LOGIN"Lama-lama kamu seperti pelangi, Langit."
"Dasar!" Langit mencebik.Tak hanya Aluna yang tertawa tapi juga Fani. Penampilan Langit berubah total. Dia yang hanya dulu memakai pakaian serba hitam kini dengan kemeja warna warni. Kemarin dengan warna putih dan kuning, hari ini menggunakan warna biru langit.Sungguh tampak bersinar cerah di tubuh pria yang atletis itu."Wanita mana yang membuat kamu bersinar lagi?" Goda Aluna."Apa sih, kamu?!" Langit sAdelina pergi ke yayasan penyalur. Disana dia bertemu dengan pemilik dari yayasan ini, bu Santi. Ia memilih beberapa wanita yang akan menjadi kandidat asisten rumah tangga Fiona."Kalau yang ini namanya Yeti, dia sudah berpengalaman selama 5 tahun sebagai TKW diluar negeri." Ujar bu Santi memperkenalkan satu wanita yang berusia 40 tahunan."Kalau yang ini, Irma. Masih muda. Usianya baru 18 tahun."Wanita yang bernama Irma ini tersenyum manis. Rambutnya ikal yang panjang lalu kulitnya yang eksotis terlihat genit sembari menatap pria yang berdiri di sisi Adelina."Ini Rani, berpengalaman lebih dari 15 tahun." Santi menunjuk wanita tua yang memiliki punggung sedikit bungkuk.Adelina meneliti tiga wanita ini satu per satu. Ia lalu melirik pria yang ada di sebelahnya."Pilih yang mana?" Tanyanya.Langit mengedikkan bahu. "Terserah saja. Tapi saranku pilih yang berumur dan tahan banting. Jangan lupa kalau tantemu itu
"Ini..." Aluna kehilangan katanya. Air mata itu mulai menggenang."Saat kamu pergi, Arkan seperti kehilangan semangat hidup. Setiap malam dia menangis memikirkan kalian.. dan foto-foto itu adalah hasil karyanya. Dia membingkai kenangan kalian di dalam sana." Sambung Fiona tercekat.Aluna mengerjap air matanya. Di dalam figura ini, ada foto dirinya bersama Arkan. Foto pernikahan mereka. Foto hasil usg dan juga Aluna yang tengah hamil.Di bagian bawah, ada foto si kembar yang baru saja lahir. Pun juga beberapa foto yang diambil saat bayi mereka tengah tertidur.Aluna mengusap bingkai tersebut. Sekarang kesedihan Arkan, putus asanya pria itu sampai ke relung hatinya. Menyentuh lembut pintu yang tertutup karena selimut kebencian.Arkan memang bersalah di masa lalu. Sangat bersalah. Dengan tega dia menelantarkan istri dan anak-anaknya demi wanita lain.Namun, hukuman yang ia terima cukup berat. Dimana kebahagiaan di rampas begitu saja
Aluna hanya diam di tempatnya. Dua tangan anaknya ia genggam dengan kuat.Fiona mendekat dan memberi pelukan. Wanita ini menangis di bahu Aluna."Kamu kemari, nak?" Fiona melepaskan diri dan menatap wajah mantan menantunya."Iya. Ayah anak-anak bilang kalau mama sakit kemarin. Jadi aku sekalian mampir kemari.""Arkan yang bilang?" Oh.. Fiona senang sekali mendengarnya."I-iya. Mama sakit apa?""Darah tinggi mama kuat. Mari, sayang. Masuk dulu." Fiona lalu tersenyum pada si kembar. Tapi dia takut untuk mendekat.Tatapan tajam Abi serta ingatan Fiona mengenai Ditha yang kecelakaan membekas di pikirannya."Maaf, kami tidak bisa mampir. Kami mau pergi lagi.""Sebentar saja, nak. Kita sudah lama tidak bertemu." Ujar Fiona penuh harap.Aluna lalu memperhatikan kedua anaknya. Ditha nampak biasa saja. Kecuali Abi yang bersikap waspada."Baiklah. Hanya sebentar."Aluna menurunkan egony
Aluna langsung menepuk jidatnya. Dasar! Anak sekecil ini sudah diajari berbohong. Apalagi ini Ditha, si keriting cerewet keturunan Fiona.Tanpa rasa berdosa, Ditha mendorong ponsel itu ke Aluna. Dengan berat hati, Aluna membalik ponsel tersebut sehingga terlihatlah wajah mantan suaminya, Arkan.["Oh.. Aluna. Maaf, aku mengganggumu."] Ujar Arkan tak enak hati setelah melihat wajah masam Aluna di layar ponselnya."Nggak, mas. Aku baru selesai sholat tadi." Jawab Aluna memberi alasan. Pas sekali dia memang masih memakai mukena.["Oh.. begitu. Tadi Ditha menelponku, rupanya dia sudah pintar memainkan ponsel."]Aluna melipat bibir. Bukan Ditha yang pintar memainkan ponsel melainkan ibunya yang mencari alasan untuk menghubungi ayahnya."Aku dengar dari Mira kalau mas sakit tadi siang. Apa itu betul?" Arkan berdeham . ["Iya. Biasa. Sakit maagku kambuh. Jadi aku ke IGD tadi."]"Kamu nggak makan obat?"["Makan.
Tiga bulan kemudian...****"Aku ingin merayakan hari jadi warung makan ayam ini yang ke tujuh tahun." Ujar Langit mengawali morning meeting hari ini. "Sebelumnya tidak ada perayaan karena aku sibuk membuka cabang warung makan kita. Tapi tahun ini aku ingin melakukan syukuran kecil-kecilan untuk berkembangnya warung makan ini."Dipatahkan tapi tidak tumbang. Itulah perumpamaan usaha milik Langit ini. Dalam tujuh tahun usaha, seringkali pesaing bisnis hendak merobohkan usaha milik Langit. Bukannya mundur, warung ini terus mengkoreksi dan berbenah diri. Mereka selalu memberikan yang terbaik dan mempertahankan cita rasanya."Rencananya syukuran akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tepat di hari minggu malam. Kalian boleh mengajak pasangan atau keluarga yang lainnya." Sambung Langit lagi."Untuk menunya gimana, mas? Masa kita makan ayam geprek sendiri?" Tanya Endang yang menimbulkan gelak tawa.Langit terkekeh. "Jangan khawat
Secara bergantian Aamir dan Mawar memberikan sambutan. Rose gold. Kini hadir dalam wajah baru. Keduanya meyakinkan bahwa produk mereka telah lahir dengan citra yang lebih kuat. Sekaan menepis dugaan miring di masa lalu.Para pencari pemberita mengangkat kameranya. Memotret dua owner yang masih muda itu untuk menjadi headline beberapa media. Tak ketinggalan, wajah cantik Aluna juga ikut diambil. Dia adalah icon kecantikan syarii masa kini.Selesai acara, para tamu undangan diminta untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan. Termasuk Aluna yang ikut ke meja VIP dan duduk disana."Langit!" Aluna melambaikan tangan agar pria itu mendekat.Penampilan Langit.. ngngng lumayan. Biasanya pria itu suka memakai kemeja warna warni. Namun hari ini, dia memakai kemeja berwarna abu.Mendengar namanya dipanggil, Langit mendekat dan ikut duduk di kursi."Aku nggak ngelihat kamu daritadi." Ucap Aluna."Aku baru datang." Langit
Arkan sudah tampan pagi ini. Memakai kaos kerah berwarna coklat muda dengan celana jeans, Arkan bersiap untuk pergi pada hari libur ini.Aluna yang sedang menyibukkan diri di ruang cuci sampai bisa mencium aroma parfum suaminya. Lekas saja wanita ini segera pergi ke depan."Mas
"Kita pindah malam ini.""Pindah? Mau pindah kemana??" Tanya Aluna bingung."Kemana saja! Yang penting kita bisa terbebas dari cengkraman mama!" Jawab Arkan tegas.Aluma tertegun sesaat. Dia masih berdiri di tempatnya karena tak mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba saja
Arkan menaruh sendok makan itu sedikit keras ke atas meja hingga membuat dentingan. Ketiga wanita ini terkesiap termasuk Indri yang baru saja mendapatkan kesan pertama."Tante bilang apa barusan?? Istri kedua??" Arkan meminta tantenya ini mengulangi ucapannya."Iya. Istri kedua.
["Gimana hasil periksanya?"] Terdengar suara penasaran dari sebrang sana."Begitulah. Disuruh sabar sama dokternya." Sahut Fiona malas.["Nggak terjadi sesuatu ya sama Aluna?"] Suara itu seperti mengharapkan sesuatu.Fiona menghela nafas mendengar pertanyaan adiknya.







