Pesan Cerai Sudah Terkirim

Pesan Cerai Sudah Terkirim

By:  Nia JuwitaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
20views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Darrel adalah sosok sempurna yang sulit didekati, sekaligus dokter muda paling menjanjikan di Kota Purgawa. Pada hari dia patah hati, mentor yang paling dia hormati justru memperkenalkannya kepada seorang wanita biasa. Sebulan kemudian, Darrel menikahi wanita itu. Namun, setahun setelah pernikahan mereka, semua orang mengatakan bahwa Celine tidak pantas berdiri di sisi Darrel. Dia hanyalah wanita biasa yang berasal dari kota kecil, dengan seorang ibu yang menderita tumor otak dan harus dia rawat. Di mata semua orang, Celine adalah noda terbesar dalam kehidupan Darrel. Hingga pada hari ketika Celine mengetahui bahwa dirinya tidak bisa memiliki anak, dia akhirnya mengirimkan satu pesan kepada Darrel. [Kita cerai saja.] Keluarga Suwandi memaksanya menandatangani surat perceraian. Celine mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah pernikahan itu dengan hati yang hancur. Sementara itu, Darrel sedang terbang ke tempat yang sangat jauh untuk menjemput wanita yang selalu dia cintai, Althea. Celine menerima kenyataan. Tanpa menangis, tanpa membuat keributan, dia membawa ibunya dan pergi dengan tenang. Namun, Darrel justru mengira Celine hanya sedang merajuk. Setiap hari, dia terus mendesaknya untuk pulang. "Percuma kamu bikin keributan. Aku nggak akan mengabaikan Althea." Celine hanya menjawab dengan datar, "Dokter Darrel, aku sudah lama mengirimimu pesan tentang perceraian kita. Silakan periksa pesanmu." Ternyata, orang yang berhenti mencintai terlebih dahulu adalah Celine. .... Namun, ketika suatu hari Darrel melihat seorang pria yang lembut dan penuh wibawa berdiri di sisi Celine, ketenangannya seketika runtuh. "Celine, apa kamu tahu sudah berapa tahun aku menyukaimu?" .... Begitu mengetahui Celine akan bercerai dengan Darrel, Levin bertekad untuk mendapatkannya. Dia tidak peduli cara apa pun yang harus digunakan. "Darrel, aku dan Celine sudah saling mengenal lebih lama darimu," kata Levin. "Kak Levin mungkin nggak tahu, tapi aku yang mengenalnya lebih dulu," balas Darrel. "Jelas-jelas aku duluan," tukas Levin.

View More

Chapter 1

Bab 1

Celine Kusnara ternyata mandul.

Setelah menerima hasil diagnosis, dia mengirim pesan singkat kepada Darrel. [Kita cerai saja.]

Setelah meletakkan ponselnya, Celine merasa lega.

Hasil diagnosis itu baru saja diterimanya, tetapi ibu mertuanya sudah menelepon dan memintanya pulang ke rumah Keluarga Suwandi.

Sambil menyanggupi, Celine menghela napas, kagum pada luasnya jaringan Keluarga Suwandi di dunia medis.

Dalam perjalanan, langit tampak kelabu. Dia terus melamun. Matanya terasa perih dan sepat.

Celine dan Darrel berkenalan melalui perjodohan.

Orang bilang, jalan tercepat menuju hati seorang wanita adalah melalui vagina.

Setiap wanita tidak akan pernah melupakan pria pertamanya, terlebih jika pria itu secara sah menjadi miliknya.

Celine juga tidak terkecuali.

Terlebih lagi, pria itu adalah Darrel, seorang genius di bidang medis, kepala departemen bedah saraf termuda di Kota Purgawa.

Sesampainya di rumah Keluarga Suwandi, orang pertama yang dia temui adalah adik perempuan Darrel.

Darryn Suwandi menatapnya dengan penuh kebencian.

Menurutnya, wanita biasa seperti Celine yang berasal dari kota kecil tidak pantas menikah dengan kakaknya. Itu merupakan sebuah penghinaan.

Apalagi, wanita itu bahkan tidak mampu untuk meneruskan keturunan.

"Kalau kamu nggak bisa punya anak, kenapa menikah dengan kakakku? Bukannya itu sama saja dengan mencelakakan orang?"

Celine mengangkat hasil diagnosis di tangannya. "Aku juga baru tahu."

Dia tidak ingin meladeni adik iparnya yang sombong itu, jadi langsung berjalan masuk.

"Althea akan segera kembali. Kabar itu sudah tersebar luas di kalangan medis Kota Purgawa. Kamu seharusnya tahu diri. Bercerai akan menjadi pilihan terbaik untuk kalian berdua."

Langkah Celine terhenti. Dia membelakangi Darryn sambil tersenyum tipis.

Benar juga. Pria seperti Darrel mana mungkin tidak menginginkan anak? Bagaimana mungkin Darrel rela memiliki anak bersamanya?

Althea-lah wanita yang diinginkan pria itu. Darrel menginginkan anak darinya.

Hanya saja, Darryn itu tidak tahu bahwa sebelum datang ke sini, Celine sudah mengirim pesan meminta cerai kepada Darrel.

Keluarga Suwandi merupakan keluarga terpandang di dunia medis Kota Purgawa, dikenal berwibawa, terpelajar, dan terhormat.

Celine hanyalah orang biasa dari sebuah kota kecil di utara. Dia bekerja di sebuah lembaga penelitian biofarmasi.

Atasan sekaligus donaturnya kebetulan adalah pembimbing Darrel dan juga sahabat lama kakek Darrel.

Karena sebuah kebetulan, dia memperkenalkan Celine kepada Darrel.

Saat itu, tak seorang pun menganggap serius perjodohan itu. Belum lagi soal latar belakang keluarga, hanya karena Celine berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal saja, Keluarga Suwandi sudah tidak puas.

Celine sendiri tahu betul, pria seperti Darrel seharusnya sudah lebih dulu dipasangkan dengan wanita dari kalangan mereka sendiri. Kalaupun tidak, tetap saja bukan dirinya yang akan mendapatkannya.

Namun, yang tidak disangka semua orang adalah Darrel benar-benar menyetujuinya. Bahkan setelah berpacaran selama sebulan, dia langsung menikahinya secara kilat.

Celine hanya mengikuti arus. Dia merasa semua itu seperti mimpi.

Belakangan, setelah mendengar cerita dari rekan kerja Darrel, barulah dia tahu bahwa pada hari perjodohan mereka, Darrel baru saja putus cinta.

Cinta pertamanya, Althea Santoso, bertekad menjadi dokter bedah saraf terbaik di dunia, sehingga meninggalkannya dan pergi ke luar negeri.

Pada malam pernikahan mereka, Darrel mabuk berat.

Di ranjang mereka, dia berulang kali menyebut nama "Althea" dan berkata bahwa dia merasa bersalah kepadanya.

Melihatnya begitu tidak nyaman, Celine hendak membantunya membuka kancing kemeja, tetapi Darrel langsung menepis tangannya.

Pria yang biasanya begitu bersih, tenang, dan elegan itu pun menatapnya dengan mata memerah. Dalam pengaruh alkohol, dia mengatakan sesuatu.

"Celine, seumur hidup ini aku nggak akan pernah bahagia."

Dia begitu menderita, seolah nyawanya akan berakhir.

Padahal itu adalah malam pengantin mereka. Celine tentu saja merasa sedih. Dia tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Dia menghela napas dan hendak menghibur Darrel.

Dia ingin mengatakan, kalaupun Darrel menikahi Althea, belum tentu dia akan bahagia.

Namun, dia tidak mengatakannya karena Darrel menangis.

Mengingat kembali kejadian masa lalu, wajah Celine terasa basah dan hangat.

Dia diam-diam menghapus dua garis air mata di pipinya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Interior rumah ini mewah dengan sentuhan klasik, memancarkan wibawa keluarga yang begitu kuat hingga membuat siapa pun yang berada di sana merasa tertekan.

Anggota Keluarga Suwandi duduk tegak di sofa berbahan kayu zitan. Wajah mereka tampak muram.

Ibu mertuanya, Zafira Utomo, langsung ke pokok masalah.

"Celine, Darrel adalah satu-satunya putra Keluarga Suwandi. Kami nggak bisa membiarkan garis keturunan keluarga terputus. Anggap saja Keluarga Suwandi yang bersalah padamu. Kamu bebas mengajukan syarat perceraian apa pun."

Kedengarannya seperti dia bebas mengajukan syarat apa saja, tetapi perceraian ini bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Celine menggenggam hasil diagnosis dengan tenang. Momen ini sudah dia bayangkan ratusan kali di dalam hati.

Sejak saat Darrel berkata, "Seumur hidup ini aku nggak akan pernah bahagia."

"Alasan utama perceraian ini ada pada diriku. Saat menikah dulu, aku nggak membawa mahar atau harta bawaan sepeser pun. Mobil dan rumah yang kutempati bersama Darrel juga diberikan oleh Keluarga Suwandi."

"Uang seserahan 2 miliar itu sekarang nggak bisa kubayar. Aku akan membuat surat utang saja ...."

Dari belakang, terdengar sindiran dingin Darryn.

"Surat utang? Gaya banget bahasamu. Setelah bikin surat utang, memangnya kamu sanggup bayar? Tenang saja, seserahan yang awalnya disiapkan Keluarga Suwandi untuk kakakku sebenarnya 20 miliar. Hanya karena kamu, jadi ...."

Zafira memotong ucapan Darryn, "Darryn!"

Kemudian, dia berkata kepada Celine, "Nggak perlu. Seserahan itu memang seharusnya menjadi milikmu. Biaya rumah sakit ibumu juga akan ditanggung Keluarga Suwandi sampai tuntas."

Celine tidak menolaknya. Bagaimanapun, di zaman seperti sekarang, yang penting adalah bisa bertahan hidup. Dia dan ibunya harus tetap hidup, penyakit ibunya juga harus diobati.

Darrel kelak bisa menikah lagi, punya anak, dan tidak akan kehilangan apa pun. Dia bisa menjalani hidup dengan baik.

Di sisi lain, Celine tidak memiliki modal seperti itu. Setidaknya, dari pernikahan ini dia masih bisa mendapatkan sesuatu.

Zafira mengeluarkan sebuah dokumen yang terdiri dari beberapa lembar.

"Celine, tanda tanganlah."

Celine mengangguk dan menandatangani namanya dengan rapi di atas Surat Perjanjian Perceraian.

Semuanya selesai dalam waktu kurang dari 20 menit.

Tidak ada pertengkaran, tidak ada saling menyalahkan, tidak ada keributan.

Celine mengakhiri pernikahannya yang singkat, sementara Keluarga Suwandi sangat puas dengan sikapnya yang tahu diri.

Setelah meninggalkan rumah Keluarga Suwandi, langit sudah cerah. Cahaya matahari menyinari dengan cemerlang.

Dia mengembuskan napas lega dan membawa Surat Perjanjian Perceraian kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Darrel untuk membereskan barang-barang.

Rumah pernikahan itu adalah sebuah apartemen dengan luas 200 meter persegi. Suasana di sana dingin dan elegan seperti ruang pamer.

Dengan denah yang menyerupai dua naga yang mengapit mutiara, Celine dan Darrel masing-masing menempati satu sisi.

Bahkan setelah berhubungan intim seminggu sekali, Darrel akan tetap mengenakan pakaiannya setelah selesai, lalu kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi dan tidur. Tak peduli selelah apa pun dia.

Setengah jam kemudian, Celine pergi sambil mendorong dua koper.

Sekilas, tidak ada perubahan sedikit pun di rumah pernikahan itu.

Sama seperti kepergiannya yang tidak akan memberikan pengaruh apa pun kepada Keluarga Suwandi maupun Darrel.

....

Dua hari kemudian, Darrel masih belum membalas pesannya.

Dia memang terbiasa tidak menanggapi Celine.

Namun, soal perceraian ini, Keluarga Suwandi terus mendesaknya. Celine juga tidak ingin terus menundanya.

Karena itu, Celine pergi ke rumah sakit untuk menemui Darrel dan membicarakan kapan mereka akan mengurus prosedur perceraian.

Sesampainya di departemen bedah saraf, dia mengetuk pintu.

"Darrel ada?"

Setelah rekan kerja Darrel melihat sosok Celine, ekspresi mereka langsung jadi penuh arti.

Ketika kabar pernikahan Darrel dulu tersebar, begitu banyak wanita yang mengejarnya patah hati. Banyak tenaga medis dan pasien wanita bahkan menangis.

Kalah dari Althea, sang dewi bedah saraf, mungkin masih bisa diterima. Namun, jika wanita biasa seperti Celine saja bisa menikah dengan Darrel, mengapa mereka tidak bisa?

Rekannya menjawab, "Darrel sedang dinas ke luar kota. Kamu nggak tahu?"

Celine pun bingung. "Dinas?"

Edwin Kurnia menjawab dengan tidak sabar, "Ya, dia pergi ke Negara Mardia untuk menjemput Althea. Dia nggak kasih tahu kamu?"

Celine tersentak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status