluruh isi brankas utama.

Malam yang dingin itu menjadi saksi bagaimana keserakahan mulai membakar habis sisa rasa kemanusiaan di dalam rumah mereka.

Salsabila langsung menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai semen gudang yang membekukan tulang tanpa berpikir dua kali. "Aku mohon kembalikan belati itu, Safira, ambil saja hal lain yang kamu inginkan dari hidupku."

"Oh, jadi belati keramat ini sangat berharga untukmu?" Safira tersenyum licik, lalu dengan gerakan kilat melemparkan belati tersebut ke dalam kobaran api perapian yang sedang menyala berkobar di sudut ruangan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   80. Kontrak Pernikahan Berakhir

    "Buka matamu, Salsabila, jangan biarkan rahasia kematian ibumu terkubur bersama kebohongan klan Svarga ini!" jerit Michael seraya mencabut belati bayangan dari bahunya.CROT! Darah segar menyembur basah membasahi lantai marmer aula takhta, namun pemuda itu mengabaikan rasa sakitnya demi menatap Salsabila.Pendar sihir merah Alexandrite di sekitar tubuh Salsabila perlahan meredup, menyisakan napas tersengal-sengal dari gadis yang terkulai di pelukan Rafael. "Tutup mulutmu, Michael, dia butuh istirahat, bukan hasutan beracun kamu!" bentak Rafael seraya mendinginkan suhu api keunguannya. Pangeran pertama Svarga itu menggendong tubuh istrinya secara protektif, menatap tajam sepupunya yang masih bersimbah darah di dekat takhta."Apa dia sudah mati?" Lazarus melangkah mendekat seraya menyarungkan pedang emasnya, memandang ke arah Raja Misterius yang terbaring kaku di balik reruntuhan.Pertempuran fisik di aula pus

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   79. Rahasia Kematian

    "Serahkan Inti Alexandrite itu atau aku sendiri yang akan mencabut nyawa pangeran kesayanganmu ini di depan mata kepalamu!" raung Raja Misterius. "Jangan! Hentikan kejahatanmu, Raja Misterius," teriak Lady Florist. Ia melihat putra sulungnya dalam bahaya, nyawanya nyaris terancam di tangan Raja yang kabur dari hukuman neraka itu. Tongkat kerajaan berukir naga emas melayang mendekati leher Rafael, memancarkan gelombang energi hitam yang langsung mengikis perisai pelindung keunguan. "Argh!" Rafael mengerang tertahan saat ujung sihir pengikat jiwa menembus zirah dadanya, memicu reaksi racun Mawar Hitam yang sempat mereda. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor Kerajaan Svarga yang terselubung!" jerit Salsabila seraya menebaskan belatinya memotong jalur energi tongkat tersebut. BLEDAR! Semburan cahaya merah Alexandrite bertabrakan keras dengan sihir Raja Tertinggi, menciptakan ledakan yang menghempaskan puing-puin

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   78. Dengan Senang Hati, Istriku!

    "Sir Rangga? Bukankah dia sudah mati dalam perang. Apa Lady Eliza memalsukan kematiannya demi rencana busuknya hari ini," Salsabila bingung melihat sosok panglima perang klan Chrysan yang berdiri gagah lengkap dengan baju perang dan senjata mematikannya. Ia terlihat awet muda."Bakar mereka semua sampai tak tersisa satu pun dari keturunan pemicu perang ini!" jerit Panglima Chrysan seraya memegang pangkal tangannya yang putus. "Klan Svarga harus musnah bersama klan Alexandrite. Klan Chrysan harus berjaya lagi seperti dulu, memimpin semua klan," lanjutnya penuh percaya diri.BLAZ! Puluhan prajurit bayangan melompat menembus asap hitam, mengayunkan pedang-pedang beracun ke arah barisan empat ksatria yang bertahan. BYUR!Semburan sihir kegelapan meledak berturut-turut, memancarkan bau sangit Mawar Hitam yang menyengat hidung hingga membuat napas terasa sesak. "Waspada! Tetap dalam formasimu, Lazarus. Jangan biarkan sisi kirimu ter

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   77. Kembali Demi Suamiku

    "Kau pikir garis tipis ini sanggup menghentikan langkahku untuk merebut kembali wanita yang kau telantarkan, Rafael?!" raung Lazarus seraya melangkahi garis goresan di atas tanah. Pangeran kedua itu menerjang maju tanpa memedulikan ancaman sihir Alexandrite, mengarahkan belati emasnya tepat ke arah dada sang kakak. Rasa cemburu dan amarah yang terendam sekian lama meledak hebat, menghancurkan sisa-sisa rasionalitas di dalam kepalanya. BUGH! Rafael bergeser kilat menangkis serangan tersebut, menghantamkan siku tangannya ke rahang Lazarus hingga adiknya itu terhuyung mundur. "Sadar diri, Lazarus, kau sendiri yang membuangnya demi kepalsuan Safira!" bentak Rafael seraya menyapukan pedang apinya untuk mengunci gerakan Lazarus. SREK! Pangeran pertama Svarga itu berdiri tegak dengan aura keunguan yang kian membara, membentengi jalur menuju gerbang istana dari kejaran siapa pun. Bentrokan fisik dan emosi antar-saudara kandung itu kembali meletus di tengah reruntuhan halaman yang mu

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   76. Surat yang Merobek Hati

    "Jangan pernah bermimpi untuk melangkah pergi sebelum kau menandatangani surat pembatalan pernikahan ini, Salsabila!" gertak Lord Svarga seraya melempar gulungan perkamen emas ke atas meja batu yang retak. Pemimpin klan Svarga itu berdiri angkuh di tengah reruntuhan halaman istana, menatap dingin ke arah menantunya yang masih menggenggam belati Alexandrite.Pengorbanan sang tabib wanita malam ini seolah tak berbekas di mata pria paruh baya yang hanya mementingkan kemurnian kehormatan garis keturunannya. "Ayah! Hentikan kegilaan ini sekarang juga!" bentak Rafael seraya pasang badan memblokir pandangan ayahnya. Pangeran pertama Svarga itu mengepalkan tangannya hingga memutih, menyelimuti tubuhnya dengan aura sihir keunguan yang kembali membumbung tinggi. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya sendiri, memaksa Salsabila mengakhiri hubungan pernikahan sah yang telah mereka bina.Salsabila menatap perkamen emas itu denga

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   75. Pusaka Inti

    "Serahkan pusaka inti klan Alexandrite itu padaku atau klan Svarga dan klan Alexandrite yang tersisa akan musnah bersama racun ini!" raung Lady Eliza seraya mengalirkan petir hitam dari jarinya. Semburan energi terlarang menghantam barisan pertahanan depan, meremukkan lantai marmer hingga berkeping-keping. "Tidak semudah itu, ular betina licik! Langkahi dulu mayatku!" teriak Lord Rafael. BLAZ! Rafael melompat kilat memotong serangan tersebut, memutar pedang apinya demi menangkis kilatan sihir hitam yang menyambar dada istrinya. BLEDAR! Benturan sihir tingkat tinggi melontarkan gelombang kejut yang merubuhkan pilar-pilar batu di sekitar mereka. BRUK! Salsabila mengencangkan genggaman pada belati Alexandrite, memancarkan pendar cahaya merah penyembuh untuk melapisi zirah pelindung Rafael dan Lazarus. "Sialan! Ular betina itu kuat juga untuk ukuran nenek keriput," gumam Lord Michael.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status