INICIAR SESIÓNSandra mengenakan setelan jas biru rancangan khusus yang pas di pinggang, dipadukan dengan sepatu hak tinggi senada. Sebuah tas bermerek tergenggam di tangannya, menambah kesan elegan dan profesional.Penampilannya rapi dan menawan, memancarkan kecerdasan serta kepercayaan diri.Cara Sandra memanggil nama "Levin" terdengar manis.Sandra menghampiri mereka. "Levin, tim acara kami ingin mengundangmu untuk melakukan wawancara. Bahkan kepala redaksi kami pun nggak berhasil membujukmu. Jadi, aku terpaksa datang sendiri dan mencoba peruntungan, meskipun aku harus sedikit mengesampingkan rasa malu."Levin tersenyum tipis. "Sandra, kamu terlalu merendahkan dirimu sendiri."Sebenarnya, Sandra dan Levin sudah saling mengenal sejak lama. Karena itu, Levin cukup menghargai permintaannya dan bersedia mempertimbangkannya.Mereka adalah teman sekelas semasa SMA dan selalu bersaing untuk meraih peringkat pertama dan kedua. Levin menjabat sebagai ketua kelas, sementara Sandra menjadi sekretaris. Keduan
Janji yang diucapkan Levin terasa jauh lebih berat daripada kebaikan yang pernah diberikan Johan kepadanya.Apa yang telah Celine lakukan hingga pantas menerima semua ini? Lalu, bagaimana Celine bisa membalasnya? Celine ketakutan sampai tidak berani menerimanya.Dia melambaikan tangan sambil melangkah mundur, lalu menggelengkan kepala berkali-kali."Benar-benar nggak pantas."Selama 30 tahun hidupnya, baru kali ini Levin mengucapkan janji tulus yang begitu berat. Namun, sebagai balasannya, dia justru mendapatkan reaksi seperti itu dari gadis muda di hadapannya.Dia tak kuasa merasa sedikit gagal, tidak berdaya, sekaligus lucu.Lihat saja, Celine sampai setakut itu.Levin menegakkan tubuh, berjalan ke belakang meja kerja, lalu duduk. Pada saat yang sama, dia bergumam pelan."Baiklah. Rupanya kamu memang meremehkan Kak Levin-mu."Kulit kepala Celine langsung terasa kesemutan.Bukan, bahkan seluruh tubuhnya ikut kesemutan!Dia buru-buru mendekati meja kerja untuk menjelaskan, "Kak Levin,
Celine mengangguk dengan sopan. "Baik, Pak Levin."Dia mengganti cara menyapa. Levin mengangkat sebelah alis dengan ekspresi kurang senang.Celine jarang datang ke kantor pusat. Dia hanya bertemu dengan orang-orang di sana sekali setahun, sehingga hampir tidak ada yang mengenalinya.Kali ini, dia datang mewakili lembaga penelitian farmasi untuk menghadiri rapat karena grup perusahaan meluncurkan sebuah proyek penting di bidang biofarmasi, yang membutuhkan kerja sama penelitian dan pengembangan dari beberapa anak perusahaan.Jelas sekali, kehadirannya telah membangkitkan rasa penasaran yang besar di antara semua orang.Rasa penasaran itu bermula sejak Levin menyuruh asistennya memberikan secangkir air hangat kepada Celine.Levin adalah pria yang bersikap lembut dan santun, tetapi bertindak tegas serta cekatan.Dia tidak pernah membentak atau bersikap kasar kepada karyawan tingkat menengah maupun bawah, hanya para petinggi grup perusahaan yang pernah menyaksikan kemarahannya. Saat murka,
Mereka seolah-olah adalah hewan sedang berebut wilayah kekuasaan.Kamar tidur utama? Celine mencibir dingin.Memangnya dia bisa datang dan pergi sesuka hati?Setelah menyelesaikan semua itu, Darrel langsung pergi ke kamar mandi tamu.Begitu pria itu masuk, Althea berdiri di ruang tamu dengan tubuh tinggi semampai dan lekuk tubuh yang menonjol.Dia melipat tangan di depan dada sambil menatap Celine dengan senyum penuh kemenangan.'Lihat, suamimu sampai menyiapkan air mandi untukku.'Kemudian, dia melirik Celine dengan tatapan meremehkan dari sudut matanya. Dengan kedua kaki indahnya tanpa beralaskan sandal, dia berjalan santai menyusul Darrel ke kamar mandi tamu.Celine berbalik dan masuk ke kamar tidur utama.Ternyata, bahkan pria yang paling angkuh sekalipun bisa merendahkan diri dan bersikap begitu patuh begitu jatuh cinta.Seperti pepatah di kampung halamannya, "Setiap orang punya kelemahannya sendiri."Celine tertawa. Namun, semakin lama dia tertawa, semakin terasa getir di bibirny
Anjing besar itu terengah-engah dengan lidah menjulur. Ia sudah semakin mendekat.Suara derap keempat kakinya di tanah membuat telinga Celine terasa sakit. Seluruh tubuhnya ikut menegang.Anjing itu menatap mereka sambil memperlihatkan gigi-giginya dengan sikap menyerang, juga mengeluarkan geraman yang terdengar sangat garang.Celine begitu ketakutan hingga tidak mampu mengendalikan dirinya. Dia menarik Helen untuk berlindung di belakang Darrel, lalu menarik Darrel agar mundur.Namun, Darrel sama sekali tidak terlihat takut. Dia menepuk Celine dengan lembut untuk menenangkannya, sementara tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri kokoh mengadang di depan Helen dan Celine."Pergi!" bentaknya dengan dahi berkerut.Aura maskulin Darrel yang jauh lebih garang berhasil membuat anjing itu gentar. Hanya dengan satu bentakan, dia berhasil mengusir anjing itu.Celine akhirnya bisa bernapas lega. Seluruh tubuhnya terasa lemas.Darrel berbalik dan menopang tubuhnya dengan telapak tangan. Dia bertany
Darrel berkata dengan lembut, "Nggak apa-apa, Bu. Kalau Ibu nggak menyiramnya, aku juga bisa menyiramnya."Helen mengikuti Celine keluar rumah.Darrel bertanya kepada Celine, "Kamu mau membawa Ibu ke mana?"Celine tidak menjawab, malah langsung menutup pintu.….Setelah menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapati bahwa rumah yang dilihatnya tidak sesuai dengan informasi di internet, Celine kembali mengajak Helen melihat beberapa rumah lain. Namun, tetap tidak ada satu pun yang benar-benar sesuai dengan keinginannya.Hari pertama pencarian rumah mereka pun berakhir tanpa hasil.Biasanya Celine harus bekerja, jadi tidak punya banyak waktu untuk melihat-lihat rumah.Dia menelepon polisi yang menangani kasusnya, tetapi dia mendapat jawaban bahwa belum ada perkembangan.Haih, Celine benar-benar merasa lelah.Matahari mulai terbenam dan kota perlahan diselimuti malam. Lampu kendaraan, lampu jalan, dan papan neon berpadu menciptakan pemandangan yang gemerlap.Helen dan Celine sudah kelapar







