共有

2. Topeng

作者: NoeraAmeera
last update 公開日: 2026-06-08 09:09:05

"Tunggu! Kamu benar-benar rela memberikan Lazarus kepadaku demi menikahi pria cacat itu?" Suara Safira melengking, menghentikan langkah Salsabila yang baru saja berbalik memunggungi taman.

Jari-jari Safira yang lentik mencengkeram lengan blazer Salsabila, menuntut sebuah kepastian yang masuk akal. Matanya melebar, dipenuhi kombinasi antara rasa tidak percaya dan keserakahan yang membuncah.

Salsabila melirik tangan adik tirinya, lalu menghempaskannya dengan sekali sentakan pelan namun tegas.

"Aku tidak pernah menarik kembali apa yang sudah kubuang, Safira."

"Lazarus sangat mencintaimu, Salsabila! Dia calon tunggal pewaris seluruh kerajaan bisnis Svarga!" Safira setengah berteriak, wajahnya memerah karena cemburu yang belum sepenuhnya padam. "Kenapa kamu begitu mudah melepaskan mahkota emas itu?"

Salsabila membalikkan tubuh sepenuhnya, menatap Safira dengan sepasang mata yang sedingin es di kutub.

"Mencintaiku?"

Tawa hambar lolos dari tenggorokan Salsabila, menyisakan keheningan mencekam di antara mereka.

Kalimat itu menggema di dalam kepalanya, memicu pecahan memori lama yang mendadak berputar laksana film usang.

Ingatan Salsabila melesat ke sore kelabu lima tahun lalu, tepat di hari pemakaman ibunya. Dua orang pelayan berbadan besar atas perintah Jasper sedang menyeret tubuh ringkihnya yang berusia lima belas tahun ke pintu keluar. Pakaian hitamnya kotor oleh tanah makam, sementara Jasper berdiri di ambang pintu menyaksikan adegan itu tanpa kedipan mata.

Deru mesin mobil mewah yang tiba-tiba berhenti di pekarangan rumah menghentikan aksi brutal tersebut. Pintu mobil terbuka, menampakkan sosok pemuda tampan berbalut setelan formal hitam didampingi barisan pengawal berwajah sangar. Itu adalah Lazarus Svarga.

"Siapa yang mengizinkan kalian menyentuh gadis ini?" Suara dingin Lazarus kala itu menggelegar, menghentikan napas semua orang yang berada di sana.

Jasper melangkah maju dengan wajah pucat beralih pucat pasi, tergagap karena terkejut. "Tuan Muda Lazarus? Maaf, kami tidak mengirimkan undangan duka kepada keluarga Svarga untuk mendiang istri saya."

Lazarus mengabaikan Jasper, berjalan melewati pria itu, lalu berlutut di depan Salsabila yang tersungkur di atas konblok. Tangan kekarnya yang hangat menghapus air mata di pipi Salsabila dengan kelembutan yang tak pernah gadis itu rasakan sebelumnya.

"Siapa pun yang berani menyentuh seujung rambut Salsabila lagi, akan berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan Svarga," ancam Lazarus, matanya menghunus tajam ke arah Jasper dan para pelayan.

Sore itu juga, di hadapan jasad Camelia yang baru menyatu dengan tanah, Lazarus menggenggam jemari Salsabila. "Menikahlah denganku saat usiamu legal nanti, Salsabila. Aku akan menjagamu."

Salsabila yang hancur dan kesepian langsung mengangguk, menerima lamaran itu bagai orang buta yang menemukan tongkat penuntun. Ia mengira mendiang ibunya mengutus malaikat tak bersayap untuk melindunginya dari iblis berkedok keluarga.

Lazarus membuktikan cintanya dengan memberi perhatian berupa hadiah mewah, dari mulai perhiasan emas, berlian, pakaian sutra dan barang branded. Berkotak-kotak perhiasan berlian, emas batangan, gaun-gaun indah dan barang mewah dikirimkan ke paviliun kecil tempat Salsabila mengungsi. Makanan-makanan enak dari koki bintang lima tersaji setiap hari, mengobati rasa lapar dan duka di hatinya.

"Perlakukan Nona Salsabila seperti kalian memperlakukanku!" Titah Lazarus terdengar mutlak di hadapan puluhan pelayan dan pengawalnya.

Perhatian Lazarus terhadap Salsabila memberinya harapan tentang masa depan yang penuh kasih sayang, aman dan nyaman. Kewaspadaannya terhadap Lazarus berubah menjadi kepercayaan. Ia percaya, bahwa dirinya menjadi pusat semesta bagi Lazarus, Sang Pewaris keluarga Svarga.

Salsabila percaya, bahwa Lazarus mencintainya dengan tulus. Ia rela berkorban apa saja demi kebahagiaan dan keamanannya.

Kepercayaan itu semakin kuat, saat mereka sedang berjalan santai di taman. Sekelompok orang asing berpakaian hitam dengan penutup wajah, tiba-tiba muncul dari balik pilar parkiran. Mereka menyerang keduanya dengan senjata tajam.

"Tuan Lazarus, lari! Selamatkan dirimu dan Nona Salsabila. Biar kami yang hadapi mereka!" teriak salah satu pengawalnya.

"Mati kau, pecundang!" teriak sang penyerang melayangkan pisau ke arah Salsabila.

Lazarus tidak melarikan diri, setelah beberapa pengawalnya dikalahkan penyerang misterius. Ia langsung memeluk Salsabila untuk melindunginya dari tusukan. Ia membiarkan dirinya menjadi perisai, terluka demi melindungi Salsabila.

"Argh!" teriak Lazarus.

Darah segar menetes dari lengan Lazarus, membasahi lantai marmer putih dan gaun yang dikenakan Salsabila.

"Astaga! Kau berdarah. Kenapa kamu melakukan ini?" Salsabila menjerit histeris sambil menekan luka di lengan pemuda itu dengan tangannya yang gemetar. "Kamu bisa mati karena melindungiku!"

Lazarus tersenyum tipis, menatap Salsabila dengan pandangan mata yang begitu dalam dan penuh kepasrahan. "Karena aku mencintaimu, Salsabila. Aku ingin kamu memercayai hidup dan matimu bersamaku."

Kata-kata itu meluruhkan seluruh benteng pertahanan Salsabila yang tak pernah percaya siapa pun, memicu rasa empati dan cinta yang mendalam untuk sang penyelamat. Ia merasa berutang nyawa dan seluruh sisa hidupnya kepada pria yang rela menumpahkan darah demi dirinya.

Orang-orang itu kabur, begitu melihat para pengawal susulan Lazarus yang menembaki mereka dengan pistol. Mereka berusaha melindunginya dari jarak jauh.

Namun, semua keindahan itu hancur berantakan beberapa minggu lalu ketika sebuah kebenaran kelam terkuak ke permukaan.

"Apa ini? Ternyata, semua yang dia lakukan padaku, ternyata palsu!" bisik Salsabila.

Salsabila menemukan dokumen rahasia di ruang kerja Lazarus saat pria itu lengang dan meninggalkan dirinya sendirian untuk menerima telepon.

Seluruh insiden penyerangan di taman, kedatangan Lazarus di hari pemakaman ibunya, hingga kemewahan yang diberikan, hanyalah sebuah panggung sandiwara.

Penyerangan itu adalah rekayasa, para penjahat itu adalah orang-orang bayaran Lazarus sendiri yang sengaja disewa untuk menciptakan momen kepahlawanan palsu.

Lazarus sengaja merancang jebakan emosional yang rapi agar Salsabila menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa.

Cinta yang diikrarkan di atas cucuran darah palsu itu tidak lebih dari sekadar racun berlapis madu.

"Salsabila! Kenapa kamu malah melamun?" Suara Safira membuyarkan seluruh kilas balik yang berputar di benak Salsabila. "Jawab aku, Salsabila! Apa kamu benar-benar tidak menyesal menyerahkan Lazarus kepadaku?"

Salsabila menatap wajah adik tirinya yang penuh dengan ambisi buta, merasa kasihan sekaligus muak di saat yang sama.

"Ambil saja dia, Safira. Nikmati pangeran impianmu itu sampai kamu menyadari jenis neraka apa yang sedang kamu masuki."

Safira mendengus remeh, melepaskan sisa keraguannya lalu tersenyum penuh kemenangan seolah baru saja memenangkan lotre terbesar.

"Baguslah kalau kamu sadar diri. Setidaknya kursi nyonya besar Svarga memang lebih cocok untukku daripada untuk anak gudang sepertimu."

Salsabila tidak membalas provokasi murahan itu, ia hanya membalikkan badan dan melangkah pergi membelah kegelapan malam taman mansion.

Di dalam saku blazernya, jemarinya mencengkeram erat dokumen pengalihan aset keluarga Alexandrite yang baru saja ditandatangani Jasper.

"Biarlah Safira berdansa dengan iblis bernama Lazarus di atas panggung kemewahan semu milik keluarga Svarga."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   80. Kontrak Pernikahan Berakhir

    "Buka matamu, Salsabila, jangan biarkan rahasia kematian ibumu terkubur bersama kebohongan klan Svarga ini!" jerit Michael seraya mencabut belati bayangan dari bahunya.CROT! Darah segar menyembur basah membasahi lantai marmer aula takhta, namun pemuda itu mengabaikan rasa sakitnya demi menatap Salsabila.Pendar sihir merah Alexandrite di sekitar tubuh Salsabila perlahan meredup, menyisakan napas tersengal-sengal dari gadis yang terkulai di pelukan Rafael. "Tutup mulutmu, Michael, dia butuh istirahat, bukan hasutan beracun kamu!" bentak Rafael seraya mendinginkan suhu api keunguannya. Pangeran pertama Svarga itu menggendong tubuh istrinya secara protektif, menatap tajam sepupunya yang masih bersimbah darah di dekat takhta."Apa dia sudah mati?" Lazarus melangkah mendekat seraya menyarungkan pedang emasnya, memandang ke arah Raja Misterius yang terbaring kaku di balik reruntuhan.Pertempuran fisik di aula pus

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   79. Rahasia Kematian

    "Serahkan Inti Alexandrite itu atau aku sendiri yang akan mencabut nyawa pangeran kesayanganmu ini di depan mata kepalamu!" raung Raja Misterius. "Jangan! Hentikan kejahatanmu, Raja Misterius," teriak Lady Florist. Ia melihat putra sulungnya dalam bahaya, nyawanya nyaris terancam di tangan Raja yang kabur dari hukuman neraka itu. Tongkat kerajaan berukir naga emas melayang mendekati leher Rafael, memancarkan gelombang energi hitam yang langsung mengikis perisai pelindung keunguan. "Argh!" Rafael mengerang tertahan saat ujung sihir pengikat jiwa menembus zirah dadanya, memicu reaksi racun Mawar Hitam yang sempat mereda. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor Kerajaan Svarga yang terselubung!" jerit Salsabila seraya menebaskan belatinya memotong jalur energi tongkat tersebut. BLEDAR! Semburan cahaya merah Alexandrite bertabrakan keras dengan sihir Raja Tertinggi, menciptakan ledakan yang menghempaskan puing-puin

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   78. Dengan Senang Hati, Istriku!

    "Sir Rangga? Bukankah dia sudah mati dalam perang. Apa Lady Eliza memalsukan kematiannya demi rencana busuknya hari ini," Salsabila bingung melihat sosok panglima perang klan Chrysan yang berdiri gagah lengkap dengan baju perang dan senjata mematikannya. Ia terlihat awet muda."Bakar mereka semua sampai tak tersisa satu pun dari keturunan pemicu perang ini!" jerit Panglima Chrysan seraya memegang pangkal tangannya yang putus. "Klan Svarga harus musnah bersama klan Alexandrite. Klan Chrysan harus berjaya lagi seperti dulu, memimpin semua klan," lanjutnya penuh percaya diri.BLAZ! Puluhan prajurit bayangan melompat menembus asap hitam, mengayunkan pedang-pedang beracun ke arah barisan empat ksatria yang bertahan. BYUR!Semburan sihir kegelapan meledak berturut-turut, memancarkan bau sangit Mawar Hitam yang menyengat hidung hingga membuat napas terasa sesak. "Waspada! Tetap dalam formasimu, Lazarus. Jangan biarkan sisi kirimu ter

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   77. Kembali Demi Suamiku

    "Kau pikir garis tipis ini sanggup menghentikan langkahku untuk merebut kembali wanita yang kau telantarkan, Rafael?!" raung Lazarus seraya melangkahi garis goresan di atas tanah. Pangeran kedua itu menerjang maju tanpa memedulikan ancaman sihir Alexandrite, mengarahkan belati emasnya tepat ke arah dada sang kakak. Rasa cemburu dan amarah yang terendam sekian lama meledak hebat, menghancurkan sisa-sisa rasionalitas di dalam kepalanya. BUGH! Rafael bergeser kilat menangkis serangan tersebut, menghantamkan siku tangannya ke rahang Lazarus hingga adiknya itu terhuyung mundur. "Sadar diri, Lazarus, kau sendiri yang membuangnya demi kepalsuan Safira!" bentak Rafael seraya menyapukan pedang apinya untuk mengunci gerakan Lazarus. SREK! Pangeran pertama Svarga itu berdiri tegak dengan aura keunguan yang kian membara, membentengi jalur menuju gerbang istana dari kejaran siapa pun. Bentrokan fisik dan emosi antar-saudara kandung itu kembali meletus di tengah reruntuhan halaman yang mu

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   76. Surat yang Merobek Hati

    "Jangan pernah bermimpi untuk melangkah pergi sebelum kau menandatangani surat pembatalan pernikahan ini, Salsabila!" gertak Lord Svarga seraya melempar gulungan perkamen emas ke atas meja batu yang retak. Pemimpin klan Svarga itu berdiri angkuh di tengah reruntuhan halaman istana, menatap dingin ke arah menantunya yang masih menggenggam belati Alexandrite.Pengorbanan sang tabib wanita malam ini seolah tak berbekas di mata pria paruh baya yang hanya mementingkan kemurnian kehormatan garis keturunannya. "Ayah! Hentikan kegilaan ini sekarang juga!" bentak Rafael seraya pasang badan memblokir pandangan ayahnya. Pangeran pertama Svarga itu mengepalkan tangannya hingga memutih, menyelimuti tubuhnya dengan aura sihir keunguan yang kembali membumbung tinggi. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya sendiri, memaksa Salsabila mengakhiri hubungan pernikahan sah yang telah mereka bina.Salsabila menatap perkamen emas itu denga

  • Pertaruhan Terakhir Sang Pewaris   75. Pusaka Inti

    "Serahkan pusaka inti klan Alexandrite itu padaku atau klan Svarga dan klan Alexandrite yang tersisa akan musnah bersama racun ini!" raung Lady Eliza seraya mengalirkan petir hitam dari jarinya. Semburan energi terlarang menghantam barisan pertahanan depan, meremukkan lantai marmer hingga berkeping-keping. "Tidak semudah itu, ular betina licik! Langkahi dulu mayatku!" teriak Lord Rafael. BLAZ! Rafael melompat kilat memotong serangan tersebut, memutar pedang apinya demi menangkis kilatan sihir hitam yang menyambar dada istrinya. BLEDAR! Benturan sihir tingkat tinggi melontarkan gelombang kejut yang merubuhkan pilar-pilar batu di sekitar mereka. BRUK! Salsabila mengencangkan genggaman pada belati Alexandrite, memancarkan pendar cahaya merah penyembuh untuk melapisi zirah pelindung Rafael dan Lazarus. "Sialan! Ular betina itu kuat juga untuk ukuran nenek keriput," gumam Lord Michael.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status